Mentor … dimanakah mereka? – Bagian IV

Standard

Setiap orang yang baru memulai jalan hidup profesional sebagai apa pun pasti akan berusaha mencari orang lain yang bisa dijadikan tempat bertanya dan tempat untuk menimba ilmu. Itu wajar. Saya berpendapat bahwa mentor memegang peranan penting dalam membentuk sikap profesional dan “kecerdasan” saya dalam menghadapi berbagai situasi dalam profesi penerjemahan, dan mereka lah orang-orang terdepan yang memberi pembelajaran tentang seluk-beluk dunia penerjemahan yang tersembunyi dan pelik.

Mentor saya yang paling awal adalah ayah dan ibu saya. Tapi mari kita kesampingkan faktor ini karena tidak semua orang memiliki orangtua yang juga penerjemah – anggap saja saya beruntung. Mentor kedua yang bukan berasal dari keluarga adalah seorang pemberi kerja yang mengajari saya tentang berbagai CAT tools. Saya sering berinteraksi dengannya dan setelah itu saya bertemu dengan seorang Bunda Senior yang juga pemberi pekerjaan. Dari Bunda ini saya memperoleh banyak sekali masukan mengenai tata cara penulisan yang benar, cara menengok kamus (yang benar), dan juga pembahasaan yang benar. Saya masih memiliki mentor-mentor lain – saya berutang budi sepenuhnya kepada mereka karena dari sekelumit ilmu yang telah mereka bagi, saya memperoleh bekal demi bekal yang bisa mengantar saya memasuki dunia penerjemahan profesional dan bertahan di dalamnya sampai detik ini. Saya belajar untuk berteman dengan semua orang yang akhirnya mengajarkan banyak hal – saya mulai dengan memperkaya diri dengan ilmu sosialisasi dan interaksi, dan berusaha menepis rasa malu. Yang saya maksud dengan berinteraksi adalah BUKAN sekadar bertukar komentar di Facebook atau mencari-cari teman senior penerjemah untuk “dikuntit”. Tapi benar-benar bergaul: menyapa, bercerita, dan berdiskusi (online dan offline). Saya beberapa kali berdiskusi dengan beberapa penerjemah di sela-sela rehat acara Kompak HPI, dan obrolan itu terasa menyenangkan karena adanya interaksi: diskusi tentang kesulitan menangani klien, tips dan trik dalam menghadapi agensi, cara mengolah pekerjaan dan cara menangani keluhan – semua ini diperoleh melalui obrolan dan bukan melalui kuliah atau presentasi. Setiap perkataan dan setiap cerita yang tampaknya remeh sesungguhnya akan membimbing jalan dan membuka diri terhadap berbagai kemungkinan di dunia penerjemahan yang mungkin bisa dihindari atau bisa dilakukan. Dan sesungguhnya inilah guna mentor: untuk mengungkapkan hal-hal yang tidak diketahui oleh khalayak umum. Setiap penerjemah adalah entitas yang berbeda dan mereka memiliki pengalamannya sendiri. Jangan berpikir bahwa arti mentor adalah pemeriksa pekerjaan Anda, atau pun orang pertama yang akan memberi pekerjaan. Di satu sisi itu benar, tapi pada kenyataannya ketika Anda terjun ke dunia penerjemahan nanti, akan ada demikian banyak orang yang menguliti karya Anda, mulai dari editor, proofreader, reviewer, klien, pembaca, dan lain sebagainya. Ini semua semata soal teknis – mereka yang berkecimpung di bidang sastra akan bisa memberikan masukan, namun tiada yang bisa memberikan masukan mengenai cara menangani keluhan klien, cara menghadapi editor rewel, atau cara menghadapi agensi, selain mentor.

Satu hal yang akan membatalkan niat semua orang untuk berbagi (informasi) adalah ketika Anda memohon-mohon untuk diberi pekerjaan. Mengemis kepada seorang penerjemah (apalagi yang tidak membuka lowongan pekerjaan subkontrak) adalah tindakan yang akan mematikan masa depan karena sesungguhnya Anda hanya perlu mencari – dan mereka semua tahu itu. Ingatlah bahwa senior dulu adalah junior seperti Anda dan mereka sudah pernah melalui jalan mereka sendiri – sepanjang pengetahuan saya tidak ada satu pun senior saya yang pernah mengemis pekerjaan di Bahtera/HPI. Mungkin secara umum tindakan mengemis ini dianggap sebagai inisiatif tapi sesungguhnya ini adalah tindakan invasif yang menyebalkan. Dan (calon) pemberi pekerjaan secara umum akan menilai seorang pengemis pekerjaan sebagai orang yang malas berusaha, tidak punya inisiatif, dan kadang-kadang beberapa di antaranya bersikap ekstrem hingga bersumpah untuk tidak akan pernah memberi rekomendasi atau pekerjaan kepada si pengemis. Ini yang saya sebut sebagai mematikan masa depan – berhati-hatilah.

Kalau begitu, gimana dong caranya untuk memperoleh mentor? Jawabannya hanya dua: MULAILAH MENCARI PEKERJAAN DI LUAR SANA dan MULAILAH BERINTERAKSI. Dua hal ini harus dilakukan bersamaan dan Anda tidak bisa melakukan yang satu untuk membuka pintu ke yang lain. Pelajari cara berinteraksi yang sopan dengan tutur kata yang jelas, juga cara menulis yang baik dan bebas dari bahasa alay. Hindari pertanyaan invasif seperti “Punya daftar klien gak? Bagi dong ….“, dan ganti dengan “Saya merasa bingung karena sulit mencari pekerjaan terjemahan. Apa Bapak/Ibu/Mas/Mbak punya input?” (ada baiknya juga untuk mencari nama orang yang Anda ajak bicara di Google – pelajari profil orang yang bersangkutan dan mulailah menanamkan rasa hormat sewajarnya terhadap pencapaian orang tersebut). Pelajari tata cara melamar pekerjaan yang baik dalam dua bahasa, panjangkan upaya Anda sejauh mungkin, dan biasakan untuk belajar dari kesalahan. Pelajari cara memasarkan diri yang baik dan tampilkan diri sebagai sosok positif yang berinisiatif.

Saya ini tipe orang yang sangat ANTI mengemis pekerjaan karena saya tahu saya MAMPU mencari sendiri, dan dulu pertanyaan saya cuma satu: harus mencari ke mana? Saya menetapkan Bahtera sebagai titik awal saya karena bagaimanapun juga komunitas ini sudah ada sejak lama dan bisa diandalkan. Saya juga mulai dengan menelusuri “translation agency” atau “translation jobs” di Google – kemudian saya menemukan ProZ dan Translator’s Cafe. Waktu itu saya tidak tahu apa yang akan membuahkan hasil, tapi saya terus mencoba dan tidak putus asa. Setelah hampir lima tahun berada di Bahtera sebagai silent reader dan bekerja untuk beberapa orang penerjemah lepas (yang membuka lowongan), akhirnya saya menemukan lowongan pertama yang membuka pintu mentoring untuk saya.

Saya tidak akan bisa melangkah sampai sejauh ini jika tidak dibimbing dan berdiskusi dengan puluhan orang, termasuk teman-teman sesama penerjemah. Tapi ingatlah juga bahwa ketika memilih untuk menjadi penerjemah lepas, Anda dengan sendirinya WAJIB berinvestasi dalam INISIATIF. Tidak akan ada pekerjaan yang sekonyong-konyong menghampiri jika Anda terus mengurung diri dalam kamar tanpa interaksi – dan tidak akan ada interaksi yang menghampiri jika Anda tidak pernah mencoba mencari pekerjaan. Dua upaya itu – mencari pekerjaan dan interaksi – pada akhirnya akan membuahkan seorang atau bahkan beberapa orang mentor untuk Anda.

Tidak ada yang namanya sure success. Kembali saya ingatkan bahwa keputusan menjadi penerjemah lepas tidak semata-mata didasari oleh kemampuan bahasa Inggris, kemampuan bahasa Indonesia, atau uang melimpah yang (konon) dihasilkan oleh profesi ini. Karena sebagaimana pekerjaan lain di dunia, harus ada upaya yang dilakukan dan upaya tersebut mungkin akan menguras tenaga Anda. But if you love the job, you’ll do anything to succeed.

Bandung, 1 Februari 2015

*melanjutkan seri tulisan yang tertunda …*

13 responses »

  1. Pingback: Mentor … dimanakah mereka? – Tulisan Maria Renata | Dina's Pensieve

  2. Bener banget, Maren. Pintu peluangku terbuka juga karena mendatangi acara HPI, menghampiri tempat penerjemah berkumpul dan berteman dengan mereka. Bukan dengan niat “nyoro” atau meminta pekerjaan seperti katamu, tapi mencari tahu selah-selah mencari pekerjaan.

  3. Thanks mbak tentang sharenya… berguna banget nih buat jadi masukkan banyak org termasuk aku… mungkin nanti kita perlu ngobrol2 ya karena aku lg butuh banyak input nih ttg mencari dan berinteraksi itu… keren banget tulisannya…

  4. A helpful article Mbak Maria,

    Kalau menurut Mbak, mana yang mesti didahulukan? memperoleh sertifikat lulus ujian penerjemah dari HPI, misalnya, atau melamar sebagai penerjemah? Bisa jadi, dengan lampiran sertifikat penerjemah akan lebih menarik bagi pemberi kerja.

    Salam kenal,
    Rifkul

    • Dear Rifkul,
      benar bahwa lampiran sertifikat akan menarik bagi pemberi kerja, namun sertifikat hanya bisa diraih ketika kita sudah lulus ujian, dan untuk lulus ujiannya jam terbang kita harus sudah mencukupi agar bisa mengerjakan ujian dengan selamat (lulus). Dalam konteks TSN (Tes Sertifikasi Nasional), saya merasakan benar bahwa penerjemah tanpa jam terbang mencukupi pasti akan panik ketika menghadapi terjemahan yang harus dikerjakan hanya dalam waktu beberapa jam saja. Saran saya, cobalah cari pekerjaan dulu untuk membekali diri agar bisa mengambil sertifikasi penerjemah. Karena sertifikat yang tidak didampingi dengan jam terbang hanya akan membuat diri kita tidak terlihat lebih bagus di mata pemberi kerja. Sebagai gambaran, pemberi kerja mempertimbangkan 3 hal berikut ketika menerima penerjemah: (1) hasil tes/sampel terjemahan (2) jam terbang/berapa lama penerjemah itu sudah berkecimpung di ranah profesional (3) referensi klien dan sertifikasi.
      Demikian, mudah-mudahan membantu🙂

  5. Terima kasih Mba Maria atas sharing pengalamannya. Saya banyak belajar dari membaca blog ini. Mudah-mudahan suatu saat saya bisa seperti Mba Maria dan senior penerjemah lainnya. Salam kenal ya, Mba.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s