Category Archives: Lost in Translations

Agensi Penerjemahan vs Klien Langsung: Memilih Kenyamanan

Standard

Sebelumnya, saya akan memperjelas istilah ini: agensi penerjemahan adalah “perantara” antara penerjemah dengan klien langsung. Mereka menerima pekerjaan, mengatur volume, mengatur tenggat, dan mengatur pembayaran. Sedangkan klien langsung adalah siapa pun itu yang membutuhkan jasa penerjemahan.

Sebenarnya menurut saya, pada dasarnya tidak ada pilihan yang lebih baik dari keduanya. Agensi penerjemahan punya kekurangan dan kelebihannya, begitu juga klien langsung. Ini hanya masalah “kesehatan jiwa” saja. Yaitu, seberapa besar rasa nyaman si penerjemah ketika bekerja untuk keduanya. Mari kita tinjau sejumlah faktor kenyamanan ketika bekerja untuk agensi penerjemahan (dalam dan luar negeri):

  1. Jatah pekerjaan diatur. Biasanya ketika kita melamar ke agensi penerjemahan (dan kemudian diterima), mereka bertanya tentang kapasitas harian kita (yaitu seberapa banyak kita bisa menerima pekerjaan). Kita yang atur sendiri, dan kita juga yang modhar sendiri kalau salah lapor kapasitas. Agensi tidak akan pernah bilang, “Kan nerjemahin itu tinggal ngetik? Gampang kan, masa 30 halaman sehari gak bisa beres?” (iya bener, da gue teh kemana-mana gendong monitor sama keyboard).
  2. Tipe klien diatur sesuai kesediaan kita. Ketika kita melaporkan bahwa “Saya cacat dalam hal penerjemahan ekonomi”, agensi akan menandai dan mereka tidak akan kasih terjemahan makalah ekonomi ke kita. Dan kita boleh menolak tipe kerjaan yang tidak sesuai dengan keahlian (sambil marah-marah pun boleh kalau kita sudah pernah mengisi data vendor di agensi – walaupun saya gak saranin untuk marah-marah). Agensi tidak akan pernah berkata, “Loh katanya kamu penerjemah, kamu harusnya bisa dong nerjemahin segala macam bidang?!?” (ngek – emangnya gue ikan sapu – segala dimakan).
  3. Tenggat waktu mereka atur sesuai kesepakatan dengan kita – dan mereka akan membantu nego ke klien akhir (penyewa agensi) ketika kita terlambat (karena alasan yang jelas, tentu saja). Kita gak perlu repot nelepon agensi karena panik gas di rumah habis (dan oleh karena itu harus berburu gas dulu) atau gak perlu panik ketika listrik di rumah mati. Kita cukup kirim e-mail ke mereka untuk menerangkan situasi, dan mereka yang akan nego ke klien akhir. Kita gak akan kena semprot klien akhir – mereka yang akan kena semprot, hahahaha.
  4. Tidak perlu menagih pembayaran seperti debt collector (e-mail, telepon, datengin ke kantor!). Rata-rata agensi yang bonafid punya sistem pembayaran mereka sendiri, dan biasanya mereka menginformasikan tenggat waktu pembayaran di muka (dalam kontrak/NDA yang kita tandatangani ketika diterima masuk ke agensi – mohon perhatikan informasi ini ketika mendaftar ke agensi). Mereka tidak akan bersikap innuendo soal pembayaran dan harga yang sudah disepakati di awal relatif tidak berubah, kecuali ketika proyeknya besar dan mereka meminta diskon.
  5. Kita gak perlu mumet soal layout – ini bagian yang menurut saya melegakan. Bagi para penerjemah yang bekerja untuk agensi dan menerima file dalam bentuk CAT-formatted, bersyukurlah karena yang perlu dilakukan hanyalah menerjemahkan, titik. Gak ada pusing geser-tabrak-copas-senggol supaya terjemahan kalian masuk ke dalam kolom 2×2 cm. Agensi yang mengatur semuanya karena mereka punya yang namanya DTP specialist – yaitu mereka yang mengatur supaya terjemahan kita yang panjang lebar tinggi itu bisa masuk dengan manis ke semua format majalah, Power Point presentation, film (sebagai teks dan running text), game, dsb.

Di sisi lain, terdapat sejumlah faktor kenyamanan juga ketika kita bekerja untuk klien langsung:

  1. Kita bisa melakukan diskusi yang menyeluruh dengan mereka, terutama tentang materi terjemahan. Ketika mereka memberi buku, kita bisa bertanya, untuk siapa terjemahan buku ini nanti. Konsumennya siapa, audiensnya siapa? Oleh karena itu kita akan lebih bisa menyesuaikan konteks dan tidak meraba-raba audiens/menarik kesimpulan sembarang. Dan oleh karena itu, hasil akhirnya cenderung lebih tepat sasaran.
  2. Kita bisa nego tenggat dengan leluasa tanpa perlu mengingat-ingat “berapa ini kapasitas yang gue pasang di Linked In/Proz/TC/NDA/bla-bla??“. Misalkan untuk 30 halaman kita meminta 5 hari, tapi pada kenyataannya ketika kita menyelesaikannya dalam 3 hari, klien akan lebih berterima kasih – dan mungkin akan mencatat nama kita sebagai “penerjemah anu yang responsnya bagus dan pekerjaannya profesional” – dan dampaknya akan lebih jelas terasa karena si klien ini akan merekomendasikan kita ke teman-temannya yang lain yang membutuhkan jasa penerjemah (the power of WoM!).
  3. Harga yang dipasang bisa lebih besar – ini salah satu keuntungan asyik dari bekerja dengan klien langsung. Mari kita bandingkan dengan contoh:
    misalkan, agensi penerjemahan luar negeri bisa mematok harga per kata sebesar $1. Tapi jangan senang dulu. $1 ini dibagi-bagi lagi ke biaya admin, biaya editor, biaya processing, biaya DTP, dsb dst … sehingga porsi penerjemah hanya $0,08-0,10 per kata. Klien langsung dari luar negeri hanya membutuhkan jasa penerjemahan, oleh karena itu akan sah saja ketika kita meminta biaya misalkan … $0,3 per kata. Hukum ini bisa berlaku dan bisa menguntungkan, asalkan si penerjemah siap menjalani proses ini sampai selesai (misalkan dengan membantu klien merapikan tata letak dokumen, mencarikan editor, dsb – dan biasanya klien langsung tidak butuh hal-hal njelimet, mereka hanya butuh terjemahan yang rapi tanpa format aneh-aneh, apalagi running text).
  4. Enggak usah pake CAT Tools – OK, kalau saya sih menganggap bahwa nerjemahin tanpa CAT tools itu = cari mati (ini pendapat pribadi – melulu karena mata ini sudah lamur untuk mencari typos dan terlalu malas untuk copas format), tapi bagi mereka yang belum biasa menerjemahkan dengan CAT tools, kerja sesuai metode pilihan (dua kolom di MS Word, atau ketik timpa langsung di atas dokumen, dsb) menjadi lebih melegakan dan tidak membuat mumet karena harus belajar CAT tool dulu. Klien langsung hampir tidak pernah meminta terjemahan dilakukan di Trados atau MemoQ. Mereka hanya ingin hasil akhir yang rapi dan terbaca, dan oleh karena itu kita bebas menggunakan metode apa saja asalkan hasil akhir terbaca rapi dan baik.
  5. Pembayaran lebih cepat. Agensi penerjemahan punya sesuatu yang namanya payment cycle, dan kisarannya adalah dari mulai 30-60 hari. Jadi, penerjemah tidak langsung dibayar untuk hasil kerjanya di agensi. Sedangkan klien langsung bisa langsung membayar ketika kita mengirim hasil – bukankah ini melegakan dan menyenangkan? Gak ada H2C karena menghitung hari (sambil nyanyiin lagunya Krisdayanti) sembari baper karena belum beli gas, akua, dan bahan makanan, dan uang sekolah si kecil belum dibayar padahal udah tanggal belasan. Meminjam perkataan teman saya, “Sudah lunas sebelum keringat kering”.

Semua penjabaran saya ini ditulis berdasarkan pengalaman – pilihlah apa yang menurut Anda nyaman, jangan pikirkan uangnya (dulu) karena sesungguhnya uang datang dari kenyamanan bekerja. Jangan memaksakan kerja untuk agensi penerjemahan ketika payment cycle membuat Anda merinding disko dan jangan paksakan bekerja untuk klien langsung ketika perkataan mereka tentang profesi terjemahan selalu membuat Anda naik darah (sejujurnya, masyarakat Indonesia masih membutuhkan edukasi tentang profesi penerjemah dan oleh karena itu bersabarlah).

Saya sendiri memilih untuk bekerja dengan agensi penerjemahan luar negeri karena saya merasa lebih diuntungkan dan lebih terbantu – saya lebih bisa menerima kekurangan mereka ketimbang bersabar menghadapi klien langsung. Namun sesungguhnya semua ini sama dengan makan bubur ayam – antara kubu diaduk dan tidak diaduk … you choose, and don’t let anyone criticize your choices!

Salam pagi dari Bandung yang mendung.

 

Professional Sharing Session On Using Trados for 18th– 19th Centuries Literary Work (Part 1)

Standard

(Berikut adalah isi dari makalah yang saya ajukan untuk Transcon 2016 di Atmajaya lalu. Isinya saya bagi menjadi dua bagian agar tidak bikin eneg ketika dibaca, ha ha. Semoga bermanfaat).


Translating 18th-19th century’s literature work has been one of the most difficult works throughout my experience as a translator. The nature of this type of translation is difficult because translators are “forced” to do a “rewrite” job, and there is the need to communicate the contents smoothly and to merge the boundaries between cultures, to make the content acceptable and readable for a much broader audience compared to regular documents, and at the same time maintaining the idea and gist of the original writer.

I have been using Trados throughout my life as a translator, and eventually I was intrigued to utilize this CAT tool to approach 18th-19th centuries literary translation work. I was requested by one of my clients to translate The Age of Innocence – a literature from the 19th century – from English to Indonesian. I then decided that I should utilize Trados to approach this type of translation. I succeeded and then used the same approach to translate the short stories The Turn of The Screw, and eventually The Fall of The House of Usher, all which gave favourable results (minimum editing time, more focused, comprehensible and traceable results, even when dealing with the poetry section that was a signature of Edgar Allan Poe’s work).

Now I am using the same approach to translate 18th century’s The Scarlet Letter (still in progress). I believe that Trados has helped me a lot in making the translation process easier. I will share some of my process in translating, including the number of commands in Trados version 2014 that will enable literary translators (and hopefully, one day also literary editors) to fully concentrate on the tasks at hand and complete them effectively.

ABOUT CAT TOOLS

CAT tool (Computer Aided Translation tool) has become an important tool in a translator’s life. Basically what this software does is managing translation work, and the role of CAT tool became increasingly important when clients from different countries need translations from several different resources. This software helps them to manage translation results and also to keep data (in a relatively small size) to reuse them later when needed.

For freelance translators, CAT tools serves as database management software as well as an aid in translation processes. This software keeps the database up to date as the freelance translator continues to receive projects/work, and they will be able to update, change, revise, and also edit their translation work in this software, while keeping the format intact and relatively unchanged (i.e only requires a small amount of adjustments).

Trados is one of the most used CAT tools. This software was first introduced in 1994 under the name of “Translator’s Workbench” by Trados GmBH, Germany (Wikipedia, https://en.wikipedia.org/wiki/SDL_Trados), then acquired by SDL in 2005 and they have released a number of versions to date. This software offers a lot of management strategies as well as a number of aids to help translators to improve their work’s quality. Its functions includes managing projects, files, translation memories, terminologies, correcting typos based on preloaded dictionaries, and also Quality Assurance that helps to correct the translation result format to be the same as the source.

Every CAT tool has several similarities, but the most prominent one – and the one that has become the source of difficulties for many translation works – is the segmented view. Segmentation in Trados is generally like this:

trados1

(Image: my current work for The Scarlet Letter. Not yet edited)

For translators this segmented view can hamper their ability to define the document’s context. They were “forced” to concentrate on each sentence (or each segment) and the generally strict Quality Assurance (not fine-tuned) provided no room for context-based translation, while Indonesian language often needs context-based translation rather than word to word (literal) translation. During my course as a professional freelance translator, I often encountered literary work translators who avoided using Trados because of its segmented view and the difficult features of the software, when actually Trados 2014 can offer an effective translation process if its other functions are explored.

ABOUT 18TH-19TH CENTURIES LITERARY WORK

During my experience as a freelance translator, translating 18th-19th centuries literary work is one of the most difficult translation works to do. The text contains various words that were not known/not used anymore in daily life, thus giving me a hard time in searching for the word meaning. I often have to revisit the online dictionary several times to just comprehend one word, and the process became truly ineffective when dealing with a large number of texts in MS Word application.

To my knowledge, translating literary work has always been about transforming the idea and the gist of the writer to another language, rather than word per word translation. This effort became difficult for 18th-19th centuries literary work because the content is often lengthy, one sentence can consist of several clauses and so there were times when I was “lost in translation” among the jungle of word meanings. And so the content was incomprehensible if not baffling, and eventually I got lost in the context every time.

Because of the difficult nature of the text, then I decided to take this 18th-19th centuries literary translation works to another level, which is to manage and to process the work using Trados 2014.

(Untuk bagian 2, klik di sini)

Professional Sharing Session On Using Trados for 18th– 19th Centuries Literary Work (Part 2)

Standard

(Bagian 1, klik di sini)


MANAGING 18TH-19TH CENTURIES LITERARY TRANSLATION WORK USING TRADOS 2014

(Please keep in mind that all work using CAT tools can only be done through a soft copy of the document. This means that the tool cannot process image files that were converted to PDF.)

The general view of my literary translation work on Edgar Allan Poe’s The Fall of The House of Usher was like this:

trados2

(Image: Translating The Fall of The House of Usher using Trados 2014)

As you can see, the sentences were divided into segments. What I did was to read the whole text before starting, and then utilized the segmentation so that I could concentrate on one step at a time. What I also did was to read the three to five segments before and after the highlight (see previous image) to generate a context in mind. By using this method, I was not “lost in translation” anymore, I can analyse the words carefully and translate according to the context without having to worry about forgetting one or two word meanings. The data is being kept in the translation memory which I always can revisit later by highlighting the source word in question and press F3 (concordance function). Thus I eliminated the tedious process of having to write down word meanings on another paper/file, or to reopen the source to re-read what I just translated. By using this concordance function I can also read the word meaning by its context rather than only its dictionary meaning. As seen on the image below, I have translated one word in several approaches.

trados3

(Image: By highlighting the source, then pressing F3 (concordance) on the keyboard will display a number of context which uses the word “agitation”. The data is populated from a translation memory that was used on this project)

The F7 (spellcheck) function also proved to be handy during the translation process. I have “fine-tuned” the Quality Assurance (QA) function in Trados 2014 to accommodate my needs for literary work translations.  I only check for typos, double spaces, untranslated segments and punctuation for this work, I do not need the other specific QA functions so I just turned them off. Thus the literary editor’s work will be reduced because they will only need to check the readability and the fluent-ness of the result, instead of peeling their eyes searching for typos and double spaces.

trados4

(Image: Spellchecking and Quality Assurance function in Trados 2014. As seen, the QA also check a number of untranslated segments. The QA data can be generated at any time during the translation process)

As an addition, Trados provided free applications that can be used to manage work. For this literary work, I used the SDLXLIFF Split and Merge (downloaded from SDL Open Source). This Trados application splits work into manageable amount of words. Literary translation work often consists of hundreds of pages and by using this application I could split the document into manageable amounts that I scheduled to work on every day. This significantly improved my overall work performance and I did not get carried away or discouraged by the number of pages, thus concentrating on my best effort to fulfil the deadlines.

trados5

(Image: The result of “SDLXLIFF Split and Merge” application. The text is being split into a predetermined amounts and this makes it easier to determine the deadline and managing the work. This is only one of a number of free applications provided in SDL Open Source web)

CURRENT CHALLENGES

Even though this software can benefit translators, there are several challenges in using Trados 2014. The software demands a PC/laptop with high capacity (especially high RAM), and this software does not work on iMac. The software price itself is a bit discouraging, still clinging on the high price around 600 EUR (about 9 million IDR at the time this paper was written) per license, and can only be used on a single computer (not shareable). The price, the hardware requirements, and the lack of knowledge in Trados’s basic and management functions have made this software somewhat unpopular among literary work translators and editors. There is also a preconception among freelance translators that this CAT tool is only utilized by overseas clients (translation agencies), so there was no actual need to use this software to manage work. The segmented view on Trados also often takes translators aback; they felt that they were forced to stick to one segment/one word/one sentence at a time, thus producing a “stiff” translation results. And document format from literary work publishers often does not support Trados usage, and translators needs to take several pre-translation steps in order to have a workable literary work in Trados (e.g retyping the hard copy, scanning the hard copy, etc).

CONCLUSION

I found that the usage of Trados 2014 to complete my work in translating the 18th-19th centuries literary work to be beneficial. By utilizing these Trados features, I was able to finish my work in a more effective and efficient manner. I have re-check the published translation work against my original translation and found that the editor managed to improve my results in a more focused manner (because the editor did not need to worry about everything else). I found this approach to be satisfactory for me as a freelance translator.

There is a need for a more focused approach in using Trados 2014. Trainings and workshops should be directed to a more specialized approach, which is to manage contents such as 18th-19th century literary work and other specific contents rather than only showing the basic functions of Trados. There is also the need to change the previous preconception and perspective about Trados – this tool is meant to make a translator’s task easier and not meant to burden or discourage them. Literary work publishers in Indonesia also need to consider the usage of Trados for literary work and to support Trados usage by providing soft copies of the translation work, so that translators can process the document through Trados and other CAT tools of their choices.


(Makalah ini saya presentasikan di Transcon Atmajaya 2016)

Hasil Sempurna di Tengah Badai

Standard

Sebelum melanjutkan, saya akan menegaskan bahwa judul di atas itu sebenarnya sangat tidak mungkin terjadi kecuali jika Anda memang tidak punya perasaan.

Jadi, begini dongengnya. Saya punya klien yang terbilang baru – mereka baru resmi mengontrak saya tiga bulan yang lalu. Ternyata, setelah melakukan dua pekerjaan untuk mereka, saya menemukan bahwa cara mereka menyampaikan kesalahan-kesalahan saya sungguh tidak mengenakkan. Bukan dengan makian, tapi mereka bersikap sangat dingin dan judgmental, seolah saya ini mesin yang tidak boleh melakukan kesalahan. Saya bukan penerjemah abal-abal, tapi ketika mereka menyampaikan hasil koreksi, saya selalu merasa sebagai penerjemah abal-abal. Skor keakuratan saya (menurut data di vendor portal) turun menjadi 91,5 persen, sedangkan mereka mengharapkan skor di atas 93 persen.

Awalnya saya merasa frustrasi dan bersalah. Kemudian saya melihat bahwa si klien ini rupanya menggunakan metrik skor LQA (Leading Quality Assurance) yang sebenarnya sudah ditinggalkan banyak agensi karena sisi humanity penerjemah samasekali tidak disentuh oleh skor ini. Metrik ini melulu hanya kalkulasi yang sangat bergantung pada persepsi editor mengenai kesalahan penerjemah. Sebagai contoh, ada yang menganggap typo error sebagai kesalahan fatal (critical), sedangkan ada beberapa editor lain yang menganggap fatality terletak ketika penerjemah tidak memahami isi kalimat bahasa Inggris yang diterjemahkan (saya termasuk yang kedua). Entri editor pada metrik menentukan seberapa besar skor penerjemah, dan tergantung dari persepsi editor terhadap kesalahan, skor penerjemah bisa menjadi tinggi atau sangat rendah. Di sinilah saya merasa tidak enak. Persepsi PM terhadap kesalahan saya itu cenderung judgmental dan non-encouraging, padahal saya memiliki dua alasan mengapa terjemahan saya menjadi seperti itu, yaitu tenggat yang sungguh mepet dan opsi software mereka yang tidak mendukung. Menurut saya, untuk pekerjaan di atas seribu kata, opsi software tanpa spellcheck dan rigorous machine quality assurance adalah opsi buruk karena (menurut riset kecil-kecilan saya) penerjemah profesional akan membuat satu typo per 300 kata yang diketiknya. Bayangkan terjemahan enam ribu kata, betapa banyak typo dan missed translation yang bisa terjadi? Penerjemah yang dikejar tenggat tidak akan mampu memeriksa ini dalam waktu singkat. Dengan kata lain, editor harus siap mental dan bersikap lebih legowo.

Eniwei, saya memikirkan apakah saya akan berusaha memperbaiki kesalahan itu lain kali, atau berhenti saja bekerja untuk klien ini. Yang membuat saya keberatan sebetulnya adalah metrik skor itu. Saya sudah bekerja untuk banyak klien lain selama lebih dari 10 tahun, dan yang saya sangat hindari adalah klien yang memperlakukan penerjemah bagaikan mesin, yang mengukur kemampuan hanya dari skor dan bukan dari hal-hal lain seperti sikap asertif, inisiatif, keramahan, cepat tanggap, dan lain-lain. Saya mempertimbangkan, sampai kapan saya bisa mengejar kesempurnaan? Apa ada jaminan bahwa tidak akan terjadi badai lagi dalam hidup saya? Saya akan bandingkan dengan satu agensi lain yang selalu bertanya dengan nada ramah dan baik hati ketika terjemahan saya kurang dari pengharapan mereka. Karena merasa “diberi angin”, saya bisa dengan bebas mengungkapkan perasaan profesional dan preferensi saya, sehingga akhirnya mereka bisa mengakomodasi dengan memberi (1) tenggat lebih baik, (2) materi yang lebih sesuai dengan kemampuan, dan (3) masukan mengenai cara kerja yang lebih baik untuk penerjemah dari sudut pandang korporasi. Tiga hal ini membuat saya bersemangat dan merasa harus terus memberikan yang terbaik. Akhirnya hubungan ini memotivasi saya untuk meningkatkan kinerja, sampai akhirnya dua hari yang lalu salah satu PM agensi lama ini melaporkan bahwa materi terjemahan saya tidak dikomentari samasekali oleh internal reviewer mereka, alias lolos bersih untuk diserahkan dan dinilai oleh klien akhir.

Akhirnya saya sadar sepenuhnya bahwa hasil sempurna tidak bisa dituai di tengah badai, betapa pun profesionalnya seorang penerjemah. Hubungan yang menyenangkan antara berbagai pihak dalam penerjemahan adalah satu hal yang saya cari dan saya hargai. Saya tidak bisa membangun hubungan lewat metrik skor dan jelas bahwa saya tidak bisa bekerja dengan PM yang memberi input dingin hasil copy paste dari editor. Saya butuh PM yang memahami bahwa terkadang penerjemah lebih membutuhkan toleransi dan masukan. Saya jadi lebih sadar lagi akan hal ini ketika memeriksa pekerjaan seorang teman yang (ternyata) dihasilkan dari lingkungan sangat “panas”, dengan konsentrasi yang terpecah belah. Owalah, hasilnya mirip Google Translate padahal saya tahu benar bahwa kualitas ybs jauh lebih tinggi dari itu. Awalnya saya kesal karena saya tidak tahu siapa penerjemahnya (sampai sempat menulis status di Facebook), tapi setelah tahu, saya langsung menghubungi ybs dan bertanya (dan saya langsung hapus statusnya). Akhirnya saya memahami situasi ybs. Saya harus fair, saya pun pernah mengalami situasi buruk seperti itu beberapa kali dan output saya sungguh memalukan. Ketika saya diposisikan sebagai penilai hasil dan punya peluang untuk menghubungi penerjemah dan bertanya, saya merasa wajib menggunakan peluang itu alih-alih mencelanya habis-habisan, apalagi lewat status Facebook – yang cuma bisa menunjukkan superioritas saya sebagai seasoned translator yang tidak peka situasi.

Dan akhirnya saya memutuskan untuk melepaskan agensi yang dingin itu. Ya sudah, nanti kalau ada pekerjaan lagi saya tinggal decline, toh mereka juga memberi perintah kerja lewat automated system, ha ha.

~Penerjemah juga manusia, dan hanya manusia. Kerjasama antara PM, penerjemah, dan editor, adalah kerjasama yang akan memberikan hasil optimal.~

Bandung, 19 November 2015

Katakan dan Tuliskan … Bagian III

Standard

Saya jarang sekali menggunakan kata-kata kasar ketika sedang marah. Sebenarnya menilai situasi hati saya sangat mudah: bila saya sudah menggunakan bahasa Indonesia yang sangat baik dan benar untuk mengungkapkan ketidaksetujuan, apalagi menyebut “Anda” kepada lawan bicara di arena Facebook yang santai, sudah bisa dipastikan bahwa saya 98 persen marah. Dua persennya adalah perasaan “maklum” saya bahwa yang bersangkutan hanya manusia biasa. Saya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar ketika marah karena saya ingin orang yang saya komentari/ajak bicara memahami maksud saya sejelas-jelasnya. Jika saya sudah marah “dengan sopan” di muka publik, akan sulit bagi si lawan bicara untuk memaki, dengan kata lain dia mati langkah. Percaya atau tidak, saya bisa menghabiskan 15 menit untuk menyunting dan menuliskan komentar “kemarahan” saya di Facebook. Saya menerapkan semua pembelajaran mengenai cara komunikasi untuk membuat seseorang mati langkah – karena itu jarang sekali ada orang yang bisa mengucapkan kata-kata lain setelahnya selain “maaf”, atau langsung menyingkir dari hadapan saya.

Cara komunikasi yang baik dan benar ini adalah kebiasaan saya dari kecil. Saya dituntut untuk selalu mengucapkan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jelas, tepat sasaran, sopan, sesuai kaidah, dan saya harus bisa menuliskan apa yang telah saya ucapkan dengan baik. Keluarga saya adalah keluarga strict Indonesian. Almarhum ayah dan juga ibu saya berprinsip:

“Bicara dulu yang benar, kalau tidak bisa lebih baik tutup mulut. Kalau tidak bisa bicara benar, jangan harap bisa menulis dengan benar. Kebiasaan yang salah akan membuahkan hasil yang salah”.

Berkat disiplin edan itu, saat ini saya tidak pernah mengalami kesulitan untuk berekspresi lisan maupun tulisan dalam dua bahasa yang saya kuasai, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Saya menggunakan dua bahasa itu siang dan malam, untuk menulis komentar – buku harian – catatan kecil –  berbicara – mengutarakan pendapat – apa pun (oleh karena itu saya menjadi outcast di masa kecil, seperti yang tuliskan pada bagian II. Teman-teman saya waktu itu mungkin melihat saya bagaikan buku tata bahasa berjalan).

Saya sering tersenyum jika mendengar seorang penerjemah mengeluh, “Bahasa Indonesia adalah bahasa yang kaku”. Memang, bahasa kita ini belum sempurna karena umurnya saja baru seumur kemerdekaan + 17 tahun, yaitu sejak Sumpah Pemuda. Mana bisa dibandingkan dengan bahasa Inggris yang bersumber dari dialek kuno Anglo Saxon 1.500 tahun yang lalu? Tapi menurut pendapat saya, kekakuan bahasa Indonesia sebenarnya bersumber dari dua hal yang sederhana: penggunaan dan penggunaan.

Bagi saya, bahasa Indonesia adalah bahasa ibu satu-satunya. Saya hanya memahami sedikit bahasa Sunda, dan bahasa Padang saya sangat minim dan “tercela”. Saya diajarkan untuk menjadi orang Indonesia, bukan orang Padang atau pun orang Sunda. Tanah air saya Indonesia, dan bahasa saya adalah bahasa Indonesia. Bahasa Inggris adalah bahasa kedua saya di rumah [sampai sekarang], dan tata bahasa Inggris dan pengucapan saya sendiri telah dikoreksi oleh kedua orangtua dari sejak berumur 5 tahun. Mereka berpendapat bahwa bahasa Inggris adalah bahasa internasional dan saya “dipaksa” untuk menguasainya dan juga mempelajari kebudayaan Barat – atau setidaknya, dipaksa untuk mengetahui cara mempelajarinya. Oleh karena itu, ketika ada yang bertanya kepada saya mengenai cara terbaik untuk mempelajari bahasa Inggris, saya selalu mengatakan “pakai” – as in use it to talk, use it to read, use it to write, listen to it.

Pelajaran bahasa Indonesia di sekolah tidak membuat penggunaan bahasa Indonesia YANG BAIK DAN BENAR bisa menjadi “acquired skill“. Tidak pernah ada pemahaman bahasa yang otomatis, bahasa Indonesia yang baik tetap harus dipakai sesering mungkin dan bukan ketika menulis skripsi doang. Saya melihat bahwa kesulitan seorang penerjemah sering timbul akibat penguasaan bahasa ibu yang kurang sempurna. Oleh karena itu bahasa Indonesia dicap “kaku”. Saya selalu berusaha mati-matian untuk menulis dan mengucapkan bahasa Indonesia dengan baik dan benar – semata-mata demi mempelajari dan mengakuisisi keluwesan. “Risiko”, bukan “resiko” – “antre” bukan “antri” – saya bagaikan grammar Nazi tapi kebiasaan ini sangat membantu dalam penerjemahan tertulis. Penggunaan “di mana” yang selalu menjadi kasus ketika menerjemahkan “where” [contoh, dalam kalimat: Where the street has no name]  tampak sebagai pembenaran “kekakuan bahasa” ini. Dan ketika menyunting, saya sering melihat bahwa rekonstruksi kalimat untuk menghapus “di mana” adalah pilihan next to dying bagi kebanyakan orang – sulit sekali menanamkan pengertian bahwawhere” bukanlah “dimana” atau “di mana”. Saya telah mencoba mati-matian untuk merekonstruksi kalimat dengan “where“, semata-mata karena saya takut sekali mengakuisisi tata bahasa yang salah.

Almarhum ayah saya pernah berkata bahwa menuliskan bahasa Indonesia yang baik dan benar itu sulit. Mengapa? Karena kita cenderung lengah – kita merasa sudah menggunakan bahasa Indonesia seumur hidup dan merasa bahwa pengetahuan “seumur hidup” ini akan mencukupi ketika kita terjun ke dunia penerjemahan.

Contoh sederhana:

secara umum sedikit yang mengetahui bahwa “merubah” itu bukan kata bahasa Indonesia yang benar. Memang benar bahwa jika kita menuturkan kata “merubah” dalam percakapan sehari-hari, tidak akan ada yang melempar kita dengan sepatu. Namun, yang benar adalah “me+ubah” menjadi “mengubah”. Imbuhan “mer-” itu TIDAK ADA. Tapi maraknya penggunaan lisan membuat banyak orang menganggap bahwa kata ini berterima dan oleh karena itu “layak” dituliskan dalam dokumen terjemahan.

Jika seseorang ingin menjadi penerjemah [terutama penerjemah tulis] bahasa apa pun ke bahasa Indonesia, dia WAJIB memahami cara berkomunikasi yang rapi dan baik dalam kedua bahasa, dan yang lebih utama adalah BAHASA IBUNYA. Ucapan yang sepotong-sepotong, ejaan buruk, tata bahasa buruk, pengucapan tidak jelas, pemilihan kata yang salah, semuanya akan mengarah ke penulisan yang sama buruknya – hanya karena kita terbiasa mengucapkan hal yang salah, kita menjadi lengah dan tak pernah sedikit pun berusaha memperjelas maksud, memperhalus ucapan, atau berusaha mencari kata-kata yang lebih berterima. Bahasa adalah sarana komunikasi – dan pemahaman mengenai bahasa hanya bisa dicapai melalui pemakaian. Tingkat kekakuan/tidaknya suatu bahasa juga sangat bergantung pada pemakaian.

Saya pernah mendengarkan ulasan singkat bapak Remy Silado ketika menghadiri peluncuran buku almarhum Marah Rusli yang terbaru. Waktu itu saya menghela napas puas: bahasa Indonesia pak Remy ini demikian empuk dan nikmat didengar, tanpa ungkapan slang sedikit pun, dengan tata bahasa yang rapi – seolah seperti “bahasa Indonesia tingkat tinggi” – padahal itulah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mengalir lancar tanpa hambatan, mudah diserap, dengan sisipan kata-kata indah khas bahasa Indonesia di sana sini.

Jadi … Bahasa Indonesia itu kaku? Benarkah? Ataukah kita yang tidak tahu cara menggunakannya?

 

 Bandung, 5 Mei 2014

*tulisan bagian III yang tertunda …*

Mengurai Jalan Menjadi Penerjemah … Bagian I

Standard

Saya menghabiskan sejumlah waktu merenungkan jalan seorang penerjemah, karena kok rasanya masalah ini sekarang jadi penting- banyak penerjemah pemula [dan terkadang bukan pemula juga] yang bertanya kepada saya tentang uraian jalan ini.

Gimana sih cara mulai menjadi penerjemah?”

[Rata-rata pertanyaan yang saya peroleh senada]

Saya bukan orang yang gemar berteori – saya tidak pernah mengecap pendidikan linguistik atau pun membaca buku tentang teori penerjemahan. Bisa dikatakan ini acquired skill, karena saya besar dan hidup di tengah para penerjemah dan sudah demikian terbiasa melihat proses menerjemahkan, sehingga ketika saya harus memulai, tidak terlalu banyak hal yang membingungkan lagi.

Saya akan berbagi beberapa hal yang diajarkan oleh sejumlah mentor yang saya temui sepanjang hidup saya. Soal mentor sendiri akan saya bahas secara terpisah karena [ternyata] ini adalah faktor yang tidak terelakkan ketika seseorang ingin menjadi profesional [dalam bidang apa pun]. Semua mentor saya tidak pernah “resmi” menyatakan diri mereka sebagai mentor, tapi tanpa diminta, mereka telah banyak membantu saya untuk menjadi penerjemah yang seperti sekarang.

Kembali saya menafikan bahwa semua “teori” ini bukan bersumber dari buku linguistik/buku ajar penerjemahan apa pun. Teknis penerjemahan sendiri sudah demikian banyak dibahas dan saya menulis ini bukan untuk berbagi teknik, karena semua itu sudah bisa dipelajari sendiri.  Yang akan saya bahas di sini adalah kesimpulan yang bersumber dari pengalaman semata.

  • Hal pertama yang akan saya kemukakan adalah komunikasiPernahkah kita membuat seseorang menjadi jengkel akibat tulisan/perkataan kita, padahal maksud kita samasekali bukan untuk membuatnya jengkel? 
  • Hal kedua, adalah cara berkomunikasi. Cara berkomunikasi verbal dan tertulis yang baik merupakan bagian dari pembentukan seorang penerjemah yang baik … benarkah?
  • Hal ketiga, tentu saja, mengenai mentor. Renungkan sesaat, berapa banyak mentor yang kita miliki dari sejak memulai profesi ini hingga saat ini?
  • Hal keempat adalah tentang alat, ini sangat ramai dibicarakan [terutama penggunaan CAT Tools]. Saya menangkap asumsi “sumbang”, bahwa seorang penerjemah belum dapat dikatakan profesional kalau belum menggunakan CAT Tools – benarkah?

Dua hal pertama yang saya sebutkan dari keempat butir di atas adalah the basic commands for someone to become a translator. Alasannya sederhana: bahasa adalah alat komunikasi, dan penerjemah berhubungan dengan bahasa. Lantas, mengapa saya tidak menyertakan pemahaman mengenai bahasa sasaran dan bahasa sumber? Karena dua hal itu sesungguhnya menjadi “pemicu” seseorang untuk “berinisiatif” menjadi penerjemah.

Memahami bahasa asing + menjadi orang Indonesia (yang mengikuti pelajaran bahasa Indonesia di sekolah) = bisa menjadi penerjemah … benarkah?

Ya, hal inilah yang sebenarnya ingin saya “basmi” – jujur, saya bisa memahami bahasa Belanda dan Malaysia dengan baik, tapi saya tidak mau menjadi penerjemah dua bahasa itu. Mengapa? Karena dua faktor di atas, “komunikasi” dan “cara berkomunikasi”. Dua hal ini penting – sangat penting – dan bisa MENJADI BERBAHAYA jika dijalani dengan cara yang “salah”. Dan alasan ngeles “Ah kan ada Google Terjemahan” tidak akan membantu untuk mengatasi bahaya itu – saya akan mencoba menerangkan secara santai nanti, alasan mengapa Google Terjemahan/Google Translate TIDAK BISA membantu untuk menjadi penerjemah.

Profesi penerjemah BUKAN profesi yang bisa dikerjakan sambil lalu.

Profesi ini juga BUKAN profesi yang bisa dijalani dengan semata menimbun kamus, CAT Tools, komputer super canggih, atau koneksi Internet super lancar.

Profesi ini BUKAN profesi yang menjadi sah karena Anda pernah tinggal di negara berbahasa asing.

Profesi ini adalah mengenai

“Understanding what the content means and communicating them through your understanding, your perception, with ways that your intended readers/listeners understand.”

Tulisan ini akan saya bagi menjadi beberapa bagian – karena saya tidak suka menulis panjang-panjang.

And anyway, I need to get back to my deadlines.

 

Bandung, 1 April 2014

 

 

… Berhentilah Kejar Setoran, Anda memakan korban …

Standard

Image

(Pemikiran “volume besar, duit besar” – tidak sadar akan kemampuan diri ketika berkata dalam hati, “Saya sebenarnya tidak sanggup, but just think of the money deh”, dan kemudian setelahnya, “Ah, si klien tidak akan pernah tahu, yang penting saya sudah dibayar” = PENERJEMAH KEJAR SETORAN)

Ini kisah pendek tentang suatu hari Kamis yang mendung, ketika saya harus menjadi proofreader.

Kisah pendek menjadi panjang ketika saya mendapati bahwa terdapat banyak sekali kesalahan yang sebenarnya tidak perlu. Suasana hati berubah dari cerah ceria menjadi kelam tak terkira – tak terbayang bahwa penerjemah rekan saya ini bisa membuat sedemikian banyak kesalahan.

Kisah yang sudah setengah panjang menjadi lebih panjang dan menggusarkan ketika dokumen diverifikasi menggunakan X-Bench (apa itu X-Bench? Akan saya terangkan kapan-kapan). Banyak sekali yang tidak konsisten, salah ketik dan benar ketik bercampur baur menjadi satu dan menimbulkan tanda tanya.

Saya, si proofreader, akhirnya berpikir juga (setelah menjadi bolot selama 3 jam lebih), jangan-jangan ada yang salah dengan si penerjemah. Si proofreader mengecek kembali isi Translation Memory (TM) dan melongo.

Semua ketidak-konsistenan, semua salah ketik, semua salah terjemahan (Table of Contents diterjemahkan menjadi “Indeks”?? Come on! Itu bahkan bukan kesalahan newbie!) berasal dari isi TM, data dari penerjemah sebelum kami semua. Terbayanglah wajah panik si penerjemah rekan saya yang berusaha menyelaraskan hasil terjemahannya dengan isi TM yang acakadut itu, terbayang rasa gusar dirinya karena dia tidak bisa menulis yang benar – karena perintah untuk menjadi konsisten menjadi jauh lebih penting.

Wahai Anda di luar sana yang hanya mementingkan uang, yang berani-beraninya menerjemahkan “Daftar Isi” sebagai “Indeks” (fatal), “pertahanan” menjadi “penerimaan” (fatal), “nilai tengah” menjadi “rata-rata” (super fatal) – ini hanya tiga contoh dari ribuan segmen yang telah Anda rusak – sesungguhnya uang yang Anda makan dari hasil terjemahan jelek itu mungkin telah habis, tapi jejak kesalahan Anda yang jelek luar binasa masih terus membekas mungkin hingga selamanya, dan tidak pernah terpikir oleh Anda bahwa kami (penerjemah berikutnya, editor, proofreader, klien) yang akan “katempuhan” (arti: ketiban sial).

There is a fine thin line between wanting to get more money and experience, with multiplied stupidity. 

Bandung, 12 Januari 2014

(Masih harus memeriksa sepuluh ribu kata lagi … *keluh*)