Hasil Sempurna di Tengah Badai

Standard

Sebelum melanjutkan, saya akan menegaskan bahwa judul di atas itu sebenarnya sangat tidak mungkin terjadi kecuali jika Anda memang tidak punya perasaan.

Jadi, begini dongengnya. Saya punya klien yang terbilang baru – mereka baru resmi mengontrak saya tiga bulan yang lalu. Ternyata, setelah melakukan dua pekerjaan untuk mereka, saya menemukan bahwa cara mereka menyampaikan kesalahan-kesalahan saya sungguh tidak mengenakkan. Bukan dengan makian, tapi mereka bersikap sangat dingin dan judgmental, seolah saya ini mesin yang tidak boleh melakukan kesalahan. Saya bukan penerjemah abal-abal, tapi ketika mereka menyampaikan hasil koreksi, saya selalu merasa sebagai penerjemah abal-abal. Skor keakuratan saya (menurut data di vendor portal) turun menjadi 91,5 persen, sedangkan mereka mengharapkan skor di atas 93 persen.

Awalnya saya merasa frustrasi dan bersalah. Kemudian saya melihat bahwa si klien ini rupanya menggunakan metrik skor LQA (Leading Quality Assurance) yang sebenarnya sudah ditinggalkan banyak agensi karena sisi humanity penerjemah samasekali tidak disentuh oleh skor ini. Metrik ini melulu hanya kalkulasi yang sangat bergantung pada persepsi editor mengenai kesalahan penerjemah. Sebagai contoh, ada yang menganggap typo error sebagai kesalahan fatal (critical), sedangkan ada beberapa editor lain yang menganggap fatality terletak ketika penerjemah tidak memahami isi kalimat bahasa Inggris yang diterjemahkan (saya termasuk yang kedua). Entri editor pada metrik menentukan seberapa besar skor penerjemah, dan tergantung dari persepsi editor terhadap kesalahan, skor penerjemah bisa menjadi tinggi atau sangat rendah. Di sinilah saya merasa tidak enak. Persepsi PM terhadap kesalahan saya itu cenderung judgmental dan non-encouraging, padahal saya memiliki dua alasan mengapa terjemahan saya menjadi seperti itu, yaitu tenggat yang sungguh mepet dan opsi software mereka yang tidak mendukung. Menurut saya, untuk pekerjaan di atas seribu kata, opsi software tanpa spellcheck dan rigorous machine quality assurance adalah opsi buruk karena (menurut riset kecil-kecilan saya) penerjemah profesional akan membuat satu typo per 300 kata yang diketiknya. Bayangkan terjemahan enam ribu kata, betapa banyak typo dan missed translation yang bisa terjadi? Penerjemah yang dikejar tenggat tidak akan mampu memeriksa ini dalam waktu singkat. Dengan kata lain, editor harus siap mental dan bersikap lebih legowo.

Eniwei, saya memikirkan apakah saya akan berusaha memperbaiki kesalahan itu lain kali, atau berhenti saja bekerja untuk klien ini. Yang membuat saya keberatan sebetulnya adalah metrik skor itu. Saya sudah bekerja untuk banyak klien lain selama lebih dari 10 tahun, dan yang saya sangat hindari adalah klien yang memperlakukan penerjemah bagaikan mesin, yang mengukur kemampuan hanya dari skor dan bukan dari hal-hal lain seperti sikap asertif, inisiatif, keramahan, cepat tanggap, dan lain-lain. Saya mempertimbangkan, sampai kapan saya bisa mengejar kesempurnaan? Apa ada jaminan bahwa tidak akan terjadi badai lagi dalam hidup saya? Saya akan bandingkan dengan satu agensi lain yang selalu bertanya dengan nada ramah dan baik hati ketika terjemahan saya kurang dari pengharapan mereka. Karena merasa “diberi angin”, saya bisa dengan bebas mengungkapkan perasaan profesional dan preferensi saya, sehingga akhirnya mereka bisa mengakomodasi dengan memberi (1) tenggat lebih baik, (2) materi yang lebih sesuai dengan kemampuan, dan (3) masukan mengenai cara kerja yang lebih baik untuk penerjemah dari sudut pandang korporasi. Tiga hal ini membuat saya bersemangat dan merasa harus terus memberikan yang terbaik. Akhirnya hubungan ini memotivasi saya untuk meningkatkan kinerja, sampai akhirnya dua hari yang lalu salah satu PM agensi lama ini melaporkan bahwa materi terjemahan saya tidak dikomentari samasekali oleh internal reviewer mereka, alias lolos bersih untuk diserahkan dan dinilai oleh klien akhir.

Akhirnya saya sadar sepenuhnya bahwa hasil sempurna tidak bisa dituai di tengah badai, betapa pun profesionalnya seorang penerjemah. Hubungan yang menyenangkan antara berbagai pihak dalam penerjemahan adalah satu hal yang saya cari dan saya hargai. Saya tidak bisa membangun hubungan lewat metrik skor dan jelas bahwa saya tidak bisa bekerja dengan PM yang memberi input dingin hasil copy paste dari editor. Saya butuh PM yang memahami bahwa terkadang penerjemah lebih membutuhkan toleransi dan masukan. Saya jadi lebih sadar lagi akan hal ini ketika memeriksa pekerjaan seorang teman yang (ternyata) dihasilkan dari lingkungan sangat “panas”, dengan konsentrasi yang terpecah belah. Owalah, hasilnya mirip Google Translate padahal saya tahu benar bahwa kualitas ybs jauh lebih tinggi dari itu. Awalnya saya kesal karena saya tidak tahu siapa penerjemahnya (sampai sempat menulis status di Facebook), tapi setelah tahu, saya langsung menghubungi ybs dan bertanya (dan saya langsung hapus statusnya). Akhirnya saya memahami situasi ybs. Saya harus fair, saya pun pernah mengalami situasi buruk seperti itu beberapa kali dan output saya sungguh memalukan. Ketika saya diposisikan sebagai penilai hasil dan punya peluang untuk menghubungi penerjemah dan bertanya, saya merasa wajib menggunakan peluang itu alih-alih mencelanya habis-habisan, apalagi lewat status Facebook – yang cuma bisa menunjukkan superioritas saya sebagai seasoned translator yang tidak peka situasi.

Dan akhirnya saya memutuskan untuk melepaskan agensi yang dingin itu. Ya sudah, nanti kalau ada pekerjaan lagi saya tinggal decline, toh mereka juga memberi perintah kerja lewat automated system, ha ha.

~Penerjemah juga manusia, dan hanya manusia. Kerjasama antara PM, penerjemah, dan editor, adalah kerjasama yang akan memberikan hasil optimal.~

Bandung, 19 November 2015

3 responses »

  1. Ada juga yah yang masih percaya dengan mesin. Mungkin mereka menggunakan LQA lantaran itu cara mudah melihat kerja penerjemah dari ratusan penerjemah yang mereka gunakan. Terima kasih Teh, tulisannya. Bermanfaat sekali. Khususnya yang 1 typo dari 300 kata. Penasaran juga lihat jurnal soal itu.

    • Soal LQA: iya, benar. Ya tapi begitulah – kalau mereka mau main pukul rata saja, ya jangan sewa individu lah. Individu tidak akan puas dinilai pakai mesin, hahahaha.

      Menyoal typo: itu sebenarnya pengalaman praktis aku saja, kang Ridha. Coba dijadikan bahan penelitian – terakhir kali waktu conference di Atma, mereka memang membahas soal ini tapi aku kurang ngeh ya (karena bahasanya akademis sekali). Dan bahan ujinya bukan penerjemah jam terbang tinggi. Coba dites tuh para seasoned translator, apa bener statistiknya menunjukkan minimal 1 dalam 300, atau lebih hahahaha. Tapi pertimbangkan faktor-faktor eksternal seperti kelelahan, beban tenggat yang besar, dan kesukaan mereka terhadap materi yang dikerjakan.

      Last but not least: sama-sama🙂

      • Edit: soal LQA itu, saya juga menemukan bahwa metrik hanya bisa digunakan jika software penerjemahannya akomodatif untuk scoring QA. Nah, di sini mereka meminta saya menggunakan software yang tidak akomodatif untuk LQA. Kalau memang mau rigorous dalam hal LQA, pakailah software yang bisa melacak QA dengan baik (datanya terperinci, kesalahannya tidak ada yang bias, dan parameternya disetujui bersama). Jadi memang penilaiannya timpang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s