Sensasi Bahasa Ngawur, Berjuta Rasanya @_@

Standard

Hari ini sejumlah besar orang mengeluh di Facebook – akibat tersebar luasnya suatu video YouTube mengenai artis (yang tidak terlalu beken juga di mataku) dan si tunangannya yang mencoba berbicara ‘intelek’ namun berakhir menjadi bahan tertawaan orang banyak. Saya melihat video itu (hanya satu kali) kemarin pagi, dan hari ini semua orang membeo kembali mengenai kata-kata nan-intelek salah kaprah dari si tunangan artis itu, berkali-kali, di mana-mana, sampai sejumlah orang akhirnya muak dan tidak ingin membacanya lagi.

Sumpah, awalnya lucu (karena penuh celaan). Saya yakin bahwa orang yang mengeposkan video itu ke YouTube tidak pernah bermaksud untuk menciptakan kubangan kotor bahasa (itu tugasnya si objek – tunangan si artis dengan bahasa Indonesia berhamburan) dan melemparkan semua pemirsa ke dalamnya, malahan justru sebaliknya, saya kira niatnya justru untuk mengingatkan bahwa bahasa Indonesia layak dipelajari dan dicintai.

Tapi efek yang terjadi malah sebaliknya, semua orang mulai memparafrasekan, menyalin-rekat, membeokan, merusak rasa bahasa sendiri.

Jika dirunut-runut, kebiasaan yang tampak tidak berbahaya ini (membeokan kata-kata yang salah) bisa menjadi bumerang di kemudian hari, karena kata-kata menyebar seperti virus – dalam otak dan juga di luar sana. Dua tahun yang lalu saya pernah ‘menodong’ salah satu penerjemah untuk menerjemahkan “really something” bukan menjadi “sesuatu banget“, dan dia harus berpikir keras untuk menemukan padanannya (“really something” – “benar-benar luar biasa“) – ini terjadi setelah dia membeokan “sesuatu banget” selama sebulan. Saya pernah mencoret kata “oranye” dari terjemahan “orange” karena rupanya si penerjemah tidak tahu bahwa “oranye” adalah bahasa Belanda, dan bahasa Indonesianya adalah “jingga”. Saya sudah kegatalan ingin mengoreksi “tak bergeming” menjadi “bergeming” karena nyatanya “tak bergeming” itu artinya “tidak diam”, sedangkan “bergeming” artinya “diam”, tapi saya masih malas disebut polisi tata bahasa walaupun kepala rasanya gatal (tanpa ketombe) setiap kali melihat orang salah eja atau salah tulis, salah mengartikan, dan bangga pula.

Membenar-benarkan yang salah dalam soal bahasa menjadi berbahaya jika dibeokan selama lebih dari 24 jam. Saya pribadi sering tergoda untuk mengucapkan dan menuliskan yang salah, tapi akhirnya saya mulai bertanya-tanya juga mengenai misalnya “cetar membahana” – bahasa apa ini? Tampaknya begitu banyak orang Indonesia yang sudah kehilangan arah dalam bahasanya sendiri dan mulai mengadaptasi kata-kata artis, usaha parafrase para politikus, atau menggunakan istilah-istilah dari blog yang seenaknya saya menyalin-rekat terjemahan dari Google Terjemahan (tanpa merasa perlu melakukan penyuntingan keterbacaan). Dan kemudian timbul keluhan publik bahwa bahasa Indonesia tidak ekspresif!

Ekspresi bahasa hanya bisa timbul ketika bahasa dipakai, cuy! Bicara dan nulis dulu yang bener baru bilang gak ekspresif! *tepok jidat*

Saat inilah saya merasa lebih hormat terhadap mereka yang lebih suka bicara bahasa daerah berseling bahasa Indonesia ketimbang berujar sampah seperti “kontroversi hati“. Mau dibilang katrok, kampungan, ndeso, kampring, tapi mereka menyeling bahasa tanpa maksud untuk dianggap lebih intelek – dan semua ekspresi bahasa daerah memang tidak ada yang dibuat-buat. Pencitraan intelektualitas tampaknya sangat penting untuk kaum artis yang memang sudah dianggap “tong kosong” dari sejak zaman ibuku, sayangnya masyarakat ikut membeokan ucapan si “tong kosong” (pada awalnya mencela, kemudian tertawa, besok-besok mengamini?) tanpa menyadari bahwa mereka sedang melemparkan diri ke dalam kubangan kotor bahasa, bersama dengan si artis (tadinya “tong kosong”, sekarang jadi “penuh sensasi”) yang dimaksud, tentu saja.

Yang mengerikan adalah ketika tiba saatnya bagi kita untuk menulis dokumen resmi seperti skripsi, naskah tulisan, jurnal, atau bahkan blog yang nyaman dibaca, ide berhamburan kabur dari otak yang sudah dipadati konspirasi kemakmuran, sesuatu banget, dan harmonisisasi,  akhirnya kursor MS Word yang berkedip hanya ditatap sembari menahan agar mulut tidak terus menganga – tidak tahu mau menulis apa dan tidak tahu bahasa macam apa yang baik untuk digunakan bagi khalayak umum atau resmi.

*mendesah keras* – sekarang saya harus kembali ke Facebook dan menutup mata selama setidaknya seminggu, mudah-mudahan yang ini lebih cepat mereda dibandingkan kasus “sesuatu banget“….

———

Tambahan (disalin rekat dari http://kbbi.web.id/):

konspirasi /kon·spi·ra·si/ n komplotan; persekongkolan

kemakmuran /ke·mak·mur·an/ n keadaan makmur: kita harus mengubah kemiskinan menjadi –;– nasional 1 semua harta milik dan kekayaan potensi yg dimiliki negara untuk keperluan seluruh rakyat; 2 keadaan kehidupan negara yg rakyatnya mendapat kebahagiaan jasmani dan rohani akibat terpenuhi kebutuhannya;

*terperangah*

 Bandung, September 10. 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s