Habis Manis Sepah Dibuang

Standard

Kemarin, saya bertemu dengan kakak saya dan kemudian dia bercerita tentang peristiwa yang dialaminya. Singkat kata, dia membantu salah seorang kerabat kami untuk mempromosikan produk buatannya secara online, dan ketika promosi ini sudah mulai berhasil, si kerabat menolak membayar upaya kakak saya dalam bentuk uang (yang sebenarnya sangat di bawah standar untuk content writer dan ad promoter) – bahkan protes ketika kakak saya minta persenan dari hasil penjualan produknya, dengan alasan bahwa kakak saya sudah dibayar “terlalu besar”. Akhirnya kakak saya memutuskan untuk memberi waktu tenggang sebelum melepas proyek itu secara keseluruhan – dan itu akan dilakukannya dalam waktu dekat ini.

Saya ingat bahwa topik percakapan kami bukan berputar di bayaran (jumlah uang) yang seharusnya diperoleh kakak saya, tapi tindakan arogan dari si kerabat yang berpikir bahwa dia sudah sepantasnya menuai sukses ini dan kakak saya hanya berperan kecil dalam membantu untuk mewujudkan semuanya. Sedangkan saya tahu bahwa mekanisme berjualan online tidaklah sesederhana itu – produk bagus belum tentu laku, sama seperti halnya penerjemah bagus belum tentu akan kebanjiran proyek. In the end, it was all about how to sell. Karena itu saya geram mendengar cerita ini. Saya tahu benar bahwa pemasaran adalah bagian tersulit dari proses penjualan produk, terbukti dari puluhan restoran enak yang gulung tikar di Bandung karena tidak bisa memasarkan jasanya, dan yang laku malahan mereka yang membuat produk makanan tidak terlalu enak tapi promosi kencang di Instagram. Yang teriak paling kencang dan paling sering di medsos, itulah yang dilirik.

Saya menerapkan banyak sekali ilmu pemasaran (hasil baca buku, hasil pengamatan, hasil riset, dan juga hasil kursus gratis dari bahan terjemahan) ketika menjual jasa sebagai penerjemah. Dan sebenarnya ilmu pemasaran adalah ilmu yang menyenangkan dan segar. Saya belajar pemasaran selama 6 tahun lebih sebelum akhirnya berani memasarkan jasa penerjemahan. Jadi ya, saya tahu seluk beluknya, kurang lebih demikian. Karena itu saya paham perasaan content writer yang kerjaannya ditawar atau bahkan dianggap gratis karena dianggap bukan sebagai elemen penting.

Setelah kakak saya bercerita dan akhirnya kami berpisah, saya merenung dan menilik, apakah saya pernah melakukan itu kepada orang lain? Habis manis sepah dibuang, dan menganggap bahwa semua yang saya terima saat ini adalah wajar? Saya dengan hati-hati menilik semua yang sudah terjadi dari mulai saya memutuskan untuk bekerja sebagai penerjemah agensi hingga detik ini, dan gilanya memang yang membantu saya untuk bisa ada di sini sudah berjumlah ratusan orang. Dari mulai yang sabar mengajari saya sampai yang meminjamkan uang untuk bertahan hidup. Dan kemudian sebagai layaknya manusia, saya mulai beranjak dari diri dan melihat ke sekitar. Apakah ada orang di sekitar saya yang menganggap bahwa mereka layak mendapatkan kesuksesan? Bahwa semua yang mereka peroleh itu melulu hasil kerja keras sendiri saja, dan bahwa tidak ada orang lain di belakang layar yang memanggul mereka agar bisa terlihat oleh publik?
Dan saya pun terhenti di situ …
Karena ternyata yang menganggap bahwa mereka layak mendapatkan kesuksesan dan tidak pernah merasa dibantu oleh orang lain pun banyak jumlahnya. Padahal saya tahu benar siapa mereka sebelumnya.

Oh, jadi ternyata habis manis sepah dibuang itu wajar.

Kacang lupa kulitnya juga wajar.

Seperti orang yang mengaku-ngaku sebagai ahli padahal dia belajar ilmu itu dari orang lain.
Atau orang yang mencontek metode orang lain, dan kemudian dengan senang hati menempelkan namanya sebagai penemu metode itu dan memberi gelar mentor kepada dirinya sendiri.
Atau orang yang merasa hidupnya sukses, padahal selama ini dia sudah makan dari belas kasihan orang lain karena sesungguhnya dia dinilai tidak mampu untuk menjadi pekerja yang baik.

Ah, sudahlah.
Jangan jadi seperti itu ya.
Sadar diri lah sedikit, kamu tidak akan jadi siapa-siapa kalau orang pertama dalam kehidupan profesional kamu tidak memberi pekerjaan 6 tahun yang lalu.
*ngomong sambil ngaca*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s