Monthly Archives: December 2015

Gaya Hidup Urban? (Bagian ke-2)

Standard

Sebelum saya diprotes karena menuliskan “Bagian ke-2” tanpa menuliskan bagian pertama, ini bagian pertamanya, “Menuntut Terlalu Banyak dari Gaya Hidup Urban“.

Dulu saya ingin melanjutkan tulisan ini tapi sesuai dengan kata-kata teman saya, “semua akan mumet pada waktunya“, niat itu akhirnya terlupakan. Waktu itu saya punya kegelisahan “abadi” karena harus berpindah perangkat dan didesak untuk membeli BlackBerry(R).

Saat ini saya memiliki tiga nomor ponsel, tiga perangkat. Kurang urban apa lagi saya ini. Tapi kenapa saya ingin melanjutkan tulisan di atas? Karena akhirnya saya memahami makna tulisan itu lebih dalam lagi dari ketika saya mulai menuliskannya.

Dulu, jauh sebelum saya menuliskan artikel pertama, saya pernah memimpikan untuk punya BlackBerry. Dulu barang itu hampir tidak terbeli. Terpikir oleh saya bahwa akan terasa asyik kalau saya bisa dihubungi di mana saja dan menghubungi orang lain dari mana saja. Tidak bergantung lagi ke koneksi internet setempat untuk menuliskan status Facebook. Bisa melakukan hampir apa saja di mana saja. Itu pemikiran saya yang masih berusia 30-an waktu itu.

Kemudian ketika saya berada di pertengahan usia 30-an, muncul kegelisahan bahwa jika orang bisa menghubungi saya di mana saja, maka saya berkewajiban untuk menjawab mereka dari mana saja. Suara kring-kring dan tret-tret email sempat membuat saya merinding disko. Why won’t they leave me alone? Tapi saya tidak kuasa mematikan perangkat-perangkat itu. Saya takut mereka akan bertindak lebih jauh dari sekadar kirim email tret-tret, dan menyalakan satu nada dering horor berupa lagu panjang “Take On Me” yang menandakan panggilan telepon. Karena itu saya berusaha membalas email secepat mungkin. Supaya si “Take On Me” itu tidak terdengar di hari kerja.

Akhirnya, gaya hidup urban yang saya cela mulai membelit jiwa. Semua perangkat harus aktif, tidak boleh mati. Bangun pagi terasa menjadi rutin, nyalakan laptop dan hape, balas email, unduh, kerjakan. Setelah selesai, periksa, unggah, buat invoice. Saya orang yang benci keberulangan. Bagi saya keberulangan bukan tanda sukses, itu tanda “jalan di tempat, grak!” dan tidak ada yang bisa mengubah hal itu sampai tanah di bawah saya longsor dan mengubur saya beserta gaya hidup urban itu hidup-hidup.

Akhirnya saya menjadi muak dan memberontak. Perangkat beserta koneksi Internetnya harus jadi alat untuk membantu hidup (dengan asumsi bahwa hidup MEMBUTUHKAN BANTUAN KEDUA HAL ITU), bukan menjadi barang seram yang berbunyi setiap kali kita tidak ingin mendengar. Saya merasa hidup telah dirampok oleh perangkat, dan mulai merindukan saat ketika tiada orang yang bisa menghubungi saya.

Dan saya pun berusaha untuk meraih hidup itu kembali di tahun ini. Saya menyebut upaya ini “taking my life back” – walaupun sebenarnya yang sudah merenggut kebebasan itu ya saya sendiri. Saya mulai mendisplinkan diri secara terbalik – mencoba untuk tidak meraih perangkat dan menunggu beberapa detik sebelum membaca email dan obrolan. Mengenali kembali emosi ketika menonton film atau mengobrol dengan seseorang yang nyata, supaya bisa merasakan lagi apa artinya tatap muka yang bukan face time dan chat line.

Dan perlahan tapi pasti, bius gaya hidup urban yang awalnya terlihat keren itu mulai memudar. Saya mulai kembali melihat barang mahal tidak berguna yang dipajang di mall, mengamati wajah-wajah bosan nan letih di tengah macet jalanan, dan mendengarkan rintik hujan yang menggema dalam taksi. Akhirnya saya bisa kembali menikmati angin segar yang berembus menerpa wajah ketika sedang naik ojeg. Banyak yang berkata bahwa Internet adalah dunia yang lain, kehidupan yang lain – tapi untuk saya tidak ada kehidupan yang lain, hanya ini kehidupan saya. Jari yang perih ketika menggulung kawat perhiasan dan otak yang terasa diperas ketika menerjemahkan, itulah saya. Perjalanan ke pasar dan kembali, sobat lama yang menikah, sobat lama yang bercerai, kucing-kucing yang berlarian dalam rumah, pembantu yang ceroboh namun setia, semua itu yang mengisi hidup saya. Internet adalah alat yang membantu saya terhubung dengan para pemberi pekerjaan di luar sana serta teman-teman yang mungkin tidak akan pernah saya tatap wajahnya seumur hidup. Memisahkan Internet dari kehidupan yang nyata pada awalnya sulit, tapi sesungguhnya saya lahir tanpa ada Internet dan sepertinya saya bisa menjalani kehidupan selanjutnya andaikan semua perangkat dirampas saat ini juga.

Akhirnya saya tertawa membaca tulisan Kompasiana itu. Pemikiran saya seolah membuat loop, dari titik A dan akhirnya kembali ke titik A. Mungkin sudah saatnya membongkar semua tulisan-tulisan lama dan meninjau, apakah ada hal-hal yang pernah saya tuliskan dan kemudian terlupakan.

Sesungguhnya lupa itu indah dan mencerahkan 😀

 ~Bandung, 28 Desember 2015