Saya Ingin Dimengerti …. Bagian II

Standard

Saya: “Ih, elu gila deh!” (sambil tertawa)

Teman: “Kok gue dibilang gila?? Enak aja!!” (muka masam)

Itu adalah sepenggal komunikasi yang saya alami sendiri ketika masih SMA. Jujur saya sungguh kaget ketika memperoleh tanggapan seperti itu, karena ketika percakapan itu terjadi situasinya cukup santai dan sama sekali tidak menjurus ke soal rumah sakit jiwa atau gangguan jiwa. Tapi dia tersinggung ketika saya mengucapkan kata-kata itu.

Saya telah mengalami ribuan situasi seperti ini – ketika orang yang saya beri tanggapan malah membalas dengan tanggapan negatif atau tidak menyenangkan, padahal saya sama sekali tidak bermaksud untuk menyinggungnya. Hmm… mungkin hal itu juga yang menyebabkan saya tidak punya teman di masa sekolah dasar. Yeah, I was the outcast. Saya tidak punya teman dan semua orang yang dekat dengan saya beringsut menjauh selama masa 6 tahun yang menyedihkan itu.

Saya hidup di lingkungan yang berbeda dengan anak-anak kebanyakan. Saya anak terkecil [kalau tidak mau dibilang anak tunggal] dari empat bersaudara dengan tiga orang kakak yang umurnya sangat jauh di atas saya. Anak-anak tetangga lebih muda atau lebih tua dari saya, tidak ada yang seumur. Hal itu pulalah yang membuat omongan saya terdengar “terlalu tinggi” untuk anak kebanyakan, dan saya sering berbicara tentang hal-hal yang tidak “masuk akal” bagi anak seusia saya. Pendeknya, rata-rata orang yang saya ajak bicara [kecuali mereka yang sudah dewasa] selalu menyatakan “gagal paham”.

Setelah berpayah-payah melalui masa enam tahun penuh bullying di sekolah dasar, saya memasuki ranah SMP yang lebih luas, dan akhirnya bisa memulihkan diri dari trauma bullying untuk mempelajari satu hal yang penting: komunikasi. Pelajaran komunikasi saya sempurna ketika mencapai masa kuliah, kemudian pemahaman ini saya bawa ke bahasa tulisan. Saya selalu berusaha mencari bentuk tulisan yang dapat dimengerti oleh kebanyakan orangSaya selalu menganut paham “publik harus bisa membaca dan harus bisa memahami”, tanpa terkecuali. Yup, kengerian “gagal paham” terus menghantui sampai akhirnya saya berusaha sedemikian keras untuk menyempurnakan cara berkomunikasi dan hal itu kemudian “terbawa” ke ranah terjemahan. Saya berusaha untuk mengomunikasikan apa yang saya pahami dari teks sumber, dengan pemikiran bahwa sejumlah besar orang akan membaca tulisan itu, dan saya teramat sangat ngeri kalau mereka salah menangkap maksud yang tersirat serta tersurat dalam tulisan yang saya terjemahkan.

Saya telah belajar melalui pengalaman pahit dalam hidup, bahwa meminta seseorang untuk dapat mengerti kita adalah hal yang mustahil. Jika kita tidak membuka diri lebih dulu untuk “berbicara dalam bahasanya” [baca: memahaminya], sangat mustahil untuk bisa menjalin komunikasi yang baik. Karena itulah saya berani bilang bahwa mengetahui bahasa sumber + pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah saja, tidak akan membuat seseorang mampu menjadi penerjemah.

Mengapa? Karena terjemahan adalah adalah menyerap penyampaian dari “sana”, untuk disampaikan “ke sini” dalam bentuk yang mudah dimengerti oleh sasaran. Contohnya, jika kita menerjemahkan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, kita dibawa ke ranah mereka yang berbahasa Inggris - tentu saja para bule itu tidak akan paham ekspresi “Setubang” (Setuju Banget) atau “Kelesss” (plesetan dari “kali” arti sebenarnya adalah “mungkin”).

Saya beri contoh sedikit … 

Gue setubang, gak mungkin kek gitu kelesss ...”

Hayo, bagaimana menerjemahkan kalimat di atas ke dalam bahasa Inggris? Mungkin saja akan diterjemahkan jadi begini,

I so agree, it is not possible maybe …

Tapi bagaimana jika kalimat tersebut punya alternatif yang lebih oke seperti,

I definitely agree, it is SO not possible.”

Contoh tersebut tadi sama dengan,

I am running late*. Please call ASAP!

yang tidak mungkin diterjemahkan menjadi,

Saya berlari terlambat. Tolong telepon segera!

Tapi akan lebih mungkin diterjemahkan menjadi,

Saya terlambat. Mohon Anda menelepon saya segera.

*catatan: running late adalah idiom. Penggunaan kata “Tolong” di situ saya yakini tidak berposisi setara dengan “Please“, karena intonasi “tolong” disertai tanda seru lebih mengarah ke perintah alih-alih permintaan. Jika diterjemahkan dengan nada lain, ini terdengar lebih umum, secara umum orang yang membaca ini tidak akan menganggap bahwa si penutur sedang membentak, dan ingatlah bahwa penuturan dalam bahasa Indonesia secara umum selalu bersifat halus dan tidak bersifat “blunt” seperti penuturan orang Amerika pada umumnya.

Komunikasi dalam terjemahan dibawa pulang-pergi oleh seorang penerjemah, dari ranah bahasa sumber ke ranah Indonesia [untuk penerjemah bahasa asing ke bahasa Indonesia], dan dari tanah air ke ranah bahasa target [untuk penerjemah Indonesia-bahasa asing], melalui media bahasa. Keterbukaan seorang penerjemah untuk mau dan mampu memahami teks sumber dan mendalaminya [melalui riset, pencarian arti kata, serta pemahaman tentang idiom, proses, mekanisme, dan budaya] berperan sangat penting di sini. Karena mengganti bahasa Inggris menjadi bahasa Indonesia dan sebaliknya, bukanlah suatu bentuk komunikasi. Menurut saya itu hanyalah upaya pemesinan bahasa, dengan menganggap bahwa padanan semua kata berbanding lurus dengan arti yang tertera dalam kamus.

Membuka diri terhadap komunikasi bukan hal yang mudah – kita harus mengesampingkan sejumlah perasaan tidak enak, sungkan, bahkan perasaan bertentangan mengenai budaya yang mungkin tidak cocok dengan prinsip pribadi. Sama halnya ketika saya berusaha berkenalan dengan sahabat pertama di SMP. Sejarah komunikasi saya yang buruk membuat saya jiper setengah mati. Saya takut kalau dia kembali “gagal paham” seperti 22 teman saya lainnya pada masa SD. Tapi ketika saya berusaha membuka diri dan berbicara menggunakan “bahasanya”, ternyata umpan balik yang saya peroleh jauh lebih bermakna. Akhirnya, pendekatan saya ke materi terjemahan pun selalu demikian: saya selalu menanamkan perasaan “Saya ingin klien mengerti, saya ingin dimengerti, dan saya ingin pembaca mengerti”, karena itu saya melakukan perjalanan “pulang-pergi” untuk memahami kedua belah pihak.

Merampungkan komunikasi juga butuh tujuan. Menulis atau berbicara itu selalu ada tujuannya. Pengharapan selalu harus ditentukan sebelum menuliskan sesuatu – apalagi menerjemahkan. Tentu, kita tidak mau menuliskan/mengucapkan serangkaian kata tanpa makna, bukan? Saat kita ingin menyindir, marah-marah, atau pun memuji, semua harus tersampaikan dengan baik. Ketika isi teks berisi pujian, apakah kita akan menyampaikannya dengan bentuk seolah melecehkan? Tentu tidak. Oleh sebab itu, saya sangat menyesalkan mereka yang bisa menulis serangkaian kata, tapi belum berhasil menyampaikan makna jelas dalam teks terjemahan. Kata sambung dan objek beterbangan di mana-manaLebih disesalkan lagi karena apa yang disangka sebagai objek ternyata sebenarnya kata kerja dan serangkaian kata sambung yang “boros” itu sebenarnya bisa dirangkai menjadi kalimat yang jauh lebih efektif – andai mereka bertujuan untuk menuliskan sesuatu yang berlandaskan makna dari teks sumber.

Langkah terakhir adalah menyesuaikan bentuk komunikasi kita dengan baik ke sasaran. Dalam kasus pertemanan, saya akhirnya “menyembunyikan” sebagian besar pengetahuan yang saya nilai “asing” bagi mereka. Sama halnya dalam terjemahan: kita tidak mungkin menyebut ribuan istilah berbahasa Inggris untuk pengoperasian traktor, di depan para petani yang lebih paham tentang sisi kepraktisan ketimbang teori pengoperasian dalam manual. Seorang komunikator tidak boleh keras kepala dan menganggap dirinya yang paling benar. Tujuan akhir seorang komunikator adalah: komunikasi yang disampaikan dapat diserap oleh sasaran. Hanya itu, dan akan terus begitu. Dan inilah tujuan saya menjadi penerjemah: menyampaikan komunikasi sebaik mungkin.

Oleh karena itu, saya dengan setulus hati menyatakan bahwa mereka yang memiliki masalah dalam komunikasi (selalu gagal paham terhadap maksud orang lain, terlalu sering dikritik karena sulit dimengerti, dikritik karena penggunaan kata atau kalimat yang salah, apalagi menerima endless bullying karena sesuatu yang dituliskannya) harus memikirkan ulang tujuannya untuk menjadi penerjemah.

Waspadalah kalau kita menuai terlalu banyak kritik saat bertutur baik secara lisan maupun tulisan, karena itu sebenarnya lampu kuning pertama yang menandakan buruknya komunikasi. Komunikator yang buruk akan sangat kesulitan untuk mencapai tujuan terjemahan – yang tiada lain adalah komunikasi.

Nah, sampai di sini, mari kita tinjau diri masing-masing dan bertanya, apakah kita sudah pantas menjadi penerjemah?

 

Bandung, 4 Maret 2014

*Terima kasih untuk editorku tersayang – jangan bosan yah membantuku menulis :D

Mengurai Jalan Menjadi Penerjemah … Bagian I

Standard

Saya menghabiskan sejumlah waktu merenungkan jalan seorang penerjemah, karena kok rasanya masalah ini sekarang jadi penting- banyak penerjemah pemula [dan terkadang bukan pemula juga] yang bertanya kepada saya tentang uraian jalan ini.

Gimana sih cara mulai menjadi penerjemah?”

[Rata-rata pertanyaan yang saya peroleh senada]

Saya bukan orang yang gemar berteori – saya tidak pernah mengecap pendidikan linguistik atau pun membaca buku tentang teori penerjemahan. Bisa dikatakan ini acquired skill, karena saya besar dan hidup di tengah para penerjemah dan sudah demikian terbiasa melihat proses menerjemahkan, sehingga ketika saya harus memulai, tidak terlalu banyak hal yang membingungkan lagi.

Saya akan berbagi beberapa hal yang diajarkan oleh sejumlah mentor yang saya temui sepanjang hidup saya. Soal mentor sendiri akan saya bahas secara terpisah karena [ternyata] ini adalah faktor yang tidak terelakkan ketika seseorang ingin menjadi profesional [dalam bidang apa pun]. Semua mentor saya tidak pernah “resmi” menyatakan diri mereka sebagai mentor, tapi tanpa diminta, mereka telah banyak membantu saya untuk menjadi penerjemah yang seperti sekarang.

Kembali saya menafikan bahwa semua “teori” ini bukan bersumber dari buku linguistik/buku ajar penerjemahan apa pun. Teknis penerjemahan sendiri sudah demikian banyak dibahas dan saya menulis ini bukan untuk berbagi teknik, karena semua itu sudah bisa dipelajari sendiri.  Yang akan saya bahas di sini adalah kesimpulan yang bersumber dari pengalaman semata.

  • Hal pertama yang akan saya kemukakan adalah komunikasiPernahkah kita membuat seseorang menjadi jengkel akibat tulisan/perkataan kita, padahal maksud kita samasekali bukan untuk membuatnya jengkel? 
  • Hal kedua, adalah cara berkomunikasi. Cara berkomunikasi verbal dan tertulis yang baik merupakan bagian dari pembentukan seorang penerjemah yang baik … benarkah?
  • Hal ketiga, tentu saja, mengenai mentor. Renungkan sesaat, berapa banyak mentor yang kita miliki dari sejak memulai profesi ini hingga saat ini?
  • Hal keempat adalah tentang alat, ini sangat ramai dibicarakan [terutama penggunaan CAT Tools]. Saya menangkap asumsi “sumbang”, bahwa seorang penerjemah belum dapat dikatakan profesional kalau belum menggunakan CAT Tools – benarkah?

Dua hal pertama yang saya sebutkan dari keempat butir di atas adalah the basic commands for someone to become a translator. Alasannya sederhana: bahasa adalah alat komunikasi, dan penerjemah berhubungan dengan bahasa. Lantas, mengapa saya tidak menyertakan pemahaman mengenai bahasa sasaran dan bahasa sumber? Karena dua hal itu sesungguhnya menjadi “pemicu” seseorang untuk “berinisiatif” menjadi penerjemah.

Memahami bahasa asing + menjadi orang Indonesia (yang mengikuti pelajaran bahasa Indonesia di sekolah) = bisa menjadi penerjemah … benarkah?

Ya, hal inilah yang sebenarnya ingin saya “basmi” – jujur, saya bisa memahami bahasa Belanda dan Malaysia dengan baik, tapi saya tidak mau menjadi penerjemah dua bahasa itu. Mengapa? Karena dua faktor di atas, “komunikasi” dan “cara berkomunikasi”. Dua hal ini penting – sangat penting – dan bisa MENJADI BERBAHAYA jika dijalani dengan cara yang “salah”. Dan alasan ngeles “Ah kan ada Google Terjemahan” tidak akan membantu untuk mengatasi bahaya itu – saya akan mencoba menerangkan secara santai nanti, alasan mengapa Google Terjemahan/Google Translate TIDAK BISA membantu untuk menjadi penerjemah.

Profesi penerjemah BUKAN profesi yang bisa dikerjakan sambil lalu.

Profesi ini juga BUKAN profesi yang bisa dijalani dengan semata menimbun kamus, CAT Tools, komputer super canggih, atau koneksi Internet super lancar.

Profesi ini BUKAN profesi yang menjadi sah karena Anda pernah tinggal di negara berbahasa asing.

Profesi ini adalah mengenai

“Understanding what the content means and communicating them through your understanding, your perception, with ways that your intended readers/listeners understand.”

Tulisan ini akan saya bagi menjadi beberapa bagian – karena saya tidak suka menulis panjang-panjang.

And anyway, I need to get back to my deadlines.

 

Bandung, 1 April 2014

 

 

When you want to, you can … and you will.

Standard

Tadi malam, saya mengenang puluhan pertanyaan yang dilayangkan kepada saya – semuanya bernada sama – mengenai modal yang harus disiapkan ketika seseorang memutuskan untuk berprofesi menjadi seorang penerjemah. Waktu itu saya mengatakan bahwa pendekatan yang saya lakukan ada tiga: laptop/PC, modem, dan Bahtera. Tapi ketika membaca blog mbak Dina, saya sadar bahwa “pendekatan” untuk menjadi seorang penerjemah mungkin ada puluhan, dan apa yang saya katakan dulu tentang pendekatan saya [mungkin] tidak sepenuhnya jujur.

Kenapa saya bilang tidak jujur, karena keadaan saya dulu jauh sekali berada di bawah mbak Dina, ketika saya memulai [kembali] profesi ini.  Ketika saya memutuskan untuk kembali bekerja [tahun 2009], saya tidak punya modal samasekali. Suami saya masih bekerja di luar kota, kami mengontrak rumah terpisah dari orangtua, dan satu-satunya PC yang kami miliki waktu itu harus dibagi penggunaannya dengan dua orang [saya dan suami]. Melalui jalan yang agak “ngider“, saya memperoleh pekerjaan dari seorang teman lama sebagai pembuat skenario game SMS. Waktu itu saya memperoleh bayaran yang cukup besar untuk ukuran saya yang nggak punya apa-apa, dan sebagian bayaran itu akhirnya saya keluarkan untuk membeli netbook Acer. Sebelumnya suami saya telah “nekad” membeli modem mobile [dulu harganya masih di atas 1 juta], dan selama kami hidup miskin, kami meluangkan apa pun dan semuanya untuk membayar biaya langganan modem byar pet itu setiap bulannya.

Saya gak pernah berpikir bahwa komputer mini itu bisa mengembalikan uang yang saya keluarkan untuk membelinya. Boro-boro. Saya bahkan tidak tahu apa saya bisa memperoleh pekerjaan [lain] menggunakan netbook Acer itu. Saya hanya berpikir sederhana bahwa saya tidak perlu lagi berbagi komputer dengan suami, jadi suami bisa mencari pekerjaan di Bahtera, sembari saya juga bisa mengerjakan sesuatu – entah apa itu, menulis kek, dagang kek [menjadi penerjemah profesional masih jauh banget dari pikiran waktu itu, padahal saya sudah menjadi anggota Bahtera selama dua tahun penuh namun saya terlalu takut untuk melamar sebagai subkon setiap kali ada lowongan, karena merasa hasil terjemahan saya tidak cukup baik untuk komunitas sekelas Bahtera].

Akhirnya [setelah mengumpulkan nyali untuk melamar sebagai subkon - semata-mata karena kepepet biaya hidup] dari Bahtera saya memperoleh segelintir pekerjaan, berkenalan dengan satu orang yang kemudian memberi pekerjaan. Dari kebiasaan saya nongkrong di Yahoo Messenger, seorang sahabat membantu saya untuk membuat suatu sampel terjemahan cukup cantik yang akhirnya dilayangkan ke Mizan. Mizan menerima saya – dan jadilah saya seorang penerjemah novel. Melalui Bahtera juga, saya diterima di salah satu agen internasional yang membuka kantor di Indonesia, kebetulan waktu itu mereka membuka lowongan. Dari seorang Project Manager yang sangat baik di sana, saya kembali menimba ilmu, dengan bayaran yang masih kecil.

Saya tidak punya CAT tool apa pun waktu itu –  hanya punya Wordfast Classic gratis ditambah dengan CAT tool lain yang diberi dari agen. Setiap kali saya menggunakan Wordfast, saya harus memperbarui TM-nya [dulu saya gak tau TM itu apa dan fungsinya apa, sampai sahabat saya si editor Mizan mengarahkan saya ke blog milik mas Wiwit Tabah Santoso], maklum pakai gratisan, TU terbatas, ha ha ha. Saya belajar menggunakan Trados 2007 dari CD bajakan yang saya beli melalui menabung. Boro-boro cek TM, confirm segment aja gak bisa. Saya mencoba puluhan cara dan membaca bagian “Help” puluhan kali sampai akhirnya Trados 2007 takluk di tangan saya. Tidak ada trainer, tidak ada forum, tidak ada yang membantu – saya hanya mencari sekadarnya dari Internet dan setiap kali saya melakukan sesuatu, selalu keluar komat-kamit doa agar si perangkat lunak tidak crash dan pekerjaan saya tidak hilang – dan jika crash, saya hanya bisa mengatupkan rahang dan mengulang terjemahan.

Saya baru berani memutuskan bahwa saya ingin menjadi penerjemah profesional yang serius setelah “dikilik-kilik” pekerjaan oleh dua klien saya ini – samasekali bukan karena saya mendengar bahwa pekerjaan ini bisa membeli rumah dan mobil – apalagi berpikir tentang kenyamanan kerja di rumah dengan penghasilan tinggi. Sebenarnya dengan modal yang saya miliki waktu itu, saya hanya bisa bekerja sebagai penerjemah. Suami saya berkata tempo hari, “Sayang kan, kamu udah punya dua klien [Mizan dan si agen], kenapa kamu gak go pro aja?” [Waktu itu saya telah memberanikan diri untuk mendaftar untuk menjadi anggota HPI - saya baru berani setelah menyelesaikan satu novel LOL]. Akhirnya saya turuti saran suami saya dan meniatkan untuk go pro – namun saya tidak pernah berani membayangkan untuk mengganti si netbook dengan laptop canggih, memiliki koneksi internet streaming, CAT tools asli, atau bahkan membayangkan diri saya berada di posisi sebagai penerjemah Google. Saya dan suami masih menggaruk tanah untuk menanam biji yang entah tumbuhnya kapan! Waktu itu saya tidak merasa bahwa saya sudah pantas disebut sebagai penerjemah profesional. Satu-satunya jalan yang saya lihat adalah tetap berusaha sebaik mungkin dengan modal yang ada, dan terus belajar dengan segala keterbatasan – termasuk dengan menggunakan si WF gratis, si Trados bajakan, dan si netbook layar mini itu.

Ketika saya tersapu oleh proyek situs web hotel yang maha besar dan kemudian dihajar oleh proyek besar lain pada tahun 2011, saya masih menggunakan netbook. Masih membungkuk di atas meja belajar anak saya yang berposisi sangat rendah, sehingga punggung bisa menjadi panas dalam waktu 2 jam saja. Bagaimana bisa seseorang mengedit dua puluh ribu kata sehari melalui layar netbook? Well, saya bisa. Pemikiran saya waktu itu hanyalah untuk mengembalikan modal yang telah saya pakai untuk membeli netbook. Saya baru bisa membeli Trados 2009 asli pada pertengahan tahun 2011 [dan ini juga setelah saya akhirnya mengganti netbook dengan laptop Lenovo saya yang pertama - semata-mata karena saya sadar bahwa netbook saya tidak mungkin mengoperasikan Trados 2009 - sebenarnya dia tidak mungkin lagi mengoperasikan apa pun karena sudah terlalu lelah],  saya baru bisa menyicip yang namanya Windows 7 asli pada tahun itu juga. Semuanya berkat nasihat seorang Bunda Senior baik hati yang berkata “Maria, ketika kamu sudah sukses nanti, saya sarankan kamu membeli perangkat lunak asli. Mulailah dengan yang halal, supaya rezeki kamu halal juga.” Dan niat saya pun hanya sampai sejauh itu … bekerja dengan perangkat lunak halal, supaya rezekinya halal. Waktu itu tidak ada keinginan aneh-aneh untuk menjadi trainer Trados atau pun menjadi CAT tools master – dan sampai sekarang pun, kalau saya menerangkan solusi pemecahan masalah dalam Trados, saya sering merasa keder sendiri karena pembelajaran saya benar-benar melalui trial and error, bukan dari teori.

Sekarang saya sering ketawa sendiri jika menemukan seorang penerjemah baru yang headlong, nekad mengeluarkan 6-8 juta untuk membeli CAT tools tanpa memiliki prospek klien atau calon klien – karena saya sendiri dulu berupaya mati-matian dari gratisan dan bajakan [dan sampai sekarang, kalau ada keperluan untuk menjajaki CAT tool baru, saya selalu berupaya agar memperoleh versi gratisnya dulu - saya baru akan membeli kalau saya sudah merasa benar-benar yakin bahwa modalnya akan kembali dalam waktu kurang dari 3 bulan]. Saya juga selalu ingin tertawa ketika melihat seorang calon penerjemah yang nekad membeli laptop indah nan canggih padahal klien mereka masih sedikit atau bahkan belum ada – tertawa miris … karena keadaan mereka dan saya waktu dulu demikian njomplang …  modal saya cuma netbook dan koneksi modem mobile yang byar pet. Ditambah dengan mimpi.

But my dreams were my fuel, and I knew back then that somehow I could make it. I wanted to make it. And so I did.

Bandung, 6 Maret 2014

*Pekerjaan kembali padat … mari menyintas*

Serpihan Kenangan dari Tes Sertifikasi Nasional HPI 2013

Standard

Sudah lama sekali saya ingin mengikuti Tes Sertifikasi Nasional (TSN) untuk penerjemah tulis, tapi saya selalu agak jiper. Saya terus menghibur diri sendiri dan berkata bahwa sertifikasi itu tidak perlu karena toh saya sudah “menjadi” penerjemah, sudah memperoleh beberapa klien tetap, sudah mengerti, dan sebagainya. Tapi yah, yang namanya ujian adalah untuk membuktikan seberapa jauh kita telah melangkah, bukan? Ibarat bersekolah (itulah yang saya rasakan mengenai profesi ini sebenarnya – profesi dengan pembelajaran tiada akhir), ujung-ujungnya ujian harus tetap ada. Akhirnya tahun 2013 lalu saya memberanikan diri untuk ikut serta dalam ujian sertifikasi nasional ini.

Saya hanya mengambil satu pasangan bahasa saja yaitu Inggris-Indonesia kategori terjemahan umum. Biaya ujian ini lumayan besar bahkan untuk penerjemah pro sekali pun. Bayangkan bahwa Anda harus membayar biaya ujian sekian dan harus bersiap untuk menelan kegagalan dan membiarkan uang pendaftaran hangus. Karena pertimbangan tersebut, saya menepis keinginan iseng coba-coba dan bertanya kepada diri sendiri, hasil apa yang ingin saya raih dari keikutsertaan ujian ini.

Akhirnya saya berhasil merumuskan keinginan “luhur” yang (mungkin) terlalu sederhana: saya ingin mengukur tingkat profesionalitas diri. Terbetik oleh saya, bahwa panitia TSN yang terdiri dari orang-orang cerdas tidak mungkin akan membiarkan kami (para peserta) lolos begitu saja dari lubang jarum tanpa setidaknya ‘menggebuki’ kami dulu. Saya belum pernah mengikuti tes apa pun terkait penerjemahan kecuali tes kompetensi Trados  - saya tidak punya gambaran sama sekali mengenai TSN.

Beberapa senior yang berbaik hati sempat meluangkan pernyataan bahwa yang terberat dari TSN adalah target waktunya. Secara logis, menerjemahkan 1000 kata dalam waktu 3 jam adalah hal yang normal bagi seorang penerjemah profesional. Tapi beban kelulusan dan keterbatasan waktu membuat 1000 kata dalam 3 jam terasa maha berat. Salah satu perkataan yang nyangkut di telinga saya adalah dari pak Wiyanto Suroso. Beliau berkata “Gak ada waktu buat liat kamus, Maria.” Dua hari sebelum TSN dilaksanakan, akhirnya saya yang lemot ini mengambil kesimpulan semena-mena dari pernyataan pak Wiyanto: Bawa kamus percuma. Hah?? Yang baca pernyataan ini pasti kaget. Kamus adalah senjata utama penerjemah, tanpa kamus penerjemah tidak bisa mengecek padanan kata.

Tips pertama: jangan pernah menggantungkan diri pada alat apa pun – gantungkan kepercayaan kepada diri Anda sendiri. Kamus tidak akan membantu kalau pikiran Anda kosong dan tidak memahami teks sumber. Penerjemahan adalah pemahaman Anda mengenai bahasa sumber, bukan melulu mengenai padanan kata dalam kamus.

Sehari sebelum TSN saya masih berkutat menyelesaikan berbagai dokumen pekerjaan. Semalam sebelum berangkat ke Jakarta untuk mengikuti ujian, tiba-tiba saya menemukan cara sederhana untuk mengatasi urusan kamus ini. Saya tahu panitia bisa menyasar materi apa saja – pikiran panitia bisa seluas samudera – dan saya tidak bisa membawa semua kamus yang saya miliki. Belum lagi kata-kata pak Wiyanto yang terngiang-ngiang terus di telinga saya. Solusi akhir saya sederhana: ujian dikerjakan di MS Word. MS Word punya Thesaurus. Thesaurus adalah dunia sinonim. Sinonim bisa menjadi padanan kata.

Esoknya, saya dan seorang sahabat dari Bandung dengan gagah berani berangkat ke lokasi ujian TSN – tanpa kamus satu pun. Alasan sahabat saya lebih ngehe lagi: “Berat”. Dasar dua orang pemalas! Sampai di lokasi ujian kami juga sempat nyasar. Kami berdua tertawa-tawa penuh rasa pede (sebenarnya untuk menyembunyikan ketakutan karena peserta lain membawa kamus sampai tiga buah). Indeedthere was a surge of panic there, actually.

Setelah memasuki ruang ujian, saya menghabiskan waktu 5 menit untuk mengecek keberadaan Thesaurus yang menjadi tumpuan harapan. Thesaurus MS Word dapat diakses, lengkap, dan berfungsi dengan baik. Geser keyboard ke kiri sedikit, miringkan layar – tumpang kaki – bersandar – berdoa singkat, mari mulai. Lembar ujian dibagikan, dan ketika saya membacanya, saya …. melongo.

Topik pertama adalah Executive Summary berbau ekonomi migas. Saya dengan tulus menginformasikan kepada kalian semua bahwa Executive Summary dan ekonomi adalah dua topik yang PALING SAYA HINDARI selama menjadi penerjemah tulis. Setiap kali saya kesambit topik ini, saya selalu ‘melemparnya’ ke sahabat saya (yang duduk di sebelah dengan pandangan sama kosongnya). HadeuhTRUS GUE HARUS GIMANA? Saya membaca dengan panik, sejumlah angka dan istilah berseliweran and I don’t know what they are.

Tips kedua: never panic – read on. Sesulit apa pun topik tersebut, selama topik masih dalam bahasa Inggris dan bukan Swahili, Anda selalu punya harapan.

Saya membaca bagian terjemahan wajib itu sambil mengutuk-ngutuk, kenapa selama ini saya selalu melemparkan topik Executive Summary ke semua orang lain di dunia kecuali diri sendiri? Saya menghela napas dan membaca bagian terjemahan pilihan, pilihan pertama berbau ekologi hewan, sedangkan topik pilihan kedua berbau sains. Saya menumpukan harapan pada topik terjemahan pilihan pertama karena tampaknya mudah.

Tips ketiga: jangan pernah menganggap suatu teks terlalu mudah atau terlalu sulit. Cobalah berpikir netral karena penerjemah adalah mahluk netral – seorang penerjemah menuturkan kembali, bukan mengambil kesimpulan.

Ketika Bapak Pengawas berkata “Ya, silakan mulai,” saya melakukan apa yang pertama kali terpikir ketika menghadapi suatu teks: ya tulis aja isinya tentang apa. Saya menuangkan habis-habisan semua pemahaman saya mengenai Executive Summary itu. Saya melirik ke sahabat di sebelah saya dengan rasa sirik dan jengkel, jelas-jelas dia lebih bisa menerjemahkan topik ini ketimbang saya … Saya mengetik secepat mungkin sembari berpikir apakah lain kali pihak Panitia akan memperbolehkan kami membawa keyboard sendiri – keyboard ruang ujian agak keras …. Saya menatap ke langit-langit sambil merenung, apa sih padanan “Executive Summary“? … Sambil menekan tombol keyboard keras-keras, saya melihat ke depan dan salah satu sahabat saya yang lain (penerjemah dari Jakarta) sedang menghadapi terjemahannya dengan tampilan huruf MS Word yang kayaknya 150 persen besarnya (Ebuset, udah pake kacamata masih juga digedein??) … Saya melirik lagi ke sebelah kiri depan, ada yang sudah kasak-kusuk buka kamus … Jam berapa ini, kok saya ngantuk …. Semua pikiran itu berlalu tapi tangan saya tetap mengetik tanpa henti, sesekali menekan backspace untuk menghapus typo ...

Tiba-tiba saya menyadari bahwa teks wajib sudah habis saya terjemahkan. Rasanya seperti seabad tapi ternyata saya menghabiskan waktu hanya 20 menit untuk mengetik. Muncul ketakutan lain: pasti isinya ngawur. Benar saja! Saya membaca ulang hasil terjemahan dan menjadi “kagum” bahwa saya bisa melemparkan kata sambung, objek, subjek, predikat, menambahkan kata yang tidak ada sekaligus menghilangkan kata yang harus diterjemahkan. Tapi alih-alih mengoreksi, saya bergerak langsung ke teks pilihan pertama. Topik teks pilihan ini adalah ekologi hewan gorila.

Saya tidak menyukai gorila.

Sembari membaca, tiba-tiba saya merasa berada di awang-awang – but not in a good way. Saya mengernyit, kembali membaca teks gorila dan tiba-tiba saya merasakan keringat dingin. Apakah saya salah menulis gorila, should it be “gorila” or “gorilla”?? There is no way of checking, is there? Kenapa kalimatnya bertingkat-tingkat seperti BNI Tower …. Siapa yang membangun fondasi? Si gorila? (Gorilla??) Ada orang lain yang terlibat? Kenapa BNI Tower?? Kenapa saya malah memikirkan BNI Tower dan tidak bisa berkonsentrasi pada teks?

Tips keempat: ketika terjangkit ‘lost in translation’, TINGGALKAN DAN MOVE ON. Jangan memaksakan diri untuk mengurai benang kusut karena benang kusutnya ada di pikiran Anda, bukan dalam teks. Tenangkan dulu pikiran, salah satu caranya adalah beralih mengerjakan yang lain.

Akhirnya saya menghapus tuntas kisah si gorila yang tadinya saya anggap mudah, dan beralih ke teks pilihan kedua. Ternyata, teks pilihan kedua yang sebelumnya terbaca sulit, terasa lebih mudah dibanding si gorila yang tak ada ujung pangkalnya itu (mungkin juga karena saya syok oleh gorila – secara psikologis saya sudah menilai teks pilihan pertama sebagai sulit, sehingga apa pun selain gorila terasa lebih gampang). Teks sains pembuatan serat sintetik berhasil saya “mainkan” tanpa ada kesulitan berarti.

Tips kelima: mengetik vs menyunting – pekerjaan yang lebih berat adalah menyunting. Mengetiklah secepat mungkin untuk meluangkan waktu penyuntingan sebanyak mungkin. Gunakan semua fitur yang bisa digunakan ketika menghadapi kebingungan padanan kata, ketikkan tanda bintang, xxxx, beri highlight, komentar, pendek kata tandai semua kata yang meragukan dan membingungkan agar Anda bisa kembali nanti untuk mengurusnya, alih-alih berkutat satu hingga dua menit di kata yang sama sehingga otak menjadi butek.

Akhirnya, saya kembali untuk menyunting si “Ringkasan Eksekutif”  (saya sempat bangga karena merasa telah “menciptakan” padanan itu, padahal saya yang amatiran karena tidak pernah benar-benar tahu bahwa Executive Summary = Ringkasan Eksekutif). Walaupun panitia sempat mengumumkan bahwa kesalahan ketik tidak dianggap sebagai penurun skor, saya merasa berkewajiban untuk merapikan terjemahan ini karena mereka (panitia) adalah konsumen saya. Saya mencurahkan segenap kasih sayang dan perhatian pada hasil terjemahan melalui penyuntingan super teliti. Dan ternyata memang sebagian terjemahan saya harus dirombak – subjek dan objek beterbangan bagaikan sampah luar angkasa dengan posisi tidak menentu. Saya meluangkan waktu untuk membaca teliti tiga kali, dan membaca cepat dua kali.

Tips keenam: Satu hal teramat penting adalah kemampuan swasunting (saya meminjam istilah ini dari Ibu Sofia Mansoor). Swasunting memiliki dua rahasia: Satu, bersikaplah bagaikan seorang editor buas bertraktor yang sedang menyunting terjemahan orang lain, walaupun yang Anda hadapi adalah terjemahan milik sendiri. Dua, swasunting hanya bisa berhasil jika kepala Anda telah jernih dan tidak bias oleh isi terjemahan milik sendiri. Karena itu, jangan pernah berusaha melakukan swasunting segera setelah selesai menerjemahkan. Kerjakan yang lain dulu, tutup mata sekitar satu-dua menit, baru hadapi kembali terjemahan Anda.

Akhirnya, saya selesai. Sahabat yang duduk di sebelah saya sudah melamun. Sahabat yang duduk jauh di depan dengan tampilan MS Word 150 persen itu sudah berhenti mengetik dari tadi. Saya menjadikan kertas ujian sebagai tenda dan menutupi kepala yang rasanya panas luar binasa. Saya kembali memandang langit-langit …. Melirik Bapak Pengawas yang tampaknya heran melihat kelakuan penerjemah gila ini (baca: saya). Saya kembali membaca hasil terjemahan sebelum akhirnya menyimpan hasil di USB dan di hard drive komputer.

Tips ketujuh: DON’T OVERCORRECT. Ini adalah penyakit khas editor, terjemahan terus disunting tanpa henti, mengganti “mengenai” menjadi “tentang”, dari “dia” menjadi “ia”, menghapus “-nya” dan mengganti menjadi “tersebut” …. Tiada yang sempurna di dunia ini, yang sempurna hanya Tuhan, dan tidak ada yang akan merajam Anda jika tidak lulus TSN. Don’t sweat over small stuff – know when to quit and don’t waste time trying to be super perfect.

Akhirnya saya memutuskan bahwa tiada lagi yang bisa dilakukan – inilah hasil terbaik saya. Sahabat saya yang duduk di depan tiba-tiba beranjak dan meninggalkan ruang ujian. Saya dan sahabat yang duduk di sebelah saya juga terprovokasi juga untuk keluar ruangan. Kami menyerahkan hasil ujian dan keluar dengan kepala panas, yang kemudian didinginkan oleh candaan-candaan bersama panitia, makan siang yang lezat, dan komentar-komentar gila yang kami lontarkan kepada panitia dan kepada satu sama lain.

TSN ini tidak mudah. Tapi saya sangat bahagia karena akhirnya tujuan saya tercapai: saya telah membuktikan bahwa saya adalah penerjemah profesional yang bisa bekerja dalam segala kondisi dan tekanan, untuk menyajikan hasil sebaik mungkin sesuai dengan kemampuan dan pemahaman diri. Keikutsertaan dalam TSN telah menjadi pengalaman berharga untuk saya sehingga sebenarnya saya tidak terlalu mempermasalahkan kelulusannya sendiri. Semua tips yang saya berikan di sini bukanlah tips untuk mengikuti TSN saja – semua ini adalah yang saya lakukan selama menjadi penerjemah, bukan berupa ilmu pasti. Sesungguhnya ujian sertifikasi ini tidak ada bedanya dengan menerjemahkan bagi seorang klien – komunikasi, pemahaman, keluwesan, ketepatan, adalah semua hal yang seharusnya diraih dalam TSN ini, karena bukankah itu semua yang selalu kita sajikan kepada para klien?

Bandung, 18 Februari 2014

Untuk memperoleh keterangan selengkapnya mengenai TSN, silakan baca http://www.hpi.or.id/sertifikasi, atau layangkan email ke sekretariat@hpi.or.id

… Oh, just in case you are wondering whether or not I passed TSN …. I did. 

Phew.

… Berhentilah Kejar Setoran, Anda memakan korban …

Standard

Image

(Pemikiran “volume besar, duit besar” – tidak sadar akan kemampuan diri ketika berkata dalam hati, “Saya sebenarnya tidak sanggup, but just think of the money deh”, dan kemudian setelahnya, “Ah, si klien tidak akan pernah tahu, yang penting saya sudah dibayar” = PENERJEMAH KEJAR SETORAN)

Ini kisah pendek tentang suatu hari Kamis yang mendung, ketika saya harus menjadi proofreader.

Kisah pendek menjadi panjang ketika saya mendapati bahwa terdapat banyak sekali kesalahan yang sebenarnya tidak perlu. Suasana hati berubah dari cerah ceria menjadi kelam tak terkira – tak terbayang bahwa penerjemah rekan saya ini bisa membuat sedemikian banyak kesalahan.

Kisah yang sudah setengah panjang menjadi lebih panjang dan menggusarkan ketika dokumen diverifikasi menggunakan X-Bench (apa itu X-Bench? Akan saya terangkan kapan-kapan). Banyak sekali yang tidak konsisten, salah ketik dan benar ketik bercampur baur menjadi satu dan menimbulkan tanda tanya.

Saya, si proofreader, akhirnya berpikir juga (setelah menjadi bolot selama 3 jam lebih), jangan-jangan ada yang salah dengan si penerjemah. Si proofreader mengecek kembali isi Translation Memory (TM) dan melongo.

Semua ketidak-konsistenan, semua salah ketik, semua salah terjemahan (Table of Contents diterjemahkan menjadi “Indeks”?? Come on! Itu bahkan bukan kesalahan newbie!) berasal dari isi TM, data dari penerjemah sebelum kami semua. Terbayanglah wajah panik si penerjemah rekan saya yang berusaha menyelaraskan hasil terjemahannya dengan isi TM yang acakadut itu, terbayang rasa gusar dirinya karena dia tidak bisa menulis yang benar – karena perintah untuk menjadi konsisten menjadi jauh lebih penting.

Wahai Anda di luar sana yang hanya mementingkan uang, yang berani-beraninya menerjemahkan “Daftar Isi” sebagai “Indeks” (fatal), “pertahanan” menjadi “penerimaan” (fatal), “nilai tengah” menjadi “rata-rata” (super fatal) – ini hanya tiga contoh dari ribuan segmen yang telah Anda rusak – sesungguhnya uang yang Anda makan dari hasil terjemahan jelek itu mungkin telah habis, tapi jejak kesalahan Anda yang jelek luar binasa masih terus membekas mungkin hingga selamanya, dan tidak pernah terpikir oleh Anda bahwa kami (penerjemah berikutnya, editor, proofreader, klien) yang akan “katempuhan” (arti: ketiban sial).

There is a fine thin line between wanting to get more money and experience, with multiplied stupidity. 

Bandung, 12 Januari 2014

(Masih harus memeriksa sepuluh ribu kata lagi … *keluh*)

No thanks.

Standard

Bali, 30 Desember 2013 -

***

Dear Translator,

Please find here below the project details for a new translation project. Can you please let me know if you can handle this translation project starting tomorrow morning?

Looking forward to hearing from you.

***

Kami baru saja selesai menyantap makan malam ala Italia yang lezat di pesisir Echo Beach, Canggu, ketika email di atas masuk ke Blackberry saya yang berada dalam keadaan senyap. Liburan bulan Desember itu – liburan  bersama keluarga kecil saya, adalah liburan pertama yang sudah direncanakan jauh-jauh hari. Kami sudah memesan tiket pesawat pada bulan September dan sudah melunasi separuh biaya hotel pada bulan November – semata-mata untuk menunjukkan keseriusan dan janji kami kepada anak-anak tentang Bali (dan tentu saja untuk memperoleh diskon tiket pesawat, haha). Dan dari jauh-jauh hari pula saya sudah memberitahukan kepada semua klien bahwa saya akan mengambil cuti untuk liburan akhir tahun.

Walaupun banyak yang mengatakan bahwa pekerjaan lepas waktu adalah pekerjaan yang “bebas”, pada kenyataannya pekerjaan ini tidak pernah bebas dari perdebatan mental – on whether or not we should or should not take a job, providing that it has a decent rate. Selalu saja ada setitik rasa takut (yang bisa berkembang menjadi sebelanga rasa takut ketika keuangan menipis), bahwa pekerjaan yang ditawarkan pasti akan ditawarkan ke orang lain jika tidak diambil. Dan karena kedua hal ini, seringkali penerjemah lepas berkejaran dengan waktu, dan seringkali juga, sayangnya, ketakutan untuk menolak pekerjaan ini dijadikan senjata oleh para klien untuk melemparkan pekerjaan seenak jidat sembari mengabaikan kalender libur nasional di Indonesia.

Tahun lalu saya mendapat kecaman keras dari seorang sahabat setelah saya kedapatan menderita acid reflux – rupanya batin saya sudah menolak untuk merodi bahkan di hari Senin sekali pun, dan diam-diam rasa penolakan itu berubah menjadi acid reflux yang membuat saya tidak bisa tidur dan muntah-muntah di pagi hari.

Si sahabat bertanya, “Why can’t you say no?” (Dia bekerja hanya untuk satu agensi penerjemahan dan selalu membatasi volume hariannya sebesar 2.000 kata per hari).

Jadwal saya yang sehari-harinya selalu overbooked + acid reflux + pertanyaan dalam penuh makna dari si sahabat, membuat saya berpikir waktu itu. Kenapa ya saya tidak bisa menolak? Kenapa saya selalu bilang “ya”, walaupun saya tahu bahwa pada akhirnya yang kurang tidur ya saya, kualitas yang menurun ya kualitas saya, dan lambung yang marah ya lambung saya? Akhirnya saya mulai meninjau kinerja dan mendapati bahwa dorongan ketakutan (pekerjaan diberikan ke orang lain) dan perasaan bersyukur yang tidak pada tempatnya (memukul rata semua sebagai rezeki tanpa memperhatikan kesejahteraan jiwa) bisa berubah menjadi racun bagi diri saya. Akhirnya saya meninjau: Seberapa banyak kenikmatan yang saya peroleh dari semua pekerjaan itu, dan seberapa banyak saya sudah menghabiskan waktu untuk merawat mentalitas serta kehidupan saya yang lain?

Setelahnya saya mulai menata diri dan menendang sebagian klien. Saya mulai melakukan apa yang mungkin tak terbayangkan oleh penerjemah lain: saya mulai menolak. Saya memicing dengan ganas melihat hitungan kata di atas 50.000 dan saya mulai lebih sering mempertanyakan di muka tentang kesehatan mental saya di penghujung proyek, alih-alih menghitung dolar yang masuk. Dan saya membuktikan sikap konsekuen ini dengan menolak proyek besar pertama yang tiba setelah saya menata diri: 100.000 kata. Ketika saya menolak pekerjaan itu (dengan santai, gak pake galau, gak pake ngeluarin kalkulator Blackberry untuk menghitung bayaran), saya mulai melihat bahwa di balik pintu kebebasan dan kemandirian yang saya buka ketika memilih profesi ini, terdapat diri saya yang akhirnya bisa mengelus-elus batu-batu permata yang akan dijadikan perhiasan, akhir minggu menyenangkan bersama keluarga kecil saya di mall dan restoran, dan bertambahnya waktu tidur serta berkurangnya acid reflux.

Akhirnya saya “kecanduan” menolak. Saya mulai membutakan mata terhadap motivasi paling sederhana dari suatu pekerjaan: the money. Urutan motivasi yang tadinya uang – topik – waktu penyelesaian, berubah menjadi topik – waktu penyelesaian – lingkungan kerja yang menyenangkan – seberapa dekat saya dengan si pemberi pekerjaan – uang. Saya makin gencar menolak dan urutan motivasi itu saya bongkar pasang sesuai situasi. Tapi “uang” tidak pernah lagi jadi urutan terdepan – seringkali dia berposisi paling dekat di motivasi nomor 3. Sementara itu, ternyata jumlah klien yang menyusut tidak membuat pendapatan saya berkurang. Makin gencar saya menolak, makin sering saya menegosiasikan tenggat, pekerjaan yang singgah malahan makin banyak dan akhirnya saya mendapati jadwal kembali full booked (sampai kalender tidak pernah saya isi karena pusing melihat tumpang tindihnya), namun kali ini dengan porsi berkecukupan hingga saya bisa bersantai-santai atau mengebut sehari penuh untuk menyelesaikannya – terserah saya saja. Saya mendapati bahwa kembali saya jarang libur kecuali di akhir pekan (Sabtu dan Minggu – dan dua hari ini saya tetapkan sebagai dua hari libur wajib setiap pekan – saya selalu meluangkan waktu untuk menerangkan kepada para klien bahwa mereka tidak bisa menyerahkan pekerjaan hari Jumat malam dan berharap semuanya rapi jali Senin pagi). Saya tidak pernah menegosiasikan harga (baca: meminta bayaran lebih tinggi untuk pekerjaan yang saya anggap tidak menyenangkan) ketika menolak, saya berprinsip bahwa kalau mau ya mau, enggak ya enggak, jangan setengah-setengah bow, kalau enggak mau ya duit seberapa gede pun gak akan keliatan menarik dan kerjaannya pasti berubah jadi aniaya ketika dikerjakan dalam keadaan terpaksa - sikap ini menuai kritik dari banyak orang. Padahal, dari sudut pandang saya, sederhana saja:

- 10ribu kata dalam waktu 24 jam = aniaya (penerjemah bukan Superman, editor bukan X-men)

- bayaran dua digit dengan editor/penerjemah sok tahu dan tidak kooperatif = aniaya (inti kerja sama editor dan penerjemah bukanlah siapa yang benar dan siapa yang salah – juga bukan siapa yang dibayar lebih tinggi dan siapa yang derajatnya lebih intelek, tapi siapa yang bisa memberi ilmu kepada yang lain dan siapa yang bisa membantu untuk menyajikan hasil terbaik bagi klien)

- topik yang samasekali tidak dikuasai dan tidak diketahui dengan bayarannya setinggi langit = aniaya (saya bukan penerjemah bidang hukum dan terjemahan topik ekonomi saya cacat rupa, bahasa, dan istilah – saya lebih baik memberi tautan SIHaPeI ketimbang berpanjang-panjang riset dan menahan kantuk serta mabok kata-kata).

- sikap PM yang melecehkan, meremehkan penerjemah, dan menganggap penerjemah sama dengan babu = aniaya (saya bukan aspri Anda yang bisa dihubungi 24 jam sehari – saya menghormati zona waktu Anda tapi tolong hormati zona waktu saya, kalau Anda mau terjemahan yang timezone-less dan pay-less mohon pertimbangkan ulang untuk menggunakan Google Terjemahan berbayar).

- bayaran selalu terlambat, harus menagih berulang kali sampai bego, lupa, dan bosan = aniaya (mbok ya jangan ditunggu hingga keringat kering dan berganti dengan keringat proyek lain. Saya paham Anda punya sistem tapi tenggat pembayaran tidak boleh bisa membelah diri, dari 45 menjadi 90 atau 100 hari).

Kembali ke soal email yang saya salin rekat di atas, tanpa buang waktu saya mengirimkan email balasan ini:

***

Dear Ma’am,

I am currently on my vacation. I can only handle work after January 6, 2014. I am sorry for this but I did fill out the translator’s holiday schedule on your portal.

Maria

***

You know what? Actually …I did bring my laptop. Saya bisa saja curi-curi kerja setelah suami dan anak-anak tidur. But it didn’t take much thought to write that email down. Apa saya mau menyibukkan pikiran, tenaga, dan usaha, serta meregangkan prinsip di tengah liburan menyenangkan bersama keluarga di Bali, karena “harus” meraup “rezeki yang tidak boleh ditolak”? Tidak mau. Dan saya punya urgensi untuk “mengajarkan” rasa hormat (yang sepertinya telah lama hilang) dalam hubungan klien-penerjemah. Saya ingin mereka “kembali” menyadari bahwa saya manusia, saya tidak bekerja semata-mata demi uang tapi justru karena saya mencintai mereka dan mencintai pekerjaan ini. Saya selalu berkeinginan untuk menyajikan hasil yang terbaik dan mereka harus menghormati prinsip saya itu. Dan hasil yang terbaik hanya bisa diperoleh dari cukup riset, cukup istirahat, dan sejahtera mental.

Mungkin saya sudah gila – I don’t give a damn. Saya harus konsekuen terhadap kata-kata saya dan kembali sikap idealis itu tumbuh (setelah sekian lama saya kesampingkan demi mengejar status profesional): uang bukan segalanya. Andaikan saja klien tadi cukup edan untuk menawarkan dua-tiga kali lipat bayaran dari yang biasa saya terima dari mereka, jawaban saya pun akan tetap sama. Keluarga saya jauh lebih berharga dari pekerjaan ini – enjoying (even) the rainy Bali together with them was far more precious than the work.

Akhirnya saya menikmati sisa liburan hingga tanggal 4 dengan Blackberry dalam keadaan senyap. Setelah saya membalas email itu, saya berpikir bahwa mereka pastinya telah menemukan orang lain yang mau dan sanggup bekerja di akhir tahun, dan saya akan menikmati hari-hari yang agak sepi sepulang dari Bali – saya sudah menyiapkan sejumlah rencana untuk mengisi hari-hari sepi order itu. Tidak apa – ya sudah kalau sepi, memang Kuartal 1 selalu sepi dan saya bukan satu-satunya orang yang akan menikmati kesepian itu.

Bandung, 7 Januari 2014 –

***

Hi Maria,

Sorry for my late reply! I believe you should be back from the holidays, could you let me know if you are available for the translation, and give me your best delivery dates?

many thanks!

***

Si klien kembali (setelah menanti saya beres liburan), dan ketika di Bali, saya tidak pernah benar-benar membaca tajuk emailnya, yang bertuliskan … Batch 1 (Bagian 1). There will be more after this, and more, and more … :)

Dan akhirnya saya menyingkap satu lagi rahasia kehidupan:

bahwa ketika kita tegas menolak demi prinsip yang sudah kita amini, rezeki yang memang benar-benar milik kita akan kembali dalam bentuk, kemasan, dan buah yang lebih menyenangkan.

Bandung, 8 Januari 2014

(tulisan ini didedikasikan untuk seseorang yang pernah menasihati saya tentang hal yang persis sama empat tahun yang lalu – tapi saya tidak pernah mengerti maknanya hingga saya berani menjalaninya. Terima kasih, mbak Lanny Utoyo. Love you always.)

Keniscayaan dari Ketiadaan

Standard

Bali, 2 November 2012 – pukul 11.00 WITA, saya termenung di bawah pohon beringin besar di Tirta Empul.

Alkisah, pohon beringin tersebut tumbuh besar dan menaungi sisi pelataran pura Tirta Empul yang demikian panas. Suatu hari, mendadak pohon itu tumbang. Tiada yang pernah berusaha menanam pohon kembali di tempat itu, namun semua yang sembahyang di sana mengeluhkan betapa panasnya pelataran pura tanpa keberadaan si beringin. Tiba-tiba suatu hari, beringin itu tumbuh kembali tanpa ada yang menanam. Dia makin membesar sampai penduduk memutuskan untuk membelitkan kain dan memberinya sesaji.

Dan di sanalah, di bawah pohon beringin itu, saya menikmati limpahan rezeki yang telah saya terima sejak satu setengah juta kata menghampiri pada Desember 2010 dan berlalu pada pertengahan 2011 – disusul dengan proyek demi proyek yang membuat saya tak punya pilihan lain kecuali berpacu dengan ketukan keyboard. Titik kulminasi saya telah lenyap. Saat itu, di bawah pohon beringin, saya mengambang di tengah kehampaan. Because yes, I got everything I ever wanted. Everything.

Sebelum 2012, seringkali saya luput melihat jumlah uang yang diterima dan hanya berusaha menghabiskan apa yang ada di piring saja. Berusaha mengembalikan semua keadaan ke titik nol – dari minus yang susah payah saya dan keluarga pertahankan agar nilainya tidak makin membengkak. Dan sampailah di suatu saat ketika netbook menjadi laptop dan akhirnya ultrabook, dari ponsel biasa menjadi Blackberry, dari perangkat lunak bajakan menjadi asli. Saya mulai mengambang dari ketenggelaman.

Tahun 2012, saya akhirnya menyadari bahwa semua yang saya lakukan beralaskan dendam. Saya dendam kepada mereka yang memberikan pekerjaan dengan tarif rendah nan menghina dan menganggap bahwa pekerjaan ini mudah, “hanya alih bahasa saja”. Jadi, nilai delapan ribu per halaman jurnal sumber adalah wajar karena “hanya alih bahasa”. Dendam terhadap kebohongan bahwa saya harus mengambil pekerjaan sebanyak-banyaknya dan bersaing dengan sejumlah penerjemah lain dengan membanting harga serendah-rendahnya, karena konon demikianlah dunia penerjemahan. Semua itu bohong – penerjemahan bukanlah alih bahasa semata. Pekerjaan ini adalah alih konteks yang mahal karena klien membeli buah pemikiran dan keputusan kita, bukan membeli Google Terjemahan. Pada tahun ini saya juga memutuskan untuk mengambil spesialisasi hanya di bidang yang saya sukai. Beberapa mungkin berpikir bahwa saya mempersempit ladang, tapi sebenarnya saya sedang meningkatkan pengelolaan.

Saya mencintai semua klien dengan sepenuh hati, bukan karena profesi tapi karena empati – di balik semua email dan vendor portal, mereka adalah manusia dari berbagai bangsa. Saya berusaha untuk tidak menyusahkan – salah satu sikap yang saya pelajari dari senior berhati mulia yang telah menyentuh kehidupan saya pada Desember 2010. Kerjakan sesuai deadline, utamakan meminta maaf ketika (akan) terlambat, berhenti mengutarakan alasan yang tidak kontekstual (masalah pribadi), dan usahakan agar mereka tidak lembur – karena saya juga tidak mau lembur. Jumlah klien pun kian bertambah, satu demi satu, sampai akhirnya mimpi saya untuk bekerja sebagai pengulas di salah satu klien yang menangani penerjemahan Search Engine populer tercapai sudah.

SAYA BUKAN PENERJEMAH TERBAIK. But I learned to play it well – and I have all the resources to teach me how to play it well.

November 2012, saya memutuskan untuk rehat dan pergi ke Bali berdua dengan suami – di antara sejumlah perjalanan yang mencerahkan, cerita pohon beringin itu sampai ke telinga saya melalui penuturan seorang penduduk lokal. Saya tidak pernah menyadari arti cerita itu hingga lama kemudian, bahwa saat kita menjadi terlalu besar, apa yang ada di bawah kita tidak akan bisa tumbuh. Mereka akan ternaungi dari sinar matahari dan kemudian mati. Demi keseimbangan alam, naungan itu harus tumbang untuk kemudian tumbuh kembali.

Pada bulan April 2013 ayah saya – satu-satunya orang yang teramat sangat bangga dengan prestasi saya di dunia penerjemahan, meninggal dunia. Saat itulah saya menyadari … bahwa saya capek. Satu kata yang demikian sederhana tapi bermakna banyak untuk orang yang sudah mati dan hidup ribuan kali demi deadline. Sebulan setelah Papa meninggal, saya mengundurkan diri dari klien Search Engine yang sangat saya cintai, disusul dengan mengundurkan diri dari sejumlah agen dengan tebang pilih – mereka yang “merepotkan” (tarif jelek, keseringan mengomel, asal pilih editor, sering terlambat bayar) saya buang. Saya membiarkan diri untuk tumbang dan menghilang.

Sebagaimana layaknya semua hal dalam hidup, pekerjaan ini ialah pilihan, klien ialah pilihan, kenyamanan dalam bekerja ialah pilihan.

Saya dulu miskin, dan Tuhan telah menganugerahkan sesuatu yang sangat besar dan tak bisa diukur oleh nilai uang berapa pun … Dia telah menganugerahi kesadaran akan keniscayaan dari ketiadaan, bahwa jika saya mengerjakan sesuatu yang benar-benar saya cintai, semuanya akan berbalas positif seketika. Bahkan bisa berlipat-lipat. Dan tugas saya sebagai manusia adalah sekadar menyadari keniscayaan itu.

Saya meyakini bahwa keniscayaan saya adalah untuk menjadi bahagia – profesi ini telah menjadikan saya orang terbahagia.

Bandung, 22 Oktober 2013

niscaya /nis·ca·ya/ adv tentu; pasti; tidak boleh tidak: jika Tuan yg menyuruh, — ia berangkat;

keniscayaan /ke·nis·ca·ya·an/ n keadaan (hal) niscaya: pembakuan bahasa merupakan ~ yg mutlak

~ Mengenang satu setengah juta kata dan tiga belas orang penerjemah, seorang bunda berhati mulia yang selalu online di YM, malam-malam bersama GTT, senja di Kedonganan, dan Papa. This is my history ~