Serpihan Kenangan dari Tes Sertifikasi Nasional HPI 2013

Standard

Sudah lama sekali saya ingin mengikuti Tes Sertifikasi Nasional (TSN) untuk penerjemah tulis, tapi saya selalu agak jiper. Saya terus menghibur diri sendiri dan berkata bahwa sertifikasi itu tidak perlu karena toh saya sudah “menjadi” penerjemah, sudah memperoleh beberapa klien tetap, sudah mengerti, dan sebagainya. Tapi yah, yang namanya ujian adalah untuk membuktikan seberapa jauh kita telah melangkah, bukan? Ibarat bersekolah (itulah yang saya rasakan mengenai profesi ini sebenarnya – profesi dengan pembelajaran tiada akhir), ujung-ujungnya ujian harus tetap ada. Akhirnya tahun 2013 lalu saya memberanikan diri untuk ikut serta dalam ujian sertifikasi nasional ini.

Saya hanya mengambil satu pasangan bahasa saja yaitu Inggris-Indonesia kategori terjemahan umum. Biaya ujian ini lumayan besar bahkan untuk penerjemah pro sekali pun. Bayangkan bahwa Anda harus membayar biaya ujian sekian dan harus bersiap untuk menelan kegagalan dan membiarkan uang pendaftaran hangus. Karena pertimbangan tersebut, saya menepis keinginan iseng coba-coba dan bertanya kepada diri sendiri, hasil apa yang ingin saya raih dari keikutsertaan ujian ini.

Akhirnya saya berhasil merumuskan keinginan “luhur” yang (mungkin) terlalu sederhana: saya ingin mengukur tingkat profesionalitas diri. Terbetik oleh saya, bahwa panitia TSN yang terdiri dari orang-orang cerdas tidak mungkin akan membiarkan kami (para peserta) lolos begitu saja dari lubang jarum tanpa setidaknya ‘menggebuki’ kami dulu. Saya belum pernah mengikuti tes apa pun terkait penerjemahan kecuali tes kompetensi Trados  – saya tidak punya gambaran sama sekali mengenai TSN.

Beberapa senior yang berbaik hati sempat meluangkan pernyataan bahwa yang terberat dari TSN adalah target waktunya. Secara logis, menerjemahkan 1000 kata dalam waktu 3 jam adalah hal yang normal bagi seorang penerjemah profesional. Tapi beban kelulusan dan keterbatasan waktu membuat 1000 kata dalam 3 jam terasa maha berat. Salah satu perkataan yang nyangkut di telinga saya adalah dari pak Wiyanto Suroso. Beliau berkata “Gak ada waktu buat liat kamus, Maria.” Dua hari sebelum TSN dilaksanakan, akhirnya saya yang lemot ini mengambil kesimpulan semena-mena dari pernyataan pak Wiyanto: Bawa kamus percuma. Hah?? Yang baca pernyataan ini pasti kaget. Kamus adalah senjata utama penerjemah, tanpa kamus penerjemah tidak bisa mengecek padanan kata.

Tips pertama: jangan pernah menggantungkan diri pada alat apa pun – gantungkan kepercayaan kepada diri Anda sendiri. Kamus tidak akan membantu kalau pikiran Anda kosong dan tidak memahami teks sumber. Penerjemahan adalah pemahaman Anda mengenai bahasa sumber, bukan melulu mengenai padanan kata dalam kamus.

Sehari sebelum TSN saya masih berkutat menyelesaikan berbagai dokumen pekerjaan. Semalam sebelum berangkat ke Jakarta untuk mengikuti ujian, tiba-tiba saya menemukan cara sederhana untuk mengatasi urusan kamus ini. Saya tahu panitia bisa menyasar materi apa saja – pikiran panitia bisa seluas samudera – dan saya tidak bisa membawa semua kamus yang saya miliki. Belum lagi kata-kata pak Wiyanto yang terngiang-ngiang terus di telinga saya. Solusi akhir saya sederhana: ujian dikerjakan di MS Word. MS Word punya Thesaurus. Thesaurus adalah dunia sinonim. Sinonim bisa menjadi padanan kata.

Esoknya, saya dan seorang sahabat dari Bandung dengan gagah berani berangkat ke lokasi ujian TSN – tanpa kamus satu pun. Alasan sahabat saya lebih ngehe lagi: “Berat”. Dasar dua orang pemalas! Sampai di lokasi ujian kami juga sempat nyasar. Kami berdua tertawa-tawa penuh rasa pede (sebenarnya untuk menyembunyikan ketakutan karena peserta lain membawa kamus sampai tiga buah). Indeed – there was a surge of panic there, actually.

Setelah memasuki ruang ujian, saya menghabiskan waktu 5 menit untuk mengecek keberadaan Thesaurus yang menjadi tumpuan harapan. Thesaurus MS Word dapat diakses, lengkap, dan berfungsi dengan baik. Geser keyboard ke kiri sedikit, miringkan layar – tumpang kaki – bersandar – berdoa singkat, mari mulai. Lembar ujian dibagikan, dan ketika saya membacanya, saya …. melongo.

Topik pertama adalah Executive Summary berbau ekonomi migas. Saya dengan tulus menginformasikan kepada kalian semua bahwa Executive Summary dan ekonomi adalah dua topik yang PALING SAYA HINDARI selama menjadi penerjemah tulis. Setiap kali saya kesambit topik ini, saya selalu ‘melemparnya’ ke sahabat saya (yang duduk di sebelah dengan pandangan sama kosongnya). HadeuhTRUS GUE HARUS GIMANA? Saya membaca dengan panik, sejumlah angka dan istilah berseliweran and I don’t know what they are.

Tips kedua: never panic – read on. Sesulit apa pun topik tersebut, selama topik masih dalam bahasa Inggris dan bukan Swahili, Anda selalu punya harapan.

Saya membaca bagian terjemahan wajib itu sambil mengutuk-ngutuk, kenapa selama ini saya selalu melemparkan topik Executive Summary ke semua orang lain di dunia kecuali diri sendiri? Saya menghela napas dan membaca bagian terjemahan pilihan, pilihan pertama berbau ekologi hewan, sedangkan topik pilihan kedua berbau sains. Saya menumpukan harapan pada topik terjemahan pilihan pertama karena tampaknya mudah.

Tips ketiga: jangan pernah menganggap suatu teks terlalu mudah atau terlalu sulit. Cobalah berpikir netral karena penerjemah adalah mahluk netral – seorang penerjemah menuturkan kembali, bukan mengambil kesimpulan.

Ketika Bapak Pengawas berkata “Ya, silakan mulai,” saya melakukan apa yang pertama kali terpikir ketika menghadapi suatu teks: ya tulis aja isinya tentang apa. Saya menuangkan habis-habisan semua pemahaman saya mengenai Executive Summary itu. Saya melirik ke sahabat di sebelah saya dengan rasa sirik dan jengkel, jelas-jelas dia lebih bisa menerjemahkan topik ini ketimbang saya … Saya mengetik secepat mungkin sembari berpikir apakah lain kali pihak Panitia akan memperbolehkan kami membawa keyboard sendiri – keyboard ruang ujian agak keras …. Saya menatap ke langit-langit sambil merenung, apa sih padanan “Executive Summary“? … Sambil menekan tombol keyboard keras-keras, saya melihat ke depan dan salah satu sahabat saya yang lain (penerjemah dari Jakarta) sedang menghadapi terjemahannya dengan tampilan huruf MS Word yang kayaknya 150 persen besarnya (Ebuset, udah pake kacamata masih juga digedein??) … Saya melirik lagi ke sebelah kiri depan, ada yang sudah kasak-kusuk buka kamus … Jam berapa ini, kok saya ngantuk …. Semua pikiran itu berlalu tapi tangan saya tetap mengetik tanpa henti, sesekali menekan backspace untuk menghapus typo ...

Tiba-tiba saya menyadari bahwa teks wajib sudah habis saya terjemahkan. Rasanya seperti seabad tapi ternyata saya menghabiskan waktu hanya 20 menit untuk mengetik. Muncul ketakutan lain: pasti isinya ngawur. Benar saja! Saya membaca ulang hasil terjemahan dan menjadi “kagum” bahwa saya bisa melemparkan kata sambung, objek, subjek, predikat, menambahkan kata yang tidak ada sekaligus menghilangkan kata yang harus diterjemahkan. Tapi alih-alih mengoreksi, saya bergerak langsung ke teks pilihan pertama. Topik teks pilihan ini adalah ekologi hewan gorila.

Saya tidak menyukai gorila.

Sembari membaca, tiba-tiba saya merasa berada di awang-awang – but not in a good way. Saya mengernyit, kembali membaca teks gorila dan tiba-tiba saya merasakan keringat dingin. Apakah saya salah menulis gorila, should it be “gorila” or “gorilla”?? There is no way of checking, is there? Kenapa kalimatnya bertingkat-tingkat seperti BNI Tower …. Siapa yang membangun fondasi? Si gorila? (Gorilla??) Ada orang lain yang terlibat? Kenapa BNI Tower?? Kenapa saya malah memikirkan BNI Tower dan tidak bisa berkonsentrasi pada teks?

Tips keempat: ketika terjangkit ‘lost in translation’, TINGGALKAN DAN MOVE ON. Jangan memaksakan diri untuk mengurai benang kusut karena benang kusutnya ada di pikiran Anda, bukan dalam teks. Tenangkan dulu pikiran, salah satu caranya adalah beralih mengerjakan yang lain.

Akhirnya saya menghapus tuntas kisah si gorila yang tadinya saya anggap mudah, dan beralih ke teks pilihan kedua. Ternyata, teks pilihan kedua yang sebelumnya terbaca sulit, terasa lebih mudah dibanding si gorila yang tak ada ujung pangkalnya itu (mungkin juga karena saya syok oleh gorila – secara psikologis saya sudah menilai teks pilihan pertama sebagai sulit, sehingga apa pun selain gorila terasa lebih gampang). Teks sains pembuatan serat sintetik berhasil saya “mainkan” tanpa ada kesulitan berarti.

Tips kelima: mengetik vs menyunting – pekerjaan yang lebih berat adalah menyunting. Mengetiklah secepat mungkin untuk meluangkan waktu penyuntingan sebanyak mungkin. Gunakan semua fitur yang bisa digunakan ketika menghadapi kebingungan padanan kata, ketikkan tanda bintang, xxxx, beri highlight, komentar, pendek kata tandai semua kata yang meragukan dan membingungkan agar Anda bisa kembali nanti untuk mengurusnya, alih-alih berkutat satu hingga dua menit di kata yang sama sehingga otak menjadi butek.

Akhirnya, saya kembali untuk menyunting si “Ringkasan Eksekutif”  (saya sempat bangga karena merasa telah “menciptakan” padanan itu, padahal saya yang amatiran karena tidak pernah benar-benar tahu bahwa Executive Summary = Ringkasan Eksekutif). Walaupun panitia sempat mengumumkan bahwa kesalahan ketik tidak dianggap sebagai penurun skor, saya merasa berkewajiban untuk merapikan terjemahan ini karena mereka (panitia) adalah konsumen saya. Saya mencurahkan segenap kasih sayang dan perhatian pada hasil terjemahan melalui penyuntingan super teliti. Dan ternyata memang sebagian terjemahan saya harus dirombak – subjek dan objek beterbangan bagaikan sampah luar angkasa dengan posisi tidak menentu. Saya meluangkan waktu untuk membaca teliti tiga kali, dan membaca cepat dua kali.

Tips keenam: Satu hal teramat penting adalah kemampuan swasunting (saya meminjam istilah ini dari Ibu Sofia Mansoor). Swasunting memiliki dua rahasia: Satu, bersikaplah bagaikan seorang editor buas bertraktor yang sedang menyunting terjemahan orang lain, walaupun yang Anda hadapi adalah terjemahan milik sendiri. Dua, swasunting hanya bisa berhasil jika kepala Anda telah jernih dan tidak bias oleh isi terjemahan milik sendiri. Karena itu, jangan pernah berusaha melakukan swasunting segera setelah selesai menerjemahkan. Kerjakan yang lain dulu, tutup mata sekitar satu-dua menit, baru hadapi kembali terjemahan Anda.

Akhirnya, saya selesai. Sahabat yang duduk di sebelah saya sudah melamun. Sahabat yang duduk jauh di depan dengan tampilan MS Word 150 persen itu sudah berhenti mengetik dari tadi. Saya menjadikan kertas ujian sebagai tenda dan menutupi kepala yang rasanya panas luar binasa. Saya kembali memandang langit-langit …. Melirik Bapak Pengawas yang tampaknya heran melihat kelakuan penerjemah gila ini (baca: saya). Saya kembali membaca hasil terjemahan sebelum akhirnya menyimpan hasil di USB dan di hard drive komputer.

Tips ketujuh: DON’T OVERCORRECT. Ini adalah penyakit khas editor, terjemahan terus disunting tanpa henti, mengganti “mengenai” menjadi “tentang”, dari “dia” menjadi “ia”, menghapus “-nya” dan mengganti menjadi “tersebut” …. Tiada yang sempurna di dunia ini, yang sempurna hanya Tuhan, dan tidak ada yang akan merajam Anda jika tidak lulus TSN. Don’t sweat over small stuff – know when to quit and don’t waste time trying to be super perfect.

Akhirnya saya memutuskan bahwa tiada lagi yang bisa dilakukan – inilah hasil terbaik saya. Sahabat saya yang duduk di depan tiba-tiba beranjak dan meninggalkan ruang ujian. Saya dan sahabat yang duduk di sebelah saya juga terprovokasi juga untuk keluar ruangan. Kami menyerahkan hasil ujian dan keluar dengan kepala panas, yang kemudian didinginkan oleh candaan-candaan bersama panitia, makan siang yang lezat, dan komentar-komentar gila yang kami lontarkan kepada panitia dan kepada satu sama lain.

TSN ini tidak mudah. Tapi saya sangat bahagia karena akhirnya tujuan saya tercapai: saya telah membuktikan bahwa saya adalah penerjemah profesional yang bisa bekerja dalam segala kondisi dan tekanan, untuk menyajikan hasil sebaik mungkin sesuai dengan kemampuan dan pemahaman diri. Keikutsertaan dalam TSN telah menjadi pengalaman berharga untuk saya sehingga sebenarnya saya tidak terlalu mempermasalahkan kelulusannya sendiri. Semua tips yang saya berikan di sini bukanlah tips untuk mengikuti TSN saja – semua ini adalah yang saya lakukan selama menjadi penerjemah, bukan berupa ilmu pasti. Sesungguhnya ujian sertifikasi ini tidak ada bedanya dengan menerjemahkan bagi seorang klien – komunikasi, pemahaman, keluwesan, ketepatan, adalah semua hal yang seharusnya diraih dalam TSN ini, karena bukankah itu semua yang selalu kita sajikan kepada para klien?

Bandung, 18 Februari 2014

Untuk memperoleh keterangan selengkapnya mengenai TSN, silakan baca http://www.hpi.or.id/sertifikasi, atau layangkan email ke sekretariat@hpi.or.id

… Oh, just in case you are wondering whether or not I passed TSN …. I did. 

Phew.

26 responses »

  1. Selamat, Maren. Persiapanku ikut TSN (yang entah kapan – nunggu nyali ngumpul) yaitu menerjemahkan novel tanpa CAT Tool. Ternyata karena terlalu lama pakai katul nerjemahin pakai MS Word jadi rada kagok. Makasih tips-tipsnya yaa.

  2. Teh Maria, saya mau ucapkan selamat sudah berhasil lulus TSN. Seru banget baca ceritanya sambil ikut catat tipsnya. Yang paling buat mata saya terbelalak sekaligus salut adalah keberanian untuk ikut tes tp ngga bawa kamus. Menurut pengalaman ikut tes dulu, karena terbatasnya waktu memang akhirnya jadi sesekali saja buka kamus.

  3. Brava, Maren! Tulisan ini membuatku bisa ikut merasakan kepanikan, kegalauan, kebimbangan, dan upaya menenangkan diri saat ujian berlangsung. Selamat yaaa… pasti alm Papa bangga pada prestasimu.

  4. terima kasih tulisannya Mba Maria.. saya penikmat ilmu-ilmu yang dibagikan para senior baik di FB maupun milis dan juga blog. tulisan ini membuat saya memandang para senior lebih manusiawi dan bisa panik juga kalau lagi nerjemahin🙂 semoga saya punya cukup keberanian (dan duit ;p) untuk ikut ujian TSN dalam waktu dekat….. suksess!!!

  5. Maria, aku Lulu. Salam kenal dan selamat yaa ^^ Makasih udah berbagi tipsnya, insya Allah aku ingin segera mengikuti ujian TSN juga, dan semakin terpacu setelah membaca ini🙂

  6. Pingback: Tes Sertifikasi Penerjemah, Perlukah? (2) | Dina's Pensieve

  7. Dimulai dari keisengan mencari di google… eh, ternyata malah mampir ke blog milik Mbak. Salam kenal ya Mbak…^^

    Seru sekali saya membacanya. Saya sampai menghabiskan kurang lebih 2 jam membaca tulisan-tulisan yang dibuat oleh Mbak. Tulisan-tulisannya sangat rapi. Tampaknya ini salah satu tulisan yang sangat lucu di sini. Saya terpingkal-pingkal saat Mbak menulis sangat formal di awal posting kemudian dengan tiba-tiba memasukkan guyonan yang 150 persen, hahaha…😀

    (lho saya kok ikut-ikutan pake formal juga bahasanya??)

  8. Pingback: Bukan Kobayashi Maru | Dina's Pensieve

  9. Salam kenal Mba Maria.. sukaaa sekali baca tulisannya.. Saya sedang cari-cari ‘bocoran’ TSN untuk ikut di tahun 2015 atau 2016 dan saya senang sekali bisa mampir di sini🙂

  10. Pingback: TSN yang Bikin Senewen – LAMFARO | English > Indonesian Translator

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s