Tag Archives: bahasa indonesia

Sudahkah Anda Merasakan Semuanya?

Standard
Sudahkah Anda Merasakan Semuanya?

Sepertinya saya mencetak rekor baru lagi dengan mengabaikan blog ini sejak terakhir diisi (bulan Juni tahun 2018), dan kemudian keinginan menulis seolah hampir hangus tak bersisa. Baru-baru ini saya “menyempurnakan” lenyapnya diri saya dari Facebook dengan menghapus halaman yang berisi karya perhiasan kawat saya. Tidak ada rasa sesal hingga saat ini – sepertinya keengganan saya untuk muncul dan berkoar-koar di media sosial sudah menjadi rasa malas permanen. Dan tampaknya kemalasan saya menulis di blog akan berlanjut andaikan saya tidak berusaha untuk memulai lagi.

(Kemampuan menulis itu penting untuk penerjemah. Bagaimana bisa saya merangkai kata-kata terjemahan yang baik kalau saya tidak bisa menuliskan narasi yang baik?)

Blog ini tidak pernah menjadi sarana promosi saya sebagai penerjemah profesional. Judul dari blog ini benar-benar mencerminkan apa yang ingin saya lakukan: To say what is on my mind. Saya pernah berjanji untuk menuliskan tips dan trik penerjemahan lebih banyak lagi, tapi akhirnya saya kebingungan – apa yang saya ketahui sudah terlalu kompleks untuk diutarakan hanya dengan satu kali tulisan, dan terkadang pengetahuan itu juga terasa tidak penting untuk dibagi dengan orang lain (kecuali tentu saja jika mereka pernah mengalaminya juga).

(Saya sering merasa ragu mengenai manfaat dari tulisan saya. Tapi dengan sedikit encouragement kepada diri sendiri bahwa setidaknya saya berusaha jujur, maka saya akan mencoba lagi untuk menuliskan pendapat saya, sekali ini tanpa embel-embel ketenaran.)

Menjadi penerjemah lepas waktu itu tidak mudah. Seorang typist (pengetik) bisa menghabiskan 47 kalori hanya dengan duduk diam dan mengetik selama 1 jam. Kalikan itu dengan 10 jam – 470 kalori, sama dengan energi berlari sejauh hampir 4 kilometer. Menjadi penerjemah membutuhkan stamina yang nyata! Dan pekerjaan ini memiliki sisi menyenangkan dan juga busuk. Bagian menyenangkan bagi saya adalah menerima materi yang menarik dan imajinatif – baik itu kontrak kerja, materi pemasaran, atau sekadar rangkaian UI, sedangkan busuknya adalah ketika saya harus berhadapan dengan penerjemah lain yang sikapnya macam kampret,¬†tidak mau menerima masukan editor, dan terus membuat kesalahan tolol dengan sikap yang keras kepala. Dua hal ini hanya contoh. Kalau saya disuruh menuliskan kebaikan vs keburukan, saya bisa menghabiskan waktu satu hari lamanya. Lama kelamaan saya menyadari bahwa apa yang disebut sebagai “keterampilan menerjemahkan” sebenarnya adalah hal yang jauh lebih kompleks dari sekadar mengerti bahasa lain dan paham konteks serta budaya. Dan terkadang saya merasa bahwa profesi ini menuntut terlalu banyak dari saya. Sungguh – ada saat-saat ketika saya muak menghadapi dokumen, menghadapi klien, dan gemetaran ketika membaca e-mail masuk karena saya sudah burned out. Setelah menjadi penerjemah lepas waktu untuk waktu yang cukup lama, akhirnya saya menjadi cukup arif untuk tidak mengagung-agungkan profesi saya ini, tapi oleh karenanya pun saya tidak bisa lagi berpromosi tentangnya. This is just a profession – dan seperti layaknya profesi lain, profesi ini tidak sempurna – namun ia menuntut pelakunya untuk menjadi sempurna.

(But …. Do I love this job? Well yeah, sure, perhaps. Terkadang saya mencintainya, terkadang tidak samasekali. Tapi satu hal yang saya tahu pasti, bahwa saya memiliki keahlian yang tinggi untuk melakukan semua ini. Saya memiliki pengetahuan, wawasan, dan soft skills yang mencukupi (dan terus bertambah) untuk terus melakukannya. I am good at what I do, saya sadar benar soal ini – karena itulah saya tidak pernah berpikir untuk alih profesi, walaupun terkadang saya lelah.)

Sejak tahun lalu saya mulai menampik permintaan untuk presentasi dan berbagi pengalaman, karena saya masih belajar untuk berbagi dengan cara yang tidak membuat orang lain ketakutan dan patah semangat. Pada umumnya seorang (calon) penerjemah lepas yang baru memulai ingin mendengar tentang apa yang bisa mereka lakukan dalam profesi ini – dan sejujurnya saya tidak ingin lagi memberi informasi yang klise. Apa profesi ini bisa menjadi penopang hidup? Jelas. Bisa membuat kita mampu untuk membeli barang-barang mewah atau mahal? Tentu saja – tuh buktinya, ada yang bisa beli rumah dan tanah, saya pun termasuk. Bisa dijalani untuk menyekolahkan anak ke perguruan tinggi negeri bergengsi? Bisa dijalani untuk menghidupi keluarga? Bisa lah, bisa. Tapi semua pertanyaan ini berhenti sampai di situ, padahal sebenarnya saya ingin sekali melanjutkan ….

….. what sacrifices are you willing to make to get there?

…… because the point of success is not when you got a lot of projects. The success is to get through even when you have no projects for months.

…… the success is to stay sane, healthy, and professional despite of everything.

…… the success is to hang on to your principals, your rates, your work ethics, despite of all the odds against you.

Mengerjakan sepuluh ribu kata itu mudah, tapi bertahan untuk tetap mengerjakan proyek-proyek “receh” sementara bertahan hidup dan memperkaya diri dan pikiran, itu jauh lebih sulit. Menerjemahkan untuk memperoleh uang banyak itu jauh lebih mudah ketimbang bertahan dari godaan untuk berfoya-foya tidak jelas dengan menggunakan uang hasil kerja terjemahan. Mencari klien itu lebih mudah ketimbang mempertahankan mulut (dan jemari) ini untuk tidak menyinyiri penawaran harga (dan kelakuan) penerjemah lain/klien (terutama di media sosial! Duh!). Profesi ini melibatkan stamina, daya tahan luar biasa terhadap stress, kemampuan untuk melompat-lompat dalam ruang adaptasi yang terkadang sangat sempit, dan kemampuan luar biasa untuk menahan emosi supaya fisik dan reputasi tidak berbarengan rusak bersama hasil pekerjaan. Penerjemah lepas waktu harus selalu sehat, awas, cerdas, cepat tanggap, dan juga cermat – karena jika tidak dia akan segera tersingkir, bukan melulu karena hasil pekerjaan yang buruk, tapi juga karena ethical conduct yang buruk – dan yang terakhir ini sangat mematikan, karena sesungguhnya hasil terjemahan bisa selalu diperbaiki (we all got our bad days), tapi ethical conduct yang buruk sulit sekali diperbaiki/dihilangkan.

Sukses dalam profesi ini tidak ditentukan oleh seberapa banyak pekerjaan yang bisa kita dapatkan, tapi ditentukan oleh seberapa tegak kita bisa tetap berdiri setelah melalui semuanya.

Sungguh, profesi ini tidak mudah. Jika ada yang berkata bahwa profesi ini hanya mencakup literasi, kemampuan berbahasa, dan kemampuan menyimak konten serta budaya …. saya hanya bisa berkata, “Kalau begitu, Anda belum pernah merasakan semuanya ….”

Bandung, 3 Februari 2019

~ Tulisan pertama pada tahun 2019 yang melewati swa-sunting sampai LIMA KALI …

I am getting pretty rusty ūüė¶ … ~

… dan Akhirnya Saya Menghapus Facebook

Standard

Saya sudah ada di Facebook dari tahun 2008. Saya ingat benar alasan ketika membuat akun itu dan sampai sekarang pun masih ingat. Saya ingat ketika saya melalui beberapa fase tata letak, unfriend dan re-friend satu dua orang silih berganti, dan blokir serta berhenti memblokir beberapa orang.

Keputusan (besar) saya untuk berhenti fesbukan bukan didorong oleh alasan ‘konten politik’, walaupun saya harus mengakui bahwa pembahasan tentang politik di Facebook membuat saya jengah setengah mati. Tidak, sepertinya saya masih bisa tahan membaca semua ‘runtah’ (sampah) itu, andaikan hidup bisa saya kotak-kotakkan supaya Facebook dan media sosial lainnya bisa masuk nyempil manis ke dalam eksistensi saya. Di Facebook saya sudah memiliki audiens, saya tidak perlu struggling (lagi) untuk dikenal karena 1.100+ teman saya tahu siapa saya, apa profesi saya, bakat saya, dan sebagainya. Facebook adalah hal pertama yang saya baca ketika bangun tidur dan hal terakhir yang saya tutup sebelum mematikan hape. Facebook adalah bagian dari hidup saya, dulu.

Sampai akhirnya saya ‘disakiti’ olehnya.

Hidup saya telah disetir oleh Facebook. Saya tersinggung ketika melihat orang yang tidak tahu apa-apa berani menyindir saya dan membicarakan saya diam-diam, just because they feel they know me through Facebook. Saya bisa diomeli, dimarahi, dan dicerca hanya karena hal-hal yang saya poskan di sana. Kenalan Facebook mendadak sok akrab seolah mereka sudah pernah mendampingi saya selama puluhan tahun. Dan orang-orang yang tadinya baik akhirnya mengungkapkan jati diri yang sebenarnya, the dirty rotten minds that they arejust because ada kolom ‘What’s on your mind?‘. Saya mulai merasa bahwa saya mengurusi bagian hidup yang sungguh tak penting dan menguras emosi. Sebenarnya saya sudah sering merasa seperti ini. Kebocoran data dari Facebook pun sebenarnya membuat saya bergeming – saya tidak menganggap diri ini sedemikian penting, dan maka oleh itu data saya pun tidak penting. Tapi perasaan bahwa saya bisa memanfaatkan setiap 15 menit yang saya habiskan di medsos untuk melakukan hal lain yang lebih bermakna … pemikiran itu yang menyiksa saya.

Akhirnya saya pun menghapus profil Facebook saya. Dimulai dari yang besar (saya punya dua akun) dan akhirnya yang kecil. Saya masih punya Facebook tapi saya hanya menggunakannya untuk mengakses grup komunitas, tidak lebih. Menghapus dua akun itu membutuhkan tenaga yang luar biasa – hampir sama dengan gejala putus obat, IMO. Saya berjuang untuk mengatasi ketakutan bahwa saya tidak bisa mengontak orang-orang …euh, tepatnya, mereka tidak akan bisa mengontak saya lagi dengan mudah. Saya akan terhapus dari muka bumi. Saya akan berhenti eksis, dan saya akan sendirian.

… dan ternyata, semua ketakutan itu tidak pernah terjadi.

Yeah sure, I am missing out on things. Saya tidak lagi tahu tentang gosip terbaru di antara sesama seniman kawat, saya tidak bisa seketika tahu siapa yang ulang tahun, sakit, atau bahkan meninggal dunia. Tapi orang-orang mulai menghubungi WhatsApp saya. Mereka mulai bertanya tentang hal yang riil, not just because I was there to answer. Kontak dengan supplier bahan perkawatan tetap terjaga, dan saya tidak melukai profesi saya dengan berhenti fesbukan. Sekarang telah genap satu bulan setengah sejak saya berhenti menggunakan medsos itu, dan saya merasa bahagia.

Hidup saya tidak ada kurang-kurangnya. Anak-anak sehat dan terus tumbuh, suami saya makin penyayang setelah kami menempuh 20 tahun bersama-sama, dan saya bisa fokus pada hal yang penting: Pekerjaan, olahraga, hidup keseharian, dan teman-teman yang benar-benar mencintai saya apa adanya, dan bukan sekadar follower yang ada di sana untuk menawarkan barang/menjual profesinya. Saya merasakan hidup yang jauh lebih bermakna dalam beberapa bulan terakhir ini, ketika akhirnya saya berhenti jaim dan bisa berkata jujur tentang apa yang saya rasakan, di sini, di media lain, tanpa ada kewajiban untuk menjaga ‘hubungan’ yang sebenarnya tidak pernah ada tanpa Facebook. Saya tidak perlu mengkritik pendapat/sharing orang lain lagi, dan oleh karena itu orang lain tidak perlu mengkritik saya. Alasan pembenaran bahwa Facebook adalah tempat menjual barang/jasa pun sudah saya kesampingkan, karena saya benar-benar sudah bosan memberi alasan kepada diri sendiri untuk mempertahankan hal yang tidak bermakna, just because.

Tapi terkadang saya suka merenung sambil setengah geli. Saya yakin bahwa ada beberapa orang baper yang menganggap bahwa saya telah memblokir mereka, for only them and God knows why. Lucu, karena saya pun tidak pernah tahu siapa mereka, tapi tampaknya mereka merasa mereka tahu siapa saya.

Jadi di sinilah saya sekarang, sendirian. Saya bukan siapa-siapa tapi saya tidak mau menjadi somebody yang terkenal sebagai artis Facebook.

I am happier now.

~ Bandung, dini hari 3 Juni 2018

Agensi Penerjemahan vs Klien Langsung: Memilih Kenyamanan

Standard

Sebelumnya, saya akan memperjelas istilah ini: agensi penerjemahan adalah “perantara” antara penerjemah dengan klien langsung. Mereka menerima pekerjaan, mengatur volume, mengatur tenggat, dan mengatur pembayaran. Sedangkan klien langsung adalah siapa pun itu yang membutuhkan jasa penerjemahan.

Sebenarnya menurut saya, pada dasarnya tidak ada pilihan yang lebih baik dari keduanya. Agensi penerjemahan punya kekurangan dan kelebihannya, begitu juga klien langsung. Ini hanya masalah “kesehatan jiwa” saja. Yaitu, seberapa besar rasa nyaman si penerjemah ketika bekerja untuk keduanya. Mari kita tinjau sejumlah faktor kenyamanan ketika bekerja untuk agensi penerjemahan (dalam dan luar negeri):

  1. Jatah pekerjaan diatur. Biasanya ketika kita melamar ke agensi penerjemahan (dan kemudian diterima), mereka bertanya tentang kapasitas harian kita (yaitu seberapa banyak kita bisa menerima pekerjaan). Kita yang atur sendiri, dan kita juga yang modhar sendiri kalau salah lapor kapasitas. Agensi tidak akan pernah bilang, “Kan nerjemahin itu tinggal ngetik? Gampang kan, masa 30 halaman sehari gak bisa beres?” (iya bener, da gue teh kemana-mana gendong monitor sama keyboard).
  2. Tipe klien diatur sesuai kesediaan kita. Ketika kita melaporkan bahwa “Saya cacat dalam hal penerjemahan ekonomi”, agensi akan menandai dan mereka tidak akan kasih terjemahan makalah ekonomi ke kita. Dan kita boleh menolak tipe kerjaan yang tidak sesuai dengan keahlian (sambil marah-marah pun boleh kalau kita sudah pernah mengisi data vendor di agensi – walaupun saya gak saranin untuk marah-marah). Agensi tidak akan pernah berkata, “Loh katanya kamu penerjemah, kamu harusnya bisa dong nerjemahin segala macam bidang?!?” (ngek – emangnya gue ikan sapu – segala dimakan).
  3. Tenggat waktu mereka atur sesuai kesepakatan dengan kita – dan mereka akan membantu nego ke klien akhir (penyewa agensi) ketika kita terlambat (karena alasan yang jelas, tentu saja). Kita gak perlu repot nelepon agensi karena panik gas di rumah habis (dan oleh karena itu harus berburu gas dulu) atau gak perlu panik ketika listrik di rumah mati. Kita cukup kirim e-mail ke mereka untuk menerangkan situasi, dan mereka yang akan nego ke klien akhir. Kita gak akan kena semprot klien akhir – mereka yang akan kena semprot, hahahaha.
  4. Tidak perlu menagih pembayaran seperti debt collector (e-mail, telepon, datengin ke kantor!). Rata-rata agensi yang bonafid punya sistem pembayaran mereka sendiri, dan biasanya mereka menginformasikan tenggat waktu pembayaran di muka (dalam kontrak/NDA yang kita tandatangani ketika diterima masuk ke agensi – mohon perhatikan informasi ini ketika mendaftar ke agensi). Mereka tidak akan bersikap innuendo soal pembayaran dan harga yang sudah disepakati di awal relatif tidak berubah, kecuali ketika proyeknya besar dan mereka meminta diskon.
  5. Kita gak perlu mumet soal layout – ini bagian yang menurut saya melegakan. Bagi para penerjemah yang bekerja untuk agensi dan menerima file dalam bentuk CAT-formatted, bersyukurlah karena yang perlu dilakukan hanyalah menerjemahkan, titik. Gak ada pusing geser-tabrak-copas-senggol supaya terjemahan kalian masuk ke dalam kolom 2×2 cm. Agensi yang mengatur semuanya karena mereka punya yang namanya DTP specialist – yaitu mereka yang mengatur supaya terjemahan kita yang panjang lebar tinggi itu bisa masuk dengan manis ke semua format majalah, Power Point presentation, film (sebagai teks dan running text), game, dsb.

Di sisi lain, terdapat sejumlah faktor kenyamanan juga ketika kita bekerja untuk klien langsung:

  1. Kita bisa melakukan diskusi yang menyeluruh dengan mereka, terutama tentang materi terjemahan. Ketika mereka memberi buku, kita bisa bertanya, untuk siapa terjemahan buku ini nanti. Konsumennya siapa, audiensnya siapa? Oleh karena itu kita akan lebih bisa menyesuaikan konteks dan tidak meraba-raba audiens/menarik kesimpulan sembarang. Dan oleh karena itu, hasil akhirnya cenderung lebih tepat sasaran.
  2. Kita bisa nego tenggat dengan leluasa tanpa perlu mengingat-ingat “berapa ini kapasitas yang gue pasang di Linked In/Proz/TC/NDA/bla-bla??“. Misalkan untuk 30 halaman kita meminta 5 hari, tapi pada kenyataannya ketika kita menyelesaikannya dalam 3 hari, klien akan lebih berterima kasih – dan mungkin akan mencatat nama kita sebagai “penerjemah anu yang responsnya bagus dan pekerjaannya profesional” – dan dampaknya akan lebih jelas terasa karena si klien ini akan merekomendasikan kita ke teman-temannya yang lain yang membutuhkan jasa penerjemah (the power of WoM!).
  3. Harga yang dipasang bisa lebih besar – ini salah satu keuntungan asyik dari bekerja dengan klien langsung. Mari kita bandingkan dengan contoh:
    misalkan, agensi penerjemahan luar negeri bisa mematok harga per kata sebesar $1. Tapi jangan senang dulu. $1 ini dibagi-bagi lagi ke biaya admin, biaya editor, biaya processing, biaya DTP, dsb dst … sehingga porsi penerjemah hanya $0,08-0,10 per kata. Klien langsung dari luar negeri hanya membutuhkan jasa penerjemahan, oleh karena itu akan sah saja ketika kita meminta biaya misalkan … $0,3 per kata. Hukum ini bisa berlaku dan bisa menguntungkan, asalkan si penerjemah siap menjalani proses ini sampai selesai (misalkan dengan membantu klien merapikan tata letak dokumen, mencarikan editor, dsb – dan biasanya klien langsung tidak butuh hal-hal njelimet, mereka hanya butuh terjemahan yang rapi tanpa format aneh-aneh, apalagi running text).
  4. Enggak usah pake CAT Tools РOK, kalau saya sih menganggap bahwa nerjemahin tanpa CAT tools itu = cari mati (ini pendapat pribadi Рmelulu karena mata ini sudah lamur untuk mencari typos dan terlalu malas untuk copas format), tapi bagi mereka yang belum biasa menerjemahkan dengan CAT tools, kerja sesuai metode pilihan (dua kolom di MS Word, atau ketik timpa langsung di atas dokumen, dsb) menjadi lebih melegakan dan tidak membuat mumet karena harus belajar CAT tool dulu. Klien langsung hampir tidak pernah meminta terjemahan dilakukan di Trados atau MemoQ. Mereka hanya ingin hasil akhir yang rapi dan terbaca, dan oleh karena itu kita bebas menggunakan metode apa saja asalkan hasil akhir terbaca rapi dan baik.
  5. Pembayaran lebih cepat. Agensi penerjemahan punya sesuatu yang namanya payment cycle, dan kisarannya adalah dari mulai 30-60 hari. Jadi, penerjemah tidak langsung dibayar untuk hasil kerjanya di agensi. Sedangkan klien langsung bisa langsung membayar ketika kita mengirim hasil – bukankah ini melegakan dan menyenangkan? Gak ada H2C karena menghitung hari (sambil nyanyiin lagunya Krisdayanti) sembari baper karena belum beli gas, akua, dan bahan makanan, dan uang sekolah si kecil belum dibayar padahal udah tanggal belasan. Meminjam perkataan teman saya, “Sudah lunas sebelum keringat kering”.

Semua penjabaran saya ini ditulis berdasarkan pengalaman – pilihlah apa yang menurut Anda nyaman, jangan pikirkan uangnya (dulu) karena sesungguhnya uang datang dari kenyamanan bekerja. Jangan memaksakan kerja untuk agensi penerjemahan ketika payment cycle membuat Anda merinding disko dan jangan paksakan bekerja untuk klien langsung ketika perkataan mereka tentang profesi terjemahan selalu membuat Anda naik darah (sejujurnya, masyarakat Indonesia masih membutuhkan edukasi tentang profesi penerjemah dan oleh karena itu bersabarlah).

Saya sendiri memilih untuk bekerja dengan agensi penerjemahan luar negeri karena saya merasa lebih diuntungkan dan lebih terbantu – saya lebih bisa menerima kekurangan mereka ketimbang bersabar menghadapi klien langsung. Namun sesungguhnya semua ini sama dengan makan bubur ayam – antara kubu diaduk dan tidak diaduk … you choose, and don’t let anyone criticize your choices!

Salam pagi dari Bandung yang mendung.

 

Hasil Sempurna di Tengah Badai

Standard

Sebelum melanjutkan, saya akan menegaskan bahwa judul di atas itu sebenarnya sangat tidak mungkin terjadi kecuali jika Anda memang tidak punya perasaan.

Jadi, begini dongengnya. Saya punya klien yang terbilang baru Рmereka baru resmi mengontrak saya tiga bulan yang lalu. Ternyata, setelah melakukan dua pekerjaan untuk mereka, saya menemukan bahwa cara mereka menyampaikan kesalahan-kesalahan saya sungguh tidak mengenakkan. Bukan dengan makian, tapi mereka bersikap sangat dingin dan judgmental, seolah saya ini mesin yang tidak boleh melakukan kesalahan. Saya bukan penerjemah abal-abal, tapi ketika mereka menyampaikan hasil koreksi, saya selalu merasa sebagai penerjemah abal-abal. Skor keakuratan saya (menurut data di vendor portal) turun menjadi 91,5 persen, sedangkan mereka mengharapkan skor di atas 93 persen.

Awalnya saya merasa frustrasi dan bersalah. Kemudian saya melihat bahwa si klien ini rupanya menggunakan metrik skor LQA (Leading Quality Assurance) yang sebenarnya sudah ditinggalkan banyak agensi karena sisi humanity penerjemah samasekali tidak disentuh oleh skor ini. Metrik ini melulu hanya kalkulasi yang sangat bergantung pada persepsi editor mengenai kesalahan penerjemah. Sebagai contoh, ada yang menganggap typo error sebagai kesalahan fatal (critical), sedangkan ada beberapa editor lain yang menganggap fatality terletak ketika penerjemah tidak memahami isi kalimat bahasa Inggris yang diterjemahkan (saya termasuk yang kedua). Entri editor pada metrik menentukan seberapa besar skor penerjemah, dan tergantung dari persepsi editor terhadap kesalahan, skor penerjemah bisa menjadi tinggi atau sangat rendah. Di sinilah saya merasa tidak enak. Persepsi PM terhadap kesalahan saya itu cenderung judgmental dan non-encouraging, padahal saya memiliki dua alasan mengapa terjemahan saya menjadi seperti itu, yaitu tenggat yang sungguh mepet dan opsi software mereka yang tidak mendukung. Menurut saya, untuk pekerjaan di atas seribu kata, opsi software tanpa spellcheck dan rigorous machine quality assurance adalah opsi buruk karena (menurut riset kecil-kecilan saya) penerjemah profesional akan membuat satu typo per 300 kata yang diketiknya. Bayangkan terjemahan enam ribu kata, betapa banyak typo dan missed translation yang bisa terjadi? Penerjemah yang dikejar tenggat tidak akan mampu memeriksa ini dalam waktu singkat. Dengan kata lain, editor harus siap mental dan bersikap lebih legowo.

Eniwei, saya memikirkan apakah saya akan berusaha memperbaiki kesalahan itu lain kali, atau berhenti saja bekerja untuk klien ini. Yang membuat saya keberatan sebetulnya adalah metrik skor itu. Saya sudah bekerja untuk banyak klien lain selama lebih dari 10 tahun, dan yang saya sangat hindari adalah klien yang memperlakukan penerjemah bagaikan mesin, yang¬†mengukur kemampuan hanya dari skor dan bukan dari hal-hal lain seperti sikap asertif, inisiatif, keramahan, cepat tanggap, dan lain-lain. Saya mempertimbangkan, sampai kapan saya bisa mengejar kesempurnaan? Apa ada jaminan bahwa tidak akan terjadi badai lagi dalam hidup saya? Saya akan bandingkan dengan satu agensi lain yang selalu bertanya dengan nada ramah dan baik hati ketika terjemahan saya kurang dari pengharapan mereka. Karena merasa “diberi angin”, saya bisa dengan bebas mengungkapkan perasaan profesional dan preferensi saya, sehingga akhirnya mereka bisa mengakomodasi dengan memberi (1) tenggat lebih baik, (2) materi yang lebih sesuai dengan kemampuan, dan (3) masukan mengenai cara kerja yang lebih baik untuk penerjemah dari sudut pandang korporasi. Tiga hal ini membuat saya bersemangat dan merasa harus terus memberikan yang terbaik. Akhirnya hubungan ini memotivasi saya untuk meningkatkan kinerja, sampai akhirnya dua hari yang lalu salah satu PM agensi lama ini melaporkan bahwa materi terjemahan saya tidak dikomentari samasekali oleh internal reviewer mereka, alias lolos bersih untuk diserahkan dan dinilai oleh klien akhir.

Akhirnya saya sadar sepenuhnya bahwa hasil sempurna tidak bisa dituai di tengah badai, betapa pun profesionalnya seorang penerjemah. Hubungan yang menyenangkan antara berbagai pihak dalam penerjemahan¬†adalah satu hal yang saya cari dan saya hargai. Saya tidak bisa membangun hubungan lewat metrik skor dan jelas bahwa saya tidak bisa bekerja dengan PM yang memberi input dingin hasil copy paste dari editor. Saya butuh PM yang memahami bahwa terkadang penerjemah lebih membutuhkan toleransi dan masukan. Saya jadi lebih sadar lagi akan hal ini ketika memeriksa pekerjaan seorang teman yang (ternyata) dihasilkan dari lingkungan sangat “panas”, dengan konsentrasi yang terpecah belah. Owalah, hasilnya mirip Google Translate padahal saya tahu benar bahwa kualitas ybs jauh lebih tinggi dari itu. Awalnya saya kesal karena saya tidak tahu siapa penerjemahnya (sampai sempat menulis status di Facebook), tapi setelah tahu, saya langsung menghubungi ybs dan bertanya (dan saya langsung hapus statusnya). Akhirnya saya memahami situasi ybs. Saya harus fair, saya pun pernah mengalami situasi buruk seperti itu beberapa kali dan output saya sungguh memalukan. Ketika¬†saya diposisikan sebagai penilai hasil dan punya peluang untuk menghubungi penerjemah dan bertanya, saya merasa wajib menggunakan peluang itu alih-alih mencelanya habis-habisan, apalagi lewat status Facebook – yang cuma bisa menunjukkan superioritas saya sebagai seasoned translator¬†yang¬†tidak peka situasi.

Dan akhirnya saya memutuskan untuk melepaskan agensi yang dingin itu. Ya sudah, nanti kalau ada pekerjaan lagi saya tinggal decline, toh mereka juga memberi perintah kerja lewat automated system, ha ha.

~Penerjemah juga manusia, dan hanya manusia. Kerjasama antara PM, penerjemah, dan editor, adalah kerjasama yang akan memberikan hasil optimal.~

Bandung, 19 November 2015

(VI) Kenangan Mega Project: It Ain’t Over Until It’s Over

Standard

Kami istirahat dari mega project selama satu bulan penuh. Sementara itu saya melakukan sedikit jalan-jalan ke berbagai situs portal penerjemah dan menemukan bahwa reputasi agensi Z sesungguhnya telah sangat buruk karena wanprestasi berulang kali terhadap penerjemah, terutama yang bayarannya besar.

Pada sekitar bulan Agustus 2011, pekerjaan penerjemahan game dihentikan karena adanya konflik internal dalam masalah keterjualan produk terjemahan itu. Hari ketika saya menerjemahkan game itu untuk terakhir kalinya adalah hari yang sangat menyedihkan. Delapan bulan di sana merupakan delapan bulan yang paling membahagiakan dalam hidup saya – e-mail tugas penerjemahan game adalah e-mail yang paling saya tunggu dan saya selalu mengerjakan semuanya dengan gembira. Sebaliknya, mega project yang kembali jatuh ke tangan saya setelah “berkeliling” ke agensi-agensi lain terasa makin menyebalkan, makin membuat minat surut, dan makin membuat kesal, karena kami tak kunjung dibayar.

Fase terakhir dari mega project itu adalah koreksi translation memory vs file aktual yang akan digunakan untuk memperbarui tampilan di situs web portal hotel, dan oleh karena itu saya harus mencari sejumlah kesalahan yang sangat kecil dan tidak berarti untuk kemudian diperbaiki dan dikirim kembali ke agensi Z. Ini adalah pekerjaan yang sungguh menyebalkan, bahkan untuk penerjemah paling jeli sekali pun. Tim masih terus mendapatkan pekerjaan menerjemahkan tapi fase koreksi akhir ini membuat saya gila. Bayaran yang terus tertunggak membuat saya gila. Sampai akhirnya saya membuat keputusan yang lebih gila lagi, yaitu untuk berhenti mengerjakan mega project ini secara permanen.

Pemutusan hubungan kerja ini menempatkan saya di posisi sulit: di depan tim saya, dan di depan PM agensi Z. Setelah berdebat terus dengan PM agensi Z, saya harus menerangkan kepada anggota tim mengenai alasan saya berhenti. Waktu itu saya dirundung ketakutan bahwa invois pekerjaan ini akan mencapai biblical amount yang tidak mungkin bisa dibayar oleh agensi mana pun – dan jika demikian adanya, maka agensi Z akan lari. Kepercayaan saya kepada mereka sudah menipis karena maraknya informasi di internet mengenai kinerja mereka dalam pembayaran, dan saya merasa bahwa saya harus menyelamatkan whatever’s left of me, and other translators, by quitting the job.

And so I did.

Sebelum saya berhenti, saya telah mencari-cari tim penerjemah lain yang kira-kira sanggup menangani tipe pekerjaan seperti ini dan saya menemukan satu teman yang memiliki agensi penerjemahan lokal nun jauh di sisi Jawa sana. Saya menilai kinerja teman ini baik dan daya persuasi dia tinggi, karena itu dia mungkin lebih bisa memperlancar bayaran ketimbang saya. Akhirnya saya rekomendasikan nama teman ini dan saya minta agensi Z menghubungi dia saja, sementara saya menunggu pelunasan pembayaran.

Apa urusannya selesai sampai di sini? Tentu tidak.

Sejak saya berhenti bekerja untuk agensi Z, akuntan agensi itu telah berganti hingga dua kali dan saya makin sulit menagih. Akhirnya diam-diam saya menghubungi seorang pengacara dan berkonsultasi mengenai probabilitas penuntutan agensi Z. Jujur? Buruk. Posisi mereka yang di Singapura dan pemberian kerja tanpa kontrak yang jelas sudah membuat masa depan pembayaran ini menjadi sangat suram. Saya simpan informasi ini karena saya pikir saya masih punya kartu As walaupun hanya dua gelintir. Saya telah berkonsultasi ke pengacara dan prospeknya buruk Рtapi agensi Z tidak perlu tahu ini.

E-mail terakhir yang saya kirimkan kepada agensi Z bersifat singkat, padat, disertai lampiran invois tertagih yang sudah dilampirkan puluhan kali sejak saya berhenti bekerja untuk mereka. Saya berkata dengan nada sangat sederhana: tidak bayar, saya tuntut ke pengadilan. Prospek masa depan kalian akan suram jika saya menuntut – karena saya menuntut demi keadilan. Mau saya bertindak sampai sejauh itu? Jika tidak, mohon bayarkan semuanya. Saya menunggu jawaban kalian.

Dua hari kemudian e-mail saya ditanggapi oleh akuntan (baru) dan dia berkata bahwa karena jumlah yang besar, agensi Z akan melakukan pencicilan sebanyak tiga kali, dengan jarak masing-masing cicilan dua bulan. Terbayang oleh saya bahwa andai kami tidak berhenti tepat pada waktunya, invois ini benar-benar tidak akan terbayar. Akhirnya saya membuat skema pembayaran dan setiap ada pembayaran, saya mengikuti skema itu sampai akhirnya pembayaran sisa mega project sebesar kira-kira 200 juta rupiah lunas pada tahun 2012 untuk semua penerjemah.

Setelah¬†mega project ini berakhir, saya dan sisa teman-teman tim masih sering berhubungan.¬†Akhirnya saya menyadari bahwa saya lelah, dan saya hanya bisa bekerja dengan beberapa orang saja – karena penanganan tim sebesar 15 orang terasa sangat berat bagi saya, apalagi ketika saya harus melakukan checking dan moral support sendirian. Akhirnya saya “berpisah jalan” dengan sebagian besar dari mereka.

Dari pengalaman ini, saya belajar banyak tentang apa arti teamwork dan cara-cara untuk mempertahankan konsistensi hasil terjemahan dari awal hingga akhir. Sampai sekarang saya masih agak trauma soal wanprestasi pembayaran sehingga saya tidak berani membagi pekerjaan dengan orang lain ketika pembayaran dan prospek agensinya sendiri belum jelas. Yang saya lakukan adalah bekerja bersama agensi itu selama kira-kira satu tahun dan jika selama itu kinerja mereka terlihat baik, barulah saya merekomendasikan orang lain untuk masuk ke agensi itu.

Jadi, enggak, saya tidak tergiur lagi dengan jumlah kata, jumlah bayaran, yang saya tilik pertama kali adalah siapa pemberi pekerjaan, seperti apa bentuk pekerjaannya, dan bagaimana prospek pembayarannya. Jadi inilah alasan kenapa saya bisa berkata bahwa saya mengerjakan lima puluh ribu kata dan tidak membaginya dengan siapa pun. Saya sudah biasa berjudi dengan nasib tapi saya tahu tidak semua orang sanggup melakukannya. Dan jangan lupa juga bahwa ada beberapa jenis pekerjaan yang memang tidak bisa dibagi-bagi, melulu karena konsistensi yang harus dicapai adalah 100 persen dan membagi pekerjaan berarti menumpukan beban 100 persen kepada si penerjemah utama yang merangkap jadi editor/sweeper – itu adalah permintaan yang sangat berat untuk beberapa orang (dan kadangkala bagi saya).

Saya menyamarkan nama-nama agensi di sini bukan karena saya takut pekerjaan saya direbut, tapi sebagai perjanjian etika saya dengan agensi-agensi penerjemahan tersebut, terutama dengan agensi Z, karena saat itu saya berjanji sepenuhnya bahwa kejadian wanprestasi pembayaran ini tidak akan saya bongkar di mata publik demi reputasi mereka, asalkan mereka membayar lunas semua tunggakan invois kami. Saya tidak akan merekomendasikan siapa pun untuk masuk agensi Z (kecuali jika kinerja mereka telah membaik), tapi saya juga tidak akan melarang siapa pun untuk bergabung dengan agensi Z. Dan karenanya pula, saya cuma bisa menyarankan bagi mereka yang berencana untuk mengambil mega project, baik dengan tenggat nyangkuriang atau pun dengan tenggat masuk akal: tilik kinerja klien, dan bersiaplah untuk mengeluarkan persenjataan lengkap ditambah bazooka dan kalau perlu bom waktu, ketika mereka gagal membayar. Ketahui alamat klien, nomor telepon, siapa bos di atasnya, siapa akuntannya. Dari sisi internal, dinamika dan keharmonisan tim harus dijaga dari awal sampai akhir, sehingga kita benar-benar harus percaya kepada mereka, kebal gosip, kebal intimidasi, dan sekaligus melakukan moral support supaya proses kerja menjadi nyaman untuk semua orang.

Sebagai tips terakhir, walaupun terdapat kontrak hitam di atas putih, sesungguhnya pembayaran penerjemah itu melulu didasarkan oleh itikad baik klien karena ternyata kontrak semacam ini tidak bisa digugat semudah itu.

Inilah cerita saya yang teramat panjang mengenai mega project terjemahan satu juta kata.

I have pulled out the impossible.

At the cost of a number of things that I ain’t gettin’ back.

~Bandung, 26 Agustus 2016
Ditulis oleh salah satu penyintas mega project terjemahan Asiarooms dot com

(V) Kenangan Mega Project: Strategi, Demoralisasi

Standard

Sebagai gambaran untuk para penerjemah yang mungkin berminat mengerjakan mega project, kerja tim yang baik adalah ketika pekerjaan bisa dilakukan hampir bersamaan. Seratus lima puluh ribu kata bisa terasa ringan jika dibagi untuk sepuluh orang, dengan beban tujuh puluh lima ribu kata untuk satu orang editor. Waktu itu akhirnya saya menciptakan sistem bertingkat untuk mega project ini, yaitu: sepuluh orang penerjemah, dua orang editor (saya merekrut satu lagi editor), dan satu editor sweeper. Menurut saya ini sistem yang efektif. Saya sebagai pengelola proyek/sweeper bertugas untuk mengontrol proses penerjemahan dan penyuntingan, kemudian menerima hasil akhir yang tinggal saya baca ulang dan konfirmasi (dan pertanggungjawabkan). Sistem ini terasa sangat indah dan ideal, sampai akhirnya saya menemukan “kekurangan” sistem yang akhirnya berbalik menyerang tim ini:

  1. Tidak semua orang bisa meningkatkan kapasitas menjadi lima ribu kata per hari. Kapasitas penerjemah yang umum adalah 1000-2000 kata per hari dengan hasil optimal dan bisa dipertanggungjawabkan. Brute force akan dibarengi dengan penurunan kualitas. Dan pekerjaan ini membutuhkan keluaran sebesar 5000-7000 kata per orang, setiap hari, selama dua hingga tiga hari.
  2. Karena adanya beban pikiran bahwa pekerjaan mungkin tidak dibayar tepat waktu, anggota tim mengambil pekerjaan lain sehingga terpaksa meningkatkan kapasitas hingga dua kali lipat. Mereka jadi cepat lelah mental dan fisik, sumbu pendek. Tenggat terbengkalai, kualitas terbengkalai.
  3. Pengelola proyek harus sangat jeli menilai gaya bahasa. Tidak semua tipe terjemahan bisa dibagi, dokumen dengan uraian panjang-panjang akan membuat perbedaan gaya bahasa terlihat sangat mencolok. Penerjemah harus diberi terjemahan yang membuatnya merasa nyaman agar gaya bahasanya tidak berubah, dan editor harus konsisten memegang hasil penerjemah yang sama agar dia bisa lebih cepat menyunting.
  4. Kerja tim tidak bisa dibarengi dengan rasa curiga dan kesal, terutama ketika kita merasa bahwa pengelola proyek menyembunyikan fakta/tidak transparan dalam soal pembayaran dan jumlahnya, posisi klien akhir, posisi agensi, dan jumlah pekerjaan yang sebenarnya. Faith upon each other itu sangat penting, dan oleh karena itu tidak boleh ada yang disembunyikan.

Camkan empat faktor yang sangat penting ini ketika bekerja bersama para pekerja lepas waktu lain yang tidak diikat oleh gaji. Dan saya melihat akibat dari satu demi satu poin di atas. Hal paling pertama yang mulai kami alami adalah satu dua orang yang mulai sakit, dan satu orang penerjemah sampai terkena¬†tekanan darah tinggi. Dia tidak punya pengganti – dan bisa diduga, terjadi¬†domino effect. Penerjemah lain “kecipratan” beban dia, editor seolah nyaman karena hanya menyunting terjemahan satu dua orang yang gaya bahasanya sama, tapi karena sumbu sudah pendek, tenggat sering terbengkalai dan kualitas pun akhirnya ke laut sudah.

Dalam waktu 4 bulan kami bergiliran sakit. Saya bisa dengan bangga mengatakan bahwa saya yang terakhir jatuh sakit, tapi saya pun curiga itu karena mentalitas saya yang memang nekat. Saya tidak sakit parah, tapi setiap kali ada feedback dari pengulas terjemahan, saya merasa panas dingin. Kualitas terjemahan selalu dan selalu di bawah standar, saya merasa curiga bahwa pengulas ini memang keji atau cara kerja saya yang tidak berterima untuk sistem.

Dulu saya juga buta spesifikasi, dan hampir-hampir buta CAT Tools. Selama dua proyek itu berlangsung, saya tidak pernah berpikir untuk membeli super computer atau mengganti CAT Tools dengan yang asli. Semua itu seolah jauh dari benak saya, sampai akhirnya Bunda Senior menyarankan bahwa saya harus mulai mengganti Trados 2007 bajakan saya dengan perangkat lunak asli. I got the money, why the hell not? Akhirnya saya membeli perangkat lunak Trados Studio 2009 dengan bonus Trados 2007. Saya juga mulai menderita mata baur dan punggung yang panas setiap kali saya menerjemahkan, dan saya dirundung ketakutan bahwa satu dari tiga hal akan terjadi: perangkat lunak crash permanen, atau netbook saya mutung permanen (netbook sudah tidak pernah mati lagi sejak saya menjalankan dua proyek), atau koneksi internet mati permanen. Akhirnya ketika saya dibayar untuk pekerjaan game, saya mengganti netbook dengan laptop yang lebih baru. Dan akhirnya saya berlangganan internet fixed line, karena penerjemahan game membutuhkan kegiatan online dengan streaming yang stabil selama berjam-jam.

Dari dulu saya sudah terbiasa mengejar sesuatu yang seolah tidak berfaedah tapi yang jelas motivasi untuk membahagiakan tim penerjemah sangat kuat waktu itu. Saya tidak peduli dengan ketenaran tapi saya akui bahwa keteguhan saya terhadap komitmen ini mulai membahayakan diri sendiri. Teman-teman dekat saya mulai mengkritik gaya kerja saya yang seolah tanpa akhir, keluarga saya mulai terasa jauh. Saya berhenti memasak dan kami makan makanan pesan antar. Saya mulai bertanya-tanya, untuk apa saya melakukan ini semua?

Saya terus bekerja siang malam sampai akhirnya ketika rumah kosong, saya sibuk mengerjakan sesuatu dan melihat kilasan warna jingga di layar laptop.¬†Ketika saya menoleh ke belakang, saya melihat api membumbung tinggi dari dalam wajan yang saya tinggalkan dengan kompor menyala selama bermenit-menit. Api berhasil dipadamkan, tapi saya mulai merasakan demoralisasi. Saya mengejar ini semua … untuk apa? Bertahan di tengah semua pekerjaan yang tak kunjung habis ini … untuk apa?

Saya merasa mual.

Akhirnya di suatu malam hari, saya pergi menyepi di sudut di teras rumah, dan menangis sesenggukan, sendirian.

Sekitar bulan Mei 2011, saya menghubungi agensi Z dan mengatakan bahwa SEMUA penerjemah sakit. Kami tidak bisa melanjutkan, dan saya sangat enggan untuk melanjutkan dengan kondisi fisik kami yang sudah didera habis-habisan setiap bulannya. Agensi Z memperbolehkan kami istirahat dengan berat hati, dan selama itu saya berusaha untuk terus menguangkan invois yang terus menumpuk hingga belasan ribu dolar. Satu demi satu anggota tim mulai mempertanyakan ke mana bayaran itu pergi, dan akhirnya saya memutuskan untuk menghentikan kerja sama dengan beberapa di antaranya karena mereka memang tidak bisa menahan beban mental yang besar karena bayaran tidak kunjung tiba. Penerjemah menggantungkan hidupnya pada bayaran terjemahan – dan terkadang tenaga yang dikeluarkan sangat dimotivasi oleh kebutuhan untuk menyambung hidup. Karena itu saya memahami tindakan mereka yang akhirnya berhenti untuk mengerjakan proyek ini. Istilah dari teman saya adalah, “keringat sudah kering, tapi bayaran tidak tampak batang hidungnya”. Iya, memang berat sekali bekerja dan seolah tidak menerima bayaran. Akhirnya tim kami menyusut menjadi delapan orang saja. Waktu itu saya memutuskan untuk merekrut orang lain yang kira-kira bisa menjadikan proyek ini sebagai sarana pembelajaran, dan tidak keberatan akan bayaran yang bisa tertunda sampai tiga bulan. Akhirnya saya (dibantu dengan seorang teman lama yang saya kenal sejak UWRF Bali, 2010) menemukan lima orang lain.

Namun kami tetap harus beristirahat.

 

 

(IV) Kenangan Mega Project: Pengelola Proyek Bersumbu Pendek

Standard

Jujur , saya paling rikuh ditelepon oleh orang yang tidak pernah saya temui – saya ini besar di era 80-90an, di masa ketika orang yang menelepon adalah orang yang diberi nomor telepon melalui tatap muka, bukan karena dia melihat/membaca nomor telepon dari orang lain. Setelah Bunda senior menelepon, PM agensi Z juga ikut-ikutan menelepon dan dengan logat khas Singapura dia meminta saya untuk membaca e-mail. Ada apa sih sebenarnya? Dengan setengah ngantuk saya menyeret badan dan sisa-sisa jiwa yang sudah kerompong gara-gara kerja sampai dini hari, menghubungkan modem (dulu saya masih pakai modem mobile) ke netbook yang baru saja menarik napas tidur, dan kemudian membuka e-mail.

Surprise surprise, sekarang saya adalah pengelola proyek satu juta kata dari agensi Z untuk penerjemahan dari bahasa Inggris ke Indonesia!

Saya menjawab e-mail sekadarnya dengan basa-basi maksimal yang bisa saya conjured up di pagi hari itu, dan kemudian saya kembali ke tempat tidur, menarik selimut, dan menutup mata. Sesaat kemudian saya bermimpi bahwa tenggat terjemahan agensi Z terlewat sudah dan saya dimaki-maki melalui telepon. Saya bangun terduduk dengan mata terbuka lebar. Apa ada satu jiwa lain di dunia belahan sana yang tahu bahwa sekarang saya pengelola proyeknya, dan juga editor utamanya? Apa yang akan terjadi kalau saya terus tidur? KENAPA PROYEK INI DILIMPAHKAN KE SAYA?

Akhirnya saya menghubungi Bunda senior melalui Yahoo Messenger. Pertanyaan saya yang pertama adalah “kenapa saya”. Beliau menerangkan bahwa menurut penilaiannya, saya yang paling tepat menangani proyek ini karena saya juga sudah memberikan sejumlah insight dan strategi untuk membantu beliau menangani proyek ini. Beliau ingin berkonsentrasi ke penerjemahan game yang prospeknya lebih menjanjikan, dan ini semua terserah saya, apakah saya akan melepaskan mega project itu atau tidak – walaupun beliau menyarankan kepada saya untuk melepaskannya saja karena agensi Z sering terlambat bayar, dan penerjemahan game ini lebih mengasyikkan serta menjanjikan untuk karier saya sebagai penerjemah profesional.

Tapi saya masih muda, Bu.

Keuangan saya masih minus dan saya punya aspirasi. Saya idealis, dan mungkin saya bodoh. Yang terpikir oleh saya pertama kali adalah bagaimana nasib sebelas orang lain yang telah mengerjakan proyek ini dan belum menerima manfaatnya, karena saya pun belum merasakan manfaat. Akhirnya saya memutuskan untuk menjalankan mega project itu dan juga memegang penerjemahan game, pake modal bismillah mudah-mudahan tidak koleps semuanya, dan bismillah mudah-mudahan saya paham prioritas dan tidak salah menilai tim penerjemah ini.

Siang harinya Bunda membuat pengumuman resmi kepada tim penerjemah ini dan akhirnya beliau memisahkan diri, dan saya ditinggal bersama sebelas orang yang tidak saya kenal baik wajah maupun kepribadiannya, dan saya tidak bisa mengukur tingkat keyakinan mereka terhadap diri saya – hell, I was not sure of myself either. Salah seorang penerjemah mengirim e-mail massal yang berisi kesangsiannya, ditambah dengan kalimat “coba kita hitung, berapa persenan yang diperoleh pengelola proyek dari proyek terjemahan sebesar ini“. Kalimat itu cukup menikam karena sebenarnya bayaran untuk pengelola proyek ini tidak ada, kecuali kalau saya ikut bekerja menjadi editor dan/atau penerjemah. Pengelola proyek gak dapet persenan, emangnya dari 4 sen trus mau dipotong lagi, gitu? Trus penerjemah harus dibayar apa? Receh kah? Saya gak mau dibayar receh dan oleh karena itu saya tidak mau memberi receh kepada penerjemah. Akhirnya saya memosisikan diri menjadi editor supaya pekerjaan ini terasa berbayar untuk saya. Jadi iya, kata-kata itu menyakiti hati saya. Akhirnya saya menarik napas lega ketika penerjemah itu meninggalkan tim untuk menerjemahkan proyek besar lain.

Setiap dua-tiga minggu sekali, agensi Z mengirim hingga seratus lima puluh ribu kata untuk diterjemahkan, sampai akhirnya saya menarik salah satu dari dua belas orang penerjemah itu untuk menjadi editor. Sementara itu invois kami terus menumpuk tanpa ada penyelesaian. Saya terus mengirimkan tagihan dan berharap bahwa tenggat 45 hari yang normal bagi agensi Z itu benar, dan saya selalu kecewa di hari ke-46 karena tidak pernah ada bayaran yang masuk. Lebih tepatnya, tenggat 45 hari itu basa-basi dan kami beruntung jika bisa dibayar pada hari ke-60. Tapi saya mengagumi dedikasi semua anggota tim penerjemahan ini, yang tetap berharap dan menumpukan harapan kepada saya yang bukan siapa-siapa ini.

Jadi, waktu itu berdirilah saya – pengelola proyek yang tiap hari harus selalu juggling antara satu pekerjaan dan pekerjaan lainnya. Saya mendadak dangdut #eh terkenal, dan saya menerima beberapa e-mail yang berisi lamaran pekerjaan. Sejujurnya saya tidak terlalu berani menawarkan pekerjaan ini karena waktu pembayarannya yang sungguh lama, tapi saya tetap menanggapi semua e-mail itu dengan sebaik mungkin.

Pada suatu hari, muncul satu e-mail nyeleneh yang isinya tidak biasa. Saya tidak bisa membeberkan isinya di sini, tapi pada intinya, isinya menjelek-jelekkan salah satu anggota tim penerjemah mega project ini. Saya sudah menjadi akrab dengan Bunda senior tapi isi e-mail ini tidak pernah saya beberkan kepada beliau, karena saya anggap tindakan itu sangat tidak profesional dan mengundang kekesalan. Jangan pernah menyebar fitnah kepada orang yang capek dan kurang tidur Рsumbu saya sungguh sudah memendek saat itu. Saya menanggapi e-mail itu seperlunya, mungkin melempar satu atau dua kata tajam bahwa saya sesungguhnya tidak peduli urusan pribadi apa yang milik penerjemah siapa. Saya memang meminta klarifikasi kepada penerjemah yang disebut namanya itu, tapi itu saya lakukan di luar jam kerja dan statusnya adalah bincang-bincang santai. Saya tidak mau urusan pribadi dikait-kaitkan dengan pekerjaan Рdan sampai sekarang saya masih bersikap begitu.

Suatu hari, Bunda bertandang ke Bandung dan beliau mengundang saya dan suami untuk makan malam bersama. Secara halus saya menanyakan tentang si pengirim e-mail. Siapa sih dia ini? Saya juga tidak begitu kenal. Bunda menjawab dengan tak acuh, “Dia kirim lamaran ke saya. Saya bilang Maria yang sekarang pegang proyeknya.”

Gimana ceritanya surat lamaran bisa mengandung fitnah, now that is a mistery, ha ha ha.

Saya masih bisa tertawa-tawa pada waktu itu karena di saat itu, sekitar bulan Maret-April, saya masih merasa yakin bahwa proyek ini bisa saya antar dengan selamat ke pintu penyelesaian. Semua baik-baik saja, bayaran “sedikit” terlambat tapi masih dibayar, semua pekerjaan lain lancar, dan everything was under control.

And so life went on.