Jangan Salahkan Google Terjemahan

Standard

Wah, saya jadi terpancing lagi untuk menulis setelah sekian lama vakum. Sebenarnya ada beberapa tulisan yang masih saya simpan di bagian draft, seperti biasa konsep sudah ada namun eksekusinya seringkali nol besar, hahaha. Sekali ini saya bukan terpancing menulis karena teman-teman penerjemah lain, tapi karena ada komentar “gak banget” yang saya baca di salah satu tautan dari Kompasiana yang dibagi oleh teman saya hari ini di Facebook (ya sebenarnya resminya 8 jam yang lalu tapi saya baru baca tadi, hihihi).

Ini tautannya: media.kompasiana.com/mainstream-media/2014/10/16/catatan-tentang-terjemahan-inggris-yang-keliru-685781.html

Dalam artikel di atas, beliau membahas tentang kesalahan penerjemahan yang muncul pada beberapa titik di Kompas, sembari menyertakan pendapat mengenai terjemahan yang benar – dan pendapat beliau memang semua benar.

Yang gak banget itu adalah bagian komentar di bawahnya: “Mungkin menerjemahkannya pake Google Translate“.

Saya sudah terlalu sering membaca tulisan orang yang bicara tentang Google Terjemahan dengan nada seolah mencari kambing hitam bagi setiap kesalahan penerjemah yang muncul di media. Jujur saja, pada awalnya saya termasuk ke dalam pasukan orang-orang seperti ini. Dulu kalau saya menemukan hasil terjemahan yang ngawur, pikiran saya pasti langsung melayang ke aplikasi Google Terjemahan yang sering disalahgunakan oleh banyak orang untuk membuat terjemahan berharga murah tanpa pascasunting.

Setelah saya sering berposisi menjadi editor, saya akhirnya menyadari bahwa melempar tuduhan semacam itu tidak akan membuahkan hasil yang diinginkan (yaitu perbaikan kinerja penerjemah). Saya terus ditabrak oleh terjemahan buruk one after another sampai saya akhirnya berpikir bahwa tuduhan penggunaan Google Terjemahan ini sudah tidak memadai untuk melampiaskan kekesalan, dan bahwa tuduhan itu seringkali tidak berdasar dan dilontarkan oleh orang yang awam dan tidak mengerti masalah penerjemahan.

Sekilas tentang Google Terjemahan – saya akan menerangkan pemahaman sederhana karena sesungguhnya saya awam soal komputasi. Bayangkan suatu hard disk berukuran maha besar yang menyimpan semua kombinasi terjemahan yang bisa ditemukan dalam semua web – di balik Google Terjemahan ada suatu translation memory besar yang menyimpan segala jenis kombinasi terjemahan yang ada dan pernah dilakukan oleh seorang penerjemah, yang kemudian dipublikasikan di web. Semua data ini dirangkum dan diolah melalui algoritme yang bisa “meramalkan” kemunculan suatu teks.

Misalnya: “I want a dog” menjadi “saya ingin anjing”. Perhatikan bahwa “a” di situ tidak akan diterjemahkan jika tidak ada data mengenai “a dog” yang diterjemahkan menjadi “seekor anjing”.

Algoritme ini sudah menjadi semakin canggih sehingga kadang-kadang kita bisa memasukkan kalimat ke dalam Google Terjemahan dan hasil yang keluar sangat masuk akal. Namun mengapa aplikasi ini disebut sebagai tidak andal oleh seorang penerjemah? Anda harus memahami bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang sangat kontekstual. Seperti halnya bahasa lain, satu kata bisa memiliki beberapa makna dan penempatannya terkadang sangat spesifik sehingga tidak bisa digantikan oleh kata-kata yang umum.

Contoh: “I love you” yang diucapkan oleh seorang anak kepada ibunya akan berbeda terjemahannya dengan “I love you” dari saya ke Anda. Ini hanya contoh sederhana – dan untuk memahami konteks ini, terdapat badan teks/keterangan lain yang tercakup dalam suatu materi terjemahan, baik berupa gambar, paragraf lain, judul, dan lain sebagainya.

Inilah mengapa Google Terjemahan dianggap tidak andal dan dalam hal konteks, saya belum bisa membayangkan bagaimana sifat kontekstual ini bisa diatasi oleh mesin, karena sesungguhnya ada unsur budaya dan perasaan yang terlibat ke dalamnya. Google Terjemahan hanya akan mengolah teks sebagaimana adanya – yaitu sebagaimana kita memasukkannya ke dalam kotak sumber. Semua keterangan dan semua yang ada sebelum teks itu tidak akan “dicerna” secara kontekstual oleh mesin karena sesungguhnya kemampuan seperti itu belum ada.

Inilah yang membedakan seorang penerjemah dengan Google Terjemahan. Seorang penerjemah mengolah konteks yang dia peroleh dari rasa bahasanya, pengamatannya, risetnya, pengalamannya, dan pemahamannya terhadap ekspresi bahasa tersebut, bukan hanya soal makna atau arti dalam kamus.

Kembali ke urusan komentar yang gak banget itu, saya sudah yakin bahwa si pembubuh komentar hanya asal ceplak saja tanpa memahami apa itu Google Terjemahan dan apa itu penerjemahan. Terjemahan yang dibahas oleh pak Gustaaf Kusno di atas bersifat sangat kontekstual sehingga saya yakin ini (somewhat) 100 persen kesalahan penerjemah. Selama saya menjadi editor, saya telah menemukan beberapa indikator khas dari hasil terjemahan yang dapat menunjuk ke “kesalahan” penerjemah dan membuktikan bahwa terjemahan tersebut bukan hasil mesin. Mungkin pemikiran saya ini terlalu kompleks tapi sebagai editor saya bertujuan untuk meningkatkan kinerja penerjemah dan bukan untuk mematikan penghidupan mereka. Saya akan menguraikan secara singkat beberapa indikator tersebut, ditambah dengan penyebabnya.

  • Terlalu banyak salah ketik (dalam satu kalimat ada dua hingga tiga salah ketik), kalimat yang literal = Kelelahan. Jangan anggap sepele kelelahan penerjemah – di sini saya tidak berbicara hanya tentang kegiatan mengetik terus menerus tapi juga kelelahan yang sangat karena menerjemahkan “barang” yang sama terus menerus. Kami juga manusia, kami punya yang namanya rasa eneg. Coba Anda lakukan kegiatan membaca soal pilpres sebulan penuh tanpa henti. Anda pun akan eneg, apalagi kami yang bertugas bukan hanya membaca tapi juga menerjemahkannya.
  • Satu kata yang diterjemahkan menjadi kata yang samasekali lain = Saru mata (kurang teliti). Contoh yang menarik dari artikel Kompasiana di atas adalah “No go” menjadi “Now go“. Ini adalah contoh klasik saru mata karena bekerja di bawah tekanan tenggat yang menelurkan perasaan tertekan. Dalam keadaan mengantuk, lelah, eneg, bosan, dan kesal, huruf “w” itu akan dengan mudah menghilang. Dan secara logika si penerjemah akan jejal paksa kata yang salah itu ke dalam kalimat sehingga menghasilkan makna yang samasekali lain, bahkan bisa berlawanan.
  • Idiom yang diterjemahkan menjadi literal, kata-kata yang tidak masuk konteks materi = Kurang jam terbang. Ada beberapa bagian dalam diskusi terjemahan itu yang melibatkan jam terbang, seperti “remains” dan “coordinates“. Dua kata yang tampaknya tidak berbahaya tapi akan jadi berbahaya jika seorang penerjemah kurang memiliki jam terbang dan memilih untuk hajar bleh (ungkapan yang sering saya utarakan ketika membaca hasil terjemahan yang kurang baik). Di sini yang terjadi adalah alarm si penerjemah yang tidak berdengung ketika dia membaca kata yang seolah benign padahal ada makna lain untuk kata itu. Alarm ini hanya bisa menyala jika dilatih dengan meluangkan waktu untuk melakukan riset.
  • Kalimat terputus-putus kaku, terjemahan seolah diterjemahkan per kata, sampai pada titik ketika terjemahan terasa ngawur = Terintimidasi, terburu-buru, terdesak, panik. Faktor intimidasi ini menjadi hal yang penting dalam menentukan kualitas hasil terjemahan. Seorang penerjemah menerima banyak sekali “intimidasi” halus dengan beragam bentuk. Dalam kasus Kompas ini, intimidasi yang paling mungkin adalah tenggat. Materi masuk siang hari, harus naik cetak jam 3 sore atau jam 5 sore. Anda bisa membayangkan tekanan besar yang dihadapi si penerjemah. Otomatis tentu saja hasilnya tidak akan optimal – bisa jadi pemberi kerja bahkan tidak memberi waktu untuk melakukan swasunting. Bentuk intimidasi lain yang unik adalah dari perangkat lunak – saya pernah membahas ini secara singkat ketika mengisi acara Kompak HPI beberapa waktu lalu. Ada beberapa orang (saya tidak tahu apakah jumlahnya banyak, tapi yang jelas saya sudah menemukan tiga sampai empat orang) yang merasa terintimidasi dengan tata letak perangkat lunak pembantu penerjemahan tertentu.

Ada beberapa cara untuk mengatasi semua ini dan beberapa di antaranya tidak bisa ditawar (waktu untuk riset adalah suatu pengorbanan yang harus dilakukan semua pihak termasuk editor), tapi yang paling penting di antara semuanya adalah (mau tidak mau) sikap profesional, yang memberikan kelonggaran berupa kepala dingin dan penguasaan diri yang luar biasa sehingga dalam keadaan apa pun (mau tidak mau) akan tetap menghasilkan kualitas optimal. Saya tidak akan membela penerjemah dan berkata bahwa semua indikator itu membuat pembaca harus maklum saja dan melupakan semuanya. Sudah menjadi kewajiban penerjemah untuk memperkecil semua indikator itu sebisa mungkin, bersikap profesional, dan menangani semua yang disodorkan kepadanya. Apakah ini berarti meminta terlalu banyak dari seorang penerjemah? Ya tentu saja! Siapa yang bilang bahwa jadi penerjemah itu gampang?

Moral dari cerita ini: sebelum asal menuduh seorang penerjemah menggunakan Google Terjemahan, sebaiknya pahami dulu kondisi si penerjemah. Jika ini tidak memungkinkan, coba layangkan dulu kritik ke bagian editorial supaya mereka memperbaiki kinerja, yang secara otomatis (seharusnya) memberi kelowongan bagi penerjemah untuk menghasilkan karya yang lebih optimal. Tidak ada salahnya untuk bertindak lebih intelek ketimbang asal ceplak dan menuduh mesin terjemahan yang tidak tahu apa-apa sebagai produsen hasil terjemahan yang buruk. Saya berharap pihak editorial Kompas lebih teliti dalam meninjau hasil terjemahan dan juga meninjau kinerja penerjemah. Sayang sekali jika Kompas sebenarnya memiliki penerjemah berbakat yang akhirnya tergerus tenggat dan tekanan sehingga dia berubah menjadi penerjemah kejar setoran.

Lika-liku dunia terjemahan memang tidak segamblang yang saya tuliskan di sini, dan seringkali beberapa indikator yang saya tuliskan di atas sudah bercampur baur sehingga hasil terjemahan bisa berada jauh di bawah batas kualitas yang diinginkan oleh pemberi kerja/pembaca. Saya juga memahami bahwa pekerjaan kami ini adalah pekerjaan yang tidak bisa dibayangkan oleh orang awam sehingga mereka maunya menuduh Google Terjemahan saja. Mudah-mudahan tulisan saya ini bisa membuka mata editor untuk lebih memperhatikan kinerja penerjemahnya, dan untuk pembaca agar memahami apa yang terjadi di balik ketikan seorang penerjemah agar semua bisa membantu penerjemah menyajikan karya yang lebih baik lagi setiap saatnya.

Dan untuk para penerjemah … ingatlah untuk selalu beristirahat dan meluangkan waktu untuk riset. Sesungguhnya tuduhan penggunaan Google Terjemahan ketika kita sudah berusaha sebaik mungkin, sakitnya itu di sini, bow!

 ~ Bandung, 17 Oktober 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s