Saya Ingin Dimengerti …. Bagian II

Standard

Saya: “Ih, elu gila deh!” (sambil tertawa)

Teman: “Kok gue dibilang gila?? Enak aja!!” (muka masam)

Itu adalah sepenggal komunikasi yang saya alami sendiri ketika masih SMA. Jujur saya sungguh kaget ketika memperoleh tanggapan seperti itu, karena ketika percakapan itu terjadi situasinya cukup santai dan sama sekali tidak menjurus ke soal rumah sakit jiwa atau gangguan jiwa. Tapi dia tersinggung ketika saya mengucapkan kata-kata itu.

Saya telah mengalami ribuan situasi seperti ini – ketika orang yang saya beri tanggapan malah membalas dengan tanggapan negatif atau tidak menyenangkan, padahal saya sama sekali tidak bermaksud untuk menyinggungnya. Hmm… mungkin hal itu juga yang menyebabkan saya tidak punya teman di masa sekolah dasar. Yeah, I was the outcast. Saya tidak punya teman dan semua orang yang dekat dengan saya beringsut menjauh selama masa 6 tahun yang menyedihkan itu.

Saya hidup di lingkungan yang berbeda dengan anak-anak kebanyakan. Saya anak terkecil [kalau tidak mau dibilang anak tunggal] dari empat bersaudara dengan tiga orang kakak yang umurnya sangat jauh di atas saya. Anak-anak tetangga lebih muda atau lebih tua dari saya, tidak ada yang seumur. Hal itu pulalah yang membuat omongan saya terdengar “terlalu tinggi” untuk anak kebanyakan, dan saya sering berbicara tentang hal-hal yang tidak “masuk akal” bagi anak seusia saya. Pendeknya, rata-rata orang yang saya ajak bicara [kecuali mereka yang sudah dewasa] selalu menyatakan “gagal paham”.

Setelah berpayah-payah melalui masa enam tahun penuh bullying di sekolah dasar, saya memasuki ranah SMP yang lebih luas, dan akhirnya bisa memulihkan diri dari trauma bullying untuk mempelajari satu hal yang penting: komunikasi. Pelajaran komunikasi saya sempurna ketika mencapai masa kuliah, kemudian pemahaman ini saya bawa ke bahasa tulisan. Saya selalu berusaha mencari bentuk tulisan yang dapat dimengerti oleh kebanyakan orangSaya selalu menganut paham “publik harus bisa membaca dan harus bisa memahami”, tanpa terkecuali. Yup, kengerian “gagal paham” terus menghantui sampai akhirnya saya berusaha sedemikian keras untuk menyempurnakan cara berkomunikasi dan hal itu kemudian “terbawa” ke ranah terjemahan. Saya berusaha untuk mengomunikasikan apa yang saya pahami dari teks sumber, dengan pemikiran bahwa sejumlah besar orang akan membaca tulisan itu, dan saya teramat sangat ngeri kalau mereka salah menangkap maksud yang tersirat serta tersurat dalam tulisan yang saya terjemahkan.

Saya telah belajar melalui pengalaman pahit dalam hidup, bahwa meminta seseorang untuk dapat mengerti kita adalah hal yang mustahil. Jika kita tidak membuka diri lebih dulu untuk “berbicara dalam bahasanya” [baca: memahaminya], sangat mustahil untuk bisa menjalin komunikasi yang baik. Karena itulah saya berani bilang bahwa mengetahui bahasa sumber + pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah saja, tidak akan membuat seseorang mampu menjadi penerjemah.

Mengapa? Karena terjemahan adalah adalah menyerap penyampaian dari “sana”, untuk disampaikan “ke sini” dalam bentuk yang mudah dimengerti oleh sasaran. Contohnya, jika kita menerjemahkan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, kita dibawa ke ranah mereka yang berbahasa Inggris tentu saja para bule itu tidak akan paham ekspresi “Setubang” (Setuju Banget) atau “Kelesss” (plesetan dari “kali” arti sebenarnya adalah “mungkin”).

Saya beri contoh sedikit … 

Gue setubang, gak mungkin kek gitu kelesss ...”

Hayo, bagaimana menerjemahkan kalimat di atas ke dalam bahasa Inggris? Mungkin saja akan diterjemahkan jadi begini,

I so agree, it is not possible maybe …

Tapi bagaimana jika kalimat tersebut punya alternatif yang lebih oke seperti,

I definitely agree, it is SO not possible.”

Contoh tersebut tadi sama dengan,

I am running late*. Please call ASAP!

yang tidak mungkin diterjemahkan menjadi,

Saya berlari terlambat. Tolong telepon segera!

Tapi akan lebih mungkin diterjemahkan menjadi,

Saya terlambat. Mohon Anda menelepon saya segera.

*catatan: running late adalah idiom. Penggunaan kata “Tolong” di situ saya yakini tidak berposisi setara dengan “Please“, karena intonasi “tolong” disertai tanda seru lebih mengarah ke perintah alih-alih permintaan. Jika diterjemahkan dengan nada lain, ini terdengar lebih umum, secara umum orang yang membaca ini tidak akan menganggap bahwa si penutur sedang membentak, dan ingatlah bahwa penuturan dalam bahasa Indonesia secara umum selalu bersifat halus dan tidak bersifat “blunt” seperti penuturan orang Amerika pada umumnya.

Komunikasi dalam terjemahan dibawa pulang-pergi oleh seorang penerjemah, dari ranah bahasa sumber ke ranah Indonesia [untuk penerjemah bahasa asing ke bahasa Indonesia], dan dari tanah air ke ranah bahasa target [untuk penerjemah Indonesia-bahasa asing], melalui media bahasa. Keterbukaan seorang penerjemah untuk mau dan mampu memahami teks sumber dan mendalaminya [melalui riset, pencarian arti kata, serta pemahaman tentang idiom, proses, mekanisme, dan budaya] berperan sangat penting di sini. Karena mengganti bahasa Inggris menjadi bahasa Indonesia dan sebaliknya, bukanlah suatu bentuk komunikasi. Menurut saya itu hanyalah upaya pemesinan bahasa, dengan menganggap bahwa padanan semua kata berbanding lurus dengan arti yang tertera dalam kamus.

Membuka diri terhadap komunikasi bukan hal yang mudah – kita harus mengesampingkan sejumlah perasaan tidak enak, sungkan, bahkan perasaan bertentangan mengenai budaya yang mungkin tidak cocok dengan prinsip pribadi. Sama halnya ketika saya berusaha berkenalan dengan sahabat pertama di SMP. Sejarah komunikasi saya yang buruk membuat saya jiper setengah mati. Saya takut kalau dia kembali “gagal paham” seperti 22 teman saya lainnya pada masa SD. Tapi ketika saya berusaha membuka diri dan berbicara menggunakan “bahasanya”, ternyata umpan balik yang saya peroleh jauh lebih bermakna. Akhirnya, pendekatan saya ke materi terjemahan pun selalu demikian: saya selalu menanamkan perasaan “Saya ingin klien mengerti, saya ingin dimengerti, dan saya ingin pembaca mengerti”, karena itu saya melakukan perjalanan “pulang-pergi” untuk memahami kedua belah pihak.

Merampungkan komunikasi juga butuh tujuan. Menulis atau berbicara itu selalu ada tujuannya. Pengharapan selalu harus ditentukan sebelum menuliskan sesuatu – apalagi menerjemahkan. Tentu, kita tidak mau menuliskan/mengucapkan serangkaian kata tanpa makna, bukan? Saat kita ingin menyindir, marah-marah, atau pun memuji, semua harus tersampaikan dengan baik. Ketika isi teks berisi pujian, apakah kita akan menyampaikannya dengan bentuk seolah melecehkan? Tentu tidak. Oleh sebab itu, saya sangat menyesalkan mereka yang bisa menulis serangkaian kata, tapi belum berhasil menyampaikan makna jelas dalam teks terjemahan. Kata sambung dan objek beterbangan di mana-manaLebih disesalkan lagi karena apa yang disangka sebagai objek ternyata sebenarnya kata kerja dan serangkaian kata sambung yang “boros” itu sebenarnya bisa dirangkai menjadi kalimat yang jauh lebih efektif – andai mereka bertujuan untuk menuliskan sesuatu yang berlandaskan makna dari teks sumber.

Langkah terakhir adalah menyesuaikan bentuk komunikasi kita dengan baik ke sasaran. Dalam kasus pertemanan, saya akhirnya “menyembunyikan” sebagian besar pengetahuan yang saya nilai “asing” bagi mereka. Sama halnya dalam terjemahan: kita tidak mungkin menyebut ribuan istilah berbahasa Inggris untuk pengoperasian traktor, di depan para petani yang lebih paham tentang sisi kepraktisan ketimbang teori pengoperasian dalam manual. Seorang komunikator tidak boleh keras kepala dan menganggap dirinya yang paling benar. Tujuan akhir seorang komunikator adalah: komunikasi yang disampaikan dapat diserap oleh sasaran. Hanya itu, dan akan terus begitu. Dan inilah tujuan saya menjadi penerjemah: menyampaikan komunikasi sebaik mungkin.

Oleh karena itu, saya dengan setulus hati menyatakan bahwa mereka yang memiliki masalah dalam komunikasi (selalu gagal paham terhadap maksud orang lain, terlalu sering dikritik karena sulit dimengerti, dikritik karena penggunaan kata atau kalimat yang salah, apalagi menerima endless bullying karena sesuatu yang dituliskannya) harus memikirkan ulang tujuannya untuk menjadi penerjemah.

Waspadalah kalau kita menuai terlalu banyak kritik saat bertutur baik secara lisan maupun tulisan, karena itu sebenarnya lampu kuning pertama yang menandakan buruknya komunikasi. Komunikator yang buruk akan sangat kesulitan untuk mencapai tujuan terjemahan – yang tiada lain adalah komunikasi.

Nah, sampai di sini, mari kita tinjau diri masing-masing dan bertanya, apakah kita sudah pantas menjadi penerjemah?

 

Bandung, 4 Maret 2014

*Terima kasih untuk editorku tersayang – jangan bosan yah membantuku menulis😀

4 responses »

  1. Pingback: Mengurai Jalan Menjadi Penerjemah … Bagian I | What's On My Mind

  2. Pingback: Katakan dan Tuliskan … Bagian III | What's On My Mind

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s