Ketika Tarif Terjemahan Harus Naik

Standard

Saya orang yang paling nggak demen kalau diskusi di antara penerjemah sudah merambah ke soal tarif. Karena seringkali yang terjadi adalah debat kusir, dan salah satu atau beberapa pendebat menjadi mutung, dan kemudian diskusi berlanjut ke omong-omongan di belakang punggung. Imbasnya juga terlalu beragam – newbie yang memposisikan harga terlalu tinggi hingga tidak pernah dilirik, atau senior yang memposisikan harga terlalu rendah sehingga jadi bahan omongan, atau penerjemah tir dua yang selalu diojok-ojok untuk menaikkan tarif padahal dirinya sendiri belum siap lahir batin. Terlalu banyak omongan bawel di luar sana sampai akhirnya saya beberapa kali urung menulis soal ini. Tapi akhirnya saya tidak tahan juga.

Menurut saya, tarif terjemahan adalah suatu hal yang sangat preferensial dan kenaikannya tidak bisa diputuskan dengan hanya melirik kiri kanan dan menengok atas bawah semata, apalagi dengan mendengarkan omongan penerjemah yang (keliatannya) sukses. Saya memulai karir dengan tarif terjemahan yang sangat rendah, hanya tujuh ribu lima ratus rupiah per halaman jadi. Saya pernah menangani terjemahan dengan bayaran lebih tinggi sebelumnya, tapi akhirnya saya memutuskan untuk “turun tangga” dan mengambil pekerjaan tujuh ribu lima ratus itu. Mengapa? Karena CV saya masih kosong. Saya merasa bahwa tidak bijak untuk tetap mempertahankan tarif tinggi (yang diperoleh secara kebetulan) sementara CV saya menjerit minta diisi. Akhirnya saya melamar ke suatu biro terjemahan lokal di kota saya (Bandung), untuk kemudian “berlatih menerjemahkan” dengan tarif rendah. Tujuan saya waktu itu adalah untuk mengisi CV dan meningkatkan kemampuan sembari mencari penghasilan.

Setelah saya menjadi anggota Bahtera dan melepaskan diri dari biro terjemahan itu (karena akhirnya tarif rendah tersebut tidak mampu mendukung kebutuhan hidup saya), kondisi mulai membaik sampai akhirnya saya memutuskan untuk berspesialisasi menjadi penerjemah agensi luar negeri (keputusan yang sebelumnya telah dipertimbangkan masak-masak). Dari pengalaman saya yang pendek (cuma sekitar satu tahun setengah), saya menyadari berbagai kekurangan diri dalam berkomunikasi dengan klien lokal. Sebaliknya, saya merasa mampu untuk bersikap profesional ketika berhadapan dengan wong bule. Oleh karena itu saya menghabiskan lebih banyak waktu untuk berkonsentrasi ke agen luar negeri ketimbang memenuhi permintaan lokal.

Ada beberapa saat ketika saya menyembunyikan soal tarif lampau saya yang naudzubillah rendahnya. Itu karena ada beberapa omongan yang mengatakan bahwa karena pekerjaan ini adalah pekerjaan yang sulit, sewajarnya kita menentukan tarif yang tinggi. Juga ada omongan yang paling menyakitkan bahwa “once you go low, you can never be high”. Saya berusaha mati-matian untuk membuktikan ketidakbenaran kata-kata itu. Dengan fokus ke volume CV dan juga meraba-raba untuk mencari spesialisasi, saya terus bertahan di tarif rendah, setelah Rp, 7500,00 untuk satu halaman, tarif saya naik “sedikit” ke Rp. 15.000,00 sehalaman, kemudian ke dua sen dolar per kata, dan saya lama bertahan di tarif ini sebelum akhirnya mencapai “batas bawah manusiawi” sebesar lima sen dolar per kata. Akhirnya, saya berhasil mematok harga cukup tinggi setelah tiga tahun bertahan di batas bawah manusiawi, dan harga tinggi itu tetap saya pasang hingga saat ini. Ingat, saya mulai dari tujuh ribu lima ratus rupiah sehalaman (yang berisi kurang lebih 350 kata). Satu dolar pun enggak, hehehehe.

Pada awalnya saya takut menentukan tarif tinggi. Alasannya adalah karena saya takut kehilangan pekerjaan dengan tarif zona nyaman, yang sangat membuai karena pekerjaan selalu mengalir tanpa henti dan saya merasa “cukup” dengan tarif itu. Sesekali saya pernah nekad memasang tarif tinggi tapi itu pun berdasarkan perbuatan iseng yang pada intinya hanyalah gambling. Tapi lama kelamaan, saya merasakan satu hal yang sangat mengganggu – bukan laju inflasi, bukan harga barang yang melonjak tinggi atau bukan keinginan menggebu untuk mengganti gadget – saya capek. Pekerjaan bertarif rendah mengharuskan penerjemah untuk mengambil sejumlah volume tertentu agar kebutuhan hidup terpenuhi. Sejalan dengan waktu, heavy abuse yang diterapkan pada komputer, tuntutan untuk belajar perangkat lunak, mengabaikan waktu bersama keluarga untuk berlama-lama di depan komputer, semuanya mulai terasa menjemukan. Saya tidak punya waktu untuk membaca hasil terjemahan dengan baik karena saya bertumpu kepada target untuk mengejar volume memadai demi membiayai kebutuhan hidup. Saya mulai terserang perasaan tidak pernah puas ketika membaca hasil terjemahan. Saya mulai menjadi penerjemah literal yang main “tabrak lari” (karena tidak ada waktu untuk melakukan riset akibat mengejar volume), walaupun banyak yang berkata hasil terjemahan saya bagus, saya merasa tidak memperoleh aspek batin dan ilmu selama periode “kejar setoran” itu. Kritik dari pengulas dan editor terasa begitu menyakitkan hati, uang seakan berlimpah tapi kondisi fisik (terutama batin) terasa makin menurun dan tidak terbayarkan oleh apa pun. Sampai akhirnya salah satu sahabat saya mengusulkan agar saya menaikkan tarif.

Ketika akhirnya saya memberanikan diri untuk menaikkan tarif, saya tidak pernah mengajukan alasan laju inflasi, harga barang yang menggembung, atau karena saya sudah bersama klien untuk waktu yang cukup lama. Saya hanya memberi satu alasan: saya tahu apa yang saya lakukan. Pada tahun 2012 saya memangkas CV saya menjadi tiga halaman saja (sebelumnya 6 halaman) karena saya merasa apa pun yang saya lakukan sebelum tahun 2010 sudah tidak relevan. Alih-alih mencantumkan nama dokumen, saya mencantumkan beberapa nama besar yang pasti diketahui semua orang dan mereka bisa dengan mudah memeriksa terjemahan saya lewat Internet. Saya mulai membentuk klaim singkat dalam hal kompetensi dan spesialiasi, yang kemudian diperkuat dengan kelulusan TSN.

Saya tidak suka mencela penerjemah bertarif rendah karena saya tahu benar apa rasanya mengais rezeki dari nol, bahkan minus. Saya “terpaksa” menaikkan tarif karena saya tidak sanggup lagi menganiaya diri sendiri dengan tujuh ribu sampai dua belas ribu kata sehari. Saya ingin liburan, ingin menikmati hasil jerih payah, dan saya ingin merasa dihargai. Ada sifat psikologis yang aneh dari klien – ketika mereka mengetahui bahwa tarif kita jauh berada di bawah anggaran, mereka cenderung bersikap abusive dan menuntut kinerja yang melebihi batas normal. Mereka menganggap bahwa sah-sah saja untuk melempar semua pekerjaan ke pangkuan si penerjemah dan berharap bagaikan sulap bahwa semuanya sudah beres besok paginya. Anehnya, sifat ini tidak diperlihatkan oleh klien-klien yang berani dan sanggup membayar sampai batas atau bahkan melebihi anggaran. Mereka cenderung lebih toleran dan memahami bahwa jika mereka memberi 800 kata di sore hari, mereka tidak bisa mengharapkan hasil terjemahan sudah siap sedia keesokan paginya. Mereka juga cenderung bersikap komunikatif terhadap permasalahan yang dihadapi si penerjemah – bahkan memberi tanggapan lebih positif dan hangat ketika terjadi perdebatan serius antara si penerjemah dengan editor atau pengulas. Sikap agensi terhadap penerjemah dengan tarif tinggi terasa lebih fair, dan kata-kata yang mereka gunakan lebih bersifat inquiry dan bukan imperative. Bahkan ketika kritik pedas yang dilayangkan berasal dari end client yang seharusnya dianggap setengah dewa (baca: tidak pernah salah karena mereka adalah pihak pembayar) oleh agensi, mereka lebih cenderung untuk bersikap logis alih-alih menuduh bahwa saya tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Jadi ketika saya menaikkan tarif, tiba-tiba saya menemukan suatu dunia baru yang positif sebagai hasil dari kenaikan tarif. Saya berkomunikasi dengan orang-orang yang jauh lebih ramah dan sabar – dan kebanyakan Project Manager saya yang sekarang menyadari sifat “manusiawi” saya yang bisa lupa, lelah, butuh liburan, bosan, kesal oleh end client, dan benci pengulas abal-abal. Mereka mentoleransi sikap saya yang kadang angin-anginan dan pelupa, walaupun saya tidak pernah melepaskan sikap profesional yang bertanggung jawab tepat pada waktunya dan ketika diminta. Saya membangun hubungan yang jauh lebih menyenangkan melalui kenaikan tarif, dan mereka yang merasa tidak mampu membayar tarif saya yang sekarang, saya persilakan dengan lugas dan sopan untuk mencari penerjemah lain. Saya tidak menganggap diri saya lebih baik dari penerjemah bertarif rendah – karena seperti yang saya sebutkan, tarif adalah hal yang preferensial dan saya tidak bisa mendikte siapa pun untuk menaikkan tarifnya, apalagi dengan kata-kata bahwa dia telah merugikan banyak orang karena bargaining powernya yang terdengar tolol untuk pekerjaan serumit ini. Kita semua punya pilihan masing-masing. You gotta start somewhere and that somewhere is perhaps lower than expected. “Perang harga” dengan tarif tiga sampai lima poin di bawah tarif saya adalah hal yang harus saya terima sebagai bagian dari persaingan.

Tapi saya sangat meyakini bahwa tidak akan ada pengayaan ilmu dan batin ketika waktu harus dihabiskan untuk mengejar volume. Sejak saya menaikkan tarif, saya benar-benar menyimak hasil terjemahan saya dan menemukan betapa banyak pelajaran yang bisa saya petik dari kaidah bahasa Indonesia yang tadinya terasa benar, tapi ternyata salah. Saya bisa lebih menyimak perkataan editor atau pengulas dan ketika saya menemukan sepetik perkataan mereka yang benar-benar “kena”, saya mengamini sinergi di antara kami berdua dan akhirnya tercipta hubungan yang jauh lebih baik ketimbang saling memaki di lembar LQA. Saya “membeli” waktu dan kemampuan dengan menaikkan tarif, dan saya mengembangkan rasa malu atas tarif yang telah saya tetapkan dengan berusaha sebaik mungkin menjaga harga layanan, baik melalui kinerja, perkataan, dan sikap saya ketika menanggapi para pemberi kerja melalui email.

Ingat bahwa saya tidak pernah menaikkan harga layanan tanpa ada fokus yang jelas. Ketika semua orang berseru-seru tentang betapa sulitnya menerjemahkan, saya tidak terpengaruh dan tidak sekonyong-konyong merasa bahwa menaikkan tarif adalah hal yang harus dilakukan tanpa klaim yang jelas. Saya membiasakan diri untuk kembali bercermin dan membandingkan kinerja dengan senior yang jauh lebih berpengalaman dan jelas-jelas lebih luwes. Saya mempertimbangkan masukan dari agensi dalam hal perbaikan kinerja dan tanggapan, ini juga menentukan keputusan saya dalam menaikkan harga. Semisalnya mereka sudah cocok dengan saya ya apa salahnya untuk mendorong tarif lebih ke atas lagi? Dan tentu saja saya menawarkan berbagai aspek tambahan yang bisa membantu mereka untuk memperoleh end client yang lebih baik (better competence from me, better competitive advantage for you, better payment and work for all of us).

Sesungguhnya kenaikan tarif adalah pilihan dan kesiapan, dan tiada satu orang pun yang bisa mendikte kesiapan lahir batin kita untuk mencantumkan tarif yang lebih tinggi. Karena itu saya menghentikan mulut ini untuk bicara soal tarif dan memilih untuk kembali ke laptop dan Trados, serta mempertimbangkan baik-baik mengenai kesiapan saya untuk naik tarif satu poin lagi tahun ini, dengan menanyakan serangkaian pertanyaan berikut kepada diri sendiri:

Apa saya sudah siap memperbaiki kinerja tahun ini? Apa klien sanggup membayar tarif baru saya dan jika tidak, keputusan apa yang akan saya ambil? Berhenti bekerja sama dengan agensi itu, atau menerima saja batas tarif yang mereka tetapkan? Apa saya masih sanggup menanggung volume pekerjaan dari klien tersebut, ataukah sudah mulai terasa mencekik?

Keputusan saya untuk menaikkan tarif tahun ini bergantung pada jawaban atas semua pertanyaan itu. Karena bayaran yang lebih besar akan disertai oleh tanggung jawab yang lebih besar, dan saya harus siap mengemban tanggung jawab itu.

~Bandung, 9 Januari 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s