(V) Kenangan Mega Project: Strategi, Demoralisasi

Standard

Sebagai gambaran untuk para penerjemah yang mungkin berminat mengerjakan mega project, kerja tim yang baik adalah ketika pekerjaan bisa dilakukan hampir bersamaan. Seratus lima puluh ribu kata bisa terasa ringan jika dibagi untuk sepuluh orang, dengan beban tujuh puluh lima ribu kata untuk satu orang editor. Waktu itu akhirnya saya menciptakan sistem bertingkat untuk mega project ini, yaitu: sepuluh orang penerjemah, dua orang editor (saya merekrut satu lagi editor), dan satu editor sweeper. Menurut saya ini sistem yang efektif. Saya sebagai pengelola proyek/sweeper bertugas untuk mengontrol proses penerjemahan dan penyuntingan, kemudian menerima hasil akhir yang tinggal saya baca ulang dan konfirmasi (dan pertanggungjawabkan). Sistem ini terasa sangat indah dan ideal, sampai akhirnya saya menemukan “kekurangan” sistem yang akhirnya berbalik menyerang tim ini:

  1. Tidak semua orang bisa meningkatkan kapasitas menjadi lima ribu kata per hari. Kapasitas penerjemah yang umum adalah 1000-2000 kata per hari dengan hasil optimal dan bisa dipertanggungjawabkan. Brute force akan dibarengi dengan penurunan kualitas. Dan pekerjaan ini membutuhkan keluaran sebesar 5000-7000 kata per orang, setiap hari, selama dua hingga tiga hari.
  2. Karena adanya beban pikiran bahwa pekerjaan mungkin tidak dibayar tepat waktu, anggota tim mengambil pekerjaan lain sehingga terpaksa meningkatkan kapasitas hingga dua kali lipat. Mereka jadi cepat lelah mental dan fisik, sumbu pendek. Tenggat terbengkalai, kualitas terbengkalai.
  3. Pengelola proyek harus sangat jeli menilai gaya bahasa. Tidak semua tipe terjemahan bisa dibagi, dokumen dengan uraian panjang-panjang akan membuat perbedaan gaya bahasa terlihat sangat mencolok. Penerjemah harus diberi terjemahan yang membuatnya merasa nyaman agar gaya bahasanya tidak berubah, dan editor harus konsisten memegang hasil penerjemah yang sama agar dia bisa lebih cepat menyunting.
  4. Kerja tim tidak bisa dibarengi dengan rasa curiga dan kesal, terutama ketika kita merasa bahwa pengelola proyek menyembunyikan fakta/tidak transparan dalam soal pembayaran dan jumlahnya, posisi klien akhir, posisi agensi, dan jumlah pekerjaan yang sebenarnya. Faith upon each other itu sangat penting, dan oleh karena itu tidak boleh ada yang disembunyikan.

Camkan empat faktor yang sangat penting ini ketika bekerja bersama para pekerja lepas waktu lain yang tidak diikat oleh gaji. Dan saya melihat akibat dari satu demi satu poin di atas. Hal paling pertama yang mulai kami alami adalah satu dua orang yang mulai sakit, dan satu orang penerjemah sampai terkena tekanan darah tinggi. Dia tidak punya pengganti – dan bisa diduga, terjadi domino effect. Penerjemah lain “kecipratan” beban dia, editor seolah nyaman karena hanya menyunting terjemahan satu dua orang yang gaya bahasanya sama, tapi karena sumbu sudah pendek, tenggat sering terbengkalai dan kualitas pun akhirnya ke laut sudah.

Dalam waktu 4 bulan kami bergiliran sakit. Saya bisa dengan bangga mengatakan bahwa saya yang terakhir jatuh sakit, tapi saya pun curiga itu karena mentalitas saya yang memang nekat. Saya tidak sakit parah, tapi setiap kali ada feedback dari pengulas terjemahan, saya merasa panas dingin. Kualitas terjemahan selalu dan selalu di bawah standar, saya merasa curiga bahwa pengulas ini memang keji atau cara kerja saya yang tidak berterima untuk sistem.

Dulu saya juga buta spesifikasi, dan hampir-hampir buta CAT Tools. Selama dua proyek itu berlangsung, saya tidak pernah berpikir untuk membeli super computer atau mengganti CAT Tools dengan yang asli. Semua itu seolah jauh dari benak saya, sampai akhirnya Bunda Senior menyarankan bahwa saya harus mulai mengganti Trados 2007 bajakan saya dengan perangkat lunak asli. I got the money, why the hell not? Akhirnya saya membeli perangkat lunak Trados Studio 2009 dengan bonus Trados 2007. Saya juga mulai menderita mata baur dan punggung yang panas setiap kali saya menerjemahkan, dan saya dirundung ketakutan bahwa satu dari tiga hal akan terjadi: perangkat lunak crash permanen, atau netbook saya mutung permanen (netbook sudah tidak pernah mati lagi sejak saya menjalankan dua proyek), atau koneksi internet mati permanen. Akhirnya ketika saya dibayar untuk pekerjaan game, saya mengganti netbook dengan laptop yang lebih baru. Dan akhirnya saya berlangganan internet fixed line, karena penerjemahan game membutuhkan kegiatan online dengan streaming yang stabil selama berjam-jam.

Dari dulu saya sudah terbiasa mengejar sesuatu yang seolah tidak berfaedah tapi yang jelas motivasi untuk membahagiakan tim penerjemah sangat kuat waktu itu. Saya tidak peduli dengan ketenaran tapi saya akui bahwa keteguhan saya terhadap komitmen ini mulai membahayakan diri sendiri. Teman-teman dekat saya mulai mengkritik gaya kerja saya yang seolah tanpa akhir, keluarga saya mulai terasa jauh. Saya berhenti memasak dan kami makan makanan pesan antar. Saya mulai bertanya-tanya, untuk apa saya melakukan ini semua?

Saya terus bekerja siang malam sampai akhirnya ketika rumah kosong, saya sibuk mengerjakan sesuatu dan melihat kilasan warna jingga di layar laptop. Ketika saya menoleh ke belakang, saya melihat api membumbung tinggi dari dalam wajan yang saya tinggalkan dengan kompor menyala selama bermenit-menit. Api berhasil dipadamkan, tapi saya mulai merasakan demoralisasi. Saya mengejar ini semua … untuk apa? Bertahan di tengah semua pekerjaan yang tak kunjung habis ini … untuk apa?

Saya merasa mual.

Akhirnya di suatu malam hari, saya pergi menyepi di sudut di teras rumah, dan menangis sesenggukan, sendirian.

Sekitar bulan Mei 2011, saya menghubungi agensi Z dan mengatakan bahwa SEMUA penerjemah sakit. Kami tidak bisa melanjutkan, dan saya sangat enggan untuk melanjutkan dengan kondisi fisik kami yang sudah didera habis-habisan setiap bulannya. Agensi Z memperbolehkan kami istirahat dengan berat hati, dan selama itu saya berusaha untuk terus menguangkan invois yang terus menumpuk hingga belasan ribu dolar. Satu demi satu anggota tim mulai mempertanyakan ke mana bayaran itu pergi, dan akhirnya saya memutuskan untuk menghentikan kerja sama dengan beberapa di antaranya karena mereka memang tidak bisa menahan beban mental yang besar karena bayaran tidak kunjung tiba. Penerjemah menggantungkan hidupnya pada bayaran terjemahan – dan terkadang tenaga yang dikeluarkan sangat dimotivasi oleh kebutuhan untuk menyambung hidup. Karena itu saya memahami tindakan mereka yang akhirnya berhenti untuk mengerjakan proyek ini. Istilah dari teman saya adalah, “keringat sudah kering, tapi bayaran tidak tampak batang hidungnya”. Iya, memang berat sekali bekerja dan seolah tidak menerima bayaran. Akhirnya tim kami menyusut menjadi delapan orang saja. Waktu itu saya memutuskan untuk merekrut orang lain yang kira-kira bisa menjadikan proyek ini sebagai sarana pembelajaran, dan tidak keberatan akan bayaran yang bisa tertunda sampai tiga bulan. Akhirnya saya (dibantu dengan seorang teman lama yang saya kenal sejak UWRF Bali, 2010) menemukan lima orang lain.

Namun kami tetap harus beristirahat.

 

 

2 responses »

  1. Asli bingung mau komentar apa.

    Di cerita bagian IV, ceritanya berakhir dengan indah. Lah ini bagian kelima, ceritanya kok sedih yah bacanya.
    Berat emang kalau mau bilang gak bisa melanjutkan pekerjaan. Syukurnya pekerjaan masih bisa ditunda tanpa dilimpahkan ke pihak lain.
    Dulu sempat pernah juga kejadian seperti ini. Cuma bedanya waktunya hanya 3 hari dan mengelola 4-6 tim. Sejak saat itu, sudah stop menerima pekerjaan dengan paket kilat khusus.
    Alhamdulillah terakhir ketemu kemarin, kabarnya baik-baik aja yah. hahahaha😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s