No thanks.

Standard

Bali, 30 Desember 2013 –

***

Dear Translator,

Please find here below the project details for a new translation project. Can you please let me know if you can handle this translation project starting tomorrow morning?

Looking forward to hearing from you.

***

Kami baru saja selesai menyantap makan malam ala Italia yang lezat di pesisir Echo Beach, Canggu, ketika email di atas masuk ke Blackberry saya yang berada dalam keadaan senyap. Liburan bulan Desember itu – liburan  bersama keluarga kecil saya, adalah liburan pertama yang sudah direncanakan jauh-jauh hari. Kami sudah memesan tiket pesawat pada bulan September dan sudah melunasi separuh biaya hotel pada bulan November – semata-mata untuk menunjukkan keseriusan dan janji kami kepada anak-anak tentang Bali (dan tentu saja untuk memperoleh diskon tiket pesawat, haha). Dan dari jauh-jauh hari pula saya sudah memberitahukan kepada semua klien bahwa saya akan mengambil cuti untuk liburan akhir tahun.

Walaupun banyak yang mengatakan bahwa pekerjaan lepas waktu adalah pekerjaan yang “bebas”, pada kenyataannya pekerjaan ini tidak pernah bebas dari perdebatan mental – on whether or not we should or should not take a job, providing that it has a decent rate. Selalu saja ada setitik rasa takut (yang bisa berkembang menjadi sebelanga rasa takut ketika keuangan menipis), bahwa pekerjaan yang ditawarkan pasti akan ditawarkan ke orang lain jika tidak diambil. Dan karena kedua hal ini, seringkali penerjemah lepas berkejaran dengan waktu, dan seringkali juga, sayangnya, ketakutan untuk menolak pekerjaan ini dijadikan senjata oleh para klien untuk melemparkan pekerjaan seenak jidat sembari mengabaikan kalender libur nasional di Indonesia.

Tahun lalu saya mendapat kecaman keras dari seorang sahabat setelah saya kedapatan menderita acid reflux – rupanya batin saya sudah menolak untuk merodi bahkan di hari Senin sekali pun, dan diam-diam rasa penolakan itu berubah menjadi acid reflux yang membuat saya tidak bisa tidur dan muntah-muntah di pagi hari.

Si sahabat bertanya, “Why can’t you say no?” (Dia bekerja hanya untuk satu agensi penerjemahan dan selalu membatasi volume hariannya sebesar 2.000 kata per hari).

Jadwal saya yang sehari-harinya selalu overbooked + acid reflux + pertanyaan dalam penuh makna dari si sahabat, membuat saya berpikir waktu itu. Kenapa ya saya tidak bisa menolak? Kenapa saya selalu bilang “ya”, walaupun saya tahu bahwa pada akhirnya yang kurang tidur ya saya, kualitas yang menurun ya kualitas saya, dan lambung yang marah ya lambung saya? Akhirnya saya mulai meninjau kinerja dan mendapati bahwa dorongan ketakutan (pekerjaan diberikan ke orang lain) dan perasaan bersyukur yang tidak pada tempatnya (memukul rata semua sebagai rezeki tanpa memperhatikan kesejahteraan jiwa) bisa berubah menjadi racun bagi diri saya. Akhirnya saya meninjau: Seberapa banyak kenikmatan yang saya peroleh dari semua pekerjaan itu, dan seberapa banyak saya sudah menghabiskan waktu untuk merawat mentalitas serta kehidupan saya yang lain?

Setelahnya saya mulai menata diri dan menendang sebagian klien. Saya mulai melakukan apa yang mungkin tak terbayangkan oleh penerjemah lain: saya mulai menolak. Saya memicing dengan ganas melihat hitungan kata di atas 50.000 dan saya mulai lebih sering mempertanyakan di muka tentang kesehatan mental saya di penghujung proyek, alih-alih menghitung dolar yang masuk. Dan saya membuktikan sikap konsekuen ini dengan menolak proyek besar pertama yang tiba setelah saya menata diri: 100.000 kata. Ketika saya menolak pekerjaan itu (dengan santai, gak pake galau, gak pake ngeluarin kalkulator Blackberry untuk menghitung bayaran), saya mulai melihat bahwa di balik pintu kebebasan dan kemandirian yang saya buka ketika memilih profesi ini, terdapat diri saya yang akhirnya bisa mengelus-elus batu-batu permata yang akan dijadikan perhiasan, akhir minggu menyenangkan bersama keluarga kecil saya di mall dan restoran, dan bertambahnya waktu tidur serta berkurangnya acid reflux.

Akhirnya saya “kecanduan” menolak. Saya mulai membutakan mata terhadap motivasi paling sederhana dari suatu pekerjaan: the money. Urutan motivasi yang tadinya uang – topik – waktu penyelesaian, berubah menjadi topik – waktu penyelesaian – lingkungan kerja yang menyenangkan – seberapa dekat saya dengan si pemberi pekerjaan – uang. Saya makin gencar menolak dan urutan motivasi itu saya bongkar pasang sesuai situasi. Tapi “uang” tidak pernah lagi jadi urutan terdepan – seringkali dia berposisi paling dekat di motivasi nomor 3. Sementara itu, ternyata jumlah klien yang menyusut tidak membuat pendapatan saya berkurang. Makin gencar saya menolak, makin sering saya menegosiasikan tenggat, pekerjaan yang singgah malahan makin banyak dan akhirnya saya mendapati jadwal kembali full booked (sampai kalender tidak pernah saya isi karena pusing melihat tumpang tindihnya), namun kali ini dengan porsi berkecukupan hingga saya bisa bersantai-santai atau mengebut sehari penuh untuk menyelesaikannya – terserah saya saja. Saya mendapati bahwa kembali saya jarang libur kecuali di akhir pekan (Sabtu dan Minggu – dan dua hari ini saya tetapkan sebagai dua hari libur wajib setiap pekan – saya selalu meluangkan waktu untuk menerangkan kepada para klien bahwa mereka tidak bisa menyerahkan pekerjaan hari Jumat malam dan berharap semuanya rapi jali Senin pagi). Saya tidak pernah menegosiasikan harga (baca: meminta bayaran lebih tinggi untuk pekerjaan yang saya anggap tidak menyenangkan) ketika menolak, saya berprinsip bahwa kalau mau ya mau, enggak ya enggak, jangan setengah-setengah bow, kalau enggak mau ya duit seberapa gede pun gak akan keliatan menarik dan kerjaannya pasti berubah jadi aniaya ketika dikerjakan dalam keadaan terpaksa – sikap ini menuai kritik dari banyak orang. Padahal, dari sudut pandang saya, sederhana saja:

10ribu kata dalam waktu 24 jam = aniaya (penerjemah bukan Superman, editor bukan X-men)

bayaran dua digit dengan editor/penerjemah sok tahu dan tidak kooperatif = aniaya (inti kerja sama editor dan penerjemah bukanlah siapa yang benar dan siapa yang salah – juga bukan siapa yang dibayar lebih tinggi dan siapa yang derajatnya lebih intelek, tapi siapa yang bisa memberi ilmu kepada yang lain dan siapa yang bisa membantu untuk menyajikan hasil terbaik bagi klien)

topik yang samasekali tidak dikuasai dan tidak diketahui dengan bayarannya setinggi langit = aniaya (saya bukan penerjemah bidang hukum dan terjemahan topik ekonomi saya cacat rupa, bahasa, dan istilah – saya lebih baik memberi tautan SIHaPeI ketimbang berpanjang-panjang riset dan menahan kantuk serta mabok kata-kata).

sikap PM yang melecehkan, meremehkan penerjemah, dan menganggap penerjemah sama dengan babu = aniaya (saya bukan aspri Anda yang bisa dihubungi 24 jam sehari – saya menghormati zona waktu Anda tapi tolong hormati zona waktu saya, kalau Anda mau terjemahan yang timezone-less dan pay-less mohon pertimbangkan ulang untuk menggunakan Google Terjemahan berbayar).

bayaran selalu terlambat, harus menagih berulang kali sampai bego, lupa, dan bosan = aniaya (mbok ya jangan ditunggu hingga keringat kering dan berganti dengan keringat proyek lain. Saya paham Anda punya sistem tapi tenggat pembayaran tidak boleh bisa membelah diri, dari 45 menjadi 90 atau 100 hari).

Kembali ke soal email yang saya salin rekat di atas, tanpa buang waktu saya mengirimkan email balasan ini:

***

Dear Ma’am,

I am currently on my vacation. I can only handle work after January 6, 2014. I am sorry for this but I did fill out the translator’s holiday schedule on your portal.

Maria

***

You know what? Actually …I did bring my laptop. Saya bisa saja curi-curi kerja setelah suami dan anak-anak tidur. But it didn’t take much thought to write that email down. Apa saya mau menyibukkan pikiran, tenaga, dan usaha, serta meregangkan prinsip di tengah liburan menyenangkan bersama keluarga di Bali, karena “harus” meraup “rezeki yang tidak boleh ditolak”? Tidak mau. Dan saya punya urgensi untuk “mengajarkan” rasa hormat (yang sepertinya telah lama hilang) dalam hubungan klien-penerjemah. Saya ingin mereka “kembali” menyadari bahwa saya manusia, saya tidak bekerja semata-mata demi uang tapi justru karena saya mencintai mereka dan mencintai pekerjaan ini. Saya selalu berkeinginan untuk menyajikan hasil yang terbaik dan mereka harus menghormati prinsip saya itu. Dan hasil yang terbaik hanya bisa diperoleh dari cukup riset, cukup istirahat, dan sejahtera mental.

Mungkin saya sudah gila – I don’t give a damn. Saya harus konsekuen terhadap kata-kata saya dan kembali sikap idealis itu tumbuh (setelah sekian lama saya kesampingkan demi mengejar status profesional): uang bukan segalanya. Andaikan saja klien tadi cukup edan untuk menawarkan dua-tiga kali lipat bayaran dari yang biasa saya terima dari mereka, jawaban saya pun akan tetap sama. Keluarga saya jauh lebih berharga dari pekerjaan ini – enjoying (even) the rainy Bali together with them was far more precious than the work.

Akhirnya saya menikmati sisa liburan hingga tanggal 4 dengan Blackberry dalam keadaan senyap. Setelah saya membalas email itu, saya berpikir bahwa mereka pastinya telah menemukan orang lain yang mau dan sanggup bekerja di akhir tahun, dan saya akan menikmati hari-hari yang agak sepi sepulang dari Bali – saya sudah menyiapkan sejumlah rencana untuk mengisi hari-hari sepi order itu. Tidak apa – ya sudah kalau sepi, memang Kuartal 1 selalu sepi dan saya bukan satu-satunya orang yang akan menikmati kesepian itu.

Bandung, 7 Januari 2014 –

***

Hi Maria,

Sorry for my late reply! I believe you should be back from the holidays, could you let me know if you are available for the translation, and give me your best delivery dates?

many thanks!

***

Si klien kembali (setelah menanti saya beres liburan), dan ketika di Bali, saya tidak pernah benar-benar membaca tajuk emailnya, yang bertuliskan … Batch 1 (Bagian 1). There will be more after this, and more, and more …🙂

Dan akhirnya saya menyingkap satu lagi rahasia kehidupan:

bahwa ketika kita tegas menolak demi prinsip yang sudah kita amini, rezeki yang memang benar-benar milik kita akan kembali dalam bentuk, kemasan, dan buah yang lebih menyenangkan.

Bandung, 8 Januari 2014

(tulisan ini didedikasikan untuk seseorang yang pernah menasihati saya tentang hal yang persis sama empat tahun yang lalu – tapi saya tidak pernah mengerti maknanya hingga saya berani menjalaninya. Terima kasih, mbak Lanny Utoyo. Love you always.)

12 responses »

  1. Penerjemah yang bagus susah dicari!

    Memang betul, mungkin saja klien lama atau calon klien akan beralih ke penerjemah lain jika kita menolak suatu pekerjaan, tetapi itu bukan satu-satunya kemungkinan yang dapat terjadi. Bisa jadi mereka bersedia menunggu hingga kita punya waktu untuk bekerja. Tuh buktinya di atas😀

    • 😀 Untungnya gue nolak kan, pas masih di Bali. Bayangin kalau maksain kerja juga pas liburan dan kemudian mendapati kenyataan bahwa mereka mau menunggu gue sampai balik ke Bandung … ouch, hehehe.

  2. Memang betul, Mbak. Kita harus lebih memperhatikan kesehatan. Uang bisa dicari. Tuhan tidak tidur🙂 Kalau memang rezeki kita, pasti gak akan lari. Saya sering banget nolak kerjaan lantaran gak sesuai “harga jualan” saya. Kadang ada rasa galau terbersit dan suara kecil di sudut hati berkata “kau kan lagi perlu duit”. Tapi ya, sudahlah. Kalau memang tidak sesuai, mengapa harus dipaksakan? Kalau waktunya istirahat, mengapa harus bekerja?😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s