(IV) Kenangan Mega Project: Pengelola Proyek Bersumbu Pendek

Standard

Jujur , saya paling rikuh ditelepon oleh orang yang tidak pernah saya temui – saya ini besar di era 80-90an, di masa ketika orang yang menelepon adalah orang yang diberi nomor telepon melalui tatap muka, bukan karena dia melihat/membaca nomor telepon dari orang lain. Setelah Bunda senior menelepon, PM agensi Z juga ikut-ikutan menelepon dan dengan logat khas Singapura dia meminta saya untuk membaca e-mail. Ada apa sih sebenarnya? Dengan setengah ngantuk saya menyeret badan dan sisa-sisa jiwa yang sudah kerompong gara-gara kerja sampai dini hari, menghubungkan modem (dulu saya masih pakai modem mobile) ke netbook yang baru saja menarik napas tidur, dan kemudian membuka e-mail.

Surprise surprise, sekarang saya adalah pengelola proyek satu juta kata dari agensi Z untuk penerjemahan dari bahasa Inggris ke Indonesia!

Saya menjawab e-mail sekadarnya dengan basa-basi maksimal yang bisa saya conjured up di pagi hari itu, dan kemudian saya kembali ke tempat tidur, menarik selimut, dan menutup mata. Sesaat kemudian saya bermimpi bahwa tenggat terjemahan agensi Z terlewat sudah dan saya dimaki-maki melalui telepon. Saya bangun terduduk dengan mata terbuka lebar. Apa ada satu jiwa lain di dunia belahan sana yang tahu bahwa sekarang saya pengelola proyeknya, dan juga editor utamanya? Apa yang akan terjadi kalau saya terus tidur? KENAPA PROYEK INI DILIMPAHKAN KE SAYA?

Akhirnya saya menghubungi Bunda senior melalui Yahoo Messenger. Pertanyaan saya yang pertama adalah “kenapa saya”. Beliau menerangkan bahwa menurut penilaiannya, saya yang paling tepat menangani proyek ini karena saya juga sudah memberikan sejumlah insight dan strategi untuk membantu beliau menangani proyek ini. Beliau ingin berkonsentrasi ke penerjemahan game yang prospeknya lebih menjanjikan, dan ini semua terserah saya, apakah saya akan melepaskan mega project itu atau tidak – walaupun beliau menyarankan kepada saya untuk melepaskannya saja karena agensi Z sering terlambat bayar, dan penerjemahan game ini lebih mengasyikkan serta menjanjikan untuk karier saya sebagai penerjemah profesional.

Tapi saya masih muda, Bu.

Keuangan saya masih minus dan saya punya aspirasi. Saya idealis, dan mungkin saya bodoh. Yang terpikir oleh saya pertama kali adalah bagaimana nasib sebelas orang lain yang telah mengerjakan proyek ini dan belum menerima manfaatnya, karena saya pun belum merasakan manfaat. Akhirnya saya memutuskan untuk menjalankan mega project itu dan juga memegang penerjemahan game, pake modal bismillah mudah-mudahan tidak koleps semuanya, dan bismillah mudah-mudahan saya paham prioritas dan tidak salah menilai tim penerjemah ini.

Siang harinya Bunda membuat pengumuman resmi kepada tim penerjemah ini dan akhirnya beliau memisahkan diri, dan saya ditinggal bersama sebelas orang yang tidak saya kenal baik wajah maupun kepribadiannya, dan saya tidak bisa mengukur tingkat keyakinan mereka terhadap diri saya – hell, I was not sure of myself either. Salah seorang penerjemah mengirim e-mail massal yang berisi kesangsiannya, ditambah dengan kalimat “coba kita hitung, berapa persenan yang diperoleh pengelola proyek dari proyek terjemahan sebesar ini“. Kalimat itu cukup menikam karena sebenarnya bayaran untuk pengelola proyek ini tidak ada, kecuali kalau saya ikut bekerja menjadi editor dan/atau penerjemah. Pengelola proyek gak dapet persenan, emangnya dari 4 sen trus mau dipotong lagi, gitu? Trus penerjemah harus dibayar apa? Receh kah? Saya gak mau dibayar receh dan oleh karena itu saya tidak mau memberi receh kepada penerjemah. Akhirnya saya memosisikan diri menjadi editor supaya pekerjaan ini terasa berbayar untuk saya. Jadi iya, kata-kata itu menyakiti hati saya. Akhirnya saya menarik napas lega ketika penerjemah itu meninggalkan tim untuk menerjemahkan proyek besar lain.

Setiap dua-tiga minggu sekali, agensi Z mengirim hingga seratus lima puluh ribu kata untuk diterjemahkan, sampai akhirnya saya menarik salah satu dari dua belas orang penerjemah itu untuk menjadi editor. Sementara itu invois kami terus menumpuk tanpa ada penyelesaian. Saya terus mengirimkan tagihan dan berharap bahwa tenggat 45 hari yang normal bagi agensi Z itu benar, dan saya selalu kecewa di hari ke-46 karena tidak pernah ada bayaran yang masuk. Lebih tepatnya, tenggat 45 hari itu basa-basi dan kami beruntung jika bisa dibayar pada hari ke-60. Tapi saya mengagumi dedikasi semua anggota tim penerjemahan ini, yang tetap berharap dan menumpukan harapan kepada saya yang bukan siapa-siapa ini.

Jadi, waktu itu berdirilah saya – pengelola proyek yang tiap hari harus selalu juggling antara satu pekerjaan dan pekerjaan lainnya. Saya mendadak dangdut #eh terkenal, dan saya menerima beberapa e-mail yang berisi lamaran pekerjaan. Sejujurnya saya tidak terlalu berani menawarkan pekerjaan ini karena waktu pembayarannya yang sungguh lama, tapi saya tetap menanggapi semua e-mail itu dengan sebaik mungkin.

Pada suatu hari, muncul satu e-mail nyeleneh yang isinya tidak biasa. Saya tidak bisa membeberkan isinya di sini, tapi pada intinya, isinya menjelek-jelekkan salah satu anggota tim penerjemah mega project ini. Saya sudah menjadi akrab dengan Bunda senior tapi isi e-mail ini tidak pernah saya beberkan kepada beliau, karena saya anggap tindakan itu sangat tidak profesional dan mengundang kekesalan. Jangan pernah menyebar fitnah kepada orang yang capek dan kurang tidur – sumbu saya sungguh sudah memendek saat itu. Saya menanggapi e-mail itu seperlunya, mungkin melempar satu atau dua kata tajam bahwa saya sesungguhnya tidak peduli urusan pribadi apa yang milik penerjemah siapa. Saya memang meminta klarifikasi kepada penerjemah yang disebut namanya itu, tapi itu saya lakukan di luar jam kerja dan statusnya adalah bincang-bincang santai. Saya tidak mau urusan pribadi dikait-kaitkan dengan pekerjaan – dan sampai sekarang saya masih bersikap begitu.

Suatu hari, Bunda bertandang ke Bandung dan beliau mengundang saya dan suami untuk makan malam bersama. Secara halus saya menanyakan tentang si pengirim e-mail. Siapa sih dia ini? Saya juga tidak begitu kenal. Bunda menjawab dengan tak acuh, “Dia kirim lamaran ke saya. Saya bilang Maria yang sekarang pegang proyeknya.”

Gimana ceritanya surat lamaran bisa mengandung fitnah, now that is a mistery, ha ha ha.

Saya masih bisa tertawa-tawa pada waktu itu karena di saat itu, sekitar bulan Maret-April, saya masih merasa yakin bahwa proyek ini bisa saya antar dengan selamat ke pintu penyelesaian. Semua baik-baik saja, bayaran “sedikit” terlambat tapi masih dibayar, semua pekerjaan lain lancar, dan everything was under control.

And so life went on.

3 responses »

  1. Enak yah kalau baca ceritanya dengan diakhiri cerita indah.

    Memang kadang menyebalkan, giliran untuk hasil kerjaan maunya dikirim tepat waktu. Tapi kalau sudah waktunya minta tagihan pembayaran maunya sampai 1 bulan lebih. Iya kalau pas nungguin tagihan itu lagi ada duit. Lah kalau pas lagi gak ada duit. Yah jadi mendadak dangdut deh. #eh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s