(VI) Kenangan Mega Project: It Ain’t Over Until It’s Over

Standard

Kami istirahat dari mega project selama satu bulan penuh. Sementara itu saya melakukan sedikit jalan-jalan ke berbagai situs portal penerjemah dan menemukan bahwa reputasi agensi Z sesungguhnya telah sangat buruk karena wanprestasi berulang kali terhadap penerjemah, terutama yang bayarannya besar.

Pada sekitar bulan Agustus 2011, pekerjaan penerjemahan game dihentikan karena adanya konflik internal dalam masalah keterjualan produk terjemahan itu. Hari ketika saya menerjemahkan game itu untuk terakhir kalinya adalah hari yang sangat menyedihkan. Delapan bulan di sana merupakan delapan bulan yang paling membahagiakan dalam hidup saya – e-mail tugas penerjemahan game adalah e-mail yang paling saya tunggu dan saya selalu mengerjakan semuanya dengan gembira. Sebaliknya, mega project yang kembali jatuh ke tangan saya setelah “berkeliling” ke agensi-agensi lain terasa makin menyebalkan, makin membuat minat surut, dan makin membuat kesal, karena kami tak kunjung dibayar.

Fase terakhir dari mega project itu adalah koreksi translation memory vs file aktual yang akan digunakan untuk memperbarui tampilan di situs web portal hotel, dan oleh karena itu saya harus mencari sejumlah kesalahan yang sangat kecil dan tidak berarti untuk kemudian diperbaiki dan dikirim kembali ke agensi Z. Ini adalah pekerjaan yang sungguh menyebalkan, bahkan untuk penerjemah paling jeli sekali pun. Tim masih terus mendapatkan pekerjaan menerjemahkan tapi fase koreksi akhir ini membuat saya gila. Bayaran yang terus tertunggak membuat saya gila. Sampai akhirnya saya membuat keputusan yang lebih gila lagi, yaitu untuk berhenti mengerjakan mega project ini secara permanen.

Pemutusan hubungan kerja ini menempatkan saya di posisi sulit: di depan tim saya, dan di depan PM agensi Z. Setelah berdebat terus dengan PM agensi Z, saya harus menerangkan kepada anggota tim mengenai alasan saya berhenti. Waktu itu saya dirundung ketakutan bahwa invois pekerjaan ini akan mencapai biblical amount yang tidak mungkin bisa dibayar oleh agensi mana pun – dan jika demikian adanya, maka agensi Z akan lari. Kepercayaan saya kepada mereka sudah menipis karena maraknya informasi di internet mengenai kinerja mereka dalam pembayaran, dan saya merasa bahwa saya harus menyelamatkan whatever’s left of me, and other translators, by quitting the job.

And so I did.

Sebelum saya berhenti, saya telah mencari-cari tim penerjemah lain yang kira-kira sanggup menangani tipe pekerjaan seperti ini dan saya menemukan satu teman yang memiliki agensi penerjemahan lokal nun jauh di sisi Jawa sana. Saya menilai kinerja teman ini baik dan daya persuasi dia tinggi, karena itu dia mungkin lebih bisa memperlancar bayaran ketimbang saya. Akhirnya saya rekomendasikan nama teman ini dan saya minta agensi Z menghubungi dia saja, sementara saya menunggu pelunasan pembayaran.

Apa urusannya selesai sampai di sini? Tentu tidak.

Sejak saya berhenti bekerja untuk agensi Z, akuntan agensi itu telah berganti hingga dua kali dan saya makin sulit menagih. Akhirnya diam-diam saya menghubungi seorang pengacara dan berkonsultasi mengenai probabilitas penuntutan agensi Z. Jujur? Buruk. Posisi mereka yang di Singapura dan pemberian kerja tanpa kontrak yang jelas sudah membuat masa depan pembayaran ini menjadi sangat suram. Saya simpan informasi ini karena saya pikir saya masih punya kartu As walaupun hanya dua gelintir. Saya telah berkonsultasi ke pengacara dan prospeknya buruk – tapi agensi Z tidak perlu tahu ini.

E-mail terakhir yang saya kirimkan kepada agensi Z bersifat singkat, padat, disertai lampiran invois tertagih yang sudah dilampirkan puluhan kali sejak saya berhenti bekerja untuk mereka. Saya berkata dengan nada sangat sederhana: tidak bayar, saya tuntut ke pengadilan. Prospek masa depan kalian akan suram jika saya menuntut – karena saya menuntut demi keadilan. Mau saya bertindak sampai sejauh itu? Jika tidak, mohon bayarkan semuanya. Saya menunggu jawaban kalian.

Dua hari kemudian e-mail saya ditanggapi oleh akuntan (baru) dan dia berkata bahwa karena jumlah yang besar, agensi Z akan melakukan pencicilan sebanyak tiga kali, dengan jarak masing-masing cicilan dua bulan. Terbayang oleh saya bahwa andai kami tidak berhenti tepat pada waktunya, invois ini benar-benar tidak akan terbayar. Akhirnya saya membuat skema pembayaran dan setiap ada pembayaran, saya mengikuti skema itu sampai akhirnya pembayaran sisa mega project sebesar kira-kira 200 juta rupiah lunas pada tahun 2012 untuk semua penerjemah.

Setelah mega project ini berakhir, saya dan sisa teman-teman tim masih sering berhubungan. Akhirnya saya menyadari bahwa saya lelah, dan saya hanya bisa bekerja dengan beberapa orang saja – karena penanganan tim sebesar 15 orang terasa sangat berat bagi saya, apalagi ketika saya harus melakukan checking dan moral support sendirian. Akhirnya saya “berpisah jalan” dengan sebagian besar dari mereka.

Dari pengalaman ini, saya belajar banyak tentang apa arti teamwork dan cara-cara untuk mempertahankan konsistensi hasil terjemahan dari awal hingga akhir. Sampai sekarang saya masih agak trauma soal wanprestasi pembayaran sehingga saya tidak berani membagi pekerjaan dengan orang lain ketika pembayaran dan prospek agensinya sendiri belum jelas. Yang saya lakukan adalah bekerja bersama agensi itu selama kira-kira satu tahun dan jika selama itu kinerja mereka terlihat baik, barulah saya merekomendasikan orang lain untuk masuk ke agensi itu.

Jadi, enggak, saya tidak tergiur lagi dengan jumlah kata, jumlah bayaran, yang saya tilik pertama kali adalah siapa pemberi pekerjaan, seperti apa bentuk pekerjaannya, dan bagaimana prospek pembayarannya. Jadi inilah alasan kenapa saya bisa berkata bahwa saya mengerjakan lima puluh ribu kata dan tidak membaginya dengan siapa pun. Saya sudah biasa berjudi dengan nasib tapi saya tahu tidak semua orang sanggup melakukannya. Dan jangan lupa juga bahwa ada beberapa jenis pekerjaan yang memang tidak bisa dibagi-bagi, melulu karena konsistensi yang harus dicapai adalah 100 persen dan membagi pekerjaan berarti menumpukan beban 100 persen kepada si penerjemah utama yang merangkap jadi editor/sweeper – itu adalah permintaan yang sangat berat untuk beberapa orang (dan kadangkala bagi saya).

Saya menyamarkan nama-nama agensi di sini bukan karena saya takut pekerjaan saya direbut, tapi sebagai perjanjian etika saya dengan agensi-agensi penerjemahan tersebut, terutama dengan agensi Z, karena saat itu saya berjanji sepenuhnya bahwa kejadian wanprestasi pembayaran ini tidak akan saya bongkar di mata publik demi reputasi mereka, asalkan mereka membayar lunas semua tunggakan invois kami. Saya tidak akan merekomendasikan siapa pun untuk masuk agensi Z (kecuali jika kinerja mereka telah membaik), tapi saya juga tidak akan melarang siapa pun untuk bergabung dengan agensi Z. Dan karenanya pula, saya cuma bisa menyarankan bagi mereka yang berencana untuk mengambil mega project, baik dengan tenggat nyangkuriang atau pun dengan tenggat masuk akal: tilik kinerja klien, dan bersiaplah untuk mengeluarkan persenjataan lengkap ditambah bazooka dan kalau perlu bom waktu, ketika mereka gagal membayar. Ketahui alamat klien, nomor telepon, siapa bos di atasnya, siapa akuntannya. Dari sisi internal, dinamika dan keharmonisan tim harus dijaga dari awal sampai akhir, sehingga kita benar-benar harus percaya kepada mereka, kebal gosip, kebal intimidasi, dan sekaligus melakukan moral support supaya proses kerja menjadi nyaman untuk semua orang.

Sebagai tips terakhir, walaupun terdapat kontrak hitam di atas putih, sesungguhnya pembayaran penerjemah itu melulu didasarkan oleh itikad baik klien karena ternyata kontrak semacam ini tidak bisa digugat semudah itu.

Inilah cerita saya yang teramat panjang mengenai mega project terjemahan satu juta kata.

I have pulled out the impossible.

At the cost of a number of things that I ain’t gettin’ back.

~Bandung, 26 Agustus 2016
Ditulis oleh salah satu penyintas mega project terjemahan Asiarooms dot com

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s