Jangan Salahkan Google Terjemahan

Standard

Wah, saya jadi terpancing lagi untuk menulis setelah sekian lama vakum. Sebenarnya ada beberapa tulisan yang masih saya simpan di bagian draft, seperti biasa konsep sudah ada namun eksekusinya seringkali nol besar, hahaha. Sekali ini saya bukan terpancing menulis karena teman-teman penerjemah lain, tapi karena ada komentar “gak banget” yang saya baca di salah satu tautan dari Kompasiana yang dibagi oleh teman saya hari ini di Facebook (ya sebenarnya resminya 8 jam yang lalu tapi saya baru baca tadi, hihihi).

Ini tautannya: media.kompasiana.com/mainstream-media/2014/10/16/catatan-tentang-terjemahan-inggris-yang-keliru-685781.html

Dalam artikel di atas, beliau membahas tentang kesalahan penerjemahan yang muncul pada beberapa titik di Kompas, sembari menyertakan pendapat mengenai terjemahan yang benar – dan pendapat beliau memang semua benar.

Yang gak banget itu adalah bagian komentar di bawahnya: “Mungkin menerjemahkannya pake Google Translate“.

Saya sudah terlalu sering membaca tulisan orang yang bicara tentang Google Terjemahan dengan nada seolah mencari kambing hitam bagi setiap kesalahan penerjemah yang muncul di media. Jujur saja, pada awalnya saya termasuk ke dalam pasukan orang-orang seperti ini. Dulu kalau saya menemukan hasil terjemahan yang ngawur, pikiran saya pasti langsung melayang ke aplikasi Google Terjemahan yang sering disalahgunakan oleh banyak orang untuk membuat terjemahan berharga murah tanpa pascasunting.

Setelah saya sering berposisi menjadi editor, saya akhirnya menyadari bahwa melempar tuduhan semacam itu tidak akan membuahkan hasil yang diinginkan (yaitu perbaikan kinerja penerjemah). Saya terus ditabrak oleh terjemahan buruk one after another sampai saya akhirnya berpikir bahwa tuduhan penggunaan Google Terjemahan ini sudah tidak memadai untuk melampiaskan kekesalan, dan bahwa tuduhan itu seringkali tidak berdasar dan dilontarkan oleh orang yang awam dan tidak mengerti masalah penerjemahan.

Sekilas tentang Google Terjemahan – saya akan menerangkan pemahaman sederhana karena sesungguhnya saya awam soal komputasi. Bayangkan suatu hard disk berukuran maha besar yang menyimpan semua kombinasi terjemahan yang bisa ditemukan dalam semua web – di balik Google Terjemahan ada suatu translation memory besar yang menyimpan segala jenis kombinasi terjemahan yang ada dan pernah dilakukan oleh seorang penerjemah, yang kemudian dipublikasikan di web. Semua data ini dirangkum dan diolah melalui algoritme yang bisa “meramalkan” kemunculan suatu teks.

Misalnya: “I want a dog” menjadi “saya ingin anjing”. Perhatikan bahwa “a” di situ tidak akan diterjemahkan jika tidak ada data mengenai “a dog” yang diterjemahkan menjadi “seekor anjing”.

Algoritme ini sudah menjadi semakin canggih sehingga kadang-kadang kita bisa memasukkan kalimat ke dalam Google Terjemahan dan hasil yang keluar sangat masuk akal. Namun mengapa aplikasi ini disebut sebagai tidak andal oleh seorang penerjemah? Anda harus memahami bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang sangat kontekstual. Seperti halnya bahasa lain, satu kata bisa memiliki beberapa makna dan penempatannya terkadang sangat spesifik sehingga tidak bisa digantikan oleh kata-kata yang umum.

Contoh: “I love you” yang diucapkan oleh seorang anak kepada ibunya akan berbeda terjemahannya dengan “I love you” dari saya ke Anda. Ini hanya contoh sederhana – dan untuk memahami konteks ini, terdapat badan teks/keterangan lain yang tercakup dalam suatu materi terjemahan, baik berupa gambar, paragraf lain, judul, dan lain sebagainya.

Inilah mengapa Google Terjemahan dianggap tidak andal dan dalam hal konteks, saya belum bisa membayangkan bagaimana sifat kontekstual ini bisa diatasi oleh mesin, karena sesungguhnya ada unsur budaya dan perasaan yang terlibat ke dalamnya. Google Terjemahan hanya akan mengolah teks sebagaimana adanya – yaitu sebagaimana kita memasukkannya ke dalam kotak sumber. Semua keterangan dan semua yang ada sebelum teks itu tidak akan “dicerna” secara kontekstual oleh mesin karena sesungguhnya kemampuan seperti itu belum ada.

Inilah yang membedakan seorang penerjemah dengan Google Terjemahan. Seorang penerjemah mengolah konteks yang dia peroleh dari rasa bahasanya, pengamatannya, risetnya, pengalamannya, dan pemahamannya terhadap ekspresi bahasa tersebut, bukan hanya soal makna atau arti dalam kamus.

Kembali ke urusan komentar yang gak banget itu, saya sudah yakin bahwa si pembubuh komentar hanya asal ceplak saja tanpa memahami apa itu Google Terjemahan dan apa itu penerjemahan. Terjemahan yang dibahas oleh pak Gustaaf Kusno di atas bersifat sangat kontekstual sehingga saya yakin ini (somewhat) 100 persen kesalahan penerjemah. Selama saya menjadi editor, saya telah menemukan beberapa indikator khas dari hasil terjemahan yang dapat menunjuk ke “kesalahan” penerjemah dan membuktikan bahwa terjemahan tersebut bukan hasil mesin. Mungkin pemikiran saya ini terlalu kompleks tapi sebagai editor saya bertujuan untuk meningkatkan kinerja penerjemah dan bukan untuk mematikan penghidupan mereka. Saya akan menguraikan secara singkat beberapa indikator tersebut, ditambah dengan penyebabnya.

  • Terlalu banyak salah ketik (dalam satu kalimat ada dua hingga tiga salah ketik), kalimat yang literal = Kelelahan. Jangan anggap sepele kelelahan penerjemah – di sini saya tidak berbicara hanya tentang kegiatan mengetik terus menerus tapi juga kelelahan yang sangat karena menerjemahkan “barang” yang sama terus menerus. Kami juga manusia, kami punya yang namanya rasa eneg. Coba Anda lakukan kegiatan membaca soal pilpres sebulan penuh tanpa henti. Anda pun akan eneg, apalagi kami yang bertugas bukan hanya membaca tapi juga menerjemahkannya.
  • Satu kata yang diterjemahkan menjadi kata yang samasekali lain = Saru mata (kurang teliti). Contoh yang menarik dari artikel Kompasiana di atas adalah “No go” menjadi “Now go“. Ini adalah contoh klasik saru mata karena bekerja di bawah tekanan tenggat yang menelurkan perasaan tertekan. Dalam keadaan mengantuk, lelah, eneg, bosan, dan kesal, huruf “w” itu akan dengan mudah menghilang. Dan secara logika si penerjemah akan jejal paksa kata yang salah itu ke dalam kalimat sehingga menghasilkan makna yang samasekali lain, bahkan bisa berlawanan.
  • Idiom yang diterjemahkan menjadi literal, kata-kata yang tidak masuk konteks materi = Kurang jam terbang. Ada beberapa bagian dalam diskusi terjemahan itu yang melibatkan jam terbang, seperti “remains” dan “coordinates“. Dua kata yang tampaknya tidak berbahaya tapi akan jadi berbahaya jika seorang penerjemah kurang memiliki jam terbang dan memilih untuk hajar bleh (ungkapan yang sering saya utarakan ketika membaca hasil terjemahan yang kurang baik). Di sini yang terjadi adalah alarm si penerjemah yang tidak berdengung ketika dia membaca kata yang seolah benign padahal ada makna lain untuk kata itu. Alarm ini hanya bisa menyala jika dilatih dengan meluangkan waktu untuk melakukan riset.
  • Kalimat terputus-putus kaku, terjemahan seolah diterjemahkan per kata, sampai pada titik ketika terjemahan terasa ngawur = Terintimidasi, terburu-buru, terdesak, panik. Faktor intimidasi ini menjadi hal yang penting dalam menentukan kualitas hasil terjemahan. Seorang penerjemah menerima banyak sekali “intimidasi” halus dengan beragam bentuk. Dalam kasus Kompas ini, intimidasi yang paling mungkin adalah tenggat. Materi masuk siang hari, harus naik cetak jam 3 sore atau jam 5 sore. Anda bisa membayangkan tekanan besar yang dihadapi si penerjemah. Otomatis tentu saja hasilnya tidak akan optimal – bisa jadi pemberi kerja bahkan tidak memberi waktu untuk melakukan swasunting. Bentuk intimidasi lain yang unik adalah dari perangkat lunak – saya pernah membahas ini secara singkat ketika mengisi acara Kompak HPI beberapa waktu lalu. Ada beberapa orang (saya tidak tahu apakah jumlahnya banyak, tapi yang jelas saya sudah menemukan tiga sampai empat orang) yang merasa terintimidasi dengan tata letak perangkat lunak pembantu penerjemahan tertentu.

Ada beberapa cara untuk mengatasi semua ini dan beberapa di antaranya tidak bisa ditawar (waktu untuk riset adalah suatu pengorbanan yang harus dilakukan semua pihak termasuk editor), tapi yang paling penting di antara semuanya adalah (mau tidak mau) sikap profesional, yang memberikan kelonggaran berupa kepala dingin dan penguasaan diri yang luar biasa sehingga dalam keadaan apa pun (mau tidak mau) akan tetap menghasilkan kualitas optimal. Saya tidak akan membela penerjemah dan berkata bahwa semua indikator itu membuat pembaca harus maklum saja dan melupakan semuanya. Sudah menjadi kewajiban penerjemah untuk memperkecil semua indikator itu sebisa mungkin, bersikap profesional, dan menangani semua yang disodorkan kepadanya. Apakah ini berarti meminta terlalu banyak dari seorang penerjemah? Ya tentu saja! Siapa yang bilang bahwa jadi penerjemah itu gampang?

Moral dari cerita ini: sebelum asal menuduh seorang penerjemah menggunakan Google Terjemahan, sebaiknya pahami dulu kondisi si penerjemah. Jika ini tidak memungkinkan, coba layangkan dulu kritik ke bagian editorial supaya mereka memperbaiki kinerja, yang secara otomatis (seharusnya) memberi kelowongan bagi penerjemah untuk menghasilkan karya yang lebih optimal. Tidak ada salahnya untuk bertindak lebih intelek ketimbang asal ceplak dan menuduh mesin terjemahan yang tidak tahu apa-apa sebagai produsen hasil terjemahan yang buruk. Saya berharap pihak editorial Kompas lebih teliti dalam meninjau hasil terjemahan dan juga meninjau kinerja penerjemah. Sayang sekali jika Kompas sebenarnya memiliki penerjemah berbakat yang akhirnya tergerus tenggat dan tekanan sehingga dia berubah menjadi penerjemah kejar setoran.

Lika-liku dunia terjemahan memang tidak segamblang yang saya tuliskan di sini, dan seringkali beberapa indikator yang saya tuliskan di atas sudah bercampur baur sehingga hasil terjemahan bisa berada jauh di bawah batas kualitas yang diinginkan oleh pemberi kerja/pembaca. Saya juga memahami bahwa pekerjaan kami ini adalah pekerjaan yang tidak bisa dibayangkan oleh orang awam sehingga mereka maunya menuduh Google Terjemahan saja. Mudah-mudahan tulisan saya ini bisa membuka mata editor untuk lebih memperhatikan kinerja penerjemahnya, dan untuk pembaca agar memahami apa yang terjadi di balik ketikan seorang penerjemah agar semua bisa membantu penerjemah menyajikan karya yang lebih baik lagi setiap saatnya.

Dan untuk para penerjemah … ingatlah untuk selalu beristirahat dan meluangkan waktu untuk riset. Sesungguhnya tuduhan penggunaan Google Terjemahan ketika kita sudah berusaha sebaik mungkin, sakitnya itu di sini, bow!

 ~ Bandung, 17 Oktober 2014

Katakan dan Tuliskan … Bagian III

Standard

Saya jarang sekali menggunakan kata-kata kasar ketika sedang marah. Sebenarnya menilai situasi hati saya sangat mudah: bila saya sudah menggunakan bahasa Indonesia yang sangat baik dan benar untuk mengungkapkan ketidaksetujuan, apalagi menyebut “Anda” kepada lawan bicara di arena Facebook yang santai, sudah bisa dipastikan bahwa saya 98 persen marah. Dua persennya adalah perasaan “maklum” saya bahwa yang bersangkutan hanya manusia biasa. Saya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar ketika marah karena saya ingin orang yang saya komentari/ajak bicara memahami maksud saya sejelas-jelasnya. Jika saya sudah marah “dengan sopan” di muka publik, akan sulit bagi si lawan bicara untuk memaki, dengan kata lain dia mati langkah. Percaya atau tidak, saya bisa menghabiskan 15 menit untuk menyunting dan menuliskan komentar “kemarahan” saya di Facebook. Saya menerapkan semua pembelajaran mengenai cara komunikasi untuk membuat seseorang mati langkah – karena itu jarang sekali ada orang yang bisa mengucapkan kata-kata lain setelahnya selain “maaf”, atau langsung menyingkir dari hadapan saya.

Cara komunikasi yang baik dan benar ini adalah kebiasaan saya dari kecil. Saya dituntut untuk selalu mengucapkan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jelas, tepat sasaran, sopan, sesuai kaidah, dan saya harus bisa menuliskan apa yang telah saya ucapkan dengan baik. Keluarga saya adalah keluarga strict Indonesian. Almarhum ayah dan juga ibu saya berprinsip:

“Bicara dulu yang benar, kalau tidak bisa lebih baik tutup mulut. Kalau tidak bisa bicara benar, jangan harap bisa menulis dengan benar. Kebiasaan yang salah akan membuahkan hasil yang salah”.

Berkat disiplin edan itu, saat ini saya tidak pernah mengalami kesulitan untuk berekspresi lisan maupun tulisan dalam dua bahasa yang saya kuasai, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Saya menggunakan dua bahasa itu siang dan malam, untuk menulis komentar – buku harian – catatan kecil –  berbicara – mengutarakan pendapat – apa pun (oleh karena itu saya menjadi outcast di masa kecil, seperti yang tuliskan pada bagian II. Teman-teman saya waktu itu mungkin melihat saya bagaikan buku tata bahasa berjalan).

Saya sering tersenyum jika mendengar seorang penerjemah mengeluh, “Bahasa Indonesia adalah bahasa yang kaku”. Memang, bahasa kita ini belum sempurna karena umurnya saja baru seumur kemerdekaan + 17 tahun, yaitu sejak Sumpah Pemuda. Mana bisa dibandingkan dengan bahasa Inggris yang bersumber dari dialek kuno Anglo Saxon 1.500 tahun yang lalu? Tapi menurut pendapat saya, kekakuan bahasa Indonesia sebenarnya bersumber dari dua hal yang sederhana: penggunaan dan penggunaan.

Bagi saya, bahasa Indonesia adalah bahasa ibu satu-satunya. Saya hanya memahami sedikit bahasa Sunda, dan bahasa Padang saya sangat minim dan “tercela”. Saya diajarkan untuk menjadi orang Indonesia, bukan orang Padang atau pun orang Sunda. Tanah air saya Indonesia, dan bahasa saya adalah bahasa Indonesia. Bahasa Inggris adalah bahasa kedua saya di rumah [sampai sekarang], dan tata bahasa Inggris dan pengucapan saya sendiri telah dikoreksi oleh kedua orangtua dari sejak berumur 5 tahun. Mereka berpendapat bahwa bahasa Inggris adalah bahasa internasional dan saya “dipaksa” untuk menguasainya dan juga mempelajari kebudayaan Barat – atau setidaknya, dipaksa untuk mengetahui cara mempelajarinya. Oleh karena itu, ketika ada yang bertanya kepada saya mengenai cara terbaik untuk mempelajari bahasa Inggris, saya selalu mengatakan “pakai” – as in use it to talk, use it to read, use it to write, listen to it.

Pelajaran bahasa Indonesia di sekolah tidak membuat penggunaan bahasa Indonesia YANG BAIK DAN BENAR bisa menjadi “acquired skill“. Tidak pernah ada pemahaman bahasa yang otomatis, bahasa Indonesia yang baik tetap harus dipakai sesering mungkin dan bukan ketika menulis skripsi doang. Saya melihat bahwa kesulitan seorang penerjemah sering timbul akibat penguasaan bahasa ibu yang kurang sempurna. Oleh karena itu bahasa Indonesia dicap “kaku”. Saya selalu berusaha mati-matian untuk menulis dan mengucapkan bahasa Indonesia dengan baik dan benar – semata-mata demi mempelajari dan mengakuisisi keluwesan. “Risiko”, bukan “resiko” – “antre” bukan “antri” – saya bagaikan grammar Nazi tapi kebiasaan ini sangat membantu dalam penerjemahan tertulis. Penggunaan “di mana” yang selalu menjadi kasus ketika menerjemahkan “where” [contoh, dalam kalimat: Where the street has no name]  tampak sebagai pembenaran “kekakuan bahasa” ini. Dan ketika menyunting, saya sering melihat bahwa rekonstruksi kalimat untuk menghapus “di mana” adalah pilihan next to dying bagi kebanyakan orang – sulit sekali menanamkan pengertian bahwawhere” bukanlah “dimana” atau “di mana”. Saya telah mencoba mati-matian untuk merekonstruksi kalimat dengan “where“, semata-mata karena saya takut sekali mengakuisisi tata bahasa yang salah.

Almarhum ayah saya pernah berkata bahwa menuliskan bahasa Indonesia yang baik dan benar itu sulit. Mengapa? Karena kita cenderung lengah – kita merasa sudah menggunakan bahasa Indonesia seumur hidup dan merasa bahwa pengetahuan “seumur hidup” ini akan mencukupi ketika kita terjun ke dunia penerjemahan.

Contoh sederhana:

secara umum sedikit yang mengetahui bahwa “merubah” itu bukan kata bahasa Indonesia yang benar. Memang benar bahwa jika kita menuturkan kata “merubah” dalam percakapan sehari-hari, tidak akan ada yang melempar kita dengan sepatu. Namun, yang benar adalah “me+ubah” menjadi “mengubah”. Imbuhan “mer-” itu TIDAK ADA. Tapi maraknya penggunaan lisan membuat banyak orang menganggap bahwa kata ini berterima dan oleh karena itu “layak” dituliskan dalam dokumen terjemahan.

Jika seseorang ingin menjadi penerjemah [terutama penerjemah tulis] bahasa apa pun ke bahasa Indonesia, dia WAJIB memahami cara berkomunikasi yang rapi dan baik dalam kedua bahasa, dan yang lebih utama adalah BAHASA IBUNYA. Ucapan yang sepotong-sepotong, ejaan buruk, tata bahasa buruk, pengucapan tidak jelas, pemilihan kata yang salah, semuanya akan mengarah ke penulisan yang sama buruknya – hanya karena kita terbiasa mengucapkan hal yang salah, kita menjadi lengah dan tak pernah sedikit pun berusaha memperjelas maksud, memperhalus ucapan, atau berusaha mencari kata-kata yang lebih berterima. Bahasa adalah sarana komunikasi – dan pemahaman mengenai bahasa hanya bisa dicapai melalui pemakaian. Tingkat kekakuan/tidaknya suatu bahasa juga sangat bergantung pada pemakaian.

Saya pernah mendengarkan ulasan singkat bapak Remy Silado ketika menghadiri peluncuran buku almarhum Marah Rusli yang terbaru. Waktu itu saya menghela napas puas: bahasa Indonesia pak Remy ini demikian empuk dan nikmat didengar, tanpa ungkapan slang sedikit pun, dengan tata bahasa yang rapi – seolah seperti “bahasa Indonesia tingkat tinggi” – padahal itulah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mengalir lancar tanpa hambatan, mudah diserap, dengan sisipan kata-kata indah khas bahasa Indonesia di sana sini.

Jadi … Bahasa Indonesia itu kaku? Benarkah? Ataukah kita yang tidak tahu cara menggunakannya?

 

 Bandung, 5 Mei 2014

*tulisan bagian III yang tertunda …*

Saya Ingin Dimengerti …. Bagian II

Standard

Saya: “Ih, elu gila deh!” (sambil tertawa)

Teman: “Kok gue dibilang gila?? Enak aja!!” (muka masam)

Itu adalah sepenggal komunikasi yang saya alami sendiri ketika masih SMA. Jujur saya sungguh kaget ketika memperoleh tanggapan seperti itu, karena ketika percakapan itu terjadi situasinya cukup santai dan sama sekali tidak menjurus ke soal rumah sakit jiwa atau gangguan jiwa. Tapi dia tersinggung ketika saya mengucapkan kata-kata itu.

Saya telah mengalami ribuan situasi seperti ini – ketika orang yang saya beri tanggapan malah membalas dengan tanggapan negatif atau tidak menyenangkan, padahal saya sama sekali tidak bermaksud untuk menyinggungnya. Hmm… mungkin hal itu juga yang menyebabkan saya tidak punya teman di masa sekolah dasar. Yeah, I was the outcast. Saya tidak punya teman dan semua orang yang dekat dengan saya beringsut menjauh selama masa 6 tahun yang menyedihkan itu.

Saya hidup di lingkungan yang berbeda dengan anak-anak kebanyakan. Saya anak terkecil [kalau tidak mau dibilang anak tunggal] dari empat bersaudara dengan tiga orang kakak yang umurnya sangat jauh di atas saya. Anak-anak tetangga lebih muda atau lebih tua dari saya, tidak ada yang seumur. Hal itu pulalah yang membuat omongan saya terdengar “terlalu tinggi” untuk anak kebanyakan, dan saya sering berbicara tentang hal-hal yang tidak “masuk akal” bagi anak seusia saya. Pendeknya, rata-rata orang yang saya ajak bicara [kecuali mereka yang sudah dewasa] selalu menyatakan “gagal paham”.

Setelah berpayah-payah melalui masa enam tahun penuh bullying di sekolah dasar, saya memasuki ranah SMP yang lebih luas, dan akhirnya bisa memulihkan diri dari trauma bullying untuk mempelajari satu hal yang penting: komunikasi. Pelajaran komunikasi saya sempurna ketika mencapai masa kuliah, kemudian pemahaman ini saya bawa ke bahasa tulisan. Saya selalu berusaha mencari bentuk tulisan yang dapat dimengerti oleh kebanyakan orangSaya selalu menganut paham “publik harus bisa membaca dan harus bisa memahami”, tanpa terkecuali. Yup, kengerian “gagal paham” terus menghantui sampai akhirnya saya berusaha sedemikian keras untuk menyempurnakan cara berkomunikasi dan hal itu kemudian “terbawa” ke ranah terjemahan. Saya berusaha untuk mengomunikasikan apa yang saya pahami dari teks sumber, dengan pemikiran bahwa sejumlah besar orang akan membaca tulisan itu, dan saya teramat sangat ngeri kalau mereka salah menangkap maksud yang tersirat serta tersurat dalam tulisan yang saya terjemahkan.

Saya telah belajar melalui pengalaman pahit dalam hidup, bahwa meminta seseorang untuk dapat mengerti kita adalah hal yang mustahil. Jika kita tidak membuka diri lebih dulu untuk “berbicara dalam bahasanya” [baca: memahaminya], sangat mustahil untuk bisa menjalin komunikasi yang baik. Karena itulah saya berani bilang bahwa mengetahui bahasa sumber + pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah saja, tidak akan membuat seseorang mampu menjadi penerjemah.

Mengapa? Karena terjemahan adalah adalah menyerap penyampaian dari “sana”, untuk disampaikan “ke sini” dalam bentuk yang mudah dimengerti oleh sasaran. Contohnya, jika kita menerjemahkan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, kita dibawa ke ranah mereka yang berbahasa Inggris - tentu saja para bule itu tidak akan paham ekspresi “Setubang” (Setuju Banget) atau “Kelesss” (plesetan dari “kali” arti sebenarnya adalah “mungkin”).

Saya beri contoh sedikit … 

Gue setubang, gak mungkin kek gitu kelesss ...”

Hayo, bagaimana menerjemahkan kalimat di atas ke dalam bahasa Inggris? Mungkin saja akan diterjemahkan jadi begini,

I so agree, it is not possible maybe …

Tapi bagaimana jika kalimat tersebut punya alternatif yang lebih oke seperti,

I definitely agree, it is SO not possible.”

Contoh tersebut tadi sama dengan,

I am running late*. Please call ASAP!

yang tidak mungkin diterjemahkan menjadi,

Saya berlari terlambat. Tolong telepon segera!

Tapi akan lebih mungkin diterjemahkan menjadi,

Saya terlambat. Mohon Anda menelepon saya segera.

*catatan: running late adalah idiom. Penggunaan kata “Tolong” di situ saya yakini tidak berposisi setara dengan “Please“, karena intonasi “tolong” disertai tanda seru lebih mengarah ke perintah alih-alih permintaan. Jika diterjemahkan dengan nada lain, ini terdengar lebih umum, secara umum orang yang membaca ini tidak akan menganggap bahwa si penutur sedang membentak, dan ingatlah bahwa penuturan dalam bahasa Indonesia secara umum selalu bersifat halus dan tidak bersifat “blunt” seperti penuturan orang Amerika pada umumnya.

Komunikasi dalam terjemahan dibawa pulang-pergi oleh seorang penerjemah, dari ranah bahasa sumber ke ranah Indonesia [untuk penerjemah bahasa asing ke bahasa Indonesia], dan dari tanah air ke ranah bahasa target [untuk penerjemah Indonesia-bahasa asing], melalui media bahasa. Keterbukaan seorang penerjemah untuk mau dan mampu memahami teks sumber dan mendalaminya [melalui riset, pencarian arti kata, serta pemahaman tentang idiom, proses, mekanisme, dan budaya] berperan sangat penting di sini. Karena mengganti bahasa Inggris menjadi bahasa Indonesia dan sebaliknya, bukanlah suatu bentuk komunikasi. Menurut saya itu hanyalah upaya pemesinan bahasa, dengan menganggap bahwa padanan semua kata berbanding lurus dengan arti yang tertera dalam kamus.

Membuka diri terhadap komunikasi bukan hal yang mudah – kita harus mengesampingkan sejumlah perasaan tidak enak, sungkan, bahkan perasaan bertentangan mengenai budaya yang mungkin tidak cocok dengan prinsip pribadi. Sama halnya ketika saya berusaha berkenalan dengan sahabat pertama di SMP. Sejarah komunikasi saya yang buruk membuat saya jiper setengah mati. Saya takut kalau dia kembali “gagal paham” seperti 22 teman saya lainnya pada masa SD. Tapi ketika saya berusaha membuka diri dan berbicara menggunakan “bahasanya”, ternyata umpan balik yang saya peroleh jauh lebih bermakna. Akhirnya, pendekatan saya ke materi terjemahan pun selalu demikian: saya selalu menanamkan perasaan “Saya ingin klien mengerti, saya ingin dimengerti, dan saya ingin pembaca mengerti”, karena itu saya melakukan perjalanan “pulang-pergi” untuk memahami kedua belah pihak.

Merampungkan komunikasi juga butuh tujuan. Menulis atau berbicara itu selalu ada tujuannya. Pengharapan selalu harus ditentukan sebelum menuliskan sesuatu – apalagi menerjemahkan. Tentu, kita tidak mau menuliskan/mengucapkan serangkaian kata tanpa makna, bukan? Saat kita ingin menyindir, marah-marah, atau pun memuji, semua harus tersampaikan dengan baik. Ketika isi teks berisi pujian, apakah kita akan menyampaikannya dengan bentuk seolah melecehkan? Tentu tidak. Oleh sebab itu, saya sangat menyesalkan mereka yang bisa menulis serangkaian kata, tapi belum berhasil menyampaikan makna jelas dalam teks terjemahan. Kata sambung dan objek beterbangan di mana-manaLebih disesalkan lagi karena apa yang disangka sebagai objek ternyata sebenarnya kata kerja dan serangkaian kata sambung yang “boros” itu sebenarnya bisa dirangkai menjadi kalimat yang jauh lebih efektif – andai mereka bertujuan untuk menuliskan sesuatu yang berlandaskan makna dari teks sumber.

Langkah terakhir adalah menyesuaikan bentuk komunikasi kita dengan baik ke sasaran. Dalam kasus pertemanan, saya akhirnya “menyembunyikan” sebagian besar pengetahuan yang saya nilai “asing” bagi mereka. Sama halnya dalam terjemahan: kita tidak mungkin menyebut ribuan istilah berbahasa Inggris untuk pengoperasian traktor, di depan para petani yang lebih paham tentang sisi kepraktisan ketimbang teori pengoperasian dalam manual. Seorang komunikator tidak boleh keras kepala dan menganggap dirinya yang paling benar. Tujuan akhir seorang komunikator adalah: komunikasi yang disampaikan dapat diserap oleh sasaran. Hanya itu, dan akan terus begitu. Dan inilah tujuan saya menjadi penerjemah: menyampaikan komunikasi sebaik mungkin.

Oleh karena itu, saya dengan setulus hati menyatakan bahwa mereka yang memiliki masalah dalam komunikasi (selalu gagal paham terhadap maksud orang lain, terlalu sering dikritik karena sulit dimengerti, dikritik karena penggunaan kata atau kalimat yang salah, apalagi menerima endless bullying karena sesuatu yang dituliskannya) harus memikirkan ulang tujuannya untuk menjadi penerjemah.

Waspadalah kalau kita menuai terlalu banyak kritik saat bertutur baik secara lisan maupun tulisan, karena itu sebenarnya lampu kuning pertama yang menandakan buruknya komunikasi. Komunikator yang buruk akan sangat kesulitan untuk mencapai tujuan terjemahan – yang tiada lain adalah komunikasi.

Nah, sampai di sini, mari kita tinjau diri masing-masing dan bertanya, apakah kita sudah pantas menjadi penerjemah?

 

Bandung, 4 Maret 2014

*Terima kasih untuk editorku tersayang – jangan bosan yah membantuku menulis :D

Mengurai Jalan Menjadi Penerjemah … Bagian I

Standard

Saya menghabiskan sejumlah waktu merenungkan jalan seorang penerjemah, karena kok rasanya masalah ini sekarang jadi penting- banyak penerjemah pemula [dan terkadang bukan pemula juga] yang bertanya kepada saya tentang uraian jalan ini.

Gimana sih cara mulai menjadi penerjemah?”

[Rata-rata pertanyaan yang saya peroleh senada]

Saya bukan orang yang gemar berteori – saya tidak pernah mengecap pendidikan linguistik atau pun membaca buku tentang teori penerjemahan. Bisa dikatakan ini acquired skill, karena saya besar dan hidup di tengah para penerjemah dan sudah demikian terbiasa melihat proses menerjemahkan, sehingga ketika saya harus memulai, tidak terlalu banyak hal yang membingungkan lagi.

Saya akan berbagi beberapa hal yang diajarkan oleh sejumlah mentor yang saya temui sepanjang hidup saya. Soal mentor sendiri akan saya bahas secara terpisah karena [ternyata] ini adalah faktor yang tidak terelakkan ketika seseorang ingin menjadi profesional [dalam bidang apa pun]. Semua mentor saya tidak pernah “resmi” menyatakan diri mereka sebagai mentor, tapi tanpa diminta, mereka telah banyak membantu saya untuk menjadi penerjemah yang seperti sekarang.

Kembali saya menafikan bahwa semua “teori” ini bukan bersumber dari buku linguistik/buku ajar penerjemahan apa pun. Teknis penerjemahan sendiri sudah demikian banyak dibahas dan saya menulis ini bukan untuk berbagi teknik, karena semua itu sudah bisa dipelajari sendiri.  Yang akan saya bahas di sini adalah kesimpulan yang bersumber dari pengalaman semata.

  • Hal pertama yang akan saya kemukakan adalah komunikasiPernahkah kita membuat seseorang menjadi jengkel akibat tulisan/perkataan kita, padahal maksud kita samasekali bukan untuk membuatnya jengkel? 
  • Hal kedua, adalah cara berkomunikasi. Cara berkomunikasi verbal dan tertulis yang baik merupakan bagian dari pembentukan seorang penerjemah yang baik … benarkah?
  • Hal ketiga, tentu saja, mengenai mentor. Renungkan sesaat, berapa banyak mentor yang kita miliki dari sejak memulai profesi ini hingga saat ini?
  • Hal keempat adalah tentang alat, ini sangat ramai dibicarakan [terutama penggunaan CAT Tools]. Saya menangkap asumsi “sumbang”, bahwa seorang penerjemah belum dapat dikatakan profesional kalau belum menggunakan CAT Tools – benarkah?

Dua hal pertama yang saya sebutkan dari keempat butir di atas adalah the basic commands for someone to become a translator. Alasannya sederhana: bahasa adalah alat komunikasi, dan penerjemah berhubungan dengan bahasa. Lantas, mengapa saya tidak menyertakan pemahaman mengenai bahasa sasaran dan bahasa sumber? Karena dua hal itu sesungguhnya menjadi “pemicu” seseorang untuk “berinisiatif” menjadi penerjemah.

Memahami bahasa asing + menjadi orang Indonesia (yang mengikuti pelajaran bahasa Indonesia di sekolah) = bisa menjadi penerjemah … benarkah?

Ya, hal inilah yang sebenarnya ingin saya “basmi” – jujur, saya bisa memahami bahasa Belanda dan Malaysia dengan baik, tapi saya tidak mau menjadi penerjemah dua bahasa itu. Mengapa? Karena dua faktor di atas, “komunikasi” dan “cara berkomunikasi”. Dua hal ini penting – sangat penting – dan bisa MENJADI BERBAHAYA jika dijalani dengan cara yang “salah”. Dan alasan ngeles “Ah kan ada Google Terjemahan” tidak akan membantu untuk mengatasi bahaya itu – saya akan mencoba menerangkan secara santai nanti, alasan mengapa Google Terjemahan/Google Translate TIDAK BISA membantu untuk menjadi penerjemah.

Profesi penerjemah BUKAN profesi yang bisa dikerjakan sambil lalu.

Profesi ini juga BUKAN profesi yang bisa dijalani dengan semata menimbun kamus, CAT Tools, komputer super canggih, atau koneksi Internet super lancar.

Profesi ini BUKAN profesi yang menjadi sah karena Anda pernah tinggal di negara berbahasa asing.

Profesi ini adalah mengenai

“Understanding what the content means and communicating them through your understanding, your perception, with ways that your intended readers/listeners understand.”

Tulisan ini akan saya bagi menjadi beberapa bagian – karena saya tidak suka menulis panjang-panjang.

And anyway, I need to get back to my deadlines.

 

Bandung, 1 April 2014

 

 

When you want to, you can … and you will.

Standard

Tadi malam, saya mengenang puluhan pertanyaan yang dilayangkan kepada saya – semuanya bernada sama – mengenai modal yang harus disiapkan ketika seseorang memutuskan untuk berprofesi menjadi seorang penerjemah. Waktu itu saya mengatakan bahwa pendekatan yang saya lakukan ada tiga: laptop/PC, modem, dan Bahtera. Tapi ketika membaca blog mbak Dina, saya sadar bahwa “pendekatan” untuk menjadi seorang penerjemah mungkin ada puluhan, dan apa yang saya katakan dulu tentang pendekatan saya [mungkin] tidak sepenuhnya jujur.

Kenapa saya bilang tidak jujur, karena keadaan saya dulu jauh sekali berada di bawah mbak Dina, ketika saya memulai [kembali] profesi ini.  Ketika saya memutuskan untuk kembali bekerja [tahun 2009], saya tidak punya modal samasekali. Suami saya masih bekerja di luar kota, kami mengontrak rumah terpisah dari orangtua, dan satu-satunya PC yang kami miliki waktu itu harus dibagi penggunaannya dengan dua orang [saya dan suami]. Melalui jalan yang agak “ngider“, saya memperoleh pekerjaan dari seorang teman lama sebagai pembuat skenario game SMS. Waktu itu saya memperoleh bayaran yang cukup besar untuk ukuran saya yang nggak punya apa-apa, dan sebagian bayaran itu akhirnya saya keluarkan untuk membeli netbook Acer. Sebelumnya suami saya telah “nekad” membeli modem mobile [dulu harganya masih di atas 1 juta], dan selama kami hidup miskin, kami meluangkan apa pun dan semuanya untuk membayar biaya langganan modem byar pet itu setiap bulannya.

Saya gak pernah berpikir bahwa komputer mini itu bisa mengembalikan uang yang saya keluarkan untuk membelinya. Boro-boro. Saya bahkan tidak tahu apa saya bisa memperoleh pekerjaan [lain] menggunakan netbook Acer itu. Saya hanya berpikir sederhana bahwa saya tidak perlu lagi berbagi komputer dengan suami, jadi suami bisa mencari pekerjaan di Bahtera, sembari saya juga bisa mengerjakan sesuatu – entah apa itu, menulis kek, dagang kek [menjadi penerjemah profesional masih jauh banget dari pikiran waktu itu, padahal saya sudah menjadi anggota Bahtera selama dua tahun penuh namun saya terlalu takut untuk melamar sebagai subkon setiap kali ada lowongan, karena merasa hasil terjemahan saya tidak cukup baik untuk komunitas sekelas Bahtera].

Akhirnya [setelah mengumpulkan nyali untuk melamar sebagai subkon – semata-mata karena kepepet biaya hidup] dari Bahtera saya memperoleh segelintir pekerjaan, berkenalan dengan satu orang yang kemudian memberi pekerjaan. Dari kebiasaan saya nongkrong di Yahoo Messenger, seorang sahabat membantu saya untuk membuat suatu sampel terjemahan cukup cantik yang akhirnya dilayangkan ke Mizan. Mizan menerima saya – dan jadilah saya seorang penerjemah novel. Melalui Bahtera juga, saya diterima di salah satu agen internasional yang membuka kantor di Indonesia, kebetulan waktu itu mereka membuka lowongan. Dari seorang Project Manager yang sangat baik di sana, saya kembali menimba ilmu, dengan bayaran yang masih kecil.

Saya tidak punya CAT tool apa pun waktu itu –  hanya punya Wordfast Classic gratis ditambah dengan CAT tool lain yang diberi dari agen. Setiap kali saya menggunakan Wordfast, saya harus memperbarui TM-nya [dulu saya gak tau TM itu apa dan fungsinya apa, sampai sahabat saya si editor Mizan mengarahkan saya ke blog milik mas Wiwit Tabah Santoso], maklum pakai gratisan, TU terbatas, ha ha ha. Saya belajar menggunakan Trados 2007 dari CD bajakan yang saya beli melalui menabung. Boro-boro cek TM, confirm segment aja gak bisa. Saya mencoba puluhan cara dan membaca bagian “Help” puluhan kali sampai akhirnya Trados 2007 takluk di tangan saya. Tidak ada trainer, tidak ada forum, tidak ada yang membantu – saya hanya mencari sekadarnya dari Internet dan setiap kali saya melakukan sesuatu, selalu keluar komat-kamit doa agar si perangkat lunak tidak crash dan pekerjaan saya tidak hilang – dan jika crash, saya hanya bisa mengatupkan rahang dan mengulang terjemahan.

Saya baru berani memutuskan bahwa saya ingin menjadi penerjemah profesional yang serius setelah “dikilik-kilik” pekerjaan oleh dua klien saya ini – samasekali bukan karena saya mendengar bahwa pekerjaan ini bisa membeli rumah dan mobil – apalagi berpikir tentang kenyamanan kerja di rumah dengan penghasilan tinggi. Sebenarnya dengan modal yang saya miliki waktu itu, saya hanya bisa bekerja sebagai penerjemah. Suami saya berkata tempo hari, “Sayang kan, kamu udah punya dua klien [Mizan dan si agen], kenapa kamu gak go pro aja?” [Waktu itu saya telah memberanikan diri untuk mendaftar untuk menjadi anggota HPI – saya baru berani setelah menyelesaikan satu novel LOL]. Akhirnya saya turuti saran suami saya dan meniatkan untuk go pro – namun saya tidak pernah berani membayangkan untuk mengganti si netbook dengan laptop canggih, memiliki koneksi internet streaming, CAT tools asli, atau bahkan membayangkan diri saya berada di posisi sebagai penerjemah Google. Saya dan suami masih menggaruk tanah untuk menanam biji yang entah tumbuhnya kapan! Waktu itu saya tidak merasa bahwa saya sudah pantas disebut sebagai penerjemah profesional. Satu-satunya jalan yang saya lihat adalah tetap berusaha sebaik mungkin dengan modal yang ada, dan terus belajar dengan segala keterbatasan – termasuk dengan menggunakan si WF gratis, si Trados bajakan, dan si netbook layar mini itu.

Ketika saya tersapu oleh proyek situs web hotel yang maha besar dan kemudian dihajar oleh proyek besar lain pada tahun 2011, saya masih menggunakan netbook. Masih membungkuk di atas meja belajar anak saya yang berposisi sangat rendah, sehingga punggung bisa menjadi panas dalam waktu 2 jam saja. Bagaimana bisa seseorang mengedit dua puluh ribu kata sehari melalui layar netbook? Well, saya bisa. Pemikiran saya waktu itu hanyalah untuk mengembalikan modal yang telah saya pakai untuk membeli netbook. Saya baru bisa membeli Trados 2009 asli pada pertengahan tahun 2011 [dan ini juga setelah saya akhirnya mengganti netbook dengan laptop Lenovo saya yang pertama – semata-mata karena saya sadar bahwa netbook saya tidak mungkin mengoperasikan Trados 2009 – sebenarnya dia tidak mungkin lagi mengoperasikan apa pun karena sudah terlalu lelah],  saya baru bisa menyicip yang namanya Windows 7 asli pada tahun itu juga. Semuanya berkat nasihat seorang Bunda Senior baik hati yang berkata “Maria, ketika kamu sudah sukses nanti, saya sarankan kamu membeli perangkat lunak asli. Mulailah dengan yang halal, supaya rezeki kamu halal juga.” Dan niat saya pun hanya sampai sejauh itu … bekerja dengan perangkat lunak halal, supaya rezekinya halal. Waktu itu tidak ada keinginan aneh-aneh untuk menjadi trainer Trados atau pun menjadi CAT tools master – dan sampai sekarang pun, kalau saya menerangkan solusi pemecahan masalah dalam Trados, saya sering merasa keder sendiri karena pembelajaran saya benar-benar melalui trial and error, bukan dari teori.

Sekarang saya sering ketawa sendiri jika menemukan seorang penerjemah baru yang headlong, nekad mengeluarkan 6-8 juta untuk membeli CAT tools tanpa memiliki prospek klien atau calon klien – karena saya sendiri dulu berupaya mati-matian dari gratisan dan bajakan [dan sampai sekarang, kalau ada keperluan untuk menjajaki CAT tool baru, saya selalu berupaya agar memperoleh versi gratisnya dulu – saya baru akan membeli kalau saya sudah merasa benar-benar yakin bahwa modalnya akan kembali dalam waktu kurang dari 3 bulan]. Saya juga selalu ingin tertawa ketika melihat seorang calon penerjemah yang nekad membeli laptop indah nan canggih padahal klien mereka masih sedikit atau bahkan belum ada – tertawa miris … karena keadaan mereka dan saya waktu dulu demikian njomplang …  modal saya cuma netbook dan koneksi modem mobile yang byar pet. Ditambah dengan mimpi.

But my dreams were my fuel, and I knew back then that somehow I could make it. I wanted to make it. And so I did.

Bandung, 6 Maret 2014

*Pekerjaan kembali padat … mari menyintas*

Serpihan Kenangan dari Tes Sertifikasi Nasional HPI 2013

Standard

Sudah lama sekali saya ingin mengikuti Tes Sertifikasi Nasional (TSN) untuk penerjemah tulis, tapi saya selalu agak jiper. Saya terus menghibur diri sendiri dan berkata bahwa sertifikasi itu tidak perlu karena toh saya sudah “menjadi” penerjemah, sudah memperoleh beberapa klien tetap, sudah mengerti, dan sebagainya. Tapi yah, yang namanya ujian adalah untuk membuktikan seberapa jauh kita telah melangkah, bukan? Ibarat bersekolah (itulah yang saya rasakan mengenai profesi ini sebenarnya – profesi dengan pembelajaran tiada akhir), ujung-ujungnya ujian harus tetap ada. Akhirnya tahun 2013 lalu saya memberanikan diri untuk ikut serta dalam ujian sertifikasi nasional ini.

Saya hanya mengambil satu pasangan bahasa saja yaitu Inggris-Indonesia kategori terjemahan umum. Biaya ujian ini lumayan besar bahkan untuk penerjemah pro sekali pun. Bayangkan bahwa Anda harus membayar biaya ujian sekian dan harus bersiap untuk menelan kegagalan dan membiarkan uang pendaftaran hangus. Karena pertimbangan tersebut, saya menepis keinginan iseng coba-coba dan bertanya kepada diri sendiri, hasil apa yang ingin saya raih dari keikutsertaan ujian ini.

Akhirnya saya berhasil merumuskan keinginan “luhur” yang (mungkin) terlalu sederhana: saya ingin mengukur tingkat profesionalitas diri. Terbetik oleh saya, bahwa panitia TSN yang terdiri dari orang-orang cerdas tidak mungkin akan membiarkan kami (para peserta) lolos begitu saja dari lubang jarum tanpa setidaknya ‘menggebuki’ kami dulu. Saya belum pernah mengikuti tes apa pun terkait penerjemahan kecuali tes kompetensi Trados  – saya tidak punya gambaran sama sekali mengenai TSN.

Beberapa senior yang berbaik hati sempat meluangkan pernyataan bahwa yang terberat dari TSN adalah target waktunya. Secara logis, menerjemahkan 1000 kata dalam waktu 3 jam adalah hal yang normal bagi seorang penerjemah profesional. Tapi beban kelulusan dan keterbatasan waktu membuat 1000 kata dalam 3 jam terasa maha berat. Salah satu perkataan yang nyangkut di telinga saya adalah dari pak Wiyanto Suroso. Beliau berkata “Gak ada waktu buat liat kamus, Maria.” Dua hari sebelum TSN dilaksanakan, akhirnya saya yang lemot ini mengambil kesimpulan semena-mena dari pernyataan pak Wiyanto: Bawa kamus percuma. Hah?? Yang baca pernyataan ini pasti kaget. Kamus adalah senjata utama penerjemah, tanpa kamus penerjemah tidak bisa mengecek padanan kata.

Tips pertama: jangan pernah menggantungkan diri pada alat apa pun – gantungkan kepercayaan kepada diri Anda sendiri. Kamus tidak akan membantu kalau pikiran Anda kosong dan tidak memahami teks sumber. Penerjemahan adalah pemahaman Anda mengenai bahasa sumber, bukan melulu mengenai padanan kata dalam kamus.

Sehari sebelum TSN saya masih berkutat menyelesaikan berbagai dokumen pekerjaan. Semalam sebelum berangkat ke Jakarta untuk mengikuti ujian, tiba-tiba saya menemukan cara sederhana untuk mengatasi urusan kamus ini. Saya tahu panitia bisa menyasar materi apa saja – pikiran panitia bisa seluas samudera – dan saya tidak bisa membawa semua kamus yang saya miliki. Belum lagi kata-kata pak Wiyanto yang terngiang-ngiang terus di telinga saya. Solusi akhir saya sederhana: ujian dikerjakan di MS Word. MS Word punya Thesaurus. Thesaurus adalah dunia sinonim. Sinonim bisa menjadi padanan kata.

Esoknya, saya dan seorang sahabat dari Bandung dengan gagah berani berangkat ke lokasi ujian TSN – tanpa kamus satu pun. Alasan sahabat saya lebih ngehe lagi: “Berat”. Dasar dua orang pemalas! Sampai di lokasi ujian kami juga sempat nyasar. Kami berdua tertawa-tawa penuh rasa pede (sebenarnya untuk menyembunyikan ketakutan karena peserta lain membawa kamus sampai tiga buah). Indeed – there was a surge of panic there, actually.

Setelah memasuki ruang ujian, saya menghabiskan waktu 5 menit untuk mengecek keberadaan Thesaurus yang menjadi tumpuan harapan. Thesaurus MS Word dapat diakses, lengkap, dan berfungsi dengan baik. Geser keyboard ke kiri sedikit, miringkan layar – tumpang kaki – bersandar – berdoa singkat, mari mulai. Lembar ujian dibagikan, dan ketika saya membacanya, saya …. melongo.

Topik pertama adalah Executive Summary berbau ekonomi migas. Saya dengan tulus menginformasikan kepada kalian semua bahwa Executive Summary dan ekonomi adalah dua topik yang PALING SAYA HINDARI selama menjadi penerjemah tulis. Setiap kali saya kesambit topik ini, saya selalu ‘melemparnya’ ke sahabat saya (yang duduk di sebelah dengan pandangan sama kosongnya). HadeuhTRUS GUE HARUS GIMANA? Saya membaca dengan panik, sejumlah angka dan istilah berseliweran and I don’t know what they are.

Tips kedua: never panic – read on. Sesulit apa pun topik tersebut, selama topik masih dalam bahasa Inggris dan bukan Swahili, Anda selalu punya harapan.

Saya membaca bagian terjemahan wajib itu sambil mengutuk-ngutuk, kenapa selama ini saya selalu melemparkan topik Executive Summary ke semua orang lain di dunia kecuali diri sendiri? Saya menghela napas dan membaca bagian terjemahan pilihan, pilihan pertama berbau ekologi hewan, sedangkan topik pilihan kedua berbau sains. Saya menumpukan harapan pada topik terjemahan pilihan pertama karena tampaknya mudah.

Tips ketiga: jangan pernah menganggap suatu teks terlalu mudah atau terlalu sulit. Cobalah berpikir netral karena penerjemah adalah mahluk netral – seorang penerjemah menuturkan kembali, bukan mengambil kesimpulan.

Ketika Bapak Pengawas berkata “Ya, silakan mulai,” saya melakukan apa yang pertama kali terpikir ketika menghadapi suatu teks: ya tulis aja isinya tentang apa. Saya menuangkan habis-habisan semua pemahaman saya mengenai Executive Summary itu. Saya melirik ke sahabat di sebelah saya dengan rasa sirik dan jengkel, jelas-jelas dia lebih bisa menerjemahkan topik ini ketimbang saya … Saya mengetik secepat mungkin sembari berpikir apakah lain kali pihak Panitia akan memperbolehkan kami membawa keyboard sendiri – keyboard ruang ujian agak keras …. Saya menatap ke langit-langit sambil merenung, apa sih padanan “Executive Summary“? … Sambil menekan tombol keyboard keras-keras, saya melihat ke depan dan salah satu sahabat saya yang lain (penerjemah dari Jakarta) sedang menghadapi terjemahannya dengan tampilan huruf MS Word yang kayaknya 150 persen besarnya (Ebuset, udah pake kacamata masih juga digedein??) … Saya melirik lagi ke sebelah kiri depan, ada yang sudah kasak-kusuk buka kamus … Jam berapa ini, kok saya ngantuk …. Semua pikiran itu berlalu tapi tangan saya tetap mengetik tanpa henti, sesekali menekan backspace untuk menghapus typo ...

Tiba-tiba saya menyadari bahwa teks wajib sudah habis saya terjemahkan. Rasanya seperti seabad tapi ternyata saya menghabiskan waktu hanya 20 menit untuk mengetik. Muncul ketakutan lain: pasti isinya ngawur. Benar saja! Saya membaca ulang hasil terjemahan dan menjadi “kagum” bahwa saya bisa melemparkan kata sambung, objek, subjek, predikat, menambahkan kata yang tidak ada sekaligus menghilangkan kata yang harus diterjemahkan. Tapi alih-alih mengoreksi, saya bergerak langsung ke teks pilihan pertama. Topik teks pilihan ini adalah ekologi hewan gorila.

Saya tidak menyukai gorila.

Sembari membaca, tiba-tiba saya merasa berada di awang-awang – but not in a good way. Saya mengernyit, kembali membaca teks gorila dan tiba-tiba saya merasakan keringat dingin. Apakah saya salah menulis gorila, should it be “gorila” or “gorilla”?? There is no way of checking, is there? Kenapa kalimatnya bertingkat-tingkat seperti BNI Tower …. Siapa yang membangun fondasi? Si gorila? (Gorilla??) Ada orang lain yang terlibat? Kenapa BNI Tower?? Kenapa saya malah memikirkan BNI Tower dan tidak bisa berkonsentrasi pada teks?

Tips keempat: ketika terjangkit ‘lost in translation’, TINGGALKAN DAN MOVE ON. Jangan memaksakan diri untuk mengurai benang kusut karena benang kusutnya ada di pikiran Anda, bukan dalam teks. Tenangkan dulu pikiran, salah satu caranya adalah beralih mengerjakan yang lain.

Akhirnya saya menghapus tuntas kisah si gorila yang tadinya saya anggap mudah, dan beralih ke teks pilihan kedua. Ternyata, teks pilihan kedua yang sebelumnya terbaca sulit, terasa lebih mudah dibanding si gorila yang tak ada ujung pangkalnya itu (mungkin juga karena saya syok oleh gorila – secara psikologis saya sudah menilai teks pilihan pertama sebagai sulit, sehingga apa pun selain gorila terasa lebih gampang). Teks sains pembuatan serat sintetik berhasil saya “mainkan” tanpa ada kesulitan berarti.

Tips kelima: mengetik vs menyunting – pekerjaan yang lebih berat adalah menyunting. Mengetiklah secepat mungkin untuk meluangkan waktu penyuntingan sebanyak mungkin. Gunakan semua fitur yang bisa digunakan ketika menghadapi kebingungan padanan kata, ketikkan tanda bintang, xxxx, beri highlight, komentar, pendek kata tandai semua kata yang meragukan dan membingungkan agar Anda bisa kembali nanti untuk mengurusnya, alih-alih berkutat satu hingga dua menit di kata yang sama sehingga otak menjadi butek.

Akhirnya, saya kembali untuk menyunting si “Ringkasan Eksekutif”  (saya sempat bangga karena merasa telah “menciptakan” padanan itu, padahal saya yang amatiran karena tidak pernah benar-benar tahu bahwa Executive Summary = Ringkasan Eksekutif). Walaupun panitia sempat mengumumkan bahwa kesalahan ketik tidak dianggap sebagai penurun skor, saya merasa berkewajiban untuk merapikan terjemahan ini karena mereka (panitia) adalah konsumen saya. Saya mencurahkan segenap kasih sayang dan perhatian pada hasil terjemahan melalui penyuntingan super teliti. Dan ternyata memang sebagian terjemahan saya harus dirombak – subjek dan objek beterbangan bagaikan sampah luar angkasa dengan posisi tidak menentu. Saya meluangkan waktu untuk membaca teliti tiga kali, dan membaca cepat dua kali.

Tips keenam: Satu hal teramat penting adalah kemampuan swasunting (saya meminjam istilah ini dari Ibu Sofia Mansoor). Swasunting memiliki dua rahasia: Satu, bersikaplah bagaikan seorang editor buas bertraktor yang sedang menyunting terjemahan orang lain, walaupun yang Anda hadapi adalah terjemahan milik sendiri. Dua, swasunting hanya bisa berhasil jika kepala Anda telah jernih dan tidak bias oleh isi terjemahan milik sendiri. Karena itu, jangan pernah berusaha melakukan swasunting segera setelah selesai menerjemahkan. Kerjakan yang lain dulu, tutup mata sekitar satu-dua menit, baru hadapi kembali terjemahan Anda.

Akhirnya, saya selesai. Sahabat yang duduk di sebelah saya sudah melamun. Sahabat yang duduk jauh di depan dengan tampilan MS Word 150 persen itu sudah berhenti mengetik dari tadi. Saya menjadikan kertas ujian sebagai tenda dan menutupi kepala yang rasanya panas luar binasa. Saya kembali memandang langit-langit …. Melirik Bapak Pengawas yang tampaknya heran melihat kelakuan penerjemah gila ini (baca: saya). Saya kembali membaca hasil terjemahan sebelum akhirnya menyimpan hasil di USB dan di hard drive komputer.

Tips ketujuh: DON’T OVERCORRECT. Ini adalah penyakit khas editor, terjemahan terus disunting tanpa henti, mengganti “mengenai” menjadi “tentang”, dari “dia” menjadi “ia”, menghapus “-nya” dan mengganti menjadi “tersebut” …. Tiada yang sempurna di dunia ini, yang sempurna hanya Tuhan, dan tidak ada yang akan merajam Anda jika tidak lulus TSN. Don’t sweat over small stuff – know when to quit and don’t waste time trying to be super perfect.

Akhirnya saya memutuskan bahwa tiada lagi yang bisa dilakukan – inilah hasil terbaik saya. Sahabat saya yang duduk di depan tiba-tiba beranjak dan meninggalkan ruang ujian. Saya dan sahabat yang duduk di sebelah saya juga terprovokasi juga untuk keluar ruangan. Kami menyerahkan hasil ujian dan keluar dengan kepala panas, yang kemudian didinginkan oleh candaan-candaan bersama panitia, makan siang yang lezat, dan komentar-komentar gila yang kami lontarkan kepada panitia dan kepada satu sama lain.

TSN ini tidak mudah. Tapi saya sangat bahagia karena akhirnya tujuan saya tercapai: saya telah membuktikan bahwa saya adalah penerjemah profesional yang bisa bekerja dalam segala kondisi dan tekanan, untuk menyajikan hasil sebaik mungkin sesuai dengan kemampuan dan pemahaman diri. Keikutsertaan dalam TSN telah menjadi pengalaman berharga untuk saya sehingga sebenarnya saya tidak terlalu mempermasalahkan kelulusannya sendiri. Semua tips yang saya berikan di sini bukanlah tips untuk mengikuti TSN saja – semua ini adalah yang saya lakukan selama menjadi penerjemah, bukan berupa ilmu pasti. Sesungguhnya ujian sertifikasi ini tidak ada bedanya dengan menerjemahkan bagi seorang klien – komunikasi, pemahaman, keluwesan, ketepatan, adalah semua hal yang seharusnya diraih dalam TSN ini, karena bukankah itu semua yang selalu kita sajikan kepada para klien?

Bandung, 18 Februari 2014

Untuk memperoleh keterangan selengkapnya mengenai TSN, silakan baca http://www.hpi.or.id/sertifikasi, atau layangkan email ke sekretariat@hpi.or.id

… Oh, just in case you are wondering whether or not I passed TSN …. I did. 

Phew.

… Berhentilah Kejar Setoran, Anda memakan korban …

Standard

Image

(Pemikiran “volume besar, duit besar” – tidak sadar akan kemampuan diri ketika berkata dalam hati, “Saya sebenarnya tidak sanggup, but just think of the money deh”, dan kemudian setelahnya, “Ah, si klien tidak akan pernah tahu, yang penting saya sudah dibayar” = PENERJEMAH KEJAR SETORAN)

Ini kisah pendek tentang suatu hari Kamis yang mendung, ketika saya harus menjadi proofreader.

Kisah pendek menjadi panjang ketika saya mendapati bahwa terdapat banyak sekali kesalahan yang sebenarnya tidak perlu. Suasana hati berubah dari cerah ceria menjadi kelam tak terkira – tak terbayang bahwa penerjemah rekan saya ini bisa membuat sedemikian banyak kesalahan.

Kisah yang sudah setengah panjang menjadi lebih panjang dan menggusarkan ketika dokumen diverifikasi menggunakan X-Bench (apa itu X-Bench? Akan saya terangkan kapan-kapan). Banyak sekali yang tidak konsisten, salah ketik dan benar ketik bercampur baur menjadi satu dan menimbulkan tanda tanya.

Saya, si proofreader, akhirnya berpikir juga (setelah menjadi bolot selama 3 jam lebih), jangan-jangan ada yang salah dengan si penerjemah. Si proofreader mengecek kembali isi Translation Memory (TM) dan melongo.

Semua ketidak-konsistenan, semua salah ketik, semua salah terjemahan (Table of Contents diterjemahkan menjadi “Indeks”?? Come on! Itu bahkan bukan kesalahan newbie!) berasal dari isi TM, data dari penerjemah sebelum kami semua. Terbayanglah wajah panik si penerjemah rekan saya yang berusaha menyelaraskan hasil terjemahannya dengan isi TM yang acakadut itu, terbayang rasa gusar dirinya karena dia tidak bisa menulis yang benar – karena perintah untuk menjadi konsisten menjadi jauh lebih penting.

Wahai Anda di luar sana yang hanya mementingkan uang, yang berani-beraninya menerjemahkan “Daftar Isi” sebagai “Indeks” (fatal), “pertahanan” menjadi “penerimaan” (fatal), “nilai tengah” menjadi “rata-rata” (super fatal) – ini hanya tiga contoh dari ribuan segmen yang telah Anda rusak – sesungguhnya uang yang Anda makan dari hasil terjemahan jelek itu mungkin telah habis, tapi jejak kesalahan Anda yang jelek luar binasa masih terus membekas mungkin hingga selamanya, dan tidak pernah terpikir oleh Anda bahwa kami (penerjemah berikutnya, editor, proofreader, klien) yang akan “katempuhan” (arti: ketiban sial).

There is a fine thin line between wanting to get more money and experience, with multiplied stupidity. 

Bandung, 12 Januari 2014

(Masih harus memeriksa sepuluh ribu kata lagi … *keluh*)