Katakan dan Tuliskan … Bagian III

Standard

Saya jarang sekali menggunakan kata-kata kasar ketika sedang marah. Sebenarnya menilai situasi hati saya sangat mudah: bila saya sudah menggunakan bahasa Indonesia yang sangat baik dan benar untuk mengungkapkan ketidaksetujuan, apalagi menyebut “Anda” kepada lawan bicara di arena Facebook yang santai, sudah bisa dipastikan bahwa saya 98 persen marah. Dua persennya adalah perasaan “maklum” saya bahwa yang bersangkutan hanya manusia biasa. Saya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar ketika marah karena saya ingin orang yang saya komentari/ajak bicara memahami maksud saya sejelas-jelasnya. Jika saya sudah marah “dengan sopan” di muka publik, akan sulit bagi si lawan bicara untuk memaki, dengan kata lain dia mati langkah. Percaya atau tidak, saya bisa menghabiskan 15 menit untuk menyunting dan menuliskan komentar “kemarahan” saya di Facebook. Saya menerapkan semua pembelajaran mengenai cara komunikasi untuk membuat seseorang mati langkah – karena itu jarang sekali ada orang yang bisa mengucapkan kata-kata lain setelahnya selain “maaf”, atau langsung menyingkir dari hadapan saya.

Cara komunikasi yang baik dan benar ini adalah kebiasaan saya dari kecil. Saya dituntut untuk selalu mengucapkan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jelas, tepat sasaran, sopan, sesuai kaidah, dan saya harus bisa menuliskan apa yang telah saya ucapkan dengan baik. Keluarga saya adalah keluarga strict Indonesian. Almarhum ayah dan juga ibu saya berprinsip:

“Bicara dulu yang benar, kalau tidak bisa lebih baik tutup mulut. Kalau tidak bisa bicara benar, jangan harap bisa menulis dengan benar. Kebiasaan yang salah akan membuahkan hasil yang salah”.

Berkat disiplin edan itu, saat ini saya tidak pernah mengalami kesulitan untuk berekspresi lisan maupun tulisan dalam dua bahasa yang saya kuasai, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Saya menggunakan dua bahasa itu siang dan malam, untuk menulis komentar – buku harian – catatan kecil –  berbicara – mengutarakan pendapat – apa pun (oleh karena itu saya menjadi outcast di masa kecil, seperti yang tuliskan pada bagian II. Teman-teman saya waktu itu mungkin melihat saya bagaikan buku tata bahasa berjalan).

Saya sering tersenyum jika mendengar seorang penerjemah mengeluh, “Bahasa Indonesia adalah bahasa yang kaku”. Memang, bahasa kita ini belum sempurna karena umurnya saja baru seumur kemerdekaan + 17 tahun, yaitu sejak Sumpah Pemuda. Mana bisa dibandingkan dengan bahasa Inggris yang bersumber dari dialek kuno Anglo Saxon 1.500 tahun yang lalu? Tapi menurut pendapat saya, kekakuan bahasa Indonesia sebenarnya bersumber dari dua hal yang sederhana: penggunaan dan penggunaan.

Bagi saya, bahasa Indonesia adalah bahasa ibu satu-satunya. Saya hanya memahami sedikit bahasa Sunda, dan bahasa Padang saya sangat minim dan “tercela”. Saya diajarkan untuk menjadi orang Indonesia, bukan orang Padang atau pun orang Sunda. Tanah air saya Indonesia, dan bahasa saya adalah bahasa Indonesia. Bahasa Inggris adalah bahasa kedua saya di rumah [sampai sekarang], dan tata bahasa Inggris dan pengucapan saya sendiri telah dikoreksi oleh kedua orangtua dari sejak berumur 5 tahun. Mereka berpendapat bahwa bahasa Inggris adalah bahasa internasional dan saya “dipaksa” untuk menguasainya dan juga mempelajari kebudayaan Barat – atau setidaknya, dipaksa untuk mengetahui cara mempelajarinya. Oleh karena itu, ketika ada yang bertanya kepada saya mengenai cara terbaik untuk mempelajari bahasa Inggris, saya selalu mengatakan “pakai” – as in use it to talk, use it to read, use it to write, listen to it.

Pelajaran bahasa Indonesia di sekolah tidak membuat penggunaan bahasa Indonesia YANG BAIK DAN BENAR bisa menjadi “acquired skill“. Tidak pernah ada pemahaman bahasa yang otomatis, bahasa Indonesia yang baik tetap harus dipakai sesering mungkin dan bukan ketika menulis skripsi doang. Saya melihat bahwa kesulitan seorang penerjemah sering timbul akibat penguasaan bahasa ibu yang kurang sempurna. Oleh karena itu bahasa Indonesia dicap “kaku”. Saya selalu berusaha mati-matian untuk menulis dan mengucapkan bahasa Indonesia dengan baik dan benar – semata-mata demi mempelajari dan mengakuisisi keluwesan. “Risiko”, bukan “resiko” – “antre” bukan “antri” – saya bagaikan grammar Nazi tapi kebiasaan ini sangat membantu dalam penerjemahan tertulis. Penggunaan “di mana” yang selalu menjadi kasus ketika menerjemahkan “where” [contoh, dalam kalimat: Where the street has no name]  tampak sebagai pembenaran “kekakuan bahasa” ini. Dan ketika menyunting, saya sering melihat bahwa rekonstruksi kalimat untuk menghapus “di mana” adalah pilihan next to dying bagi kebanyakan orang – sulit sekali menanamkan pengertian bahwawhere” bukanlah “dimana” atau “di mana”. Saya telah mencoba mati-matian untuk merekonstruksi kalimat dengan “where“, semata-mata karena saya takut sekali mengakuisisi tata bahasa yang salah.

Almarhum ayah saya pernah berkata bahwa menuliskan bahasa Indonesia yang baik dan benar itu sulit. Mengapa? Karena kita cenderung lengah – kita merasa sudah menggunakan bahasa Indonesia seumur hidup dan merasa bahwa pengetahuan “seumur hidup” ini akan mencukupi ketika kita terjun ke dunia penerjemahan.

Contoh sederhana:

secara umum sedikit yang mengetahui bahwa “merubah” itu bukan kata bahasa Indonesia yang benar. Memang benar bahwa jika kita menuturkan kata “merubah” dalam percakapan sehari-hari, tidak akan ada yang melempar kita dengan sepatu. Namun, yang benar adalah “me+ubah” menjadi “mengubah”. Imbuhan “mer-” itu TIDAK ADA. Tapi maraknya penggunaan lisan membuat banyak orang menganggap bahwa kata ini berterima dan oleh karena itu “layak” dituliskan dalam dokumen terjemahan.

Jika seseorang ingin menjadi penerjemah [terutama penerjemah tulis] bahasa apa pun ke bahasa Indonesia, dia WAJIB memahami cara berkomunikasi yang rapi dan baik dalam kedua bahasa, dan yang lebih utama adalah BAHASA IBUNYA. Ucapan yang sepotong-sepotong, ejaan buruk, tata bahasa buruk, pengucapan tidak jelas, pemilihan kata yang salah, semuanya akan mengarah ke penulisan yang sama buruknya – hanya karena kita terbiasa mengucapkan hal yang salah, kita menjadi lengah dan tak pernah sedikit pun berusaha memperjelas maksud, memperhalus ucapan, atau berusaha mencari kata-kata yang lebih berterima. Bahasa adalah sarana komunikasi – dan pemahaman mengenai bahasa hanya bisa dicapai melalui pemakaian. Tingkat kekakuan/tidaknya suatu bahasa juga sangat bergantung pada pemakaian.

Saya pernah mendengarkan ulasan singkat bapak Remy Silado ketika menghadiri peluncuran buku almarhum Marah Rusli yang terbaru. Waktu itu saya menghela napas puas: bahasa Indonesia pak Remy ini demikian empuk dan nikmat didengar, tanpa ungkapan slang sedikit pun, dengan tata bahasa yang rapi – seolah seperti “bahasa Indonesia tingkat tinggi” – padahal itulah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mengalir lancar tanpa hambatan, mudah diserap, dengan sisipan kata-kata indah khas bahasa Indonesia di sana sini.

Jadi … Bahasa Indonesia itu kaku? Benarkah? Ataukah kita yang tidak tahu cara menggunakannya?

 

 Bandung, 5 Mei 2014

*tulisan bagian III yang tertunda …*

2 responses »

  1. very nice. Saya sangat setuju bahwa bahasa Indonesia sebenarnya tidak kaku. Lebih lagi, penggunaan yang tepat dan teliti akan memperindah tulisan atau perkataan kita. Saya termasuk yang sangat “terganggu” dengan penggunaan bahasa yang tidak tepat, terutama dalam tulisan-tulisan ilmiah. Mungkin sudah saatnya kita juga memperketat pengendalian kita dalam berbahasa yang baik dan benar. (y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s