Analisis SWOT untuk Penerjemah

Banyak penerjemah/juru bahasa yang merasakan imbas besar dari semua urusan COVID-19 ini, dan yang paling utama terasa adalah menyurutnya arus pekerjaan. Menurut saya saatnya arus pekerjaan menyurut adalah saat yang baik untuk mengasah kemampuan, mengambil keahlian tambahan, dan yang terpenting untuk sebagian orang: istirahat dan merenungkan hidup, melepas lelah, dan mengatur strategi lanjutan untuk masa depan nanti. Sama seperti pekerjaan yang banyak, pekerjaan yang surut pun tidak akan selamanya. Suatu saat nanti yang sibuk akan kosong pekerjaan, dan yang kosong pekerjaan akan sibuk. Waktu yang berlalu tidak akan kembali, oleh karena itu sebaiknya waktu luang ini dimanfaatkan untuk mengasah diri baik secara fisik maupun mental.

Terkait soal ini, beberapa waktu lalu saya membaca salah satu tulisan Desi Mandarini yang membahas tentang kapan seseorang bisa memulai untuk menjadi penerjemah. Saya sependapat bahwa saat yang terbaik tentu saja sekarang, apalagi karena sekarang roda kehidupan sedang melambat dan kita semua dihimbau untuk tinggal di rumah. Sekaranglah saatnya untuk mengasah kemampuan dan “naik ke level” berikutnya, apalagi jika kita memiliki banyak waktu luang tanpa pemasukan.

Setiap kali saya berniat untuk “naik level” atau memulai apa pun, yaitu membuat analisis SWOT (analisis Strength (Kekuatan), Weakness (Kelemahan), Opportunity (Peluang), dan Threat (Ancaman)). Secara umum, sebenarnya analisis ini adalah untuk melihat posisi awal kita ketika akan melakukan suatu upaya. Saya membaca tentang SWOT ini di salah satu buku tentang wirausaha yang saya baca bertahun-tahun yang lalu (sayangnya saya lupa judulnya). Dulu saya tidak menganggap bahwa profesi penerjemah adalah suatu bisnis, tapi berkat buku itu, saya menemukan bahwa analisis SWOT bisa menjadi senjata yang ampuh jika kita tidak tahu bagaimana harus memulai.

Dulu, sebelum saya memulai untuk meniti karier di bidang penerjemahan, saya membuat analisis SWOT awal seperti ini:
(1) Kekuatan (strength) yang saya miliki untuk bisa menjadi penerjemah?
(2) Apa kelemahan (weakness) saya di bidang penerjemahan?
(3) Peluang apa (opportunity) yang ada bagi saya sebagai penerjemah?
(4) Dan terakhir, ancaman (threat) apa yang ada jika saya menjadi penerjemah?

Kemudian, saya menguraikan SWOT ini menjadi seperti di bawah ini:

Strength (kekuatan):
– Saya paham bahasa Inggris setidaknya 80% lebih baik dari orang kebanyakan.
– Saya sering membaca materi berbahasa Inggris dan Indonesia.
– Saya mampu menulis narasi yang baik dan benar dalam bahasa Indonesia.
– Saya mampu menuliskan narasi yang secara tata bahasa mencukupi dalam bahasa Inggris.
– Saya bisa mengetik cepat.
– Saya punya waktu luang setidaknya 6 jam setiap harinya.
– Saya punya latar belakang pendidikan resmi di bidang ilmu pengetahuan alam, dan sudah dilatih untuk menjadi penerjemah (oleh orangtua saya).

Weakness (kelemahan):
– Saya tidak menjalani pendidikan resmi sebagai penerjemah.
– Saya tidak punya sertifikat penerjemah dalam bentuk apa pun.
– Saya tidak memiliki kemampuan untuk datang ke lokasi dan menjadi penerjemah on site (kantoran), karena saya ibu rumah tangga.
– Saya tidak memiliki komputer pribadi.
– Saya tidak bisa meluangkan waktu lebih banyak dari 6 jam setiap harinya.

Opportunity (peluang):
– Saya bisa mencari bidang penerjemahan yang sesuai dengan bidang keilmuan yang saya pelajari di bangku kuliah, karena sepertinya ini ceruk yang belum tergarap banyak.
– Saya bisa menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dari orang lain, oleh karena itu 6 jam bisa saya manfaatkan maksimal dan saya bisa mengambil beban kerja lebih banyak.
– Saya bisa mengambil sertifikasi tambahan untuk memperkuat daya jual karena saya sudah memiliki penguasaan awal dalam bidang pekerjaan ini secara tidak resmi.
– Sejalan dengan peningkatan pengalaman, saya akan makin bisa meraih kepercayaan klien untuk menggunakan jasa saya, karena saya memiliki kekuatan pemahaman bahasa Inggris dan Indonesia di atas rata-rata.

Threat (ancaman):
– Pesaing yang menjalani pendidikan sebagai penerjemah.
– Pesaing yang memiliki sertifikasi sebagai penerjemah.
– Tidak adanya mobilitas (tidak bisa menjadi penerjemah on site) akan menghilangkan peluang saya untuk menjadi penerjemah tetap perusahaan; saya akan tetap menjadi freelance dan oleh karena itu pendapatan akan selalu berfluktuasi.
– Saya tidak mampu menjangkau klien lebih jauh karena waktu saya terbatas dan modal terbatas (tidak ada komputer milik sendiri, koneksi internet terbatas).
– Saya mungkin akan dibayar lebih murah karena kurang pengalaman.

Dari analisis sederhana ini, akhirnya saya melangkah maju untuk menjadi penerjemah lepas waktu. Saya pelihara Strength dan Opportunity baik-baik, saya juga mencurahkan upaya untuk memperkecil Weakness dan mengatasi Threat. Dari analisis ini saya akhirnya memiliki patokan: apa yang harus saya perbaiki dan apa yang harus ditingkatkan, dan dari analisis ini saya dapat beranjak untuk membuat target terarah guna mencapai tujuan (yaitu: menjadi penerjemah lepas waktu profesional dengan bayaran dan sakti mandraguna).

Saya melihat bahwa kesulitan utama dari seorang penerjemah untuk memulai adalah rasa ragu dan tidak percaya diri, karena itu seringkali seseorang bergulat dengan SWOT-nya sendiri karena dia simply tidak bisa menuliskan Strength yang dimilikinya. Mungkin karena banyak orang yang diajari untuk tidak menghargai kelebihannya sendiri dan menganggap bahwa mengunggulkan kelebihannya itu adalah tindakan yang arogan dan sombong … tapi ketika disuruh menuliskan Weakness, mereka bisa berderai-derai menulis dengan penuh rasa tidak percaya diri, karena merasa bahwa kekurangannya itu lebih banyak dan kelebihannya samasekali tidak ada.

Sayangnya tidak ada yang bisa mengatakan apa kelebihan kita, sampai kita yang mengakuinya sendiri. Jangan pernah menunggu orang lain untuk memuji kelebihan kita, karena sebenarnya orang lain pun tidak akan bisa melihat diri kita yang sebenarnya. Sesungguhnya kemampuan untuk mengakui kelebihan diri sendiri justru membuka peluang bagi untuk menyadari bahwa kita juga memiliki kekurangan. Saya berani menuliskan analisis SWOT untuk diri sendiri karena saya merasa yakin bahwa saya bisa mempertanggungjawabkan Strength yang ada, dan saya menyatakan kepada diri saya bahwa saya sanggup memanipulasi Opportunity dan mengatasi Weakness serta Threat.

Saya orang yang keras kepala, jadi akhirnya di sinilah saya. Semua Weakness dan Threat yang saya tuliskan di atas sudah tidak menjadi masalah lagi karena saya sudah mengatasi hampir semuanya. Dan untuk hal-hal yang tidak bisa saya atasi, saya membuat kompromi – semuanya berdasarkan strategi.

Saran saya bagi semua yang tidak tahu harus memulai dari mana: buatlah SWOT. Mau beralih menjadi penerjemah dokumen/buku? Mau mulai menerima pekerjaan dari agensi luar negeri? Mau bekerja untuk klien lokal? Mau berhenti kerja kantoran dan menjadi pekerja lepas? Apa pun itu, SWOT bisa membantu untuk menguraikan jalan, sehingga kita bisa merasa yakin dengan pilihan sendiri dan kita bisa tahu dengan pasti apa saja yang “kurang” dan “lebih” untuk memulai perjalanan baru kita, apa pun itu.

Oh ya, dan mulailah sekarang. Analisis SWOT mungkin membutuhkan beberapa hari untuk dituliskan, jadi saran saya mulailah sekarang, jangan besok. Mungkin besok COVID-19 akan menghilang tiba-tiba, dan kita semua akan sibuk lagi tanpa menyadari bahwa sebenarnya kita sudah harus “naik level” 🙂

Bandung, 2 Mei 2020
…. Oh Tuhan, menyetor tulisan seminggu sekali itu sungguh urusan rumit

4 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s