Monthly Archives: February 2019

Sudahkah Anda Merasakan Semuanya?

Standard
Sudahkah Anda Merasakan Semuanya?

Sepertinya saya mencetak rekor baru lagi dengan mengabaikan blog ini sejak terakhir diisi (bulan Juni tahun 2018), dan kemudian keinginan menulis seolah hampir hangus tak bersisa. Baru-baru ini saya “menyempurnakan” lenyapnya diri saya dari Facebook dengan menghapus halaman yang berisi karya perhiasan kawat saya. Tidak ada rasa sesal hingga saat ini – sepertinya keengganan saya untuk muncul dan berkoar-koar di media sosial sudah menjadi rasa malas permanen. Dan tampaknya kemalasan saya menulis di blog akan berlanjut andaikan saya tidak berusaha untuk memulai lagi.

(Kemampuan menulis itu penting untuk penerjemah. Bagaimana bisa saya merangkai kata-kata terjemahan yang baik kalau saya tidak bisa menuliskan narasi yang baik?)

Blog ini tidak pernah menjadi sarana promosi saya sebagai penerjemah profesional. Judul dari blog ini benar-benar mencerminkan apa yang ingin saya lakukan: To say what is on my mind. Saya pernah berjanji untuk menuliskan tips dan trik penerjemahan lebih banyak lagi, tapi akhirnya saya kebingungan – apa yang saya ketahui sudah terlalu kompleks untuk diutarakan hanya dengan satu kali tulisan, dan terkadang pengetahuan itu juga terasa tidak penting untuk dibagi dengan orang lain (kecuali tentu saja jika mereka pernah mengalaminya juga).

(Saya sering merasa ragu mengenai manfaat dari tulisan saya. Tapi dengan sedikit encouragement kepada diri sendiri bahwa setidaknya saya berusaha jujur, maka saya akan mencoba lagi untuk menuliskan pendapat saya, sekali ini tanpa embel-embel ketenaran.)

Menjadi penerjemah lepas waktu itu tidak mudah. Seorang typist (pengetik) bisa menghabiskan 47 kalori hanya dengan duduk diam dan mengetik selama 1 jam. Kalikan itu dengan 10 jam – 470 kalori, sama dengan energi berlari sejauh hampir 4 kilometer. Menjadi penerjemah membutuhkan stamina yang nyata! Dan pekerjaan ini memiliki sisi menyenangkan dan juga busuk. Bagian menyenangkan bagi saya adalah menerima materi yang menarik dan imajinatif – baik itu kontrak kerja, materi pemasaran, atau sekadar rangkaian UI, sedangkan busuknya adalah ketika saya harus berhadapan dengan penerjemah lain yang sikapnya macam kampret, tidak mau menerima masukan editor, dan terus membuat kesalahan tolol dengan sikap yang keras kepala. Dua hal ini hanya contoh. Kalau saya disuruh menuliskan kebaikan vs keburukan, saya bisa menghabiskan waktu satu hari lamanya. Lama kelamaan saya menyadari bahwa apa yang disebut sebagai “keterampilan menerjemahkan” sebenarnya adalah hal yang jauh lebih kompleks dari sekadar mengerti bahasa lain dan paham konteks serta budaya. Dan terkadang saya merasa bahwa profesi ini menuntut terlalu banyak dari saya. Sungguh – ada saat-saat ketika saya muak menghadapi dokumen, menghadapi klien, dan gemetaran ketika membaca e-mail masuk karena saya sudah burned out. Setelah menjadi penerjemah lepas waktu untuk waktu yang cukup lama, akhirnya saya menjadi cukup arif untuk tidak mengagung-agungkan profesi saya ini, tapi oleh karenanya pun saya tidak bisa lagi berpromosi tentangnya. This is just a profession – dan seperti layaknya profesi lain, profesi ini tidak sempurna – namun ia menuntut pelakunya untuk menjadi sempurna.

(But …. Do I love this job? Well yeah, sure, perhaps. Terkadang saya mencintainya, terkadang tidak samasekali. Tapi satu hal yang saya tahu pasti, bahwa saya memiliki keahlian yang tinggi untuk melakukan semua ini. Saya memiliki pengetahuan, wawasan, dan soft skills yang mencukupi (dan terus bertambah) untuk terus melakukannya. I am good at what I do, saya sadar benar soal ini – karena itulah saya tidak pernah berpikir untuk alih profesi, walaupun terkadang saya lelah.)

Sejak tahun lalu saya mulai menampik permintaan untuk presentasi dan berbagi pengalaman, karena saya masih belajar untuk berbagi dengan cara yang tidak membuat orang lain ketakutan dan patah semangat. Pada umumnya seorang (calon) penerjemah lepas yang baru memulai ingin mendengar tentang apa yang bisa mereka lakukan dalam profesi ini – dan sejujurnya saya tidak ingin lagi memberi informasi yang klise. Apa profesi ini bisa menjadi penopang hidup? Jelas. Bisa membuat kita mampu untuk membeli barang-barang mewah atau mahal? Tentu saja – tuh buktinya, ada yang bisa beli rumah dan tanah, saya pun termasuk. Bisa dijalani untuk menyekolahkan anak ke perguruan tinggi negeri bergengsi? Bisa dijalani untuk menghidupi keluarga? Bisa lah, bisa. Tapi semua pertanyaan ini berhenti sampai di situ, padahal sebenarnya saya ingin sekali melanjutkan ….

….. what sacrifices are you willing to make to get there?

…… because the point of success is not when you got a lot of projects. The success is to get through even when you have no projects for months.

…… the success is to stay sane, healthy, and professional despite of everything.

…… the success is to hang on to your principals, your rates, your work ethics, despite of all the odds against you.

Mengerjakan sepuluh ribu kata itu mudah, tapi bertahan untuk tetap mengerjakan proyek-proyek “receh” sementara bertahan hidup dan memperkaya diri dan pikiran, itu jauh lebih sulit. Menerjemahkan untuk memperoleh uang banyak itu jauh lebih mudah ketimbang bertahan dari godaan untuk berfoya-foya tidak jelas dengan menggunakan uang hasil kerja terjemahan. Mencari klien itu lebih mudah ketimbang mempertahankan mulut (dan jemari) ini untuk tidak menyinyiri penawaran harga (dan kelakuan) penerjemah lain/klien (terutama di media sosial! Duh!). Profesi ini melibatkan stamina, daya tahan luar biasa terhadap stress, kemampuan untuk melompat-lompat dalam ruang adaptasi yang terkadang sangat sempit, dan kemampuan luar biasa untuk menahan emosi supaya fisik dan reputasi tidak berbarengan rusak bersama hasil pekerjaan. Penerjemah lepas waktu harus selalu sehat, awas, cerdas, cepat tanggap, dan juga cermat – karena jika tidak dia akan segera tersingkir, bukan melulu karena hasil pekerjaan yang buruk, tapi juga karena ethical conduct yang buruk – dan yang terakhir ini sangat mematikan, karena sesungguhnya hasil terjemahan bisa selalu diperbaiki (we all got our bad days), tapi ethical conduct yang buruk sulit sekali diperbaiki/dihilangkan.

Sukses dalam profesi ini tidak ditentukan oleh seberapa banyak pekerjaan yang bisa kita dapatkan, tapi ditentukan oleh seberapa tegak kita bisa tetap berdiri setelah melalui semuanya.

Sungguh, profesi ini tidak mudah. Jika ada yang berkata bahwa profesi ini hanya mencakup literasi, kemampuan berbahasa, dan kemampuan menyimak konten serta budaya …. saya hanya bisa berkata, “Kalau begitu, Anda belum pernah merasakan semuanya ….”

Bandung, 3 Februari 2019

~ Tulisan pertama pada tahun 2019 yang melewati swa-sunting sampai LIMA KALI …

I am getting pretty rusty 😦 … ~