Soal Lamar-Melamar ke Agensi Penerjemahan

Standard

 

Isu ini (lamar-melamar ke agensi penerjemahan) sudah lama sekali menjadi bahan bisik-bisik di antara teman dan saya sudah menerima sekitar lima inbox ke Facebook dengan pertanyaan senada. Gimana sih caranya melamar ke agensi penerjemahan luar negeri? Dulu jawaban saya sederhana: Ya Lamar Saja. Tapi sebenarnya saya sendiri tidak menyadari mengapa ada orang yang langsung diterima di agensi penerjemahan dan mengapa ada yang harus menunggu sampai 2-3 bulan untuk memperoleh jawaban atau bahkan tidak pernah memperolehnya … Sebelum saya lupa, coba saya tuliskan di sini tentang apa yang saya lakukan ketika melamar ke agensi penerjemahan:

  1. Saya tidak pernah menulis surat lamaran (cover letter) lebih dari tujuh baris ketika mengirim dalam bentuk email. Alasan: si penerima mungkin membaca email tersebut lewat perangkat seluler. Bayangkan kalau dia harus membaca dan menggulir beberapa kali … Kalau surat lamaran terlalu panjang, bisa jadi dia akan menunda untuk membaca, dan menunda lagi, dan akhirnya lupa. Ingat, yang melamar bukan cuma kita.
    Solusi: hindari kalimat yang bertele-tele. Tetaplah sopan namun usahakan cut to the chase. Hindari kalimat-kalimat standar surat lamaran seperti “besar harapan saya bahwa Bapak/Ibu akan mempertimbangkan lamaran ini” atau yang sejenisnya. They don’t need that. Dalam tujuh baris, usahakan agar perhatian mereka beralih sepenuhnya ke CV karena ini sebenarnya yang menjadi senjata utama.
  2. Saya tidak pernah melampirkan CV lebih dari tiga halaman (dan ini juga sebenarnya terlalu banyak, menurut saya satu halaman sebenarnya cukup). Saya juga menghindari pelampiran berjenis-jenis dokumen yang menurut saya tidak relevan seperti ijazah, KTP, NPWP, transkrip nilai … ini semua dokumen yang tidak relevan untuk melamar ke agensi penerjemahan luar negeri. (Curigalah jika suatu agensi tiba-tiba meminta ijazah sekolah. Agensi luar negeri yang seperti ini punya mekanisme penyaringan lamaran yang buruk)
    Alasan: CV yang terlalu panjang dan lampiran yang terlalu banyak itu membingungkan. Dan sebenarnya tidak ada yang memperhatikan jumlah proyek yang sudah pernah kita kerjakan. Yang akan mereka perhatikan adalah nama klien. Makin tinggi nama klien kita, biasanya mereka akan makin tertarik, apalagi biasanya mereka hanya akan membaca CV selayang pandang.
    Solusi: manfaatkan asosiasi mereka terhadap keterkenalan klien lampau. Contohnya seperti ini: Jika kita pernah mengerjakan 100 halaman untuk situs web lokal kukuruyuk dot com dan pernah mengerjakan 10 baris kalimat untuk Yahoo, letakkan Yahoo di baris atas CV dan kemudian situs web kukuruyuk dot com di bawahnya.
    Tambahan: jika belum memiliki pengalaman bekerja untuk klien high profile, manfaatkan pengalaman kerja yang sudah ada dan tulis sedemikian rupa sehingga “terbaca” seperti high profile. Contoh: “100 pages of translation for a famous marketing website in Indonesia” untuk menyertakan si kukuruyuk dot com, yang sebenarnya adalah web lokal yang mungkin tidak dipahami oleh orang bule dan memiliki peringkat yang kurang jelas. Manfaatkan sedikit marketing gimmick – ingat, kita ini sedang menjual diri.
  3. Saya tidak pernah menyebutkan kompetensi secara spesifik, proyek besar yang pernah saya tangani, atau bahkan kompetensi CAT Tools saya dengan spesifik, bila tidak ditanya secara langsung. Pendeknya, saya menghindari penulisan hal berbau teknis dalam surat lamaran.
    Alasan: saya menemukan bahwa jika saya terlalu banyak menyebutkan kompetensi dalam email, jumlah baris email akan bertambah dan saya akan terdengar makin sombong. Percaya diri itu adalah hal yang baik, tapi ingat bahwa ada batas tipis antara percaya diri dan sombong, sama seperti keberadaan batas tipis antara rendah hati dan humblebragging.
    Solusi: tuliskan kalimat yang “menggoda”. Contoh (misalkan, mereka bertanya apakah kita bisa menggunakan Trados 2011): “I work mainly using Trados 2011 and have been an enthusiast user for 10 years to date.” Kata-kata “enthusiast user” meyiratkan kompetensi level profesional tanpa berbicara soal teknis. Masalah apakah pernah jadi pelatih Trados, atau sudah lulus Trados competency test tingkat dewa, biarlah mereka baca di CV saja. Ini tidak perlu diterangkan dalam surat lamaran kecuali jika mereka menanyakan hal itu secara terang-terangan.
    Tambahan: jika belum pernah samasekali menggunakan CAT Tools (dan tidak tahu apa itu CAT tools), hindari melamar ke agensi penerjemahan yang mensyaratkan kompetensi ini. Namun bila pernah sekadar “icip-icip” dan belum menyeriusi penggunaan CAT tools, saya memilih untuk bersikap sedikit nekad (tanpa berbohong). Katakan bahwa “I have some experiences in using Catalyst and eager to explore the tool more” (ini sebenarnya sama artinya dengan: “saya belum terlalu bisa sih, tapi kayaknya bisa belajar kalau Anda mau menyewa saya“. Ingat, marketing gimmick😀 )
  4. Sebelum saya menulis lamaran, saya melakukan penelitian singkat untuk melihat tipe perusahaan – tepatnya, saya memperhatikan lokasi perusahaan.
    Alasan: Lain padang, lain belalang. Orang Eropa pada umumnya cenderung sopan namun tegas dalam hal prosedur, orang Tiongkok cenderung manis dalam berkata-kata namun mudah panik, orang Singapura terbaca getas dan dingin dalam emailnya, sedangkan orang Amerika cenderung santai dan tidak mudah naik darah. Saya selalu berhati-hati ketika menghadapi kebangsaan India dan Timur Tengah karena mereka cenderung bersikap persuasif dan memaksa.
    Solusi: Ingatlah selalu untuk menata bahasa sesuai dengan pembaca sasaran. Banyak agensi penerjemahan yang tidak bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris yang baik (walaupun komunikasi dilakukan dalam bahasa Inggris), jadi saya menghindari penggunaan kata-kata yang terlalu tinggi seperti “I acknowledge” dalam komunikasi dengan orang Tiongkok dan gantilah dengan “I understand“. Lain halnya dengan kebangsaan Inggris, saya selalu bersiap untuk bicara sedikit kompleks dengan kata-kata yang sedikit rumit. Selisih komunikasi adalah hal yang mengerikan, dan saya tidak mau dicap tidak sopan atau sombong gara-gara pemilihan kata-kata bahasa Inggris yang terlalu menyeramkan atau tidak pada tempatnya.
  5. Bagian terakhir yang sering membuat bingung adalah referensi. Sama seperti isi CV, referensi yang berbau nama “besar” akan lebih mudah menarik perhatian (misalkan, nama ketua HPI sebagai pemberi referensi Anda). Namun ada hal lain di balik ini, yaitu bahwa calon klien ingin mengetahui seberapa dekat hubungan kita dengan klien di masa lampau. Jika kita tidak bisa memberikan satu pun nama klien lampau yang dapat dihubungi untuk dimintai referensi, maka lamaran berakhir sudah sampai di sini. Ini memang menyedihkan dan saya mengakui bahwa dulu hambatan utama saya adalah referensi. Akhirnya saya belajar untuk membina hubungan baik dengan klien melalui pekerjaan, dengan berusaha untuk mengerjakan setiap pekerjaan dan menyelipkan satu atau dua patah kata obrolan di tengah email pekerjaan kami, agar klien bisa mengingat saya dan tidak akan keberatan bila saya mengajukan namanya sebagai referensi di kemudian hari.

Dari lima poin ini, no. 5 adalah yang tersulit (menurut saya) untuk dilakukan karena kita harus mengambil langkah jauh sekali ke depan agar tidak celaka di kemudian hari. Yang kedua tersulit adalah mencari klien high profile. Tapi saya juga mulai tanpa klien “besar” dan hanya bermodalkan marketing gimmick. Tiga poin lain bisa dilakukan oleh siapa pun asalkan ada pergeseran sudut pandang dari kebiasaan melamar ke perusahaan dengan menggunakan surat lamaran cetak menjadi surat lamaran melalui email.

Ini bukan tips tokcer – bagaimanapun juga setiap orang berbeda dan punya pendekatan masing-masing. Tapi strategi ini berhasil untuk saya. Mudah-mudahan ada yang bisa memetik manfaatnya🙂

Bandung, 10 September 2015

10 responses »

    • Yups, gak usah lah. Dan skip the details yang bisa mengguncang NDA. Biar gak repot ke depannya. Misalnya “Terjemahan alat kesehatan untuk GE” alih-alih “Terjemahan Manual MRI untuk [Kode manual] GE”

  1. Pingback: Sisi Gelap Rembulan | Dina's Pensieve

  2. Makasih banyak Maria. Tipsnya sangat mencerahkan. Mau tanya sedikit ya. Kalau pekerjaan itu didapat lewat agensi lain, misalnya ‘Terjemahan situs web untuk jalan2 dot com’, apa bisa dicantumkan di CV? Kita kan tidak berhubungan langsung dengan klien dalam hal ini, jadi nanti kalau dimintai referensi tidak bisa kasih dong. Salam🙂

    • Dear Ayu,
      asalkan kita memiliki bukti (misalkan, beberapa baris terjemahan untuk situs jalan2 dot com yang masih kita simpan), tidak akan ada masalah bila kita menuliskannya sebagai “penerjemah situs jalan2 dot com”. Yang justru tidak etis untuk dituliskan adalah nama agensi lain tersebut, karena nanti akan berujung ke rebut-merebut end client oleh sesama agensi, dengan bersenjatakan nama Ayu. Ya kita tidak mau dong sampai begitu, ya kan?😀
      Kalau terasa agak meragukan dan jika dokumen terjemahan tersebut tidak dipublikasikan secara luas (misalnya dalam kasus saya, dokumen manual atau paten), cukup tuliskan “terjemahan paten senyawa radioaktif” tanpa menyebutkan nama perusahaan penyewa atau pun judul paten dan produk.
      Soal referensi, biasanya mereka akan meminta nama end client dan bukan nama agensi lain/nama perusahaan yang menyewa agensi tersebut. Jadi misalnya jika Ayu pernah bekerja dengan saya (yang merupakan rekan penerjemah), nama saya bisa diberikan sebagai referensi untuk mengecek kinerja. Mudah-mudahan jelas🙂

      • Hi Maria,
        Makasih ya sudah meluangkan waktu untuk menjawab. Jelas dan bisa saya mengerti. Saya akan segera menerapkan tips-tipsnya. Semoga bisa berhasil😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s