Jadi Penerjemah itu Enak …

Standard

… kata seorang teman (yang bukan penerjemah).

facedesk

Profesi ini memang sangat menyenangkan untuk mereka yang bisa menikmati waktu-waktu di rumah, tidak terikat jam kantor. Enak buat mereka yang suka hidup bebas dan tidak suka diatur oleh siapa pun, bisa ‘pilih kasih’ pekerjaan, mana yang bisa diambil, mana yang tidak.

Woops, stop it right there. Keliatannya, opsi tinggal di rumah dan menghindari kemacetan terdengar seperti surga dibandingkan dengan berdesak-desakan di kereta, bis, angkot, dan harus duduk menunggu macet sambil terkantuk-kantuk dengan perut kosong. Kedengarannya, pilihan “bisa bekerja kapan saja” merupakan impian mutlak (?) semua orang, apalagi buat mereka yang seringkali bercokol tidak produktif di kantor, diteriaki oleh bos, dan gelisah melirik jam dinding setiap kali makan siang sudah lewat, berharap untuk bisa kembali berdesak-desakan di kereta, bis, angkot, namun sekali ini untuk tujuan yang lebih jelas yaitu rumah nan nyaman dan tempat tidur nan empuk.

Easy money without a waste of time, jadi penerjemah itu enak karena cukup tinggal di rumah dan mencetak jutaan rupiah.

Wah.

Saya seringkali menemukan bahwa orang tertarik untuk menyelami profesi ini akibat easy money. “Saya bisa kok berbahasa Inggris (dengan baik dan benar?), saya bisa kok berbahasa Indonesia (dengan baik dan benar?), saya bisa kok mengetik (dengan baik, cepat, dan benar?) di MS Word dan Excel (minimal fungsi dasar kan?), berarti saya bisa dong menjadi penerjemah?” – lanjutnya, “… dan meraup jutaan demi jutaan rupiah dari hanya sekadar mengetik dan bermodal program (bajakan) di laptop/PC (pas-pasan).” Dan seringkali, tipe-tipe orang seperti ini didapati berkeliaran di forum-forum penerjemah, menawarkan jasanya menerjemahkan tanpa bisa menyediakan portfolio pasti mengenai kemampuannya, hanya dengan modal “Saya bisa dwi bahasa. Give me a job and pay me full, and I will prove it to you.” Ketika setelah tiga bulan tidak ada yang melirik kampanyenya, mereka mulai berkata “Bagi dong proyeknya ….” – kembali, tiada portfolio. Tulisannya pun ber-typo with tons of grammatical errors.

Dear God.

Sebaliknya, saya melihat segerombolan orang (benar-benar hanya segerombolan, mereka tidak banyak), yang tidak pernah mengklaim bahwa dia bisa BERBICARA bahasa Inggris yang baik dan benar, namun hanya berkata bahwa “Saya suka menerjemahkan. Tiap hari saya mendapat setitik dua titik ilmu ….” – dan dia melanjutkan dengan dongeng indah atau lucu tentang pengalamannya menerjemahkan lisan atau menerjemahkan buku. Lucunya, gerombolan ini tidak pernah mengklaim apa pun. Mereka mencintai profesi ini secara sederhana dan tanpa neko-neko, tidak pernah mengklaim bahwa yang mereka peroleh itu easy money, namun alih-alih “bayaran untuk pembelajaran yang tiada tara”.

Hmmmm.

Saya tidak menafikan kampanye tentang betapa pekerjaan ini adalah pekerjaan menghasilkan dan terhormat. Buat saya, jadi office boy pun bisa jadi pekerjaan menghasilkan yang terhormat asal dia bekerja dengan tekun dan bukan sambil membuka-buka laci kantor orang lain untuk mencari-cari barang yang bisa diambil. Tapi saya sungguh berharap bahwa siapa pun yang menyatakan bahwa dia ingin menjadi penerjemah memiliki setidaknya gambaran buram mengenai apa yang bisa dilakukannya tanpa harus banyak tanya mengenai hal-hal bodoh (yang bisa dibacanya sendiri di Google), sembari menelurkan typo dan grammatical errors yang menjengkelkan semua orang. (Kadang-kadang gambaran buram itu harus diperoleh sendiri dan tidak melalui dongeng – kadang-kadang bukan dari kesempatan memperoleh pekerjaan tapi melalui banyak baca, BACA, BACA!!).

Betapa mengerikannya pikiran manusia, ketika mereka hanya mendengar bagian yang ingin mereka dengar. Contoh: “Saya baru saja mengerjakan proyek yang membuat saya tidak tidur selama sebulan DAN MENGHASILKAN 50 JUTA RUPIAH.” Tampaknya, sifat manusia pada umumnya adalah untuk mendengar bagian yang tercetak huruf besar dan tidak menelaah bagian yang berhuruf kecil. Serta merta si pendengar berpikir bahwa 50 juta rupiah itu easy money – toh si penerjemah masih berdiri tegak, toh dia gak sakit atau pingsan, berarti ini easy money (kesimpulan yang sungguh semena-mena). Sukar sekali untuk menerangkan setelahnya bahwa si penerjemah yang tidak tidur selama sebulan itu SUDAH BERPENGALAMAN 10+ TAHUN, karena itu dia bisa tidak tidur sebulan. Sangat ribet untuk menerangkan bahwa si penerjemah yang tidak tidur memiliki skill yang excellent untuk topik seharga 50 juta rupiah itu, melalui pengalaman dan jatuh bangun selama 10+ TAHUN, mengais-ngais pekerjaan pertama dari orang yang simply believe in him/her, dan that believe berkembang menjadi keyakinan akan kompetensi profesionalnya karena si penerjemah benar-benar berjuang untuk membuktikannya melalui endless researches and practices. Seorang newbie yang bijak akan langsung bertanya, “Apa topiknya? Menarik sekali topiknya, saya ingin belajar”, atau, “Wah, apakah saya bisa seperti itu? Saya ingin mencari pekerjaan supaya bisa seperti itu!” – dan gerombolan yang arif akan mendatanginya serta menawarkan, jika tidak pekerjaan maka bantuan. Maka status dia akan beralih sangat cepat, dari newbie menjadi penerjemah yang nyata (nyata = menghasilkan walaupun belum besar, makin baik seraya bulan bertambah, makin sedikit berkicau tentang kemampuannya tapi makin banyak menelurkan pertanyaan yang bermutu).

Tiada pekerjaan yang tanpa usaha – pekerjaan menjadi penerjemah di rumah hanyalah mengalihkan investasi waktu di angkutan umum/jalan raya menjadi waktu riset dan duduk sambil membaca berbagai masukan selama berjam-jam. Jika ada yang menganggap bahwa pekerjaan kantoran itu tidak enak dibandingkan menjadi penerjemah di rumah (tanpa pernah mengalami keduanya), celakalah dia karena jelas-jelas dia menganggap bahwa pekerjaan ini easy money without a waste of time. Banyak penerjemah profesional yang beralih dari pekerjaan kantor dan menjadi penerjemah simply karena dia telah merasa bahwa tipe pekerjaan kantoran BUKAN HAL YANG COCOK UNTUKNYA (dia sudah MENCOBA!), BUKAN karena dia menganggap pekerjaan penerjemahan ini easy money. Menurut saya pekerjaan kantor sama enaknya – bisa melakukan hal di luar sana dan melihat banyak hal (bahkan dalam bis dan angkot!) alih-alih terperangkap di depan layar dan menikmati radiasi. Jika dihitung-hitung, sebenarnya modal yang saya keluarkan untuk menjadi penerjemah adalah hampir sama besarnya dengan modal yang saya keluarkan ketika saya masih ngantor di biro penerjemahan dulu, bahkan modal “tinggal di rumah” ini lebih besar (saya sudah melalap lima laptop dan membakar motherboard dua PC, memasang dan menghapus tujuh perangkat lunak berbayar, lima OS berbayar, berlangganan empat jenis koneksi internet, melakukan dua puluh kali upgrade, dan menjalani ratusan kali terapi anti-stres dengan belanja, spa, liburan, pesan antar makanan … hanya dalam waktu 8 tahun terakhir). Saya tidak menafikan bahwa pendapatan saya besar namun saya juga belajar untuk menjadi arif dalam hal pekerjaan ini.

Tiada pekerjaan yang mudah dan hanya modal dengkul. Membosankan untuk menerangkan ini ribuan kali kepada semua orang yang hanya mendengar bagian akhir dari kata-kata saya, ” … cukup untuk membeli satu motor, cash …” tapi tidak pernah ada umpan balik selanjutnya (Belajar mengoreksi bahasa sendiri? Mengunduh perangkat gratis dan mulai belajar? Membuat profil sendiri di situs pencari pekerjaan? Melamar ke agen? Berusaha mengisi formulir dan kontrak agen sendiri? Bercokol berjam-jam di mailing list untuk mencari umpan pekerjaan? Berlatih dan membuat sampel yang baik sebagai portfolio? Melamar ke penerbit? By God, dulu saya melakukan semua itu sendiri! Ya, sampai ke menelusuri iklan koran dan juga mengirim spam!).

Jadilah orang yang arif.

Jangan sia-siakan mata dan telinga hanya untuk mendengar bagian akhir dari keterangan seorang penerjemah profesional yang sudah berbaik hati untuk bercerita tentang pendapatannya.

Tanyalah mengenai perjuangannya – saya jamin Anda akan terkejut.

Bandung, 5 September 2013

8 responses »

  1. Makanya kalau ada orang yang mengaku ingin menjadi penerjemah dan meminta bimbingan lalu setelah kuberi tautan ke informasi yang menurutku pas dia baca tapi dia malah balik nanya lagi, menurutku orang itu ga serius. Malas baca? Kelaut aja.

  2. Salam kenal Mbak Maria,

    Sebagai orang yang menjalani dua profesi di atas (pekerja kantoran dan penerjemah lepas) saya harus bilang bahwa keduanya SAMA BERATNYA :) Bahkan kalau mau jujur, menjadi penerjemah ternyata malah lebih berat, setidaknya buat saya pribadi. Kenapa? Karena sebagai pekerja kantoran, waktu kerja saya hanya sekitar 8 jam sehari dan hanya dari hari Senin sampai hari Jumat saja, kebetulan juga bidang kerja saya tidak menuntut target atau deadline.

    Sementara sebagai penerjemah? Setiap pulang kerja saya harus menerjemahkan di rumah terkadang sampai sekitar jam 12 malam, bahkan waktu luang di kantor saya manfaatkan untuk menerjemahkan juga, apalagi kalau sudah dikejar deadline. Weekend? Penerjemah mana kenal weekend ya Mbak, hahaha.. Jadi, kalau ada yang bilang profesi penerjemah itu “easy money without a waste of time” sepertinya perlu mencoba menerjemahkan dulu ya baru boleh berkomentar :D

    By the way, jadi teringat seorang teman kantor yang tahu saya menyambi sebagai penerjemah, pernah bertanya berapa waktu yang dibutuhkan untuk menerjemahkan satu buku dan ketika saya bilang tergantung, antara sebulan sampai tiga bulan (sesuai pengalaman) dia kaget dan bilang, “kirain kamu bisa selesaikan dua buku sebulan”
    Gubrak! Hahahaha..

    *eh koq panjang bener ya ternyata komentar saya :D

  3. salam hangat dan salam kenal…

    saya Dicky Martin Muslim dari Karawang (FB:Ben Junior)…….yg sudah saya lewati selama menjadi penerjemah lepas 1 tahun terakhir adalah bahwa untuk menerjemahkan 1 lembar naskah saja sulitnya banget2 mbak…..karena bhs Inggris saya didapat otodidak dan di gunakan untuk direct conversation……

    untuk membantu menterjemah, saya gunakan kamus manual karya Prof. Drs, S. Wojowasito dan John M. Echols Hassan Shadily.
    Buku Tata Bahasa dari Betty Schampher.

    1) Saya ingin saran dari mbak untuk buku apa yang bisa gunakan untuk sumber belajar tata bahasa?

    2) Apakah ada Kamus khusus untuk tiap bidang-bidang ekonomi, sosial, dll?
    3) Dimana saya bisa beli perangkat lunak CAT Tool’s?

    • Halo mas, thank you for reading :) Iya, menerjemahkan itu sulit dan memang butuh set of skills lain alih-alih hanya sekadar kamus. Menjawab pertanyaan mas:

      1. Sumber tata bahasa – saya kurang tahu. Jujur saja, saya orang yang non-teknis … saya acquire the skill rather than learning about it. Dulu saya suka baca berbagai buku bahasa Inggris dan juga mendengarkan lagu (LOL, yes lagu). Dari sana saya belajar tata bahasa dan kemudian saya tingkatkan sedikit demi sedikit melalui teori. Pendeknya, logikanya harus ada dulu. Kemudian harus dipakai bicara dan MENULIS mau tidak mau Mas. Yang lebih penting dari buku adalah seorang MENTOR. Carilah seorang mentor yang bersedia mendampingi untuk belajar dan mengoreksi kesalahan-kesalahan kita.

      2. Kamus khusus itu SELALU ADA mas. Tapi kebanyakan offline ya (contohnya kamus Istilah Geologi dan Kedokteran Gigi, saya peroleh keduanya secara offline). Coba datangi perpustakaan daerah atau toko buku. Saya sendiri dapet dari berbagai sumber: dari klien, dari mentor, dan kanibal dari khasanah pustaka almarhum ayah saya :D. Tapi ketersediaan semua itu tidak semerta-merta, harus ada upaya tanya kiri kanan dulu dan terkadang aksesnya tidak mudah – selamat berjuang! :)

      3. Soal CAT tools, silakan cari di Google – cari yang sesuai kebutuhan dan tentu saja sesuai isi kantung – kalau kantung isinya masih terbatas, bisa coba dulu OmegaT yang gratis, Wordfast Classic yang gratis terbatas, MemoQ yang demo terbatas … possibility is endless :) Jangan langsung beli kalau belum bisa Mas, saya sangat tidak menyarankan ini – daripada nanti jadi “bangkai” (alias: kita cuma bisa sekadarnya, proyek tidak kunjung datang). CAT tools punya logika tersendiri yang harus dipelajari lagi, oleh karena itu saya sangat menyarankan Mas coba versi gratis dulu. Nanti jika kebutuhan sudah mendesak dan kita sudah terampil, akan ada keinginan untuk upgrade – itulah saatnya untuk beli :)

      Mudah-mudahan jawaban ini membantu. Selamat menerjemahkan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s