Keniscayaan dari Ketiadaan

Standard

Bali, 2 November 2012 – pukul 11.00 WITA, saya termenung di bawah pohon beringin besar di Tirta Empul.

Alkisah, pohon beringin tersebut tumbuh besar dan menaungi sisi pelataran pura Tirta Empul yang demikian panas. Suatu hari, mendadak pohon itu tumbang. Tiada yang pernah berusaha menanam pohon kembali di tempat itu, namun semua yang sembahyang di sana mengeluhkan betapa panasnya pelataran pura tanpa keberadaan si beringin. Tiba-tiba suatu hari, beringin itu tumbuh kembali tanpa ada yang menanam. Dia makin membesar sampai penduduk memutuskan untuk membelitkan kain dan memberinya sesaji.

Dan di sanalah, di bawah pohon beringin itu, saya menikmati limpahan rezeki yang telah saya terima sejak satu setengah juta kata menghampiri pada Desember 2010 dan berlalu pada pertengahan 2011 – disusul dengan proyek demi proyek yang membuat saya tak punya pilihan lain kecuali berpacu dengan ketukan keyboard. Titik kulminasi saya telah lenyap. Saat itu, di bawah pohon beringin, saya mengambang di tengah kehampaan. Because yes, I got everything I ever wanted. Everything.

Sebelum 2012, seringkali saya luput melihat jumlah uang yang diterima dan hanya berusaha menghabiskan apa yang ada di piring saja. Berusaha mengembalikan semua keadaan ke titik nol – dari minus yang susah payah saya dan keluarga pertahankan agar nilainya tidak makin membengkak. Dan sampailah di suatu saat ketika netbook menjadi laptop dan akhirnya ultrabook, dari ponsel biasa menjadi Blackberry, dari perangkat lunak bajakan menjadi asli. Saya mulai mengambang dari ketenggelaman.

Tahun 2012, saya akhirnya menyadari bahwa semua yang saya lakukan beralaskan dendam. Saya dendam kepada mereka yang memberikan pekerjaan dengan tarif rendah nan menghina dan menganggap bahwa pekerjaan ini mudah, “hanya alih bahasa saja”. Jadi, nilai delapan ribu per halaman jurnal sumber adalah wajar karena “hanya alih bahasa”. Dendam terhadap kebohongan bahwa saya harus mengambil pekerjaan sebanyak-banyaknya dan bersaing dengan sejumlah penerjemah lain dengan membanting harga serendah-rendahnya, karena konon demikianlah dunia penerjemahan. Semua itu bohong – penerjemahan bukanlah alih bahasa semata. Pekerjaan ini adalah alih konteks yang mahal karena klien membeli buah pemikiran dan keputusan kita, bukan membeli Google Terjemahan. Pada tahun ini saya juga memutuskan untuk mengambil spesialisasi hanya di bidang yang saya sukai. Beberapa mungkin berpikir bahwa saya mempersempit ladang, tapi sebenarnya saya sedang meningkatkan pengelolaan.

Saya mencintai semua klien dengan sepenuh hati, bukan karena profesi tapi karena empati – di balik semua email dan vendor portal, mereka adalah manusia dari berbagai bangsa. Saya berusaha untuk tidak menyusahkan – salah satu sikap yang saya pelajari dari senior berhati mulia yang telah menyentuh kehidupan saya pada Desember 2010. Kerjakan sesuai deadline, utamakan meminta maaf ketika (akan) terlambat, berhenti mengutarakan alasan yang tidak kontekstual (masalah pribadi), dan usahakan agar mereka tidak lembur – karena saya juga tidak mau lembur. Jumlah klien pun kian bertambah, satu demi satu, sampai akhirnya mimpi saya untuk bekerja sebagai pengulas di salah satu klien yang menangani penerjemahan Search Engine populer tercapai sudah.

SAYA BUKAN PENERJEMAH TERBAIK. But I learned to play it well – and I have all the resources to teach me how to play it well.

November 2012, saya memutuskan untuk rehat dan pergi ke Bali berdua dengan suami – di antara sejumlah perjalanan yang mencerahkan, cerita pohon beringin itu sampai ke telinga saya melalui penuturan seorang penduduk lokal. Saya tidak pernah menyadari arti cerita itu hingga lama kemudian, bahwa saat kita menjadi terlalu besar, apa yang ada di bawah kita tidak akan bisa tumbuh. Mereka akan ternaungi dari sinar matahari dan kemudian mati. Demi keseimbangan alam, naungan itu harus tumbang untuk kemudian tumbuh kembali.

Pada bulan April 2013 ayah saya – satu-satunya orang yang teramat sangat bangga dengan prestasi saya di dunia penerjemahan, meninggal dunia. Saat itulah saya menyadari … bahwa saya capek. Satu kata yang demikian sederhana tapi bermakna banyak untuk orang yang sudah mati dan hidup ribuan kali demi deadline. Sebulan setelah Papa meninggal, saya mengundurkan diri dari klien Search Engine yang sangat saya cintai, disusul dengan mengundurkan diri dari sejumlah agen dengan tebang pilih – mereka yang “merepotkan” (tarif jelek, keseringan mengomel, asal pilih editor, sering terlambat bayar) saya buang. Saya membiarkan diri untuk tumbang dan menghilang.

Sebagaimana layaknya semua hal dalam hidup, pekerjaan ini ialah pilihan, klien ialah pilihan, kenyamanan dalam bekerja ialah pilihan.

Saya dulu miskin, dan Tuhan telah menganugerahkan sesuatu yang sangat besar dan tak bisa diukur oleh nilai uang berapa pun … Dia telah menganugerahi kesadaran akan keniscayaan dari ketiadaan, bahwa jika saya mengerjakan sesuatu yang benar-benar saya cintai, semuanya akan berbalas positif seketika. Bahkan bisa berlipat-lipat. Dan tugas saya sebagai manusia adalah sekadar menyadari keniscayaan itu.

Saya meyakini bahwa keniscayaan saya adalah untuk menjadi bahagia – profesi ini telah menjadikan saya orang terbahagia.

Bandung, 22 Oktober 2013

niscaya /nis·ca·ya/ adv tentu; pasti; tidak boleh tidak: jika Tuan yg menyuruh, — ia berangkat;

keniscayaan /ke·nis·ca·ya·an/ n keadaan (hal) niscaya: pembakuan bahasa merupakan ~ yg mutlak

~ Mengenang satu setengah juta kata dan tiga belas orang penerjemah, seorang bunda berhati mulia yang selalu online di YM, malam-malam bersama GTT, senja di Kedonganan, dan Papa. This is my history ~

6 responses »

  1. Loving this Mbak Maria. Seorang dokter pernah berkata kepada saya: segala yang dicapai dengan perjuangan akan berbuah manis. Tuhan itu sungguh Maha Kasih. Selamat dan sukses selalu Mbak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s