Monthly Archives: September 2016

(VI) Kenangan Mega Project: It Ain’t Over Until It’s Over

Standard

Kami istirahat dari mega project selama satu bulan penuh. Sementara itu saya melakukan sedikit jalan-jalan ke berbagai situs portal penerjemah dan menemukan bahwa reputasi agensi Z sesungguhnya telah sangat buruk karena wanprestasi berulang kali terhadap penerjemah, terutama yang bayarannya besar.

Pada sekitar bulan Agustus 2011, pekerjaan penerjemahan game dihentikan karena adanya konflik internal dalam masalah keterjualan produk terjemahan itu. Hari ketika saya menerjemahkan game itu untuk terakhir kalinya adalah hari yang sangat menyedihkan. Delapan bulan di sana merupakan delapan bulan yang paling membahagiakan dalam hidup saya – e-mail tugas penerjemahan game adalah e-mail yang paling saya tunggu dan saya selalu mengerjakan semuanya dengan gembira. Sebaliknya, mega project yang kembali jatuh ke tangan saya setelah “berkeliling” ke agensi-agensi lain terasa makin menyebalkan, makin membuat minat surut, dan makin membuat kesal, karena kami tak kunjung dibayar.

Fase terakhir dari mega project itu adalah koreksi translation memory vs file aktual yang akan digunakan untuk memperbarui tampilan di situs web portal hotel, dan oleh karena itu saya harus mencari sejumlah kesalahan yang sangat kecil dan tidak berarti untuk kemudian diperbaiki dan dikirim kembali ke agensi Z. Ini adalah pekerjaan yang sungguh menyebalkan, bahkan untuk penerjemah paling jeli sekali pun. Tim masih terus mendapatkan pekerjaan menerjemahkan tapi fase koreksi akhir ini membuat saya gila. Bayaran yang terus tertunggak membuat saya gila. Sampai akhirnya saya membuat keputusan yang lebih gila lagi, yaitu untuk berhenti mengerjakan mega project ini secara permanen.

Pemutusan hubungan kerja ini menempatkan saya di posisi sulit: di depan tim saya, dan di depan PM agensi Z. Setelah berdebat terus dengan PM agensi Z, saya harus menerangkan kepada anggota tim mengenai alasan saya berhenti. Waktu itu saya dirundung ketakutan bahwa invois pekerjaan ini akan mencapai biblical amount yang tidak mungkin bisa dibayar oleh agensi mana pun – dan jika demikian adanya, maka agensi Z akan lari. Kepercayaan saya kepada mereka sudah menipis karena maraknya informasi di internet mengenai kinerja mereka dalam pembayaran, dan saya merasa bahwa saya harus menyelamatkan whatever’s left of me, and other translators, by quitting the job.

And so I did.

Sebelum saya berhenti, saya telah mencari-cari tim penerjemah lain yang kira-kira sanggup menangani tipe pekerjaan seperti ini dan saya menemukan satu teman yang memiliki agensi penerjemahan lokal nun jauh di sisi Jawa sana. Saya menilai kinerja teman ini baik dan daya persuasi dia tinggi, karena itu dia mungkin lebih bisa memperlancar bayaran ketimbang saya. Akhirnya saya rekomendasikan nama teman ini dan saya minta agensi Z menghubungi dia saja, sementara saya menunggu pelunasan pembayaran.

Apa urusannya selesai sampai di sini? Tentu tidak.

Sejak saya berhenti bekerja untuk agensi Z, akuntan agensi itu telah berganti hingga dua kali dan saya makin sulit menagih. Akhirnya diam-diam saya menghubungi seorang pengacara dan berkonsultasi mengenai probabilitas penuntutan agensi Z. Jujur? Buruk. Posisi mereka yang di Singapura dan pemberian kerja tanpa kontrak yang jelas sudah membuat masa depan pembayaran ini menjadi sangat suram. Saya simpan informasi ini karena saya pikir saya masih punya kartu As walaupun hanya dua gelintir. Saya telah berkonsultasi ke pengacara dan prospeknya buruk – tapi agensi Z tidak perlu tahu ini.

E-mail terakhir yang saya kirimkan kepada agensi Z bersifat singkat, padat, disertai lampiran invois tertagih yang sudah dilampirkan puluhan kali sejak saya berhenti bekerja untuk mereka. Saya berkata dengan nada sangat sederhana: tidak bayar, saya tuntut ke pengadilan. Prospek masa depan kalian akan suram jika saya menuntut – karena saya menuntut demi keadilan. Mau saya bertindak sampai sejauh itu? Jika tidak, mohon bayarkan semuanya. Saya menunggu jawaban kalian.

Dua hari kemudian e-mail saya ditanggapi oleh akuntan (baru) dan dia berkata bahwa karena jumlah yang besar, agensi Z akan melakukan pencicilan sebanyak tiga kali, dengan jarak masing-masing cicilan dua bulan. Terbayang oleh saya bahwa andai kami tidak berhenti tepat pada waktunya, invois ini benar-benar tidak akan terbayar. Akhirnya saya membuat skema pembayaran dan setiap ada pembayaran, saya mengikuti skema itu sampai akhirnya pembayaran sisa mega project sebesar kira-kira 200 juta rupiah lunas pada tahun 2012 untuk semua penerjemah.

Setelah mega project ini berakhir, saya dan sisa teman-teman tim masih sering berhubungan. Akhirnya saya menyadari bahwa saya lelah, dan saya hanya bisa bekerja dengan beberapa orang saja – karena penanganan tim sebesar 15 orang terasa sangat berat bagi saya, apalagi ketika saya harus melakukan checking dan moral support sendirian. Akhirnya saya “berpisah jalan” dengan sebagian besar dari mereka.

Dari pengalaman ini, saya belajar banyak tentang apa arti teamwork dan cara-cara untuk mempertahankan konsistensi hasil terjemahan dari awal hingga akhir. Sampai sekarang saya masih agak trauma soal wanprestasi pembayaran sehingga saya tidak berani membagi pekerjaan dengan orang lain ketika pembayaran dan prospek agensinya sendiri belum jelas. Yang saya lakukan adalah bekerja bersama agensi itu selama kira-kira satu tahun dan jika selama itu kinerja mereka terlihat baik, barulah saya merekomendasikan orang lain untuk masuk ke agensi itu.

Jadi, enggak, saya tidak tergiur lagi dengan jumlah kata, jumlah bayaran, yang saya tilik pertama kali adalah siapa pemberi pekerjaan, seperti apa bentuk pekerjaannya, dan bagaimana prospek pembayarannya. Jadi inilah alasan kenapa saya bisa berkata bahwa saya mengerjakan lima puluh ribu kata dan tidak membaginya dengan siapa pun. Saya sudah biasa berjudi dengan nasib tapi saya tahu tidak semua orang sanggup melakukannya. Dan jangan lupa juga bahwa ada beberapa jenis pekerjaan yang memang tidak bisa dibagi-bagi, melulu karena konsistensi yang harus dicapai adalah 100 persen dan membagi pekerjaan berarti menumpukan beban 100 persen kepada si penerjemah utama yang merangkap jadi editor/sweeper – itu adalah permintaan yang sangat berat untuk beberapa orang (dan kadangkala bagi saya).

Saya menyamarkan nama-nama agensi di sini bukan karena saya takut pekerjaan saya direbut, tapi sebagai perjanjian etika saya dengan agensi-agensi penerjemahan tersebut, terutama dengan agensi Z, karena saat itu saya berjanji sepenuhnya bahwa kejadian wanprestasi pembayaran ini tidak akan saya bongkar di mata publik demi reputasi mereka, asalkan mereka membayar lunas semua tunggakan invois kami. Saya tidak akan merekomendasikan siapa pun untuk masuk agensi Z (kecuali jika kinerja mereka telah membaik), tapi saya juga tidak akan melarang siapa pun untuk bergabung dengan agensi Z. Dan karenanya pula, saya cuma bisa menyarankan bagi mereka yang berencana untuk mengambil mega project, baik dengan tenggat nyangkuriang atau pun dengan tenggat masuk akal: tilik kinerja klien, dan bersiaplah untuk mengeluarkan persenjataan lengkap ditambah bazooka dan kalau perlu bom waktu, ketika mereka gagal membayar. Ketahui alamat klien, nomor telepon, siapa bos di atasnya, siapa akuntannya. Dari sisi internal, dinamika dan keharmonisan tim harus dijaga dari awal sampai akhir, sehingga kita benar-benar harus percaya kepada mereka, kebal gosip, kebal intimidasi, dan sekaligus melakukan moral support supaya proses kerja menjadi nyaman untuk semua orang.

Sebagai tips terakhir, walaupun terdapat kontrak hitam di atas putih, sesungguhnya pembayaran penerjemah itu melulu didasarkan oleh itikad baik klien karena ternyata kontrak semacam ini tidak bisa digugat semudah itu.

Inilah cerita saya yang teramat panjang mengenai mega project terjemahan satu juta kata.

I have pulled out the impossible.

At the cost of a number of things that I ain’t gettin’ back.

~Bandung, 26 Agustus 2016
Ditulis oleh salah satu penyintas mega project terjemahan Asiarooms dot com

(V) Kenangan Mega Project: Strategi, Demoralisasi

Standard

Sebagai gambaran untuk para penerjemah yang mungkin berminat mengerjakan mega project, kerja tim yang baik adalah ketika pekerjaan bisa dilakukan hampir bersamaan. Seratus lima puluh ribu kata bisa terasa ringan jika dibagi untuk sepuluh orang, dengan beban tujuh puluh lima ribu kata untuk satu orang editor. Waktu itu akhirnya saya menciptakan sistem bertingkat untuk mega project ini, yaitu: sepuluh orang penerjemah, dua orang editor (saya merekrut satu lagi editor), dan satu editor sweeper. Menurut saya ini sistem yang efektif. Saya sebagai pengelola proyek/sweeper bertugas untuk mengontrol proses penerjemahan dan penyuntingan, kemudian menerima hasil akhir yang tinggal saya baca ulang dan konfirmasi (dan pertanggungjawabkan). Sistem ini terasa sangat indah dan ideal, sampai akhirnya saya menemukan “kekurangan” sistem yang akhirnya berbalik menyerang tim ini:

  1. Tidak semua orang bisa meningkatkan kapasitas menjadi lima ribu kata per hari. Kapasitas penerjemah yang umum adalah 1000-2000 kata per hari dengan hasil optimal dan bisa dipertanggungjawabkan. Brute force akan dibarengi dengan penurunan kualitas. Dan pekerjaan ini membutuhkan keluaran sebesar 5000-7000 kata per orang, setiap hari, selama dua hingga tiga hari.
  2. Karena adanya beban pikiran bahwa pekerjaan mungkin tidak dibayar tepat waktu, anggota tim mengambil pekerjaan lain sehingga terpaksa meningkatkan kapasitas hingga dua kali lipat. Mereka jadi cepat lelah mental dan fisik, sumbu pendek. Tenggat terbengkalai, kualitas terbengkalai.
  3. Pengelola proyek harus sangat jeli menilai gaya bahasa. Tidak semua tipe terjemahan bisa dibagi, dokumen dengan uraian panjang-panjang akan membuat perbedaan gaya bahasa terlihat sangat mencolok. Penerjemah harus diberi terjemahan yang membuatnya merasa nyaman agar gaya bahasanya tidak berubah, dan editor harus konsisten memegang hasil penerjemah yang sama agar dia bisa lebih cepat menyunting.
  4. Kerja tim tidak bisa dibarengi dengan rasa curiga dan kesal, terutama ketika kita merasa bahwa pengelola proyek menyembunyikan fakta/tidak transparan dalam soal pembayaran dan jumlahnya, posisi klien akhir, posisi agensi, dan jumlah pekerjaan yang sebenarnya. Faith upon each other itu sangat penting, dan oleh karena itu tidak boleh ada yang disembunyikan.

Camkan empat faktor yang sangat penting ini ketika bekerja bersama para pekerja lepas waktu lain yang tidak diikat oleh gaji. Dan saya melihat akibat dari satu demi satu poin di atas. Hal paling pertama yang mulai kami alami adalah satu dua orang yang mulai sakit, dan satu orang penerjemah sampai terkena tekanan darah tinggi. Dia tidak punya pengganti – dan bisa diduga, terjadi domino effect. Penerjemah lain “kecipratan” beban dia, editor seolah nyaman karena hanya menyunting terjemahan satu dua orang yang gaya bahasanya sama, tapi karena sumbu sudah pendek, tenggat sering terbengkalai dan kualitas pun akhirnya ke laut sudah.

Dalam waktu 4 bulan kami bergiliran sakit. Saya bisa dengan bangga mengatakan bahwa saya yang terakhir jatuh sakit, tapi saya pun curiga itu karena mentalitas saya yang memang nekat. Saya tidak sakit parah, tapi setiap kali ada feedback dari pengulas terjemahan, saya merasa panas dingin. Kualitas terjemahan selalu dan selalu di bawah standar, saya merasa curiga bahwa pengulas ini memang keji atau cara kerja saya yang tidak berterima untuk sistem.

Dulu saya juga buta spesifikasi, dan hampir-hampir buta CAT Tools. Selama dua proyek itu berlangsung, saya tidak pernah berpikir untuk membeli super computer atau mengganti CAT Tools dengan yang asli. Semua itu seolah jauh dari benak saya, sampai akhirnya Bunda Senior menyarankan bahwa saya harus mulai mengganti Trados 2007 bajakan saya dengan perangkat lunak asli. I got the money, why the hell not? Akhirnya saya membeli perangkat lunak Trados Studio 2009 dengan bonus Trados 2007. Saya juga mulai menderita mata baur dan punggung yang panas setiap kali saya menerjemahkan, dan saya dirundung ketakutan bahwa satu dari tiga hal akan terjadi: perangkat lunak crash permanen, atau netbook saya mutung permanen (netbook sudah tidak pernah mati lagi sejak saya menjalankan dua proyek), atau koneksi internet mati permanen. Akhirnya ketika saya dibayar untuk pekerjaan game, saya mengganti netbook dengan laptop yang lebih baru. Dan akhirnya saya berlangganan internet fixed line, karena penerjemahan game membutuhkan kegiatan online dengan streaming yang stabil selama berjam-jam.

Dari dulu saya sudah terbiasa mengejar sesuatu yang seolah tidak berfaedah tapi yang jelas motivasi untuk membahagiakan tim penerjemah sangat kuat waktu itu. Saya tidak peduli dengan ketenaran tapi saya akui bahwa keteguhan saya terhadap komitmen ini mulai membahayakan diri sendiri. Teman-teman dekat saya mulai mengkritik gaya kerja saya yang seolah tanpa akhir, keluarga saya mulai terasa jauh. Saya berhenti memasak dan kami makan makanan pesan antar. Saya mulai bertanya-tanya, untuk apa saya melakukan ini semua?

Saya terus bekerja siang malam sampai akhirnya ketika rumah kosong, saya sibuk mengerjakan sesuatu dan melihat kilasan warna jingga di layar laptop. Ketika saya menoleh ke belakang, saya melihat api membumbung tinggi dari dalam wajan yang saya tinggalkan dengan kompor menyala selama bermenit-menit. Api berhasil dipadamkan, tapi saya mulai merasakan demoralisasi. Saya mengejar ini semua … untuk apa? Bertahan di tengah semua pekerjaan yang tak kunjung habis ini … untuk apa?

Saya merasa mual.

Akhirnya di suatu malam hari, saya pergi menyepi di sudut di teras rumah, dan menangis sesenggukan, sendirian.

Sekitar bulan Mei 2011, saya menghubungi agensi Z dan mengatakan bahwa SEMUA penerjemah sakit. Kami tidak bisa melanjutkan, dan saya sangat enggan untuk melanjutkan dengan kondisi fisik kami yang sudah didera habis-habisan setiap bulannya. Agensi Z memperbolehkan kami istirahat dengan berat hati, dan selama itu saya berusaha untuk terus menguangkan invois yang terus menumpuk hingga belasan ribu dolar. Satu demi satu anggota tim mulai mempertanyakan ke mana bayaran itu pergi, dan akhirnya saya memutuskan untuk menghentikan kerja sama dengan beberapa di antaranya karena mereka memang tidak bisa menahan beban mental yang besar karena bayaran tidak kunjung tiba. Penerjemah menggantungkan hidupnya pada bayaran terjemahan – dan terkadang tenaga yang dikeluarkan sangat dimotivasi oleh kebutuhan untuk menyambung hidup. Karena itu saya memahami tindakan mereka yang akhirnya berhenti untuk mengerjakan proyek ini. Istilah dari teman saya adalah, “keringat sudah kering, tapi bayaran tidak tampak batang hidungnya”. Iya, memang berat sekali bekerja dan seolah tidak menerima bayaran. Akhirnya tim kami menyusut menjadi delapan orang saja. Waktu itu saya memutuskan untuk merekrut orang lain yang kira-kira bisa menjadikan proyek ini sebagai sarana pembelajaran, dan tidak keberatan akan bayaran yang bisa tertunda sampai tiga bulan. Akhirnya saya (dibantu dengan seorang teman lama yang saya kenal sejak UWRF Bali, 2010) menemukan lima orang lain.

Namun kami tetap harus beristirahat.

 

 

(IV) Kenangan Mega Project: Pengelola Proyek Bersumbu Pendek

Standard

Jujur , saya paling rikuh ditelepon oleh orang yang tidak pernah saya temui – saya ini besar di era 80-90an, di masa ketika orang yang menelepon adalah orang yang diberi nomor telepon melalui tatap muka, bukan karena dia melihat/membaca nomor telepon dari orang lain. Setelah Bunda senior menelepon, PM agensi Z juga ikut-ikutan menelepon dan dengan logat khas Singapura dia meminta saya untuk membaca e-mail. Ada apa sih sebenarnya? Dengan setengah ngantuk saya menyeret badan dan sisa-sisa jiwa yang sudah kerompong gara-gara kerja sampai dini hari, menghubungkan modem (dulu saya masih pakai modem mobile) ke netbook yang baru saja menarik napas tidur, dan kemudian membuka e-mail.

Surprise surprise, sekarang saya adalah pengelola proyek satu juta kata dari agensi Z untuk penerjemahan dari bahasa Inggris ke Indonesia!

Saya menjawab e-mail sekadarnya dengan basa-basi maksimal yang bisa saya conjured up di pagi hari itu, dan kemudian saya kembali ke tempat tidur, menarik selimut, dan menutup mata. Sesaat kemudian saya bermimpi bahwa tenggat terjemahan agensi Z terlewat sudah dan saya dimaki-maki melalui telepon. Saya bangun terduduk dengan mata terbuka lebar. Apa ada satu jiwa lain di dunia belahan sana yang tahu bahwa sekarang saya pengelola proyeknya, dan juga editor utamanya? Apa yang akan terjadi kalau saya terus tidur? KENAPA PROYEK INI DILIMPAHKAN KE SAYA?

Akhirnya saya menghubungi Bunda senior melalui Yahoo Messenger. Pertanyaan saya yang pertama adalah “kenapa saya”. Beliau menerangkan bahwa menurut penilaiannya, saya yang paling tepat menangani proyek ini karena saya juga sudah memberikan sejumlah insight dan strategi untuk membantu beliau menangani proyek ini. Beliau ingin berkonsentrasi ke penerjemahan game yang prospeknya lebih menjanjikan, dan ini semua terserah saya, apakah saya akan melepaskan mega project itu atau tidak – walaupun beliau menyarankan kepada saya untuk melepaskannya saja karena agensi Z sering terlambat bayar, dan penerjemahan game ini lebih mengasyikkan serta menjanjikan untuk karier saya sebagai penerjemah profesional.

Tapi saya masih muda, Bu.

Keuangan saya masih minus dan saya punya aspirasi. Saya idealis, dan mungkin saya bodoh. Yang terpikir oleh saya pertama kali adalah bagaimana nasib sebelas orang lain yang telah mengerjakan proyek ini dan belum menerima manfaatnya, karena saya pun belum merasakan manfaat. Akhirnya saya memutuskan untuk menjalankan mega project itu dan juga memegang penerjemahan game, pake modal bismillah mudah-mudahan tidak koleps semuanya, dan bismillah mudah-mudahan saya paham prioritas dan tidak salah menilai tim penerjemah ini.

Siang harinya Bunda membuat pengumuman resmi kepada tim penerjemah ini dan akhirnya beliau memisahkan diri, dan saya ditinggal bersama sebelas orang yang tidak saya kenal baik wajah maupun kepribadiannya, dan saya tidak bisa mengukur tingkat keyakinan mereka terhadap diri saya – hell, I was not sure of myself either. Salah seorang penerjemah mengirim e-mail massal yang berisi kesangsiannya, ditambah dengan kalimat “coba kita hitung, berapa persenan yang diperoleh pengelola proyek dari proyek terjemahan sebesar ini“. Kalimat itu cukup menikam karena sebenarnya bayaran untuk pengelola proyek ini tidak ada, kecuali kalau saya ikut bekerja menjadi editor dan/atau penerjemah. Pengelola proyek gak dapet persenan, emangnya dari 4 sen trus mau dipotong lagi, gitu? Trus penerjemah harus dibayar apa? Receh kah? Saya gak mau dibayar receh dan oleh karena itu saya tidak mau memberi receh kepada penerjemah. Akhirnya saya memosisikan diri menjadi editor supaya pekerjaan ini terasa berbayar untuk saya. Jadi iya, kata-kata itu menyakiti hati saya. Akhirnya saya menarik napas lega ketika penerjemah itu meninggalkan tim untuk menerjemahkan proyek besar lain.

Setiap dua-tiga minggu sekali, agensi Z mengirim hingga seratus lima puluh ribu kata untuk diterjemahkan, sampai akhirnya saya menarik salah satu dari dua belas orang penerjemah itu untuk menjadi editor. Sementara itu invois kami terus menumpuk tanpa ada penyelesaian. Saya terus mengirimkan tagihan dan berharap bahwa tenggat 45 hari yang normal bagi agensi Z itu benar, dan saya selalu kecewa di hari ke-46 karena tidak pernah ada bayaran yang masuk. Lebih tepatnya, tenggat 45 hari itu basa-basi dan kami beruntung jika bisa dibayar pada hari ke-60. Tapi saya mengagumi dedikasi semua anggota tim penerjemahan ini, yang tetap berharap dan menumpukan harapan kepada saya yang bukan siapa-siapa ini.

Jadi, waktu itu berdirilah saya – pengelola proyek yang tiap hari harus selalu juggling antara satu pekerjaan dan pekerjaan lainnya. Saya mendadak dangdut #eh terkenal, dan saya menerima beberapa e-mail yang berisi lamaran pekerjaan. Sejujurnya saya tidak terlalu berani menawarkan pekerjaan ini karena waktu pembayarannya yang sungguh lama, tapi saya tetap menanggapi semua e-mail itu dengan sebaik mungkin.

Pada suatu hari, muncul satu e-mail nyeleneh yang isinya tidak biasa. Saya tidak bisa membeberkan isinya di sini, tapi pada intinya, isinya menjelek-jelekkan salah satu anggota tim penerjemah mega project ini. Saya sudah menjadi akrab dengan Bunda senior tapi isi e-mail ini tidak pernah saya beberkan kepada beliau, karena saya anggap tindakan itu sangat tidak profesional dan mengundang kekesalan. Jangan pernah menyebar fitnah kepada orang yang capek dan kurang tidur – sumbu saya sungguh sudah memendek saat itu. Saya menanggapi e-mail itu seperlunya, mungkin melempar satu atau dua kata tajam bahwa saya sesungguhnya tidak peduli urusan pribadi apa yang milik penerjemah siapa. Saya memang meminta klarifikasi kepada penerjemah yang disebut namanya itu, tapi itu saya lakukan di luar jam kerja dan statusnya adalah bincang-bincang santai. Saya tidak mau urusan pribadi dikait-kaitkan dengan pekerjaan – dan sampai sekarang saya masih bersikap begitu.

Suatu hari, Bunda bertandang ke Bandung dan beliau mengundang saya dan suami untuk makan malam bersama. Secara halus saya menanyakan tentang si pengirim e-mail. Siapa sih dia ini? Saya juga tidak begitu kenal. Bunda menjawab dengan tak acuh, “Dia kirim lamaran ke saya. Saya bilang Maria yang sekarang pegang proyeknya.”

Gimana ceritanya surat lamaran bisa mengandung fitnah, now that is a mistery, ha ha ha.

Saya masih bisa tertawa-tawa pada waktu itu karena di saat itu, sekitar bulan Maret-April, saya masih merasa yakin bahwa proyek ini bisa saya antar dengan selamat ke pintu penyelesaian. Semua baik-baik saja, bayaran “sedikit” terlambat tapi masih dibayar, semua pekerjaan lain lancar, dan everything was under control.

And so life went on.