(II) Kenangan Mega Project: The Power of Kepepet dan Brute Force Typing

Standard

Berhentilah sejenak untuk menarik napas dan mengagumi jumlah Rp. 800.000.000,00 yang diperoleh “hanya” dari tulisan kata-kata di layar komputer.

*Plakkkk!!!!*

Itu tamparan sandal saya yang mendarat di pipi Anda untuk mengingatkan bahwa uang bukan segalanya. Somebody had to die a thousand deaths to get them. Sejak mega project itu, saya sadar bahwa kesalahan pertama yang bisa dilakukan penerjemah adalah untuk fokus pada tulisan angka yang ada dalam PO (Purchase Order), dan mengabaikan segalanya termasuk topik dan tenggat penyelesaian. Sekarang saya sudah tidak mata duitan karena sifat mata duitan saya harus dibayar mahal berulang kali. Waktu itu keadaan keluarga saya sungguh minus sedangkan kami punya banyak cita-cita dan aspirasi yang hanya kekurangan satu hal: uang.

Saya akan memulai tulisan ini dengan bercerita tentang kapasitas saya. Sebelum mencari kerja secara mandiri, saya bekerja di suatu agensi penerjemahan lokal – sebut saja namanya agensi X – yang selalu memberi tugas untuk menerjemahkan buku teks (yang diserahkan kepada saya dalam bentuk fotokopi). Karena saya berusaha untuk memperoleh bayaran yang besar, saya berusaha meningkatkan kapasitas penerjemahan saya sejak tahun 2002 (karena bayaran agensi X yang kecil, hanya Rp. 7.500,00 per halaman jadi dengan spasi 1,5 dan huruf TNR ukuran 12). Kapasitas penerjemahan saya naik dari mulai tiga halaman teks sumber (buku teks dua kolom, ukuran huruf 8) menjadi 10 halaman sumber dan sejak itu saya mentok di situ. Sepuluh halaman sumber kira-kira menjadi 20 halaman terjemahan, lumayan sekali bisa menghasilkan Rp. 150.000,00 sehari, yang berarti adalah 1 juta seminggu. Saya tidak pernah punya masalah dengan manajemen waktu karena terjemahan adalah satu-satunya yang bisa saya lakukan waktu itu. Dua puluh halaman terjemahan itu tidak pernah saya kerjakan seharian, hanya di waktu pagi dan kadang-kadang malam hari. Jadi bisa dipahami bahwa ketika saya mulai mencari pekerjaan secara mandiri (tidak lagi bekerja untuk agensi X), saya sudah terbiasa mengandalkan kecepatan dengan brute force (alias main hajar secepat-cepatnya) untuk menyelesaikan pekerjaan terjemahan.

Lowongan untuk mega project dibuka oleh Bunda Senior pada sekitar bulan November 2010 (kalau tidak salah). Sebenarnya waktu itu suami saya yang melamar duluan tapi lamarannya tidak kunjung dijawab. Saya membayangkan bahwa waktu itu pasti ada puluhan penerjemah yang melamar, karena itu saya urung. Saya tidak mau bersaing dengan suami sendiri, sampai akhirnya suami saya mendesak agar saya mengirimkan lamaran juga, karena lamaran dia sendiri tidak kunjung dijawab.

Akhirnya saya mengirimkan lamaran dan syarat bahwa file contoh harus diterjemahkan menggunakan Trados 2007 saya penuhi dengan baik. Jangan salah – saya enggak terlalu bisa kerja pake Trados 2007. Waktu itu CAT tool andalan saya masih Word Fast, dan saya selalu didesak oleh (almarhum) Papa untuk mempelajari Trados, tapi saya malas karena tampilannya yang samasekali tidak aduhai dan cara kerjanya yang ribet punya. Jadi saya hanya menggantang-gantang asap saja ketika saya berkata bahwa saya bisa menggunakan Trados 2007 – saya bisa, cuma tidak begitu lihai. Saya juga masih pakai perangkat lunak Trados bajakan, what do you expect dari perangkat lunak bajakan yang crash setiap kali salah tekan command? Modal untuk ngetik juga cuma netbook Acer yang harganya 3 jutaan. Tapi satu nilai yang dimiliki oleh kebanyakan orang yang butuh duit desperately adalah the power of kepepet. Saya crash course Trados 2007 hanya dalam waktu setengah jam, saya baca-baca commandnya dan kemudian mulai menerjemahkan tes terjemahan. Ingat, saya punya kecepatan – mengetik cepat tidak masalah untuk saya dan tambahan command Ctrl + Enter tidak menjadikan saya super lemot. Akhirnya saya mengirimkan contoh terjemahan beserta surat lamaran, and I did not think about it any further.

Mengapa?

Karena saya sudah biasa tidak berharap. Saya pernah kerja di agensi lokal lain – sebut saja agensi Y – dan akhirnya mereka sempat wanprestasi bayar selama hampir enam bulan – andaikan saya tidak menagih sambil bawa-bawa nama senior dan ancaman publikasi, mungkin saya tidak akan pernah dibayar. Waktu itu tagihan total saya ke agensi Y ini sudah mencapai 5 juta rupiah, jumlah yang sangat luar biasa untuk orang yang “gak punya penghasilan” seperti saya dan suami. Saya sudah biasa berpendapat bahwa orang pasti kabur, lamaran pasti tidak diterima, dan saya tidak usah berharap. Lagipula saya tidak mengikuti utas soal pembahasan mega project terjemahan itu di Bahtera. Saya tidak tahu harus berharap apa.

Di suatu hari Rabu yang cerah, ketika saya dan suami sedang berjalan-jalan di mall PVJ, saya menerima SMS dari Bunda Senior tempat saya mengirim lamaran, dan beliau meminta saya stand by untuk menerima pekerjaan. Ternyata proyek itu sudah berjalan dan tenggatnya padat. Saya dan suami diterima dengan syarat bahwa kami harus online di Yahoo Messenger untuk menerima bahan diskusi dan arahan selanjutnya. Saya dan suami pulang dan kemudian mengerjakan bahan terjemahan yang dikirim via e-mail.

Ingat-ingat lagi … kecepatan dengan brute force dan the power of kepepet.

Ketika saya mengirim kembali hasil pekerjaan, tiba-tiba Bunda ini memberi dua file lagi, dengan permintaan maaf karena harus selesai malam itu juga. No problemo, Bunda. Saya dan suami masing-masing mengerjakan empat-lima file malam itu. Tak dinyana sang Bunda mengatakan bahwa saya adalah her savior. Rupanya saya adalah segelintir dari orang yang berhasil kirim hasil dengan salah minimal malam itu, dan beliau sangat berterima kasih hingga akhirnya saya dan suami diterima untuk ikut serta dalam mega project ini.

Catatan: Saya sungguh bangga dengan kecepatan mengetik saya, lho. Sampai sekarang saya masih bisa mengerjakan 5 ribu – 7 ribu kata dalam sehari, asalkan materinya saya sukai. Saya sering memasang lagu klasik dan mengkhayal bahwa saya sedang bermain piano gaya Mozart atau apa lah sembari mengetik. Karena itu, kapasitas harian yang saya sediakan selalu besar, dan sampai saat ini jatah saya per agensi penerjemahan adalah tiga ribu kata sehari. Ini berarti bahwa kalau ada tiga agensi yang mengirimkan kerjaan full capacity, saya bisa full booked hanya sehari saja. Dan saya masih bisa menyelipkan pekerjaan kecil-kecil untuk jajan batu dan kawat. Jadi hidup secara umum menyenangkan bagi saya.

Tapi waktu mega project ini dimulai, saya masih tidak tahu berapa banyak kata sebenarnya yang kami bicarakan, karena menurut saya seratus ribu kata sekali pun sudah banyak sekali.

Sampai akhirnya, saya diberi tembusan invois keesokan paginya.

 

10 responses »

  1. Kayaknya soal duit paragraf pertama sambungan dari cerita sebelumnya deh. hehehehe

    Kalau trados 2007 jadul berati trados 2014 cantik dong tampilannya.
    Keren ceritanya. Kemarin sudah nungguin loch cerita sambungannya.

    Lagu yang disetel pas nerjehin itu, biasanya pakai radio online. Kalau internet lagi sekarat, biasanya setel lagu rock.

    Bener, sekarang sudah gak ngeliat nominalnya. Sekarang sudah liat bisa apa enggak dikerjain dengan waktu normal.😀

    • Memang iya Id, itu sambungan dari yang kemaren, karena kalau disatu-satuin ini bisa jadi cerita panjang banget hahahaha. Betul, trados 2014 lebih cantik tampilannya walaupun pusingnya beda jurusan.
      Sambungan tiap hari diposkan. Ini cerita panjang yang dipotong-potong, jadi memang harus baca pertama dulu, gak bisa baca di tengah-tengah hahahaha.

      Soal lagu … well, di sini kalau udah pusing deadline, dengernya techno dan rave. Kalau penuh ilham, dengernya klasik wkwkwkwk.

  2. Pingback: (I) Kenangan Mega Project: Menolak Lupa | What's On My Mind

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s