Monthly Archives: September 2013

Si Miskin yang Menggusur Koper di Poppies II

Standard

Jam 21.00 WITA, 5 Oktober 2010 – Bali. Saya dan suami turun dari taksi bandara di depan jalan Poppies II, dengan hanya satu koper, satu tujuan – menghadiri Translation Masterclass di acara UWRF Bali pada tanggal 6 Oktober 2010. Tidak ada reservasi hotel – tidak ada uang berlimpah. Satu-satunya agen masih berutang dan sudah empat bulan mereka tidak membayar. Tiada pekerjaan lain kecuali satu novel dari penerbit pertama (dan satu-satunya) yang mau menerima saya waktu itu. Saya dan suami datang ke Bali hanya berbekal uang 1,8 juta rupiah hasil pinjaman (minus tiket pp Bali-Jakarta yang sudah dipesan dan dibayar pas-pasan 2 minggu sebelumnya).

Saya sudah lama menjadi penerjemah tapi saya tidak pernah berpikir untuk muncul ke permukaan dan berkenalan dengan penerjemah lain, sampai 5 Oktober 2010. Saya tidak pernah mendapat banyak pekerjaan sebelum 5 Oktober 2010, setelah memutuskan hubungan dengan agen lokal yang semena-mena, untuk kemudian bertemu agen lain yang ternyata bisa mangkir membayar setelah project managernya hengkang. Beberapa bulan sebelum 5 Oktober 2010, saya memberanikan diri untuk akhirnya melamar ke satu-satunya penerbit yang terpikir oleh saya, dan bekerja mati-matian dengan bantuan seorang teman editor selama 3 minggu untuk menyelesaikan sampel novel klasik, yang ternyata membuat saya diterima dan bekerja di penerbit itu sebagai penerjemah novel.

Sebelumnya saya selalu menampik ajakan untuk bertemu dengan komunitas penerjemah. Saya malu. Saya merasa tidak punya apa-apa yang bisa dibicarakan selain kesulitan mendapatkan pekerjaan. Saya tidak bisa mengutarakan jam-jam yang saya lalui untuk menongkrongi mailing list untuk mencari umpan pekerjaan dari para anggota di sana. Saya tidak bisa mengutarakan tentang kemiskinan berlarut-larut yang saya alami ketika upah penerjemahan bisa habis hanya dalam 2 jam untuk membeli susu anak dan kebutuhan rumah tangga. Pengetahuan saya tentang CAT tools hanyalah sebatas yang diajarkan oleh Papa, Wordfast Classic. Saya malu merengek kepada senior supaya mereka melirik dan memberi pekerjaan atau bimbingan. Saya tidak punya apa-apa yang bisa dibanggakan.

Saya dibayar terlalu rendah – diperlakukan semena-mena oleh agen lokal tempat saya bekerja – tidak ada kesempatan, tidak ada klien – tidak punya pengalaman hingga melampaui setengah halaman A4.

Entah kenapa saya mau (akhirnya) untuk pergi ke Bali. Mungkin awalnya karena saya belum pernah menginjakkan kaki di tempat itu seumur hidup. Dan akhirnya di sanalah saya, berdua dengan suami, pakaian lusuh karena keringat, tanpa pemikiran samasekali bagaimana kita bisa menemukan penginapan di tengah hiruk pikuk high season waktu itu. Namun setelah 100 meter kami berjalan, tiba-tiba saja kami bisa menemukan penginapan bersih dan nyaman.

Esok paginya, kami sudah berdiri di depan monumen bom bali dan menunggu untuk bertemu dengan seorang teman dari mailing list penerjemah, yang datang beserta istrinya. Beberapa menit kemudian, melajulah kami ke Ubud dalam mobil sewaan yang dibayar patungan.

Semua yang berada dalam mobil itu bukan penerjemah hebat, masih berjuang menggaruk proyek sana sini, bergelut dengan klien-klien yang mangkir bayar, dan tidak memiliki satu pun pemikiran tentang apa yang akan terjadi beberapa bulan setelahnya. Tapi kami semua memiliki harapan, saya rasa, bahwa translation masterclass (disajikan oleh salah satu penerjemah senior mumpuni) yang akan kami hadiri itu membukakan mata untuk menjelang tantangan di masa depan.

Dan memang acara itu membuka mata saya … dan Bali membuka mata saya.

Di sana saya menyadari akan artinya desperation yang bisa mendorong untuk melakukan banyak hal. Tekad untuk belajar saja tidak cukup, harus ada satu titik dalam hidup ketika seseorang bangkit dan mengatakan “Tidak, saya tidak mau melakukan A, saya mau melakukan B dan kalau saya harus berdarah-darah untuk mendapatkan B, saya akan melakukannya!”

A untuk saya adalah “Menjadi penerjemah berbayar rendah yang diperbudak oleh agensi lokal yang hanya mau membayar DELAPAN RIBU RUPIAH untuk satu lembar SUMBER dari JURNAL MEDIS, dengan alasan kliennya tidak mampu membayar lebih besar dari itu.”

B untuk saya adalah “Menjadi penerjemah dengan kemampuan lebih baik, hasil lebih baik, keahlian lebih baik, dan dibayar lebih tinggi dari delapan ribu rupiah per halaman sumber.”

Karena itulah, pulang dari sana, saya – si miskin yang menggusur koper memasuki jalan Poppies II – bertekad untuk melakoni profesi ini sebaik-baiknya, sampai ketukan keyboard terakhir. Apa pun yang menjelang di masa depan, saya ingin siap menghadapinya dengan keahlian yang baik, bukan setengah-setengah, bukan karena saya anak Papa atau cucu Kakek, tapi karena saya bisa dan mampu. Modal saya mimpi dan tekad, kalau pun sampai harus menggeber netbook milik saya sampai titik darah penghabisannya to prove my point, so be it.

Sebulan setelah UWRF berlalu, saya masih menggaruk proyek dari milis tapi saya mulai menggertakkan gigi untuk menagih uang yang tertahan di agen – menelurkan ancaman yang saya susun berdasarkan riset mengenai perusahaannya plus logika, dan berhasil. Semua dibayar tuntas, lunas hanya dalam satu hari (pelajaran baru: negosiasi utang). Pada awal November saya berhasil menyelesaikan novel dari penerbit terkasih, dan kemudian memperoleh satu novel lagi – inilah novel terakhir saya (pelajaran baru: menerjemahkan dengan upaya mempertahankan konteks selama lebih dari 100 halaman). Pada bulan November ini juga, saya berkutat bulak balik menerjemahkan dengan Wordfast Classic – hanya dibayar 150 rupiah per kata tapi yang jelas jauh lebih baik dari Rp. 8.000,00 per halaman sumber (pelajaran baru: mengolah dokumen bermacro dengan Wordfast Classic), dan kemudian berkutat menerjemahkan dengan Trados 2007, bayaran 50 EUR (pelajaran baru: Trados 2007 yang pas-pasan).

Saya memperoleh empat pelajaran baru hanya dalam waktu satu bulan – semua terasa berbeda dengan niat “Tidak ingin menjadi A, tapi ingin menjadi B.”

(Dua bulan setelah tanggal 5 Oktober 2010, tepatnya tanggal 1 Desember 2010, saya terlibat dalam proyek berkekuatan satu setengah juta kata.)

Bandung, 14 September 2013

Mengenang fajar menjelang di beranda penginapan Ronta, lagu “Hey, Soul Sister” dari Train, kopi Bali, dua potong roti bakar isi pisang, dan novel “Monster High” dari Lisi Harrison. This is my history.

– To be continued 

Sensasi Bahasa Ngawur, Berjuta Rasanya @_@

Standard

Hari ini sejumlah besar orang mengeluh di Facebook – akibat tersebar luasnya suatu video YouTube mengenai artis (yang tidak terlalu beken juga di mataku) dan si tunangannya yang mencoba berbicara ‘intelek’ namun berakhir menjadi bahan tertawaan orang banyak. Saya melihat video itu (hanya satu kali) kemarin pagi, dan hari ini semua orang membeo kembali mengenai kata-kata nan-intelek salah kaprah dari si tunangan artis itu, berkali-kali, di mana-mana, sampai sejumlah orang akhirnya muak dan tidak ingin membacanya lagi.

Sumpah, awalnya lucu (karena penuh celaan). Saya yakin bahwa orang yang mengeposkan video itu ke YouTube tidak pernah bermaksud untuk menciptakan kubangan kotor bahasa (itu tugasnya si objek – tunangan si artis dengan bahasa Indonesia berhamburan) dan melemparkan semua pemirsa ke dalamnya, malahan justru sebaliknya, saya kira niatnya justru untuk mengingatkan bahwa bahasa Indonesia layak dipelajari dan dicintai.

Tapi efek yang terjadi malah sebaliknya, semua orang mulai memparafrasekan, menyalin-rekat, membeokan, merusak rasa bahasa sendiri.

Jika dirunut-runut, kebiasaan yang tampak tidak berbahaya ini (membeokan kata-kata yang salah) bisa menjadi bumerang di kemudian hari, karena kata-kata menyebar seperti virus – dalam otak dan juga di luar sana. Dua tahun yang lalu saya pernah ‘menodong’ salah satu penerjemah untuk menerjemahkan “really something” bukan menjadi “sesuatu banget“, dan dia harus berpikir keras untuk menemukan padanannya (“really something” – “benar-benar luar biasa“) – ini terjadi setelah dia membeokan “sesuatu banget” selama sebulan. Saya pernah mencoret kata “oranye” dari terjemahan “orange” karena rupanya si penerjemah tidak tahu bahwa “oranye” adalah bahasa Belanda, dan bahasa Indonesianya adalah “jingga”. Saya sudah kegatalan ingin mengoreksi “tak bergeming” menjadi “bergeming” karena nyatanya “tak bergeming” itu artinya “tidak diam”, sedangkan “bergeming” artinya “diam”, tapi saya masih malas disebut polisi tata bahasa walaupun kepala rasanya gatal (tanpa ketombe) setiap kali melihat orang salah eja atau salah tulis, salah mengartikan, dan bangga pula.

Membenar-benarkan yang salah dalam soal bahasa menjadi berbahaya jika dibeokan selama lebih dari 24 jam. Saya pribadi sering tergoda untuk mengucapkan dan menuliskan yang salah, tapi akhirnya saya mulai bertanya-tanya juga mengenai misalnya “cetar membahana” – bahasa apa ini? Tampaknya begitu banyak orang Indonesia yang sudah kehilangan arah dalam bahasanya sendiri dan mulai mengadaptasi kata-kata artis, usaha parafrase para politikus, atau menggunakan istilah-istilah dari blog yang seenaknya saya menyalin-rekat terjemahan dari Google Terjemahan (tanpa merasa perlu melakukan penyuntingan keterbacaan). Dan kemudian timbul keluhan publik bahwa bahasa Indonesia tidak ekspresif!

Ekspresi bahasa hanya bisa timbul ketika bahasa dipakai, cuy! Bicara dan nulis dulu yang bener baru bilang gak ekspresif! *tepok jidat*

Saat inilah saya merasa lebih hormat terhadap mereka yang lebih suka bicara bahasa daerah berseling bahasa Indonesia ketimbang berujar sampah seperti “kontroversi hati“. Mau dibilang katrok, kampungan, ndeso, kampring, tapi mereka menyeling bahasa tanpa maksud untuk dianggap lebih intelek – dan semua ekspresi bahasa daerah memang tidak ada yang dibuat-buat. Pencitraan intelektualitas tampaknya sangat penting untuk kaum artis yang memang sudah dianggap “tong kosong” dari sejak zaman ibuku, sayangnya masyarakat ikut membeokan ucapan si “tong kosong” (pada awalnya mencela, kemudian tertawa, besok-besok mengamini?) tanpa menyadari bahwa mereka sedang melemparkan diri ke dalam kubangan kotor bahasa, bersama dengan si artis (tadinya “tong kosong”, sekarang jadi “penuh sensasi”) yang dimaksud, tentu saja.

Yang mengerikan adalah ketika tiba saatnya bagi kita untuk menulis dokumen resmi seperti skripsi, naskah tulisan, jurnal, atau bahkan blog yang nyaman dibaca, ide berhamburan kabur dari otak yang sudah dipadati konspirasi kemakmuran, sesuatu banget, dan harmonisisasi,  akhirnya kursor MS Word yang berkedip hanya ditatap sembari menahan agar mulut tidak terus menganga – tidak tahu mau menulis apa dan tidak tahu bahasa macam apa yang baik untuk digunakan bagi khalayak umum atau resmi.

*mendesah keras* – sekarang saya harus kembali ke Facebook dan menutup mata selama setidaknya seminggu, mudah-mudahan yang ini lebih cepat mereda dibandingkan kasus “sesuatu banget“….

———

Tambahan (disalin rekat dari http://kbbi.web.id/):

konspirasi /kon·spi·ra·si/ n komplotan; persekongkolan

kemakmuran /ke·mak·mur·an/ n keadaan makmur: kita harus mengubah kemiskinan menjadi –;– nasional 1 semua harta milik dan kekayaan potensi yg dimiliki negara untuk keperluan seluruh rakyat; 2 keadaan kehidupan negara yg rakyatnya mendapat kebahagiaan jasmani dan rohani akibat terpenuhi kebutuhannya;

*terperangah*

 Bandung, September 10. 2013

Conversion Principles of Trados Studio 2011

Standard

What comes in as, will come out as –

Add text file -> manage as bilingual (sdlxliff) file -> convert backs to text file upon “finalize”

Add text file -> manage as Trados tag Editor file –> manage as bilingual (sdlxliff file) –> converts back to Trados Tag Editor (upon “finalize”) AND text file (yes, you can as long as you have the original text file … by using “Save Target As”)

Add text file – convert using PDF converter – manage as bilingual (sdlxliff file) –> converts back to THE TEXT FILE, NOT PDF, upon “finalize”

* now you know why PDF made from scanned documents won’t work on Trados.

There is simply no text file to begin with*

Stupid TM!

Standard

TM = Translation Memory; added by confirming segments on a CAT tools interface by usually pressing Alt + Enter or other buttons. Translation Memory functions mainly to preserve bilingual history of past translation/editing works in a small and compact format; this can be added as you go and access later to re-use.

Stupid TMs are made by stupid translators, confirmed by stupid editors, and approved by clients who hasn’t got the faintest idea that they are in the brink of creating massive chaos. You can spot stupid TMs if you got a project and the terminologies, spelling, language inside the TM are all WRONG.

How to correct stupid TMs:

1) Report to your client immediately. Avoid from making inconsistencies with the TM (ouch! Yes! You have to follow through to make progress happen!), avoid spot-on corrections. Instead, make a list of what the “wrongs” are, include the “rights” on your list (make an Excel sheet on this).

2) Go to the “Translation Memory” part, find and replace all stupidness. The method varies by CAT tools. On Trados you can make filters and repair them not only word-based but also context-based.

3) If the client disapprove of the replacement/repair, then grit your teeth and try your best to hold on to yourself as you go along. There isn’t much that you can do. However …

4) You can always place “correction” here in there, inconspicuous, some sort of a “message in the bottle” for the editors and the translators after you, so that they will see that these stupidness did not go unnoticed. Hopefully you will get it done, hopefully your Project Manager will see your points, hopefully the next translator will not scream like you did.

(I managed to correct one of my project’s stupid TM … after 4 years … keep the fight! I feel you!)

Jadi Penerjemah itu Enak …

Standard

… kata seorang teman (yang bukan penerjemah).

facedesk

Profesi ini memang sangat menyenangkan untuk mereka yang bisa menikmati waktu-waktu di rumah, tidak terikat jam kantor. Enak buat mereka yang suka hidup bebas dan tidak suka diatur oleh siapa pun, bisa ‘pilih kasih’ pekerjaan, mana yang bisa diambil, mana yang tidak.

Woops, stop it right there. Keliatannya, opsi tinggal di rumah dan menghindari kemacetan terdengar seperti surga dibandingkan dengan berdesak-desakan di kereta, bis, angkot, dan harus duduk menunggu macet sambil terkantuk-kantuk dengan perut kosong. Kedengarannya, pilihan “bisa bekerja kapan saja” merupakan impian mutlak (?) semua orang, apalagi buat mereka yang seringkali bercokol tidak produktif di kantor, diteriaki oleh bos, dan gelisah melirik jam dinding setiap kali makan siang sudah lewat, berharap untuk bisa kembali berdesak-desakan di kereta, bis, angkot, namun sekali ini untuk tujuan yang lebih jelas yaitu rumah nan nyaman dan tempat tidur nan empuk.

Easy money without a waste of time, jadi penerjemah itu enak karena cukup tinggal di rumah dan mencetak jutaan rupiah.

Wah.

Saya seringkali menemukan bahwa orang tertarik untuk menyelami profesi ini akibat easy money. “Saya bisa kok berbahasa Inggris (dengan baik dan benar?), saya bisa kok berbahasa Indonesia (dengan baik dan benar?), saya bisa kok mengetik (dengan baik, cepat, dan benar?) di MS Word dan Excel (minimal fungsi dasar kan?), berarti saya bisa dong menjadi penerjemah?” – lanjutnya, “… dan meraup jutaan demi jutaan rupiah dari hanya sekadar mengetik dan bermodal program (bajakan) di laptop/PC (pas-pasan).” Dan seringkali, tipe-tipe orang seperti ini didapati berkeliaran di forum-forum penerjemah, menawarkan jasanya menerjemahkan tanpa bisa menyediakan portfolio pasti mengenai kemampuannya, hanya dengan modal “Saya bisa dwi bahasa. Give me a job and pay me full, and I will prove it to you.” Ketika setelah tiga bulan tidak ada yang melirik kampanyenya, mereka mulai berkata “Bagi dong proyeknya ….” – kembali, tiada portfolio. Tulisannya pun ber-typo with tons of grammatical errors.

Dear God.

Sebaliknya, saya melihat segerombolan orang (benar-benar hanya segerombolan, mereka tidak banyak), yang tidak pernah mengklaim bahwa dia bisa BERBICARA bahasa Inggris yang baik dan benar, namun hanya berkata bahwa “Saya suka menerjemahkan. Tiap hari saya mendapat setitik dua titik ilmu ….” – dan dia melanjutkan dengan dongeng indah atau lucu tentang pengalamannya menerjemahkan lisan atau menerjemahkan buku. Lucunya, gerombolan ini tidak pernah mengklaim apa pun. Mereka mencintai profesi ini secara sederhana dan tanpa neko-neko, tidak pernah mengklaim bahwa yang mereka peroleh itu easy money, namun alih-alih “bayaran untuk pembelajaran yang tiada tara”.

Hmmmm.

Saya tidak menafikan kampanye tentang betapa pekerjaan ini adalah pekerjaan menghasilkan dan terhormat. Buat saya, jadi office boy pun bisa jadi pekerjaan menghasilkan yang terhormat asal dia bekerja dengan tekun dan bukan sambil membuka-buka laci kantor orang lain untuk mencari-cari barang yang bisa diambil. Tapi saya sungguh berharap bahwa siapa pun yang menyatakan bahwa dia ingin menjadi penerjemah memiliki setidaknya gambaran buram mengenai apa yang bisa dilakukannya tanpa harus banyak tanya mengenai hal-hal bodoh (yang bisa dibacanya sendiri di Google), sembari menelurkan typo dan grammatical errors yang menjengkelkan semua orang. (Kadang-kadang gambaran buram itu harus diperoleh sendiri dan tidak melalui dongeng – kadang-kadang bukan dari kesempatan memperoleh pekerjaan tapi melalui banyak baca, BACA, BACA!!).

Betapa mengerikannya pikiran manusia, ketika mereka hanya mendengar bagian yang ingin mereka dengar. Contoh: “Saya baru saja mengerjakan proyek yang membuat saya tidak tidur selama sebulan DAN MENGHASILKAN 50 JUTA RUPIAH.” Tampaknya, sifat manusia pada umumnya adalah untuk mendengar bagian yang tercetak huruf besar dan tidak menelaah bagian yang berhuruf kecil. Serta merta si pendengar berpikir bahwa 50 juta rupiah itu easy money – toh si penerjemah masih berdiri tegak, toh dia gak sakit atau pingsan, berarti ini easy money (kesimpulan yang sungguh semena-mena). Sukar sekali untuk menerangkan setelahnya bahwa si penerjemah yang tidak tidur selama sebulan itu SUDAH BERPENGALAMAN 10+ TAHUN, karena itu dia bisa tidak tidur sebulan. Sangat ribet untuk menerangkan bahwa si penerjemah yang tidak tidur memiliki skill yang excellent untuk topik seharga 50 juta rupiah itu, melalui pengalaman dan jatuh bangun selama 10+ TAHUN, mengais-ngais pekerjaan pertama dari orang yang simply believe in him/her, dan that believe berkembang menjadi keyakinan akan kompetensi profesionalnya karena si penerjemah benar-benar berjuang untuk membuktikannya melalui endless researches and practices. Seorang newbie yang bijak akan langsung bertanya, “Apa topiknya? Menarik sekali topiknya, saya ingin belajar”, atau, “Wah, apakah saya bisa seperti itu? Saya ingin mencari pekerjaan supaya bisa seperti itu!” – dan gerombolan yang arif akan mendatanginya serta menawarkan, jika tidak pekerjaan maka bantuan. Maka status dia akan beralih sangat cepat, dari newbie menjadi penerjemah yang nyata (nyata = menghasilkan walaupun belum besar, makin baik seraya bulan bertambah, makin sedikit berkicau tentang kemampuannya tapi makin banyak menelurkan pertanyaan yang bermutu).

Tiada pekerjaan yang tanpa usaha – pekerjaan menjadi penerjemah di rumah hanyalah mengalihkan investasi waktu di angkutan umum/jalan raya menjadi waktu riset dan duduk sambil membaca berbagai masukan selama berjam-jam. Jika ada yang menganggap bahwa pekerjaan kantoran itu tidak enak dibandingkan menjadi penerjemah di rumah (tanpa pernah mengalami keduanya), celakalah dia karena jelas-jelas dia menganggap bahwa pekerjaan ini easy money without a waste of time. Banyak penerjemah profesional yang beralih dari pekerjaan kantor dan menjadi penerjemah simply karena dia telah merasa bahwa tipe pekerjaan kantoran BUKAN HAL YANG COCOK UNTUKNYA (dia sudah MENCOBA!), BUKAN karena dia menganggap pekerjaan penerjemahan ini easy money. Menurut saya pekerjaan kantor sama enaknya – bisa melakukan hal di luar sana dan melihat banyak hal (bahkan dalam bis dan angkot!) alih-alih terperangkap di depan layar dan menikmati radiasi. Jika dihitung-hitung, sebenarnya modal yang saya keluarkan untuk menjadi penerjemah adalah hampir sama besarnya dengan modal yang saya keluarkan ketika saya masih ngantor di biro penerjemahan dulu, bahkan modal “tinggal di rumah” ini lebih besar (saya sudah melalap lima laptop dan membakar motherboard dua PC, memasang dan menghapus tujuh perangkat lunak berbayar, lima OS berbayar, berlangganan empat jenis koneksi internet, melakukan dua puluh kali upgrade, dan menjalani ratusan kali terapi anti-stres dengan belanja, spa, liburan, pesan antar makanan … hanya dalam waktu 8 tahun terakhir). Saya tidak menafikan bahwa pendapatan saya besar namun saya juga belajar untuk menjadi arif dalam hal pekerjaan ini.

Tiada pekerjaan yang mudah dan hanya modal dengkul. Membosankan untuk menerangkan ini ribuan kali kepada semua orang yang hanya mendengar bagian akhir dari kata-kata saya, ” … cukup untuk membeli satu motor, cash …” tapi tidak pernah ada umpan balik selanjutnya (Belajar mengoreksi bahasa sendiri? Mengunduh perangkat gratis dan mulai belajar? Membuat profil sendiri di situs pencari pekerjaan? Melamar ke agen? Berusaha mengisi formulir dan kontrak agen sendiri? Bercokol berjam-jam di mailing list untuk mencari umpan pekerjaan? Berlatih dan membuat sampel yang baik sebagai portfolio? Melamar ke penerbit? By God, dulu saya melakukan semua itu sendiri! Ya, sampai ke menelusuri iklan koran dan juga mengirim spam!).

Jadilah orang yang arif.

Jangan sia-siakan mata dan telinga hanya untuk mendengar bagian akhir dari keterangan seorang penerjemah profesional yang sudah berbaik hati untuk bercerita tentang pendapatannya.

Tanyalah mengenai perjuangannya – saya jamin Anda akan terkejut.

Bandung, 5 September 2013