Si Miskin yang Menggusur Koper di Poppies II

Standard

Jam 21.00 WITA, 5 Oktober 2010 – Bali. Saya dan suami turun dari taksi bandara di depan jalan Poppies II, dengan hanya satu koper, satu tujuan – menghadiri Translation Masterclass di acara UWRF Bali pada tanggal 6 Oktober 2010. Tidak ada reservasi hotel – tidak ada uang berlimpah. Satu-satunya agen masih berutang dan sudah empat bulan mereka tidak membayar. Tiada pekerjaan lain kecuali satu novel dari penerbit pertama (dan satu-satunya) yang mau menerima saya waktu itu. Saya dan suami datang ke Bali hanya berbekal uang 1,8 juta rupiah hasil pinjaman (minus tiket pp Bali-Jakarta yang sudah dipesan dan dibayar pas-pasan 2 minggu sebelumnya).

Saya sudah lama menjadi penerjemah tapi saya tidak pernah berpikir untuk muncul ke permukaan dan berkenalan dengan penerjemah lain, sampai 5 Oktober 2010. Saya tidak pernah mendapat banyak pekerjaan sebelum 5 Oktober 2010, setelah memutuskan hubungan dengan agen lokal yang semena-mena, untuk kemudian bertemu agen lain yang ternyata bisa mangkir membayar setelah project managernya hengkang. Beberapa bulan sebelum 5 Oktober 2010, saya memberanikan diri untuk akhirnya melamar ke satu-satunya penerbit yang terpikir oleh saya, dan bekerja mati-matian dengan bantuan seorang teman editor selama 3 minggu untuk menyelesaikan sampel novel klasik, yang ternyata membuat saya diterima dan bekerja di penerbit itu sebagai penerjemah novel.

Sebelumnya saya selalu menampik ajakan untuk bertemu dengan komunitas penerjemah. Saya malu. Saya merasa tidak punya apa-apa yang bisa dibicarakan selain kesulitan mendapatkan pekerjaan. Saya tidak bisa mengutarakan jam-jam yang saya lalui untuk menongkrongi mailing list untuk mencari umpan pekerjaan dari para anggota di sana. Saya tidak bisa mengutarakan tentang kemiskinan berlarut-larut yang saya alami ketika upah penerjemahan bisa habis hanya dalam 2 jam untuk membeli susu anak dan kebutuhan rumah tangga. Pengetahuan saya tentang CAT tools hanyalah sebatas yang diajarkan oleh Papa, Wordfast Classic. Saya malu merengek kepada senior supaya mereka melirik dan memberi pekerjaan atau bimbingan. Saya tidak punya apa-apa yang bisa dibanggakan.

Saya dibayar terlalu rendah – diperlakukan semena-mena oleh agen lokal tempat saya bekerja – tidak ada kesempatan, tidak ada klien – tidak punya pengalaman hingga melampaui setengah halaman A4.

Entah kenapa saya mau (akhirnya) untuk pergi ke Bali. Mungkin awalnya karena saya belum pernah menginjakkan kaki di tempat itu seumur hidup. Dan akhirnya di sanalah saya, berdua dengan suami, pakaian lusuh karena keringat, tanpa pemikiran samasekali bagaimana kita bisa menemukan penginapan di tengah hiruk pikuk high season waktu itu. Namun setelah 100 meter kami berjalan, tiba-tiba saja kami bisa menemukan penginapan bersih dan nyaman.

Esok paginya, kami sudah berdiri di depan monumen bom bali dan menunggu untuk bertemu dengan seorang teman dari mailing list penerjemah, yang datang beserta istrinya. Beberapa menit kemudian, melajulah kami ke Ubud dalam mobil sewaan yang dibayar patungan.

Semua yang berada dalam mobil itu bukan penerjemah hebat, masih berjuang menggaruk proyek sana sini, bergelut dengan klien-klien yang mangkir bayar, dan tidak memiliki satu pun pemikiran tentang apa yang akan terjadi beberapa bulan setelahnya. Tapi kami semua memiliki harapan, saya rasa, bahwa translation masterclass (disajikan oleh salah satu penerjemah senior mumpuni) yang akan kami hadiri itu membukakan mata untuk menjelang tantangan di masa depan.

Dan memang acara itu membuka mata saya … dan Bali membuka mata saya.

Di sana saya menyadari akan artinya desperation yang bisa mendorong untuk melakukan banyak hal. Tekad untuk belajar saja tidak cukup, harus ada satu titik dalam hidup ketika seseorang bangkit dan mengatakan “Tidak, saya tidak mau melakukan A, saya mau melakukan B dan kalau saya harus berdarah-darah untuk mendapatkan B, saya akan melakukannya!”

A untuk saya adalah “Menjadi penerjemah berbayar rendah yang diperbudak oleh agensi lokal yang hanya mau membayar DELAPAN RIBU RUPIAH untuk satu lembar SUMBER dari JURNAL MEDIS, dengan alasan kliennya tidak mampu membayar lebih besar dari itu.”

B untuk saya adalah “Menjadi penerjemah dengan kemampuan lebih baik, hasil lebih baik, keahlian lebih baik, dan dibayar lebih tinggi dari delapan ribu rupiah per halaman sumber.”

Karena itulah, pulang dari sana, saya – si miskin yang menggusur koper memasuki jalan Poppies II – bertekad untuk melakoni profesi ini sebaik-baiknya, sampai ketukan keyboard terakhir. Apa pun yang menjelang di masa depan, saya ingin siap menghadapinya dengan keahlian yang baik, bukan setengah-setengah, bukan karena saya anak Papa atau cucu Kakek, tapi karena saya bisa dan mampu. Modal saya mimpi dan tekad, kalau pun sampai harus menggeber netbook milik saya sampai titik darah penghabisannya to prove my point, so be it.

Sebulan setelah UWRF berlalu, saya masih menggaruk proyek dari milis tapi saya mulai menggertakkan gigi untuk menagih uang yang tertahan di agen – menelurkan ancaman yang saya susun berdasarkan riset mengenai perusahaannya plus logika, dan berhasil. Semua dibayar tuntas, lunas hanya dalam satu hari (pelajaran baru: negosiasi utang). Pada awal November saya berhasil menyelesaikan novel dari penerbit terkasih, dan kemudian memperoleh satu novel lagi – inilah novel terakhir saya (pelajaran baru: menerjemahkan dengan upaya mempertahankan konteks selama lebih dari 100 halaman). Pada bulan November ini juga, saya berkutat bulak balik menerjemahkan dengan Wordfast Classic – hanya dibayar 150 rupiah per kata tapi yang jelas jauh lebih baik dari Rp. 8.000,00 per halaman sumber (pelajaran baru: mengolah dokumen bermacro dengan Wordfast Classic), dan kemudian berkutat menerjemahkan dengan Trados 2007, bayaran 50 EUR (pelajaran baru: Trados 2007 yang pas-pasan).

Saya memperoleh empat pelajaran baru hanya dalam waktu satu bulan – semua terasa berbeda dengan niat “Tidak ingin menjadi A, tapi ingin menjadi B.”

(Dua bulan setelah tanggal 5 Oktober 2010, tepatnya tanggal 1 Desember 2010, saya terlibat dalam proyek berkekuatan satu setengah juta kata.)

Bandung, 14 September 2013

Mengenang fajar menjelang di beranda penginapan Ronta, lagu “Hey, Soul Sister” dari Train, kopi Bali, dua potong roti bakar isi pisang, dan novel “Monster High” dari Lisi Harrison. This is my history.

– To be continued 

4 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s