Monthly Archives: January 2015

Tentang Perang Harga (Isu Sensitif Penuh Makian)

Standard

Dalam pos blog saya sebelumnya, saya menuliskan bahwa penawaran tarif terjemahan tiga sampai lima poin di bawah tarif saya adalah sesuatu yang harus saya hadapi sebagai bagian dari persaingan. Needless to say bahwa persaingan harga adalah topik sensitif, dan pembahasannya seringkali dihindari karena ini akan mengarah ke satu atau beberapa individu atau entitas yang hobi memainkan perang harga tanpa memikirkan kualitas. Mari kita jauhi topik ghibah terkait individu karena memang tidak ada manfaatnya – seperti yang saya katakan sebelumnya, setiap orang punya pilihan masing-masing. Mengutak-ngatik pilihan itu adalah tindakan untuk membuang waktu percuma dan tidak berfaedah bagi siapa pun.

Yang akan saya bahas di sini adalah perbedaan antara yang namanya persaingan sehat dan tidak sehat. Persaingan sehat adalah ketika saya menawarkan tarif Rp. 170.000,00 per halaman, dan Anda menawarkan tarif 150.000,00 per halaman dengan layanan tambahan. Ini namanya persaingan sehat. Harga kita tidak jauh berbeda, Anda menawarkan layanan tambahan dan saya akan terpaksa mengajukan nilai kompetitif (yang mungkin melibatkan tindakan memutar otak dan kecerdasan), untuk menerangkan kepada klien mengapa dia harus membayar lebih tinggi untuk layanan saya. Tindakan Anda memberi dampak positif kepada saya karena saya akan berusaha memperbaiki layanan, harga, dan nilai kompetitif yang tadinya mungkin tidak terpikirkan. Layanan dan tarif saya menerima “tantangan” dari sisi Anda sehingga saya “terpaksa” belajar untuk meningkatkan kualitas.

Persaingan tidak sehat adalah ketika saya menawarkan tarif Rp. 170.000,00 satu halaman dan Anda menawarkan Rp.50.000,00 satu halaman, dalam konteks ketika kemampuan Anda sama seperti saya, jam terbang kita hampir sama, kompetensi kita kurang lebih sama. Anda menawarkan harga JAUH LEBIH RENDAH tanpa alasan – hanya karena Anda bersedia dibayar murah dan saya tidak, ini namanya tidak sehat. Kenapa? Karena inilah yang namanya perang harga, ketika tiada hal lain yang bisa dijadikan faktor kompetisi kecuali HARGA.

(Saya tidak akan menyinggung kualitas terjemahan tarif rendah karena ini sudah disinggung di pos sebelumnya, yang berkaitan erat dengan kejar setoran yang pernah saya alami.)

Mohon perhatikan bahwa bila jam terbang Anda di bawah saya, sah-sah saja kalau Anda mengajukan tarif yang jauh lebih rendah. Ini kembali ke persaingan sehat – Anda menawarkan apa yang Anda punya, saya juga. Apabila jam terbang saya jauh di bawah Anda, saya pun akan sungkan menawarkan tarif yang sama dengan Anda, karena Anda punya nilai kompetitif yang tidak saya miliki. Tapi ini memberi peluang bagi saya dan Anda untuk terus meningkatkan nilai diri dan layanan, karena saya pun ingin dong dibayar sebesar Anda. Mekanisme persaingan ini terus bergulir memberi dampak positif, dan akan sampai pada suatu titik ketika Anda diuntungkan dengan penawaran saya, dan saya juga diuntungkan oleh penawaran Anda. Tidak ada yang rugi – karena kita bekerja dalam level yang sama, dan ketika Anda yang memenangkan proyek dan bukan saya, kejadian ini akan lebih membuat legowo. Dan pasar pun akan bergulir dalam persaingan ini, sampai akhirnya keseluruhan tarif bisa terangkat dan pasar akan menganggap bahwa penawaran Anda dan saya sama logisnya, sehingga apa pun yang berada di bawah itu pasti abal-abal.

Eh, sebentar. Apakah mekanisme pasar memang sesederhana itu? Tentu saja tidak. Kalau memang benar sehitam putih ini, penerjemah tarif rendah gak akan mungkin dong bisa sukses dan meraup uang banyak? Tapi pada kenyataannya mereka yang bersaing dengan cara tidak sehat meraih keuntungan dari agensi-agensi abusive yang bertarif rendah, sedangkan penerjemah bertarif tinggi mengeluh karena pekerjaan mereka “dicaplok” oleh pemain tarif rendah. Konon, harga murah dengan kualitas pas-pasan memberi manfaat yang kurang lebih sama dengan kualitas yang baik tapi mahal. Tentu saja secara alamiah klien akan memilih yang pertama, karena mereka punya apa yang namanya pagu anggaran, dan mekanisme dalam agensi terkadang demikian rumit dan melibatkan demikian banyak orang, sehingga pagu anggaran ini demikian tipis setelah dibagi-bagi dan didistribusikan ke sekian banyak sistem. Kalau Anda ingin tahu mengapa penerjemah bertarif rendah dengan kualitas pas-pasan memperoleh banyak pekerjaan sedangkan Anda yang bertarif tinggi tidak, itulah jawabannya. Bukan kualitas. Tapi semata-mata karena pagu anggaran. Kemudian kita akan bertanya: trus kualitas dikemanakan? Well – klien yang berfokus pada pagu anggaran dan uang tidak terlalu peduli soal kualitas. Pikiran mereka bersifat linier – tarif murah + kualitas pas-pasan + beban ditumpukan ke editor = memenuhi anggaran.

Jika kita ikut-ikutan berpikir linier dan menganggap bahwa harga adalah satu-satunya faktor yang bisa memenangkan kompetisi, urusan ini bisa jadi runyam. Selain dampak yang jelas terhadap tarif sendiri yang tak kunjung naik karena selalu lihat kiri kanan atas bawah depan belakang, muncul sikap nyinyir dan saling curiga terhadap satu sama lain, dan si penerjemah bertarif rendah yang kebetulan sedang mendaki tangga karier (BUKAN PESAING TIDAK SEHAT) akan menerima getah kenyinyiran ini. Akhirnya yang terjadi adalah profesi kacau balau yang penuh rahasia – pesaing tidak sehat bersembunyi di antara rimba newbie dan terus memainkan perang harga yang makin menggila rendahnya, sedangkan newbie yang sebenarnya berakhir dengan terjepit di antara dua tarif (rendah dan tinggi) dengan CV yang masih kosong. Sementara penerjemah bertarif tinggi menaruh kecurigaan dalam-dalam kepada semua orang yang “tampaknya” memiliki tarif lebih rendah dari dirinya, dan berujung menyalahkan semua orang bertarif rendah secara membabi buta.

Tapi sekarang mari kita coba berpikir tidak linier dan menilai, siapa saja klien yang mau membeli nilai kompetitif kita (kompetensi, sertifikasi, pengalaman, integritas, reputasi, dll)? Inilah klien-klien yang patut diperjuangkan dan merekalah yang akan memberi manfaat dan nilai yang lebih dari sekadar uang yang dibayarkan. Klien yang tidak berniat membeli nilai kompetitif akan selalu mencari korban di tengah perang harga – yaitu penerjemah yang mau dibayar semurah mungkin untuk mengerjakan proyek secepat mungkin. Untuk apa memaksakan diri menerima pekerjaan dari klien yang samasekali tidak berniat untuk membayar harga sertifikasi Anda yang diperoleh lewat air mata dan pengorbanan? Untuk apa bekerja bagi klien yang hanya peduli pada output terjemahan sejumlah empat ribu kata per hari dan tidak peduli terhadap reputasi Anda yang akan memburuk akibat hasil yang buruk? Akan ada suatu saat ketika mereka menggunakan kalimat “Teman Anda si A mau dibayar 2 sen dolar per kata, jadi saya harap Anda mau bersikap kompetitif dalam hal ini” (padahal tarif Anda yang sebenarnya adalah 6 sen dolar per kata). Selain memberi jawaban “I would rather starve” atau “you’re an asshole” dan sejumlah makian jenis lain (yang mungkin bisa dikemas dalam bentuk yang lebih sopan), Anda juga harus mempertimbangkan bahwa klien ini mungkin mencoba menjebak Anda dalam perang harga – yang tidak akan ada habisnya dan tidak akan ada manfaatnya – hanya demi pagu anggaran yang sebenarnya bukan urusan Anda juga. Walaupun Anda memerosotkan tarif hingga 1 sen dolar per kata, perang ini tidak akan pernah dimenangkan oleh Anda. Akan ada tarif yang lebih rendah lagi dan lagi, karena itu melangkahlah keluar dari perang harga itu dengan anggun dan berhentilah menyalahkan si A karena memasang tarif 2 sen dolar per kata, karena mungkin saja si A itu sebenarnya adalah newbie yang sedang berusaha merangkak naik (sehingga jelas ini adalah persaingan yang gak level), atau sesungguhnya si A sedang berdarah-darah karena mencoba memenangkan proyek yang hanya akan membuat reputasinya memburuk.

Saat semua penerjemah yang bersaing dengan cara tidak sehat terus memerosotkan tarif, penerjemah tarif tinggi dengan kompetensi dan passion serius akan makin cemerlang dan menonjol di antara mereka, asalkan integritas, reputasi, kompetensi, dan keunggulan kompetitif tetap dijaga serta ditingkatkan. Saya melihat banyak newbie yang sudah melangkah keluar dari perang harga dan menetapkan keunggulan kompetitifnya – dia yang dulunya mau-mau aja mengerjakan terjemahan tarif rendah, setelah ikut pelatihan dan Kompak HPI beberapa kali mulai “malas” mengerjakan tarif rendah dan mulai menetapkan tarif minimal yang memadai untuk kompetensinya. Ini sangat bagus dan saya salut karena mereka bekerja keras dan tidak mengedepankan harga sebagai satu-satunya manfaat yang bisa diperoleh klien. Mereka keluar dari perang harga dan mulai bersinar sebagai dirinya sendiri – dan saya harap akan makin banyak yang bersaing secara sehat dan mengedepankan keunggulan kompetitif yang kreatif alih-alih pasang harga “kacangan” untuk menendang kompetitor.

Suatu saat, klien akan menyadari bahwa pagu anggaran mereka telah mencapai batas untuk membayar tarif penerjemah rendah + editor kawakan = edit dan revisi berkali-kali, padahal sebenarnya mereka bisa menyewa penerjemah kawakan tanpa editor = edit dan revisi hanya maksimal dua kali atau bahkan tidak ada revisi.

Sungguh tidak masuk akal untuk mengharapkan layanan yang baik dengan harga (se)murah (mungkin), dan suatu saat klien akan menyadari hal ini. Namun kesadaran ini harus dimulai dari penyedia layanan terjemahan – yaitu penerjemah.

~Bandung, 10 Januari 2015

Ketika Tarif Terjemahan Harus Naik

Standard

Saya orang yang paling nggak demen kalau diskusi di antara penerjemah sudah merambah ke soal tarif. Karena seringkali yang terjadi adalah debat kusir, dan salah satu atau beberapa pendebat menjadi mutung, dan kemudian diskusi berlanjut ke omong-omongan di belakang punggung. Imbasnya juga terlalu beragam – newbie yang memposisikan harga terlalu tinggi hingga tidak pernah dilirik, atau senior yang memposisikan harga terlalu rendah sehingga jadi bahan omongan, atau penerjemah tir dua yang selalu diojok-ojok untuk menaikkan tarif padahal dirinya sendiri belum siap lahir batin. Terlalu banyak omongan bawel di luar sana sampai akhirnya saya beberapa kali urung menulis soal ini. Tapi akhirnya saya tidak tahan juga.

Menurut saya, tarif terjemahan adalah suatu hal yang sangat preferensial dan kenaikannya tidak bisa diputuskan dengan hanya melirik kiri kanan dan menengok atas bawah semata, apalagi dengan mendengarkan omongan penerjemah yang (keliatannya) sukses. Saya memulai karir dengan tarif terjemahan yang sangat rendah, hanya tujuh ribu lima ratus rupiah per halaman jadi. Saya pernah menangani terjemahan dengan bayaran lebih tinggi sebelumnya, tapi akhirnya saya memutuskan untuk “turun tangga” dan mengambil pekerjaan tujuh ribu lima ratus itu. Mengapa? Karena CV saya masih kosong. Saya merasa bahwa tidak bijak untuk tetap mempertahankan tarif tinggi (yang diperoleh secara kebetulan) sementara CV saya menjerit minta diisi. Akhirnya saya melamar ke suatu biro terjemahan lokal di kota saya (Bandung), untuk kemudian “berlatih menerjemahkan” dengan tarif rendah. Tujuan saya waktu itu adalah untuk mengisi CV dan meningkatkan kemampuan sembari mencari penghasilan.

Setelah saya menjadi anggota Bahtera dan melepaskan diri dari biro terjemahan itu (karena akhirnya tarif rendah tersebut tidak mampu mendukung kebutuhan hidup saya), kondisi mulai membaik sampai akhirnya saya memutuskan untuk berspesialisasi menjadi penerjemah agensi luar negeri (keputusan yang sebelumnya telah dipertimbangkan masak-masak). Dari pengalaman saya yang pendek (cuma sekitar satu tahun setengah), saya menyadari berbagai kekurangan diri dalam berkomunikasi dengan klien lokal. Sebaliknya, saya merasa mampu untuk bersikap profesional ketika berhadapan dengan wong bule. Oleh karena itu saya menghabiskan lebih banyak waktu untuk berkonsentrasi ke agen luar negeri ketimbang memenuhi permintaan lokal.

Ada beberapa saat ketika saya menyembunyikan soal tarif lampau saya yang naudzubillah rendahnya. Itu karena ada beberapa omongan yang mengatakan bahwa karena pekerjaan ini adalah pekerjaan yang sulit, sewajarnya kita menentukan tarif yang tinggi. Juga ada omongan yang paling menyakitkan bahwa “once you go low, you can never be high”. Saya berusaha mati-matian untuk membuktikan ketidakbenaran kata-kata itu. Dengan fokus ke volume CV dan juga meraba-raba untuk mencari spesialisasi, saya terus bertahan di tarif rendah, setelah Rp, 7500,00 untuk satu halaman, tarif saya naik “sedikit” ke Rp. 15.000,00 sehalaman, kemudian ke dua sen dolar per kata, dan saya lama bertahan di tarif ini sebelum akhirnya mencapai “batas bawah manusiawi” sebesar lima sen dolar per kata. Akhirnya, saya berhasil mematok harga cukup tinggi setelah tiga tahun bertahan di batas bawah manusiawi, dan harga tinggi itu tetap saya pasang hingga saat ini. Ingat, saya mulai dari tujuh ribu lima ratus rupiah sehalaman (yang berisi kurang lebih 350 kata). Satu dolar pun enggak, hehehehe.

Pada awalnya saya takut menentukan tarif tinggi. Alasannya adalah karena saya takut kehilangan pekerjaan dengan tarif zona nyaman, yang sangat membuai karena pekerjaan selalu mengalir tanpa henti dan saya merasa “cukup” dengan tarif itu. Sesekali saya pernah nekad memasang tarif tinggi tapi itu pun berdasarkan perbuatan iseng yang pada intinya hanyalah gambling. Tapi lama kelamaan, saya merasakan satu hal yang sangat mengganggu – bukan laju inflasi, bukan harga barang yang melonjak tinggi atau bukan keinginan menggebu untuk mengganti gadget – saya capek. Pekerjaan bertarif rendah mengharuskan penerjemah untuk mengambil sejumlah volume tertentu agar kebutuhan hidup terpenuhi. Sejalan dengan waktu, heavy abuse yang diterapkan pada komputer, tuntutan untuk belajar perangkat lunak, mengabaikan waktu bersama keluarga untuk berlama-lama di depan komputer, semuanya mulai terasa menjemukan. Saya tidak punya waktu untuk membaca hasil terjemahan dengan baik karena saya bertumpu kepada target untuk mengejar volume memadai demi membiayai kebutuhan hidup. Saya mulai terserang perasaan tidak pernah puas ketika membaca hasil terjemahan. Saya mulai menjadi penerjemah literal yang main “tabrak lari” (karena tidak ada waktu untuk melakukan riset akibat mengejar volume), walaupun banyak yang berkata hasil terjemahan saya bagus, saya merasa tidak memperoleh aspek batin dan ilmu selama periode “kejar setoran” itu. Kritik dari pengulas dan editor terasa begitu menyakitkan hati, uang seakan berlimpah tapi kondisi fisik (terutama batin) terasa makin menurun dan tidak terbayarkan oleh apa pun. Sampai akhirnya salah satu sahabat saya mengusulkan agar saya menaikkan tarif.

Ketika akhirnya saya memberanikan diri untuk menaikkan tarif, saya tidak pernah mengajukan alasan laju inflasi, harga barang yang menggembung, atau karena saya sudah bersama klien untuk waktu yang cukup lama. Saya hanya memberi satu alasan: saya tahu apa yang saya lakukan. Pada tahun 2012 saya memangkas CV saya menjadi tiga halaman saja (sebelumnya 6 halaman) karena saya merasa apa pun yang saya lakukan sebelum tahun 2010 sudah tidak relevan. Alih-alih mencantumkan nama dokumen, saya mencantumkan beberapa nama besar yang pasti diketahui semua orang dan mereka bisa dengan mudah memeriksa terjemahan saya lewat Internet. Saya mulai membentuk klaim singkat dalam hal kompetensi dan spesialiasi, yang kemudian diperkuat dengan kelulusan TSN.

Saya tidak suka mencela penerjemah bertarif rendah karena saya tahu benar apa rasanya mengais rezeki dari nol, bahkan minus. Saya “terpaksa” menaikkan tarif karena saya tidak sanggup lagi menganiaya diri sendiri dengan tujuh ribu sampai dua belas ribu kata sehari. Saya ingin liburan, ingin menikmati hasil jerih payah, dan saya ingin merasa dihargai. Ada sifat psikologis yang aneh dari klien – ketika mereka mengetahui bahwa tarif kita jauh berada di bawah anggaran, mereka cenderung bersikap abusive dan menuntut kinerja yang melebihi batas normal. Mereka menganggap bahwa sah-sah saja untuk melempar semua pekerjaan ke pangkuan si penerjemah dan berharap bagaikan sulap bahwa semuanya sudah beres besok paginya. Anehnya, sifat ini tidak diperlihatkan oleh klien-klien yang berani dan sanggup membayar sampai batas atau bahkan melebihi anggaran. Mereka cenderung lebih toleran dan memahami bahwa jika mereka memberi 800 kata di sore hari, mereka tidak bisa mengharapkan hasil terjemahan sudah siap sedia keesokan paginya. Mereka juga cenderung bersikap komunikatif terhadap permasalahan yang dihadapi si penerjemah – bahkan memberi tanggapan lebih positif dan hangat ketika terjadi perdebatan serius antara si penerjemah dengan editor atau pengulas. Sikap agensi terhadap penerjemah dengan tarif tinggi terasa lebih fair, dan kata-kata yang mereka gunakan lebih bersifat inquiry dan bukan imperative. Bahkan ketika kritik pedas yang dilayangkan berasal dari end client yang seharusnya dianggap setengah dewa (baca: tidak pernah salah karena mereka adalah pihak pembayar) oleh agensi, mereka lebih cenderung untuk bersikap logis alih-alih menuduh bahwa saya tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Jadi ketika saya menaikkan tarif, tiba-tiba saya menemukan suatu dunia baru yang positif sebagai hasil dari kenaikan tarif. Saya berkomunikasi dengan orang-orang yang jauh lebih ramah dan sabar – dan kebanyakan Project Manager saya yang sekarang menyadari sifat “manusiawi” saya yang bisa lupa, lelah, butuh liburan, bosan, kesal oleh end client, dan benci pengulas abal-abal. Mereka mentoleransi sikap saya yang kadang angin-anginan dan pelupa, walaupun saya tidak pernah melepaskan sikap profesional yang bertanggung jawab tepat pada waktunya dan ketika diminta. Saya membangun hubungan yang jauh lebih menyenangkan melalui kenaikan tarif, dan mereka yang merasa tidak mampu membayar tarif saya yang sekarang, saya persilakan dengan lugas dan sopan untuk mencari penerjemah lain. Saya tidak menganggap diri saya lebih baik dari penerjemah bertarif rendah – karena seperti yang saya sebutkan, tarif adalah hal yang preferensial dan saya tidak bisa mendikte siapa pun untuk menaikkan tarifnya, apalagi dengan kata-kata bahwa dia telah merugikan banyak orang karena bargaining powernya yang terdengar tolol untuk pekerjaan serumit ini. Kita semua punya pilihan masing-masing. You gotta start somewhere and that somewhere is perhaps lower than expected. “Perang harga” dengan tarif tiga sampai lima poin di bawah tarif saya adalah hal yang harus saya terima sebagai bagian dari persaingan.

Tapi saya sangat meyakini bahwa tidak akan ada pengayaan ilmu dan batin ketika waktu harus dihabiskan untuk mengejar volume. Sejak saya menaikkan tarif, saya benar-benar menyimak hasil terjemahan saya dan menemukan betapa banyak pelajaran yang bisa saya petik dari kaidah bahasa Indonesia yang tadinya terasa benar, tapi ternyata salah. Saya bisa lebih menyimak perkataan editor atau pengulas dan ketika saya menemukan sepetik perkataan mereka yang benar-benar “kena”, saya mengamini sinergi di antara kami berdua dan akhirnya tercipta hubungan yang jauh lebih baik ketimbang saling memaki di lembar LQA. Saya “membeli” waktu dan kemampuan dengan menaikkan tarif, dan saya mengembangkan rasa malu atas tarif yang telah saya tetapkan dengan berusaha sebaik mungkin menjaga harga layanan, baik melalui kinerja, perkataan, dan sikap saya ketika menanggapi para pemberi kerja melalui email.

Ingat bahwa saya tidak pernah menaikkan harga layanan tanpa ada fokus yang jelas. Ketika semua orang berseru-seru tentang betapa sulitnya menerjemahkan, saya tidak terpengaruh dan tidak sekonyong-konyong merasa bahwa menaikkan tarif adalah hal yang harus dilakukan tanpa klaim yang jelas. Saya membiasakan diri untuk kembali bercermin dan membandingkan kinerja dengan senior yang jauh lebih berpengalaman dan jelas-jelas lebih luwes. Saya mempertimbangkan masukan dari agensi dalam hal perbaikan kinerja dan tanggapan, ini juga menentukan keputusan saya dalam menaikkan harga. Semisalnya mereka sudah cocok dengan saya ya apa salahnya untuk mendorong tarif lebih ke atas lagi? Dan tentu saja saya menawarkan berbagai aspek tambahan yang bisa membantu mereka untuk memperoleh end client yang lebih baik (better competence from me, better competitive advantage for you, better payment and work for all of us).

Sesungguhnya kenaikan tarif adalah pilihan dan kesiapan, dan tiada satu orang pun yang bisa mendikte kesiapan lahir batin kita untuk mencantumkan tarif yang lebih tinggi. Karena itu saya menghentikan mulut ini untuk bicara soal tarif dan memilih untuk kembali ke laptop dan Trados, serta mempertimbangkan baik-baik mengenai kesiapan saya untuk naik tarif satu poin lagi tahun ini, dengan menanyakan serangkaian pertanyaan berikut kepada diri sendiri:

Apa saya sudah siap memperbaiki kinerja tahun ini? Apa klien sanggup membayar tarif baru saya dan jika tidak, keputusan apa yang akan saya ambil? Berhenti bekerja sama dengan agensi itu, atau menerima saja batas tarif yang mereka tetapkan? Apa saya masih sanggup menanggung volume pekerjaan dari klien tersebut, ataukah sudah mulai terasa mencekik?

Keputusan saya untuk menaikkan tarif tahun ini bergantung pada jawaban atas semua pertanyaan itu. Karena bayaran yang lebih besar akan disertai oleh tanggung jawab yang lebih besar, dan saya harus siap mengemban tanggung jawab itu.

~Bandung, 9 Januari 2015