Mengurai Jalan Menjadi Penerjemah … Bagian I

Standard

Saya menghabiskan sejumlah waktu merenungkan jalan seorang penerjemah, karena kok rasanya masalah ini sekarang jadi penting- banyak penerjemah pemula [dan terkadang bukan pemula juga] yang bertanya kepada saya tentang uraian jalan ini.

Gimana sih cara mulai menjadi penerjemah?”

[Rata-rata pertanyaan yang saya peroleh senada]

Saya bukan orang yang gemar berteori – saya tidak pernah mengecap pendidikan linguistik atau pun membaca buku tentang teori penerjemahan. Bisa dikatakan ini acquired skill, karena saya besar dan hidup di tengah para penerjemah dan sudah demikian terbiasa melihat proses menerjemahkan, sehingga ketika saya harus memulai, tidak terlalu banyak hal yang membingungkan lagi.

Saya akan berbagi beberapa hal yang diajarkan oleh sejumlah mentor yang saya temui sepanjang hidup saya. Soal mentor sendiri akan saya bahas secara terpisah karena [ternyata] ini adalah faktor yang tidak terelakkan ketika seseorang ingin menjadi profesional [dalam bidang apa pun]. Semua mentor saya tidak pernah “resmi” menyatakan diri mereka sebagai mentor, tapi tanpa diminta, mereka telah banyak membantu saya untuk menjadi penerjemah yang seperti sekarang.

Kembali saya menafikan bahwa semua “teori” ini bukan bersumber dari buku linguistik/buku ajar penerjemahan apa pun. Teknis penerjemahan sendiri sudah demikian banyak dibahas dan saya menulis ini bukan untuk berbagi teknik, karena semua itu sudah bisa dipelajari sendiri.  Yang akan saya bahas di sini adalah kesimpulan yang bersumber dari pengalaman semata.

  • Hal pertama yang akan saya kemukakan adalah komunikasiPernahkah kita membuat seseorang menjadi jengkel akibat tulisan/perkataan kita, padahal maksud kita samasekali bukan untuk membuatnya jengkel? 
  • Hal kedua, adalah cara berkomunikasi. Cara berkomunikasi verbal dan tertulis yang baik merupakan bagian dari pembentukan seorang penerjemah yang baik … benarkah?
  • Hal ketiga, tentu saja, mengenai mentor. Renungkan sesaat, berapa banyak mentor yang kita miliki dari sejak memulai profesi ini hingga saat ini?
  • Hal keempat adalah tentang alat, ini sangat ramai dibicarakan [terutama penggunaan CAT Tools]. Saya menangkap asumsi “sumbang”, bahwa seorang penerjemah belum dapat dikatakan profesional kalau belum menggunakan CAT Tools – benarkah?

Dua hal pertama yang saya sebutkan dari keempat butir di atas adalah the basic commands for someone to become a translator. Alasannya sederhana: bahasa adalah alat komunikasi, dan penerjemah berhubungan dengan bahasa. Lantas, mengapa saya tidak menyertakan pemahaman mengenai bahasa sasaran dan bahasa sumber? Karena dua hal itu sesungguhnya menjadi “pemicu” seseorang untuk “berinisiatif” menjadi penerjemah.

Memahami bahasa asing + menjadi orang Indonesia (yang mengikuti pelajaran bahasa Indonesia di sekolah) = bisa menjadi penerjemah … benarkah?

Ya, hal inilah yang sebenarnya ingin saya “basmi” – jujur, saya bisa memahami bahasa Belanda dan Malaysia dengan baik, tapi saya tidak mau menjadi penerjemah dua bahasa itu. Mengapa? Karena dua faktor di atas, “komunikasi” dan “cara berkomunikasi”. Dua hal ini penting – sangat penting – dan bisa MENJADI BERBAHAYA jika dijalani dengan cara yang “salah”. Dan alasan ngeles “Ah kan ada Google Terjemahan” tidak akan membantu untuk mengatasi bahaya itu – saya akan mencoba menerangkan secara santai nanti, alasan mengapa Google Terjemahan/Google Translate TIDAK BISA membantu untuk menjadi penerjemah.

Profesi penerjemah BUKAN profesi yang bisa dikerjakan sambil lalu.

Profesi ini juga BUKAN profesi yang bisa dijalani dengan semata menimbun kamus, CAT Tools, komputer super canggih, atau koneksi Internet super lancar.

Profesi ini BUKAN profesi yang menjadi sah karena Anda pernah tinggal di negara berbahasa asing.

Profesi ini adalah mengenai

“Understanding what the content means and communicating them through your understanding, your perception, with ways that your intended readers/listeners understand.”

Tulisan ini akan saya bagi menjadi beberapa bagian – karena saya tidak suka menulis panjang-panjang.

And anyway, I need to get back to my deadlines.

 

Bandung, 1 April 2014

 

 

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s