Ibu Tuti Ruyati

Standard

Dalam beberapa bulan terakhir, saya sering berpikir tentang Ibu Tuti. Apalagi sejak ada call for reunion (yang sepertinya tidak akan saya hadiri) pada awal bulan Januari lalu dari teman-teman SMP saya dulu.

Ibu Tuti ini guru bahasa Inggris sekaligus wali kelas saya waktu SMP kelas tiga, di SMP Negeri 2 Bandung. Ibu Tuti ini bergelar guru killer. Begitu ada kabar bahwa wali kelas kami adalah Ibu Tuti Ruyati, berani sumpah saya bisa mendengar separuh kelas mengerang. Saya gak ngerti kenapa dalam hidup saya, yang namanya guru dan dosen killer itu banyak sekali mampir. Apa itu isyarat dari Yang Maha Kuasa bahwa saya ini orangnya gak disiplin? Saya sering menangisi nasib ketika masih sekolah. Saya masih ingat dosen killer yang mengajar Statistika dan Biostatistika dulu ketika masih kuliah. Ditambah dengan guru Biologi killer di SMA yang sialnya juga wali kelas saya di kelas 3. Rasanya dari dulu, setiap kali berhadapan dengan guru-guru killer ini, rambut terasa rontok semua dan kalau lupa bikin Pe-eR atau tugas, rasanya kepengen menghilang dari muka bumi.

(Rasa-rasanya dulu ada yang pernah bilang bahwa almarhum Papa saya juga dosen killer. Benarkah? Apakah ini karma ….? Hiks …. )

Cara mengajar Ibu Tuti Ruyati adalah cara yang mengutamakan disiplin keras – padahal mata pelajarannya selalu saya bawa santai (Bahasa Inggris). Suasana yang keras dan tegang setiap kali Beliau masuk kelas membuat saya kepengen lari terbirit-birit. Tulisan harus selalu rapi, Pe-eR harus selalu dibuat, dan kami harus selalu bawa “papan nama” ketika Ibu Tuti mengajar (yang efektif buat si Ibu karena Beliau bisa menyebut nama kami dalam kemarahannya jika kami ketahuan ngobrol atau ngelamun). Papan nama itu dibuat dari karton putih berukuran sekian kali sekian, dilipat menjadi tiga, dan nama ditulis menggunakan huruf cetak besar hitam di bagian depannya. Papan nama harus diletakkan di kiri depan meja. Buku yang dibawa selalu tiga buah, buku tugas, catatan, dan Pe-eR, dan semuanya harus bersampul rapi. Tiap kali ulangan, kertas yang disobek harus presisi dan diberi garis pinggir presisi dengan pensil, dan tulisan soal ulangan harus rapi dan terbaca dengan huruf yang bagus. Jika kita salah sedikit saja, nilai bisa berkurang. Bayangkan, bete sekali kan kalau nilai dikurangi satu hanya karena salah menempatkan garis pinggir??

Banyak teman yang memaki di masa SMP ini. Ibu Tuti feodal. Galak. Seram. Menakutkan. Saya ini juga termasuk anak yang sering kena marah. Entah kenapa, setiap ada figur kekuasaan, hal pertama yang terpikir oleh saya adalah untuk memberontak dan unjuk rasa. Dari mulai masuk kelas terlambat, Pe-eR yang disulap seketika ketika berada dalam kelas (bukan dikerjakan di rumah), sampai tidak bawa papan nama dan terpaksa “dibuang” ke belakang kelas oleh teman-teman, karena kalau satu anak berbuat salah, yang lain bisa menerima akibatnya alias dimarahi kolektif karena dianggap tidak mengingatkan. Oh, I have died a thousand deaths in that class. Karena itu saya sulit percaya ketika mendengar gosip dari kelas lain, bahwa nama saya disebut di depan kelas oleh Beliau sebagai satu anak yang memperoleh nilai 10 yang “sempurna” dalam ulangan. Katanya kertas ulangan saya rapi, tanpa coretan, tanpa tipp-ex, dengan garis yang benar, tulisan yang baik, dan jawabannya benar semua (dan saya baru menerima kertas ulangan itu setelah beredar di tiga kelas lain ha ha ha). Waktu itu saya sadar bahwa guru ini sebenarnya bukan killer, tapi tegas. Dan ADIL. Dan setelah peristiwa ulangan itu, saya juga tidak semerta-merta jadi anak emas Ibu Tuti kok.

Penderitaan saya tidak berhenti sampai Ibu Tuti Ruyati. Saya bisa mengakui dengan tulus bahwa masa-masa sekolah saya hingga akhirnya lulus kuliah bukanlah episode yang patut dibanggakan. Saya bukan anak ranking 10 besar, saya bukan lulusan dengan cum laude, dan saya tidak kualifight (qualified … qualified!!) untuk jadi PNS karena IPK saya kurang 2 poin. Dan saya jelas bukan anak dengan orangtua berduit yang bisa memilih untuk naik mobil pribadi ke sekolah. Masa depan saya sungguh suram di mata para guru dan dosen (dan sepertinya juga di mata kedua orangtua), karena saya malas bereaksi terhadap kehidupan sekolah kecuali terhadap guru dan dosen killer, dan itu pun karena terpaksa – karena saya juga tidak suka dimarahi.

Saya bertemu kembali dengan Ibu Tuti ketika alumni SMP Negeri 2 angkatan saya mengadakan reuni yang pertama di Bandung. Waktu itu (tahun 2009) saya menyalami Beliau dan berkata bahwa saya sedang dalam perjalanan untuk menjadi penulis. Tapi waktu itu keadaan saya sungguh buruk dari segi mental dan ekonomi. Sejujurnya mungkin saya tetap terlihat mengecewakan dan saya pun kecewa terhadap diri sendiri. Sepertinya waktu itu, andai ada yang berkata bahwa saya akan tetap menjadi ibu rumah tangga yang kerjaannya nonton sinetron dan ngegosip, kemungkinan besar saya akan percaya.

Saya baru sadar beberapa bulan lalu bahwa Ibu Tuti tidak pernah tahu bahwa saya akhirnya menjadi penerjemah. Bahwa sikap killernya itu telah membentuk satu nilai tidak terpatahkan dalam diri saya: determinasi dan tekad – yang awalnya dilakukan karena takut dimarahi, kemudian karena takut mengecewakan, dan akhirnya dijalani tanpa berpikir panjang lagi, karena telah meyakini bahwa itu adalah hal yang benar. Banyak yang bertanya kepada saya, kenapa saya bisa tahan meniti profesi ini sampai larut malam. Kenapa saya bisa dan mau tidak tidur dua sampai tiga hari untuk menyelesaikan dokumen, dan kenapa hasilnya selalu saya jaga dan pertahankan mati-matian agar tidak jauh-jauh dari kata “sempurna”. Kenapa? Karena Ibu Tuti. Karena Beliau berhasil menanamkan determinasi dan tekad hanya dalam waktu setahun, di tengah perkembangan saya sebagai jiwa yang kalut, pemalas, bodoh, dan tidak punya tujuan. Dan ajaran Beliau itu dorman, seolah tidak membekas, tapi tahu-tahu muncul when I needed it the most.

Kalau kamu bisa dapet nilai sempuna, jangan kecewakan dirimu dengan berbuat kurang dari itu. Selalu kejar nilai 10 itu. Jangan buat Ibu kecewa karena kamu malas …. dan jangan buat dirimu kecewa karena sebenarnya you are more than this

Tahun lalu saya melakukan the unthinkable yaitu berpartisipasi dalam penerjemahan novel klasik. Kalau saya boleh memberi peringkat dalam kesulitan menerjemahkan, novel/cerita klasik itu benar-benar takes the cake. Dan selama proses menerjemahkan itu saya selalu ingat Beliau. Apa yang akan dikatakan Beliau jika membaca naskah terjemahan saya? Mampukah saya mencapai kesempurnaan itu – yang sekarang bukan dinilai oleh Beliau tapi oleh diri sendiri? Sebelumnya saya menjalani profesi sebagai penerjemah dengan pemikiran bahwa saya harus bisa meneruskan profesi warisan ini menjadi sesuatu yang lebih kekinian. Tapi ketika saya akhirnya menyentuh ranah yang tidak tersentuh oleh orang lain (bahkan oleh orangtua saya sendiri) – ketika dokumen yang saya terjemahkan sudah mencapai jutaan lembar – saya sadar bahwa saya sendirian. Dan hidup serta kematian saya dalam profesi ini ditentukan oleh segelintir bekal yang saya bawa ketika memulai: determinasi, tekad, rasa segan karena takut mengecewakan, dan tanggung jawab untuk menyerahkan hasil yang benar.

Saya tidak berencana untuk datang ke reuni kedua nanti. Saya sudah menjadi orang yang membagi kebahagiaan dan kesedihan dalam bentuk yang sangat pribadi – dan saya merasa bahwa prestasi saya ini (jika mau disebut prestasi) adalah hal yang tidak usah diketahui teman-teman lama saya. Mereka yang tahu tentang saya tidak pernah memerlukan reuni untuk mengenali saya – dan mereka adalah teman-teman yang ada di hati dan tidak pernah beranjak sejak pertama kali saya mengenal mereka.

Tapi mungkin Ibu Tuti harus tahu … bahwa sikap Beliau dalam mengajar, ketegasannya, dan kedisiplinannya yang telah membuat saya menderita a thousand deaths, berhasil mengantar saya untuk ada di sini, hari ini, saat ini, untuk menjadi seorang penerjemah ….

… yang tidak akan pernah berhenti dalam mencapai kesempurnaan.

 

I will die a thousand deaths first before giving up.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s