Rezeki Itu Di Tangan YME

Standard

Saya baru sadar pagi ini bahwa saya jarang sekali menulis tentang kehidupan pribadi. Padahal saya punya beberapa blog (salah satunya berbahasa Inggris). Walaupun sesibuk apa pun, saya selalu kangen menulis dan sepertinya tidak baik jika kebiasaan ini dihapuskan😀 Jadi saya akan mencoba untuk menulis lagi, walaupun tidak bisa mengumbar janji bahwa akan lebih sering dari blogging senen-kemis yang selama ini saya lakukan, ha ha ha.

Apa banyak dari kalian yang memperhatikan bahwa Facebook memiliki halaman khusus untuk kilas balik? Kita menerima pemberitahuan bahwa tahun lalu kita menulis A, dua tahun lalu mengeposkan anu, dan sebagainya. Bagian ini menjadi bagian menarik untuk saya karena setiap hari saya diingatkan tentang peristiwa-peristiwa di masa lalu. Dan tadi pagi saya menemukan satu lagi hal yang menarik:

sc_10

Saya menampilkannya dalam bentuk screenshot karena tautannya sendiri sudah mati. Dulu saya suka menulis di Kompasiana, karena seorang sahabat (yang sudah saya anggap saudara sendiri) waktu itu berkata bahwa tulisan-tulisan dan opini-opini saya layak dicerna oleh publik. Wah – gitu ya? hahahahaha *tertawa malu*. Saya pikir, sejalan dengan waktu, tulisan saya sudah makin ‘politis’ alias tidak setajam dulu. Saya selalu berusaha menuangkan isi hati dengan kata-kata sebaik mungkin dan sehalus mungkin … but what can I say, being wise also comes with age. Oke, sebelum ada yang ngegampar saya karena menulis berseling dengan bahasa Inggris (kata para polisi bahasa ini kebiasaan buruk lho hihihi), saya akan mendongeng sedikit tentang cerita di balik screenshot (eh, maksudnya tangkapan layar) itu.

Dulu, salah satu cita-cita saya adalah menjadi seorang penulis (karena itulah sahabat saya menyarankan supaya saya menulis di Kompasiana). Saya ini gak berbakat nulis fiksi. Saya selalu cenderung nyerempet ke fakta ketimbang menjadikan suatu khayalan berbau kenyataan. Ketika saya menyadari bahwa saya tidak mampu menulis fiksi, saya mulai menulis opini … yang ternyata tidak bisa diterima begitu saja oleh beberapa gelintir orang.

Pemicunya adalah tulisan dalam tangkapan layar itu. Saya membaca lowongan untuk bekerja sebagai ghost writer untuk SEO (Search Engine Optimization). Dulu saya gak paham apa itu SEO. Yang saya pahami bahwa kalau kita berkomitmen untuk menjadi ghost writer, berarti nama kita sebagai penulis tidak akan dipublikasikan selamanya dan kita tidak bisa mengklaim kepemilikan atas semua yang telah kita tulis, karena nama kita tidak akan tertera dalam tulisan itu.

Jika ada yang berhasil menemukan tulisan saya ini dan membacanya, pasti dia berpikir bahwa saya memiliki tanggapan netral atau bahkan positif mengenai ghost writing ini. Bayaran yang ditawarkan ke saya dulu sangat rendah, untuk ukuran sekarang bayaran itu hanya sepersepuluh dari hasil terjemahan per halaman yang saya terima (saat ini) sebagai penerjemah profesional. Tapi saya bersedia mencoba kok, karena waktu itu saya masih berkomitmen untuk menjadi penulis (penulis apa pun itu). Namun, setelah saya iseng-iseng menyelidiki tentang siapa orang yang akan menggunakan tulisan-tulisan saya nanti, akhirnya saya menemukan satu nama – seorang pelopor sistem piramida di dunia maya, orang yang konon meraup jutaan sampai ratusan juta dengan memanfaatkan artikel-artikel SEO dan skema Internet Marketing. Maaf saya tidak mau menuliskan nama orang itu – saya tidak mau crawler Google mendeteksi nama perempuan itu dalam blog saya dan menjadikan dia lebih terkenal lagi (walaupun sekarang sudah sulit menelusuri namanya di dunia maya – dugaan saya dia sedang bermandikan uang dari hasil skema menipunya itu … atau sedang mengais tanah karena sudah kembali miskin, atau mungkin sudah dibui karena skema piramida itu sebenarnya melanggar hukum … atau mungkin selama itu dia hanyalah tokoh fiktif – catatan: saya cenderung percaya pada dugaan yang terakhir).

Reaksi pertama saya ketika mengetahui bahwa saya akan menulis untuk dia tentu saja adalah penolakan keras. Walaupun dulu saya masih bego soal internet, samar-samar saya merasa bahwa skema piramida itu sama dengan penipuan (dan mungkin perampokan). Dan apakah saya mau berpartisipasi secara terang-terangan? Tentu saja tidak. Karena itu saya membatalkan niat untuk bergabung menjadi ghost writer dan kemudian menuliskan alasan pembatalan ini di Kompasiana.

Tak dinyana bahwa tiba-tiba saya mendapat kiriman “surat cinta” dari seseorang yang tidak saya kenal, melalui Facebook. Ternyata orang itu adalah suami si perekrut (yang menyebarkan lowongan ghost writer). Dia meminta saya menghapus tulisan protes saya di Kompasiana karena katanya “Anda mematikan rezeki istri saya“. Cara bicara orang ini baik, dia santun dan tidak kasar, tapi kata-katanya sungguh pedas dalam kedok kesantunannya. Karena saya enggan ribut, akhirnya tulisan protes itu saya simpan di bagian draft Kompasiana (dan sayangnya saya tidak bisa mengaksesnya lagi sampai sekarang).

Waktu itu, lima tahun yang lalu, saya merasa diperlakukan tidak adil. Mematikan rezeki istrinya? Sejak kapan saya berhak, punya kuasa, dan punya andil untuk mematikan rezeki seseorang? Hebat sekali si perekrut ini, dia tidak sanggup melawan kata-kata saya dalam artikel itu jadi dia kirim “tukang pukul” yang adalah suaminya sendiri, sedangkan suami saya sendiri tidak tahu menahu soal urusan ini (karena pekerjaan saya adalah urusan saya dan saya bisa membela diri sendiri). Saya membaca tulisan di inbox Facebook itu dengan geram bercampur marah – karena ketika saya menuliskan fakta (yang akhirnya terbukti dengan terbongkarnya skema piramida dan klasifikasinya sebagai usaha yang melanggar hukum, ditambah dengan diaktifkannya Google Panda yang membuat artikel-artikel SEO salin rekat ini digilas habis), saya ditindas oleh orang yang bersikukuh bahwa rezeki dan masa depan karier istrinya sebagai penulis/redaktur ada di tangan SAYA, dan BUKAN DI TANGAN YME.

Mereka berdua menambahkan saya sebagai teman di Facebook dan saya terima, dan akhirnya pertemanan itu saya hapus enam bulan kemudian (karena memang tidak ada interaksi lagi setelah “surat cinta” itu). Saya sudah lupa akan kejadian itu sampai akhirnya hari ini (berkat Facebook) saya ingat akan peristiwa itu dan rasanya saya ingin tertawa keras-keras. Saya masih ingat nama si perekrut dan dia masih ada di Facebook, profil pribadinya sudah penuh dengan barang jualan (sepertinya nasib telah membawa dia ke gerbang yang lain). Dia bukan penulis sekelas Rani Rachmani Moediarta yang bersuara merdu dalam faktanya, apalagi penulis sekelas Remi Silado yang memukau hati ketika beliau membacakan resensinya untuk naskah Memang Jodoh terbitan Mizan. Dan sepertinya dia juga sudah berhenti menulis tuh. Dia hanya orang biasa, sama seperti saya, yang sempat percaya bahwa saya yang bukan siapa-siapa ini bisa mematikan kariernya lewat satu artikel pendek di Kompasiana.

Maaf kalau saya sinis – tapi menurut saya orang yang berani menuduh bahwa kita mematikan rezekinya adalah orang yang bodoh. Rezeki itu tidak pernah diatur oleh diri sendiri dan tidak pernah diberikan oleh orang lain tanpa seizin YME. Dan saya mengasihani mereka yang tidak menyadari hal itu dan berani “memarah-marahi” orang yang tidak mereka kenal demi “melindungi rezeki”nya.

Oh, sungguh kasihan.

So, moral of the story: ketika kita meyakini bahwa apa yang kita lakukan adalah benar, lanjutkanlah. Sebodo amat lah orang mau ngomong apa. Kebenaran selalu akan terungkap di satu saat yang paling pas dan paling menyenangkan, karena sebenarnya tiada balas dendam yang lebih manis dari saat ketika kita menyadari bahwa kita telah melangkah di jalan yang benar, dan telah meninggalkan semua orang yang telah (mencoba) menganiaya kita jauh di belakang😀😀

~Bandung, 31 Agustus 2015

4 responses »

  1. BIngung mau nulis komentar pertama di sini. hahahaha

    Komentar si Panda aja ah.

    Tulisanku juga banyak yang di copy-paste. Pelan-pelan sih pakai ilmu ikhlas.

    Tapi kalau ketemu blog yang copy-paste 100 tulisanku, langsung lapor ke google.

    Biar blognya langsung ke hapus+dapat hukuman. hihihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s