(I) Kenangan Mega Project: Menolak Lupa

Standard

Saya selalu maju mundur untuk menulis soal ini. Alasan pertama adalah karena ini sudah lama berlalu dan saya berpikir bahwa sudah banyak yang tahu tentang apa itu mega project terjemahan dan saya memperkirakan bahwa sudah banyak yang menangani volume yang sama. Ternyata setelah saya pikir-pikir, sebenarnya banyak hal yang bisa dijadikan pembelajaran dari pekerjaan ini (dan supaya saya terus ingat), dan saya menyadari bahwa saya pun sudah hampir lupa.

Jadi saya akan menuliskannya, sebagai gerakan menolak lupa ala-ala saya.

Mega project terjemahan yang pernah saya ikuti dimulai pada akhir tahun 2010. Saya pernah menulis di salah satu blog saya, bahwa waktu itu the rest was history. Mungkin ada yang berpikir bahwa dari mega project ini saya (dan dua belas penerjemah lain pada waktu itu, dengan kepala proyek pertama yang adalah Bunda Senior yang akhirnya juga menjadi mentor saya) menjadi kaya raya. Rezeki nomplok, mungkin begitu pikiran orang-orang. Di satu sisi memang hasil pekerjaan ini adalah rezeki tidak habis-habis (sekarang pun masih ada sisanya setelah 5 tahun berlalu), tapi di sisi lain, apa yang saya korbankan juga sepadan bahkan mungkin berlebihan – saya memberikan hampir segalanya untuk bisa menyelesaikan proyek terjemahan itu, dan akhirnya saya pun menyerah setelah umur proyek melewati satu tahun.

Saya tutup mulut lama sekali soal ini, dan membiarkan ide dan kenangan indahnya terus bergulir sehingga hampir-hampir menjadi mitos. Hanya segelintir teman saya yang tahu tentang keadaan yang sebenarnya. Jika saya tinjau sekarang, ada beberapa hal yang saya sesali, dan ada yang tidak. Tapi yang jelas, jika diberi kesempatan untuk mengulang semuanya, mungkin saya akan melepaskan pekerjaan itu jauh-jauh hari, sama ketika saya melepaskan kerjaan bergengsi saya untuk menjadi pengulas terjemahan di Search Engine super terkenal.

Saya mulai dengan menjadi penerjemah yang berniat untuk bergabung mengerjakan mega project ini, dan menutup pekerjaan ini dengan posisi sebagai pengelola proyek. Saya akan coba ceritakan kronologinya dengan hati-hati, maafkan jika ada yang ingat sesuatu dan ternyata sudah terlewat, saya hanya mampu mengingat sekian banyak dan e-mailnya pun sudah banyak yang saya hapus. Sebagai catatan, setelah diterima untuk bergabung dalam proyek pertama ini, saya mendapatkan proyek kedua yang tidak kalah besar dan jauh lebih sulit dalam hal materi bahasa. Bisa dibilang bahwa perkembangan saya sebagai penerjemah ini “dikarbit” karena saya dihajar habis-habisan oleh situasi. Saya dipaksa untuk menganalisis, bergerak, dan bertindak beberapa langkah ke depan karena situasi proyek ini jauh dari normal – dan dipikir-pikir, proyek saya tidak ada yang benar-benar “normal”, ha ha *ketawa miris*.

Merangkum semua yang terjadi dalam satu tahun tidaklah gampang. But somebody gotta do it, dan saya pikir orang yang paling tepat adalah yours truly. Proyek yang diawali dengan niat baik ini berubah menjadi situasi serius ketika saya ditawari untuk bergabung dengan proyek lain, dan saya berada di posisi yang wajib mempertahankan semua klien karena keadaan CV saya sungguh kering. Dan kemudian situasi menjadi super serius ketika saya menerima e-mail yang berisi pengalihan tugas untuk menjadi pengelola proyek terjemahan ini, dan sejak itu saya mulai main akrobat, main api, main kewarasan, dan melakukan segala yang bisa saya lakukan untuk memperjuangkan hanya dua hal: tenggat dan bayaran. Yang terakhir itu adalah kegentingan enam bulan yang saya perjuangkan sampai akhir, dan akhirnya pekerjaan kami lunas dibayar pada awal tahun 2012. Semuanya, total kurang lebih 800 juta rupiah, 400 juta pertama dibagi dengan dua belas orang, dan 400 juta berikutnya dibagi dengan lima belas orang.

Tulisan ini akan saya bagi dalam beberapa bagian karena tulisan intinya sendiri berjumlah sekitar lima ribu kata. Saya pikir, ketimbang saya janji-janji menulis cerita bersambung yang akhirnya gak nyambung-nyambung, lebih baik saya sekaligus menulis dalam satu hari hingga malam dan memilah-milahnya nanti. Dalam cerita ini banyak cerita sampingan, dan kebanyakan cerita sampingan itu adalah hal-hal yang membuat saya menjadi yang sekarang ini.

So sit back, relax, and read …. this is my history.

Up Next: The Power of Kepepet

 

 

 

6 responses »

  1. “Cerita penggoda” aja udah sempat dikira inti ceritanya. Kalo pun nanti terus berkembang sampe kayak sinetron Tersanjung, saya siap tekun menuntaskannya😀

  2. Gile cuey… nominalnya kesebut. hehehe
    Berati gak salah nerka dulu kayaknya. Kalau salah satu penerjemah mesin pencari terkenal ada teman-teman dari hpi.
    Nungguin ah.
    Yang begini-bgeinian gak mungkin kebahas di grup.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s