Tag Archives: thoughts

Sudahkah Anda Merasakan Semuanya?

Standard
Sudahkah Anda Merasakan Semuanya?

Sepertinya saya mencetak rekor baru lagi dengan mengabaikan blog ini sejak terakhir diisi (bulan Juni tahun 2018), dan kemudian keinginan menulis seolah hampir hangus tak bersisa. Baru-baru ini saya “menyempurnakan” lenyapnya diri saya dari Facebook dengan menghapus halaman yang berisi karya perhiasan kawat saya. Tidak ada rasa sesal hingga saat ini – sepertinya keengganan saya untuk muncul dan berkoar-koar di media sosial sudah menjadi rasa malas permanen. Dan tampaknya kemalasan saya menulis di blog akan berlanjut andaikan saya tidak berusaha untuk memulai lagi.

(Kemampuan menulis itu penting untuk penerjemah. Bagaimana bisa saya merangkai kata-kata terjemahan yang baik kalau saya tidak bisa menuliskan narasi yang baik?)

Blog ini tidak pernah menjadi sarana promosi saya sebagai penerjemah profesional. Judul dari blog ini benar-benar mencerminkan apa yang ingin saya lakukan: To say what is on my mind. Saya pernah berjanji untuk menuliskan tips dan trik penerjemahan lebih banyak lagi, tapi akhirnya saya kebingungan – apa yang saya ketahui sudah terlalu kompleks untuk diutarakan hanya dengan satu kali tulisan, dan terkadang pengetahuan itu juga terasa tidak penting untuk dibagi dengan orang lain (kecuali tentu saja jika mereka pernah mengalaminya juga).

(Saya sering merasa ragu mengenai manfaat dari tulisan saya. Tapi dengan sedikit encouragement kepada diri sendiri bahwa setidaknya saya berusaha jujur, maka saya akan mencoba lagi untuk menuliskan pendapat saya, sekali ini tanpa embel-embel ketenaran.)

Menjadi penerjemah lepas waktu itu tidak mudah. Seorang typist (pengetik) bisa menghabiskan 47 kalori hanya dengan duduk diam dan mengetik selama 1 jam. Kalikan itu dengan 10 jam – 470 kalori, sama dengan energi berlari sejauh hampir 4 kilometer. Menjadi penerjemah membutuhkan stamina yang nyata! Dan pekerjaan ini memiliki sisi menyenangkan dan juga busuk. Bagian menyenangkan bagi saya adalah menerima materi yang menarik dan imajinatif – baik itu kontrak kerja, materi pemasaran, atau sekadar rangkaian UI, sedangkan busuknya adalah ketika saya harus berhadapan dengan penerjemah lain yang sikapnya macam kampret,¬†tidak mau menerima masukan editor, dan terus membuat kesalahan tolol dengan sikap yang keras kepala. Dua hal ini hanya contoh. Kalau saya disuruh menuliskan kebaikan vs keburukan, saya bisa menghabiskan waktu satu hari lamanya. Lama kelamaan saya menyadari bahwa apa yang disebut sebagai “keterampilan menerjemahkan” sebenarnya adalah hal yang jauh lebih kompleks dari sekadar mengerti bahasa lain dan paham konteks serta budaya. Dan terkadang saya merasa bahwa profesi ini menuntut terlalu banyak dari saya. Sungguh – ada saat-saat ketika saya muak menghadapi dokumen, menghadapi klien, dan gemetaran ketika membaca e-mail masuk karena saya sudah burned out. Setelah menjadi penerjemah lepas waktu untuk waktu yang cukup lama, akhirnya saya menjadi cukup arif untuk tidak mengagung-agungkan profesi saya ini, tapi oleh karenanya pun saya tidak bisa lagi berpromosi tentangnya. This is just a profession – dan seperti layaknya profesi lain, profesi ini tidak sempurna – namun ia menuntut pelakunya untuk menjadi sempurna.

(But …. Do I love this job? Well yeah, sure, perhaps. Terkadang saya mencintainya, terkadang tidak samasekali. Tapi satu hal yang saya tahu pasti, bahwa saya memiliki keahlian yang tinggi untuk melakukan semua ini. Saya memiliki pengetahuan, wawasan, dan soft skills yang mencukupi (dan terus bertambah) untuk terus melakukannya. I am good at what I do, saya sadar benar soal ini – karena itulah saya tidak pernah berpikir untuk alih profesi, walaupun terkadang saya lelah.)

Sejak tahun lalu saya mulai menampik permintaan untuk presentasi dan berbagi pengalaman, karena saya masih belajar untuk berbagi dengan cara yang tidak membuat orang lain ketakutan dan patah semangat. Pada umumnya seorang (calon) penerjemah lepas yang baru memulai ingin mendengar tentang apa yang bisa mereka lakukan dalam profesi ini – dan sejujurnya saya tidak ingin lagi memberi informasi yang klise. Apa profesi ini bisa menjadi penopang hidup? Jelas. Bisa membuat kita mampu untuk membeli barang-barang mewah atau mahal? Tentu saja – tuh buktinya, ada yang bisa beli rumah dan tanah, saya pun termasuk. Bisa dijalani untuk menyekolahkan anak ke perguruan tinggi negeri bergengsi? Bisa dijalani untuk menghidupi keluarga? Bisa lah, bisa. Tapi semua pertanyaan ini berhenti sampai di situ, padahal sebenarnya saya ingin sekali melanjutkan ….

….. what sacrifices are you willing to make to get there?

…… because the point of success is not when you got a lot of projects. The success is to get through even when you have no projects for months.

…… the success is to stay sane, healthy, and professional despite of everything.

…… the success is to hang on to your principals, your rates, your work ethics, despite of all the odds against you.

Mengerjakan sepuluh ribu kata itu mudah, tapi bertahan untuk tetap mengerjakan proyek-proyek “receh” sementara bertahan hidup dan memperkaya diri dan pikiran, itu jauh lebih sulit. Menerjemahkan untuk memperoleh uang banyak itu jauh lebih mudah ketimbang bertahan dari godaan untuk berfoya-foya tidak jelas dengan menggunakan uang hasil kerja terjemahan. Mencari klien itu lebih mudah ketimbang mempertahankan mulut (dan jemari) ini untuk tidak menyinyiri penawaran harga (dan kelakuan) penerjemah lain/klien (terutama di media sosial! Duh!). Profesi ini melibatkan stamina, daya tahan luar biasa terhadap stress, kemampuan untuk melompat-lompat dalam ruang adaptasi yang terkadang sangat sempit, dan kemampuan luar biasa untuk menahan emosi supaya fisik dan reputasi tidak berbarengan rusak bersama hasil pekerjaan. Penerjemah lepas waktu harus selalu sehat, awas, cerdas, cepat tanggap, dan juga cermat – karena jika tidak dia akan segera tersingkir, bukan melulu karena hasil pekerjaan yang buruk, tapi juga karena ethical conduct yang buruk – dan yang terakhir ini sangat mematikan, karena sesungguhnya hasil terjemahan bisa selalu diperbaiki (we all got our bad days), tapi ethical conduct yang buruk sulit sekali diperbaiki/dihilangkan.

Sukses dalam profesi ini tidak ditentukan oleh seberapa banyak pekerjaan yang bisa kita dapatkan, tapi ditentukan oleh seberapa tegak kita bisa tetap berdiri setelah melalui semuanya.

Sungguh, profesi ini tidak mudah. Jika ada yang berkata bahwa profesi ini hanya mencakup literasi, kemampuan berbahasa, dan kemampuan menyimak konten serta budaya …. saya hanya bisa berkata, “Kalau begitu, Anda belum pernah merasakan semuanya ….”

Bandung, 3 Februari 2019

~ Tulisan pertama pada tahun 2019 yang melewati swa-sunting sampai LIMA KALI …

I am getting pretty rusty ūüė¶ … ~

… dan Akhirnya Saya Menghapus Facebook

Standard

Saya sudah ada di Facebook dari tahun 2008. Saya ingat benar alasan ketika membuat akun itu dan sampai sekarang pun masih ingat. Saya ingat ketika saya melalui beberapa fase tata letak, unfriend dan re-friend satu dua orang silih berganti, dan blokir serta berhenti memblokir beberapa orang.

Keputusan (besar) saya untuk berhenti fesbukan bukan didorong oleh alasan ‘konten politik’, walaupun saya harus mengakui bahwa pembahasan tentang politik di Facebook membuat saya jengah setengah mati. Tidak, sepertinya saya masih bisa tahan membaca semua ‘runtah’ (sampah) itu, andaikan hidup bisa saya kotak-kotakkan supaya Facebook dan media sosial lainnya bisa masuk nyempil manis ke dalam eksistensi saya. Di Facebook saya sudah memiliki audiens, saya tidak perlu struggling (lagi) untuk dikenal karena 1.100+ teman saya tahu siapa saya, apa profesi saya, bakat saya, dan sebagainya. Facebook adalah hal pertama yang saya baca ketika bangun tidur dan hal terakhir yang saya tutup sebelum mematikan hape. Facebook adalah bagian dari hidup saya, dulu.

Sampai akhirnya saya ‘disakiti’ olehnya.

Hidup saya telah disetir oleh Facebook. Saya tersinggung ketika melihat orang yang tidak tahu apa-apa berani menyindir saya dan membicarakan saya diam-diam, just because they feel they know me through Facebook. Saya bisa diomeli, dimarahi, dan dicerca hanya karena hal-hal yang saya poskan di sana. Kenalan Facebook mendadak sok akrab seolah mereka sudah pernah mendampingi saya selama puluhan tahun. Dan orang-orang yang tadinya baik akhirnya mengungkapkan jati diri yang sebenarnya, the dirty rotten minds that they arejust because ada kolom ‘What’s on your mind?‘. Saya mulai merasa bahwa saya mengurusi bagian hidup yang sungguh tak penting dan menguras emosi. Sebenarnya saya sudah sering merasa seperti ini. Kebocoran data dari Facebook pun sebenarnya membuat saya bergeming – saya tidak menganggap diri ini sedemikian penting, dan maka oleh itu data saya pun tidak penting. Tapi perasaan bahwa saya bisa memanfaatkan setiap 15 menit yang saya habiskan di medsos untuk melakukan hal lain yang lebih bermakna … pemikiran itu yang menyiksa saya.

Akhirnya saya pun menghapus profil Facebook saya. Dimulai dari yang besar (saya punya dua akun) dan akhirnya yang kecil. Saya masih punya Facebook tapi saya hanya menggunakannya untuk mengakses grup komunitas, tidak lebih. Menghapus dua akun itu membutuhkan tenaga yang luar biasa – hampir sama dengan gejala putus obat, IMO. Saya berjuang untuk mengatasi ketakutan bahwa saya tidak bisa mengontak orang-orang …euh, tepatnya, mereka tidak akan bisa mengontak saya lagi dengan mudah. Saya akan terhapus dari muka bumi. Saya akan berhenti eksis, dan saya akan sendirian.

… dan ternyata, semua ketakutan itu tidak pernah terjadi.

Yeah sure, I am missing out on things. Saya tidak lagi tahu tentang gosip terbaru di antara sesama seniman kawat, saya tidak bisa seketika tahu siapa yang ulang tahun, sakit, atau bahkan meninggal dunia. Tapi orang-orang mulai menghubungi WhatsApp saya. Mereka mulai bertanya tentang hal yang riil, not just because I was there to answer. Kontak dengan supplier bahan perkawatan tetap terjaga, dan saya tidak melukai profesi saya dengan berhenti fesbukan. Sekarang telah genap satu bulan setengah sejak saya berhenti menggunakan medsos itu, dan saya merasa bahagia.

Hidup saya tidak ada kurang-kurangnya. Anak-anak sehat dan terus tumbuh, suami saya makin penyayang setelah kami menempuh 20 tahun bersama-sama, dan saya bisa fokus pada hal yang penting: Pekerjaan, olahraga, hidup keseharian, dan teman-teman yang benar-benar mencintai saya apa adanya, dan bukan sekadar follower yang ada di sana untuk menawarkan barang/menjual profesinya. Saya merasakan hidup yang jauh lebih bermakna dalam beberapa bulan terakhir ini, ketika akhirnya saya berhenti jaim dan bisa berkata jujur tentang apa yang saya rasakan, di sini, di media lain, tanpa ada kewajiban untuk menjaga ‘hubungan’ yang sebenarnya tidak pernah ada tanpa Facebook. Saya tidak perlu mengkritik pendapat/sharing orang lain lagi, dan oleh karena itu orang lain tidak perlu mengkritik saya. Alasan pembenaran bahwa Facebook adalah tempat menjual barang/jasa pun sudah saya kesampingkan, karena saya benar-benar sudah bosan memberi alasan kepada diri sendiri untuk mempertahankan hal yang tidak bermakna, just because.

Tapi terkadang saya suka merenung sambil setengah geli. Saya yakin bahwa ada beberapa orang baper yang menganggap bahwa saya telah memblokir mereka, for only them and God knows why. Lucu, karena saya pun tidak pernah tahu siapa mereka, tapi tampaknya mereka merasa mereka tahu siapa saya.

Jadi di sinilah saya sekarang, sendirian. Saya bukan siapa-siapa tapi saya tidak mau menjadi somebody yang terkenal sebagai artis Facebook.

I am happier now.

~ Bandung, dini hari 3 Juni 2018

Habis Manis Sepah Dibuang

Standard

Kemarin, saya bertemu dengan kakak saya dan kemudian dia bercerita tentang peristiwa yang dialaminya. Singkat kata, dia membantu salah seorang kerabat kami untuk mempromosikan produk buatannya secara online, dan ketika promosi ini sudah mulai berhasil, si kerabat menolak¬†membayar upaya kakak saya dalam bentuk uang (yang sebenarnya sangat di bawah standar untuk content writer dan ad promoter) – bahkan protes ketika kakak saya minta persenan dari hasil penjualan produknya, dengan alasan bahwa kakak saya sudah dibayar “terlalu besar”. Akhirnya kakak saya memutuskan untuk memberi waktu tenggang sebelum melepas proyek itu secara keseluruhan – dan itu akan dilakukannya dalam waktu dekat ini.

Saya ingat bahwa topik percakapan kami bukan berputar di bayaran (jumlah uang) yang seharusnya diperoleh kakak saya, tapi tindakan arogan dari si kerabat yang berpikir bahwa dia sudah sepantasnya menuai sukses ini dan kakak saya hanya berperan kecil dalam membantu untuk mewujudkan semuanya. Sedangkan saya tahu bahwa mekanisme berjualan online tidaklah sesederhana itu Рproduk bagus belum tentu laku, sama seperti halnya penerjemah bagus belum tentu akan kebanjiran proyek. In the end, it was all about how to sell. Karena itu saya geram mendengar cerita ini. Saya tahu benar bahwa pemasaran adalah bagian tersulit dari proses penjualan produk, terbukti dari puluhan restoran enak yang gulung tikar di Bandung karena tidak bisa memasarkan jasanya, dan yang laku malahan mereka yang membuat produk makanan tidak terlalu enak tapi promosi kencang di Instagram. Yang teriak paling kencang dan paling sering di medsos, itulah yang dilirik.

Saya menerapkan banyak sekali ilmu pemasaran (hasil baca buku, hasil pengamatan, hasil riset, dan juga hasil kursus gratis dari bahan terjemahan) ketika menjual jasa sebagai penerjemah. Dan sebenarnya ilmu pemasaran adalah ilmu yang menyenangkan dan segar. Saya belajar pemasaran selama 6 tahun lebih sebelum akhirnya berani memasarkan jasa penerjemahan. Jadi ya, saya tahu seluk beluknya, kurang lebih demikian. Karena itu saya paham perasaan content writer yang kerjaannya ditawar atau bahkan dianggap gratis karena dianggap bukan sebagai elemen penting.

Setelah kakak saya bercerita dan akhirnya kami berpisah, saya merenung dan menilik, apakah saya pernah melakukan itu kepada orang lain? Habis manis sepah dibuang, dan menganggap bahwa semua yang saya terima saat ini adalah wajar? Saya dengan hati-hati menilik semua yang sudah terjadi dari mulai saya memutuskan untuk bekerja sebagai penerjemah agensi hingga detik ini, dan gilanya memang yang membantu saya untuk bisa ada di sini sudah berjumlah ratusan orang. Dari mulai yang sabar mengajari saya sampai yang meminjamkan uang untuk bertahan hidup. Dan kemudian sebagai layaknya manusia, saya mulai beranjak dari diri dan melihat ke sekitar. Apakah ada orang di sekitar saya yang menganggap bahwa mereka layak mendapatkan kesuksesan? Bahwa semua yang mereka peroleh itu melulu hasil kerja keras sendiri saja, dan bahwa tidak ada orang lain di belakang layar yang memanggul mereka agar bisa terlihat oleh publik?
Dan saya pun terhenti di situ …
Karena ternyata yang menganggap bahwa mereka layak mendapatkan kesuksesan dan tidak pernah merasa dibantu oleh orang lain pun banyak jumlahnya. Padahal saya tahu benar siapa mereka sebelumnya.

Oh, jadi ternyata habis manis sepah dibuang itu wajar.

Kacang lupa kulitnya juga wajar.

Seperti orang yang mengaku-ngaku sebagai ahli padahal dia belajar ilmu itu dari orang lain.
Atau orang yang mencontek metode orang lain, dan kemudian dengan senang hati menempelkan namanya sebagai penemu metode itu dan memberi gelar mentor kepada dirinya sendiri.
Atau orang yang merasa hidupnya sukses, padahal selama ini dia sudah makan dari belas kasihan orang lain karena sesungguhnya dia dinilai tidak mampu untuk menjadi pekerja yang baik.

Ah, sudahlah.
Jangan jadi seperti itu ya.
Sadar diri lah sedikit, kamu tidak akan jadi siapa-siapa kalau orang pertama dalam kehidupan profesional kamu tidak memberi pekerjaan 6 tahun yang lalu.
*ngomong sambil ngaca*

Rencana, Bukan Resolusi

Standard

Resolusi Tahun Baru adalah tradisi sekuler yang umumnya berlaku di Dunia Barat, tapi juga bisa ditemukan di seluruh dunia. Menurut tradisi ini, seseorang akan berjanji untuk melakukan tindakan perbaikan diri yang akan dimulai pada Hari Tahun Baru (Sumber: Wikipedia).

Rencana adalah hasil proses perencanaan berupa daftar ketetapan tentang langkah tindakan pada masa depan menyangkut kegiatan apa, siapa pelaksananya, di mana, kapan jadwalnya dan berapa sumber daya yang akan digunakan, serta pelbagai keterangan mengenai tolok ukurnya, dalam rangka mencapai hasil (Sumber: Wikipedia).

Hal yang lucu dari resolusi tahun baru adalah bahwa kita bisa menuliskan apa pun yang kita inginkan dan kemudian melanggar semuanya hanya dalam waktu satu bulan. Entah karena lupa, atau karena ada ketidaknyamanan, atau pun ketidakcocokan. Sampai akhirnya sejumlah orang berhenti membuat resolusi dan hanya menjalankan hidup sebagaimana adanya. Yang lebih serius menurut saya adalah rencana. Niat akan terasa lebih mantap bila disertai rencana, bukan sekadar diangankan atau diinginkan. Tulisan ini adalah salah satu bagian dari rencana saya untuk tahun 2016: tiga blog yang kesemuanya harus diisi bergiliran (mudah-mudahan tidak dengan konten sampah). Saya akan menyimpan rencana pribadi dalam hati dan menuliskannya di pengingat pribadi, bukan di media sosial sehingga bisa dikomentari (atau dipuji) semua orang, namun saya memiliki beberapa rencana umum yang bisa saya bagi/tuliskan di sini:

  1. Selain tiga blog yang sudah saatnya diisi dengan teratur, saya juga ingin melanjutkan menulis buku. Iya, saya sedang menulis buku. Bukan buku fiksi – saya tidak pintar berkhayal. Rencananya, buku ini akan berupa potongan kisah-kisah dalam hidup saya. Motivasi di balik penulisan buku ini: saya takut lupa. Bagi saya, lupa bisa berubah menjadi sikap tidak bersyukur. Dan tidak bersyukur itu berbahaya. Lebih baik cepat dituliskan supaya saya masih bisa bersyukur karena ingat, sebelum otak saya menua dan terlalu penuh oleh hal-hal menyenangkan lain yang dilimpahkan oleh YME. Mengingat masa-masa sulit membuat saya dapat tetap bersyukur dan menikmati hidup.
  2. Saya ingin meningkatkan lagi kemampuan menerjemahkan. Saat ini saya sedang menerjemahkan satu buku fiksi lagi, setelah berkutat dengan novel dan beberapa cerita pendek klasik pada tahun 2015 lalu. Menurut saya, kemampuan menerjemahkan hanya bisa ditingkatkan melalui penerjemahan buku. Berawal dari buku, kembali ke buku. Rencana ini terasa ngeri-ngeri sedap, hahahaha.
  3. Saya ingin lebih banyak berbagi tentang teknik penerjemahan dan suka duka penerjemahan dalam blog ini. Saya ingin berlatih menuangkan pikiran, dan mungkin akan berupaya untuk mengikuti satu atau dua konferensi bahasa dan terjemahan melalui karya tulis alih-alih hanya menjadi peserta. Saya merasa kurang percaya diri untuk menjadi pemberi materi seminar/konferensi tapi sepertinya saya harus mulai nekad. Saya malu karena orang di meja sebelah selalu semangat mendorong saya untuk menulis, tapi saya belum sempat merealisasikannya.

Itulah tiga rencana sederhana saya untuk tahun 2016 (sederhana dalam tulisan tapi pelaksanaannya membutuhkan kalkulasi matang).

Rencana – bukan resolusi. Ini bukan perbaikan, tapi peningkatan. Saya kira, seburuk-buruknya tahun 2015 yang lalu, sebenarnya tidak ada yang perlu diperbaiki, dan apa pun itu kesalahan yang telah saya buat, semuanya telah terjadi dan (tidak bisa) tidak perlu disesali. Berusaha memperbaiki sesuatu yang sudah terjadi sebenarnya tidak terasa menyenangkan untuk saya, itu terasa bagaikan menyunting tulisan yang sama berulang-ulang tanpa memahami letak kesalahannya. Dan saya sudah paham letak kesalahan saya tahun lalu. Sekarang saatnya untuk move on dengan rencana baru.

Jadi, saya akan mulai berencana, dan tidak sekadar beresolusi. Bukan berniat untuk memperbaiki diri, tapi berencana untuk meningkatkan diri. Dan mudah-mudahan apa yang saya tuliskan di sini tidak akan jadi omong kosong belaka di bulan Desember 2016 nanti.

 

~ Bandung, 2 Januari 2016

Soal Lamar-Melamar ke Agensi Penerjemahan

Standard

 

Isu ini (lamar-melamar ke agensi penerjemahan) sudah lama sekali menjadi bahan bisik-bisik di antara teman dan saya sudah menerima sekitar lima inbox ke Facebook dengan¬†pertanyaan senada. Gimana sih caranya melamar ke agensi penerjemahan luar negeri?¬†Dulu jawaban saya sederhana: Ya Lamar Saja. Tapi sebenarnya saya sendiri tidak menyadari mengapa ada orang yang langsung diterima di agensi penerjemahan dan mengapa ada yang harus menunggu sampai 2-3 bulan untuk memperoleh jawaban atau bahkan tidak pernah memperolehnya … Sebelum saya lupa, coba saya tuliskan di sini tentang apa yang saya lakukan ketika melamar ke¬†agensi penerjemahan:

  1. Saya tidak pernah menulis surat lamaran (cover letter) lebih dari tujuh baris ketika mengirim dalam bentuk email. Alasan: si penerima¬†mungkin membaca email tersebut lewat perangkat seluler. Bayangkan kalau dia harus membaca dan menggulir beberapa kali … Kalau surat lamaran terlalu panjang, bisa jadi dia akan menunda untuk membaca, dan menunda lagi, dan akhirnya lupa. Ingat, yang melamar bukan cuma kita.
    Solusi: hindari kalimat yang bertele-tele. Tetaplah sopan namun usahakan cut to the chase. Hindari kalimat-kalimat standar surat lamaran seperti “besar harapan saya bahwa Bapak/Ibu¬†akan mempertimbangkan lamaran ini” atau yang sejenisnya. They don’t need that. Dalam tujuh baris, usahakan agar perhatian mereka beralih sepenuhnya ke CV karena ini sebenarnya yang menjadi senjata utama.
  2. Saya tidak pernah melampirkan CV lebih dari tiga halaman (dan ini juga sebenarnya terlalu banyak, menurut saya satu halaman sebenarnya cukup). Saya juga menghindari pelampiran berjenis-jenis dokumen yang menurut saya tidak relevan seperti ijazah, KTP, NPWP, transkrip nilai … ini semua dokumen yang tidak relevan untuk melamar ke agensi penerjemahan luar negeri. (Curigalah jika suatu agensi tiba-tiba meminta ijazah sekolah. Agensi luar negeri yang seperti ini punya mekanisme penyaringan lamaran yang buruk)
    Alasan: CV yang terlalu panjang dan lampiran yang terlalu banyak itu membingungkan. Dan sebenarnya tidak ada yang memperhatikan jumlah proyek yang sudah pernah kita kerjakan. Yang akan mereka perhatikan adalah nama klien. Makin tinggi nama klien kita, biasanya mereka akan makin tertarik, apalagi biasanya mereka hanya akan membaca CV selayang pandang.
    Solusi: manfaatkan asosiasi mereka terhadap keterkenalan klien lampau. Contohnya seperti ini: Jika kita pernah mengerjakan 100 halaman untuk situs web lokal kukuruyuk dot com dan pernah mengerjakan 10 baris kalimat untuk Yahoo, letakkan Yahoo di baris atas CV dan kemudian situs web kukuruyuk dot com di bawahnya.
    Tambahan: jika belum memiliki pengalaman bekerja untuk klien high profile, manfaatkan pengalaman kerja yang sudah ada dan tulis sedemikian rupa sehingga “terbaca” seperti high profile. Contoh: “100 pages of translation for a famous marketing website in Indonesia” untuk menyertakan si kukuruyuk dot com, yang sebenarnya adalah web lokal yang mungkin tidak dipahami oleh orang bule dan memiliki peringkat yang kurang jelas. Manfaatkan sedikit marketing gimmick – ingat, kita ini sedang menjual diri.
  3. Saya tidak pernah menyebutkan kompetensi secara spesifik, proyek besar yang pernah saya tangani, atau bahkan kompetensi CAT Tools saya dengan spesifik, bila tidak ditanya secara langsung. Pendeknya, saya menghindari penulisan hal berbau teknis dalam surat lamaran.
    Alasan: saya menemukan bahwa jika saya terlalu banyak menyebutkan kompetensi dalam email, jumlah baris email akan bertambah dan saya akan terdengar makin sombong. Percaya diri itu adalah hal yang baik, tapi ingat bahwa ada batas tipis antara percaya diri dan sombong, sama seperti keberadaan batas tipis antara rendah hati dan humblebragging.
    Solusi: tuliskan kalimat yang “menggoda”. Contoh (misalkan, mereka bertanya apakah kita¬†bisa menggunakan Trados 2011): “I work mainly using Trados 2011 and have been an enthusiast user for 10 years to date.” Kata-kata “enthusiast user” meyiratkan kompetensi level profesional tanpa berbicara soal teknis. Masalah apakah pernah jadi pelatih Trados, atau sudah lulus Trados competency test¬†tingkat dewa, biarlah mereka baca di CV saja. Ini¬†tidak perlu diterangkan dalam surat lamaran kecuali jika mereka menanyakan hal itu secara terang-terangan.
    Tambahan: jika belum pernah samasekali menggunakan CAT Tools (dan tidak tahu apa itu CAT tools), hindari melamar ke agensi penerjemahan yang mensyaratkan kompetensi ini. Namun bila pernah sekadar “icip-icip” dan belum menyeriusi penggunaan CAT tools, saya memilih untuk bersikap sedikit nekad (tanpa berbohong). Katakan bahwa “I have some experiences in using Catalyst¬†and eager to explore the tool more” (ini sebenarnya sama artinya dengan: “saya belum terlalu bisa sih, tapi kayaknya bisa belajar kalau Anda mau menyewa saya“. Ingat, marketing gimmick ūüėÄ )
  4. Sebelum saya menulis lamaran, saya melakukan penelitian singkat untuk melihat tipe perusahaan – tepatnya, saya memperhatikan lokasi perusahaan.
    Alasan: Lain padang, lain belalang. Orang Eropa pada umumnya cenderung sopan namun tegas dalam hal prosedur, orang Tiongkok cenderung manis dalam berkata-kata namun mudah panik, orang Singapura terbaca getas dan dingin dalam emailnya, sedangkan orang Amerika cenderung santai dan tidak mudah naik darah. Saya selalu berhati-hati ketika menghadapi kebangsaan India dan Timur Tengah karena mereka cenderung bersikap persuasif dan memaksa.
    Solusi: Ingatlah selalu untuk menata bahasa sesuai dengan pembaca¬†sasaran. Banyak agensi penerjemahan yang tidak bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris yang baik (walaupun komunikasi dilakukan dalam bahasa Inggris), jadi saya menghindari penggunaan kata-kata yang terlalu tinggi seperti “I acknowledge” dalam komunikasi dengan orang Tiongkok dan gantilah dengan “I understand“. Lain halnya dengan kebangsaan Inggris, saya selalu bersiap untuk bicara sedikit kompleks dengan kata-kata yang sedikit rumit. Selisih komunikasi adalah hal yang mengerikan, dan saya tidak mau dicap tidak sopan atau sombong gara-gara pemilihan kata-kata bahasa Inggris yang terlalu menyeramkan atau tidak pada tempatnya.
  5. Bagian terakhir¬†yang sering membuat bingung adalah referensi. Sama seperti isi CV, referensi yang berbau nama “besar” akan lebih mudah menarik perhatian (misalkan, nama ketua HPI sebagai pemberi referensi Anda). Namun ada hal lain di balik ini, yaitu bahwa calon klien ingin mengetahui seberapa dekat hubungan kita¬†dengan klien di masa lampau. Jika kita¬†tidak bisa memberikan satu pun nama klien lampau yang dapat dihubungi untuk dimintai referensi, maka lamaran berakhir sudah sampai di sini. Ini memang menyedihkan dan saya mengakui bahwa¬†dulu hambatan utama saya adalah referensi. Akhirnya saya belajar untuk membina hubungan baik dengan klien melalui pekerjaan, dengan berusaha untuk mengerjakan setiap pekerjaan dan menyelipkan satu atau dua patah kata obrolan di tengah email pekerjaan kami, agar klien bisa mengingat saya dan tidak akan keberatan bila saya mengajukan namanya sebagai referensi di kemudian hari.

Dari lima poin ini, no. 5 adalah yang tersulit (menurut saya) untuk dilakukan karena kita harus mengambil langkah jauh sekali ke depan agar tidak celaka di kemudian hari. Yang kedua tersulit adalah mencari klien high profile. Tapi saya juga mulai tanpa klien “besar” dan hanya bermodalkan marketing gimmick. Tiga¬†poin lain bisa dilakukan oleh siapa pun asalkan ada pergeseran sudut pandang dari kebiasaan melamar ke perusahaan dengan menggunakan surat lamaran cetak menjadi surat lamaran melalui email.

Ini bukan tips tokcer – bagaimanapun juga setiap orang berbeda dan punya pendekatan masing-masing.¬†Tapi strategi ini berhasil untuk saya. Mudah-mudahan ada yang bisa memetik manfaatnya ūüôā

Bandung, 10 September 2015

Rezeki Itu Di Tangan YME

Standard

Saya baru sadar pagi ini bahwa saya jarang sekali menulis tentang kehidupan pribadi. Padahal saya punya beberapa blog (salah satunya berbahasa Inggris). Walaupun sesibuk apa pun, saya selalu kangen¬†menulis dan sepertinya tidak baik jika kebiasaan ini dihapuskan ūüėÄ Jadi saya akan mencoba untuk menulis lagi, walaupun tidak bisa mengumbar janji bahwa akan lebih sering dari blogging senen-kemis yang selama ini saya lakukan, ha ha ha.

Apa banyak dari kalian yang memperhatikan bahwa Facebook memiliki halaman khusus untuk kilas balik? Kita menerima pemberitahuan bahwa tahun lalu kita menulis A, dua tahun lalu mengeposkan anu, dan sebagainya. Bagian ini menjadi bagian menarik untuk saya karena setiap hari saya diingatkan tentang peristiwa-peristiwa di masa lalu. Dan tadi pagi saya menemukan satu lagi hal yang menarik:

sc_10

Saya menampilkannya dalam bentuk¬†screenshot karena tautannya sendiri sudah mati. Dulu saya suka menulis di Kompasiana, karena seorang sahabat (yang sudah saya anggap saudara sendiri) waktu itu berkata bahwa tulisan-tulisan dan opini-opini saya layak dicerna oleh publik. Wah – gitu ya? hahahahaha *tertawa malu*.¬†Saya pikir, sejalan dengan waktu, tulisan saya sudah makin ‘politis’ alias tidak setajam dulu. Saya selalu berusaha menuangkan isi hati dengan kata-kata sebaik mungkin dan sehalus mungkin … but what can I say, being wise also comes with age. Oke, sebelum ada yang ngegampar saya karena menulis berseling dengan bahasa Inggris (kata para polisi bahasa ini kebiasaan buruk lho hihihi), saya akan mendongeng sedikit tentang cerita di balik screenshot (eh, maksudnya tangkapan layar)¬†itu.

Dulu, salah satu cita-cita saya adalah menjadi seorang penulis (karena itulah sahabat saya menyarankan supaya saya menulis di Kompasiana). Saya ini gak berbakat nulis fiksi. Saya selalu cenderung nyerempet ke fakta ketimbang menjadikan suatu khayalan berbau kenyataan. Ketika saya menyadari bahwa saya tidak mampu menulis fiksi, saya mulai menulis opini … yang ternyata tidak bisa diterima begitu saja oleh beberapa gelintir orang.

Pemicunya adalah tulisan dalam tangkapan layar itu. Saya membaca lowongan untuk bekerja sebagai ghost writer untuk SEO (Search Engine Optimization). Dulu saya gak paham apa itu SEO. Yang saya pahami bahwa kalau kita berkomitmen untuk menjadi ghost writer, berarti nama kita sebagai penulis tidak akan dipublikasikan selamanya dan kita tidak bisa mengklaim kepemilikan atas semua yang telah kita tulis, karena nama kita tidak akan tertera dalam tulisan itu.

Jika ada yang berhasil menemukan tulisan saya ini dan membacanya, pasti dia berpikir bahwa saya memiliki tanggapan netral atau bahkan positif mengenai ghost writing ini. Bayaran yang ditawarkan ke saya dulu sangat rendah, untuk ukuran sekarang bayaran itu hanya sepersepuluh dari hasil¬†terjemahan per halaman yang saya terima (saat ini) sebagai penerjemah profesional. Tapi saya bersedia mencoba kok, karena waktu itu saya masih berkomitmen untuk menjadi penulis (penulis apa pun itu). Namun, setelah saya iseng-iseng menyelidiki tentang siapa orang yang akan menggunakan tulisan-tulisan saya nanti, akhirnya saya menemukan¬†satu nama – seorang pelopor¬†sistem piramida di dunia maya, orang yang konon meraup jutaan sampai ratusan juta dengan memanfaatkan¬†artikel-artikel SEO dan¬†skema Internet Marketing. Maaf saya tidak mau menuliskan nama orang itu – saya tidak mau crawler Google mendeteksi nama perempuan itu dalam blog saya dan menjadikan dia lebih terkenal lagi (walaupun sekarang sudah sulit menelusuri namanya di dunia maya – dugaan saya dia sedang bermandikan uang dari hasil skema menipunya itu … atau sedang mengais tanah karena sudah kembali miskin, atau mungkin sudah dibui karena skema piramida itu sebenarnya melanggar hukum … atau mungkin selama itu dia hanyalah tokoh fiktif – catatan: saya cenderung percaya pada¬†dugaan yang terakhir).

Reaksi pertama saya ketika mengetahui bahwa saya akan menulis untuk dia tentu saja adalah penolakan keras. Walaupun dulu saya masih bego soal internet, samar-samar saya merasa bahwa skema piramida itu sama dengan penipuan (dan mungkin perampokan). Dan apakah saya mau berpartisipasi secara terang-terangan? Tentu saja tidak. Karena itu saya membatalkan niat untuk bergabung menjadi ghost writer dan kemudian menuliskan alasan pembatalan ini di Kompasiana.

Tak dinyana bahwa tiba-tiba saya mendapat kiriman “surat cinta” dari seseorang yang tidak saya kenal, melalui Facebook. Ternyata orang itu adalah suami¬†si perekrut (yang menyebarkan lowongan ghost writer). Dia meminta saya menghapus tulisan protes saya di Kompasiana karena katanya “Anda mematikan rezeki istri saya“. Cara bicara orang ini¬†baik, dia santun dan tidak kasar, tapi kata-katanya sungguh pedas dalam kedok kesantunannya. Karena saya enggan ribut, akhirnya tulisan protes itu saya simpan di bagian draft Kompasiana (dan sayangnya saya tidak bisa mengaksesnya lagi sampai sekarang).

Waktu itu, lima tahun yang lalu, saya merasa diperlakukan tidak adil. Mematikan rezeki istrinya? Sejak kapan saya berhak, punya kuasa, dan punya andil untuk mematikan rezeki seseorang?¬†Hebat sekali si perekrut ini, dia tidak sanggup melawan kata-kata saya dalam artikel itu jadi dia kirim “tukang pukul” yang adalah suaminya sendiri, sedangkan suami saya sendiri tidak tahu menahu soal urusan ini (karena pekerjaan saya adalah urusan saya dan saya bisa membela diri sendiri). Saya membaca tulisan di inbox Facebook itu dengan geram bercampur marah – karena ketika saya menuliskan fakta (yang akhirnya terbukti dengan terbongkarnya skema piramida dan klasifikasinya sebagai usaha yang¬†melanggar¬†hukum, ditambah dengan diaktifkannya Google Panda yang membuat artikel-artikel SEO salin rekat ini digilas habis), saya ditindas oleh orang yang bersikukuh bahwa rezeki dan masa depan karier istrinya sebagai penulis/redaktur ada di tangan SAYA, dan BUKAN DI TANGAN YME.

Mereka berdua menambahkan saya sebagai teman di Facebook dan saya terima, dan akhirnya pertemanan itu saya hapus enam bulan kemudian (karena memang tidak ada interaksi lagi setelah “surat cinta” itu). Saya sudah lupa akan kejadian itu sampai akhirnya hari ini (berkat Facebook) saya ingat akan peristiwa itu dan rasanya saya ingin tertawa keras-keras. Saya masih ingat nama si perekrut dan dia masih ada di Facebook, profil pribadinya sudah penuh dengan barang jualan (sepertinya nasib telah membawa dia ke gerbang yang lain). Dia bukan penulis sekelas Rani Rachmani Moediarta yang bersuara merdu dalam faktanya, apalagi¬†penulis sekelas Remi Silado yang memukau hati ketika¬†beliau membacakan resensinya untuk naskah Memang Jodoh terbitan Mizan. Dan sepertinya dia juga sudah berhenti menulis tuh. Dia hanya orang biasa, sama seperti saya, yang sempat percaya bahwa saya yang bukan siapa-siapa ini bisa mematikan kariernya lewat satu artikel pendek di Kompasiana.

Maaf kalau saya sinis – tapi menurut saya orang yang berani menuduh bahwa kita mematikan rezekinya adalah orang yang bodoh. Rezeki itu tidak pernah diatur oleh diri sendiri dan tidak pernah diberikan oleh orang lain tanpa seizin YME. Dan saya mengasihani mereka yang tidak menyadari hal itu dan berani “memarah-marahi” orang yang tidak mereka kenal demi “melindungi rezeki”nya.

Oh, sungguh kasihan.

So, moral of the story: ketika kita meyakini bahwa apa yang kita lakukan adalah benar, lanjutkanlah. Sebodo amat lah orang mau ngomong apa. Kebenaran selalu akan terungkap di satu saat yang paling pas dan paling menyenangkan, karena sebenarnya tiada balas dendam yang lebih manis dari saat ketika kita menyadari bahwa kita telah melangkah di jalan yang benar, dan telah meninggalkan semua orang yang telah (mencoba) menganiaya kita jauh di belakang ūüėÄ ūüėÄ

~Bandung, 31 Agustus 2015

Tentang Perang Harga (Isu Sensitif Penuh Makian)

Standard

Dalam pos blog saya sebelumnya, saya menuliskan bahwa penawaran tarif terjemahan tiga sampai lima poin di bawah tarif saya adalah sesuatu yang harus saya hadapi sebagai bagian dari persaingan. Needless to say bahwa persaingan harga adalah topik sensitif, dan pembahasannya seringkali dihindari karena ini akan mengarah ke satu atau beberapa individu atau entitas yang hobi memainkan perang harga tanpa memikirkan kualitas. Mari kita jauhi topik ghibah terkait individu karena memang tidak ada manfaatnya – seperti yang saya katakan sebelumnya, setiap orang punya pilihan masing-masing. Mengutak-ngatik pilihan itu adalah tindakan untuk membuang waktu percuma dan tidak berfaedah bagi siapa pun.

Yang akan saya bahas di sini adalah perbedaan antara yang namanya persaingan sehat dan tidak sehat. Persaingan sehat adalah ketika saya menawarkan tarif Rp. 170.000,00 per halaman, dan Anda menawarkan tarif 150.000,00 per halaman dengan layanan tambahan. Ini namanya persaingan sehat. Harga kita tidak jauh berbeda, Anda menawarkan layanan tambahan dan saya akan terpaksa mengajukan nilai kompetitif (yang mungkin melibatkan tindakan memutar otak dan kecerdasan), untuk menerangkan kepada klien mengapa dia harus membayar lebih tinggi untuk layanan saya. Tindakan Anda memberi dampak positif kepada saya karena saya akan berusaha memperbaiki layanan, harga, dan nilai kompetitif yang tadinya mungkin tidak terpikirkan. Layanan dan tarif saya menerima “tantangan” dari sisi Anda sehingga saya “terpaksa” belajar untuk meningkatkan kualitas.

Persaingan tidak sehat adalah ketika saya menawarkan tarif Rp. 170.000,00 satu halaman dan Anda menawarkan Rp.50.000,00 satu halaman, dalam konteks ketika kemampuan Anda sama seperti saya, jam terbang kita hampir sama, kompetensi kita kurang lebih sama. Anda menawarkan harga JAUH LEBIH RENDAH tanpa alasan – hanya karena Anda bersedia dibayar murah dan saya tidak, ini namanya tidak sehat. Kenapa? Karena inilah yang namanya perang harga, ketika tiada hal lain yang bisa dijadikan faktor kompetisi kecuali HARGA.

(Saya tidak akan menyinggung kualitas terjemahan tarif rendah karena ini sudah disinggung di pos sebelumnya, yang berkaitan erat dengan kejar setoran yang pernah saya alami.)

Mohon perhatikan bahwa bila jam terbang Anda di bawah saya, sah-sah saja kalau Anda mengajukan tarif yang jauh lebih rendah. Ini kembali ke persaingan sehat – Anda menawarkan apa yang Anda punya, saya juga. Apabila jam terbang saya jauh di bawah Anda, saya pun akan sungkan menawarkan tarif yang sama dengan Anda, karena Anda punya nilai kompetitif yang tidak saya miliki. Tapi ini memberi peluang bagi saya dan Anda untuk terus meningkatkan nilai diri dan layanan, karena saya pun ingin dong dibayar sebesar Anda. Mekanisme persaingan ini terus bergulir memberi dampak positif, dan akan sampai pada suatu titik ketika Anda diuntungkan dengan penawaran saya, dan saya juga diuntungkan oleh penawaran Anda. Tidak ada yang rugi – karena kita bekerja dalam level yang sama, dan ketika Anda yang memenangkan proyek dan bukan saya, kejadian ini akan lebih membuat legowo. Dan pasar pun akan bergulir dalam persaingan ini, sampai akhirnya keseluruhan tarif bisa terangkat dan pasar akan menganggap bahwa penawaran Anda dan saya sama logisnya, sehingga apa pun yang berada di bawah itu pasti abal-abal.

Eh, sebentar. Apakah mekanisme pasar memang sesederhana itu? Tentu saja tidak. Kalau memang benar sehitam putih ini, penerjemah tarif rendah gak akan mungkin dong bisa sukses dan meraup uang banyak? Tapi pada kenyataannya mereka yang bersaing dengan cara tidak sehat meraih keuntungan dari agensi-agensi abusive yang bertarif rendah, sedangkan penerjemah bertarif tinggi mengeluh karena pekerjaan mereka “dicaplok” oleh pemain tarif rendah. Konon, harga murah dengan kualitas pas-pasan memberi manfaat yang kurang lebih sama dengan kualitas yang baik tapi mahal. Tentu saja secara alamiah klien akan memilih yang pertama, karena mereka punya apa yang namanya pagu anggaran, dan mekanisme dalam agensi terkadang demikian rumit dan melibatkan demikian banyak orang, sehingga pagu anggaran ini demikian tipis setelah dibagi-bagi dan didistribusikan ke sekian banyak sistem. Kalau Anda ingin tahu mengapa penerjemah bertarif rendah dengan kualitas pas-pasan memperoleh banyak pekerjaan sedangkan Anda yang bertarif tinggi tidak, itulah jawabannya. Bukan kualitas. Tapi semata-mata karena pagu anggaran. Kemudian kita akan bertanya: trus kualitas dikemanakan? Well – klien yang berfokus pada pagu anggaran dan uang tidak terlalu peduli soal kualitas. Pikiran mereka bersifat linier – tarif murah + kualitas pas-pasan + beban ditumpukan ke editor = memenuhi anggaran.

Jika kita ikut-ikutan berpikir linier dan menganggap bahwa harga adalah satu-satunya faktor yang bisa memenangkan kompetisi, urusan ini bisa jadi runyam. Selain dampak yang jelas terhadap tarif sendiri yang tak kunjung naik karena selalu lihat kiri kanan atas bawah depan belakang, muncul sikap nyinyir dan saling curiga terhadap satu sama lain, dan si penerjemah bertarif rendah yang kebetulan sedang mendaki tangga karier (BUKAN PESAING TIDAK SEHAT) akan menerima getah kenyinyiran ini. Akhirnya yang terjadi adalah profesi kacau balau yang penuh rahasia – pesaing tidak sehat bersembunyi di antara rimba newbie dan terus memainkan perang harga yang makin menggila rendahnya, sedangkan newbie yang sebenarnya berakhir dengan terjepit di antara dua tarif (rendah dan tinggi) dengan CV yang masih kosong. Sementara penerjemah bertarif tinggi menaruh kecurigaan dalam-dalam kepada semua orang yang “tampaknya” memiliki tarif lebih rendah dari dirinya, dan berujung menyalahkan semua orang bertarif rendah secara membabi buta.

Tapi sekarang mari kita coba berpikir tidak linier dan menilai, siapa saja klien yang mau membeli nilai kompetitif kita (kompetensi, sertifikasi, pengalaman, integritas, reputasi, dll)? Inilah klien-klien yang patut diperjuangkan dan merekalah yang akan memberi manfaat dan nilai yang lebih dari sekadar uang yang dibayarkan. Klien yang tidak berniat membeli nilai kompetitif akan selalu mencari korban di tengah perang harga – yaitu penerjemah yang mau dibayar semurah mungkin untuk mengerjakan proyek secepat mungkin. Untuk apa memaksakan diri menerima pekerjaan dari klien yang samasekali tidak berniat untuk membayar harga sertifikasi Anda yang diperoleh lewat air mata dan pengorbanan? Untuk apa bekerja bagi klien yang hanya peduli pada output terjemahan sejumlah empat ribu kata per hari dan tidak peduli terhadap reputasi Anda yang akan memburuk akibat hasil yang buruk? Akan ada suatu saat ketika mereka menggunakan kalimat “Teman Anda si A mau dibayar 2 sen dolar per kata, jadi saya harap Anda mau bersikap kompetitif dalam hal ini” (padahal tarif Anda yang sebenarnya adalah 6 sen dolar per kata). Selain memberi jawaban “I would rather starve” atau “you’re an asshole” dan sejumlah makian jenis lain (yang mungkin bisa dikemas dalam bentuk yang lebih sopan), Anda juga harus mempertimbangkan bahwa klien ini mungkin mencoba menjebak Anda dalam perang harga – yang tidak akan ada habisnya dan tidak akan ada manfaatnya – hanya demi pagu anggaran yang sebenarnya bukan urusan Anda juga. Walaupun Anda memerosotkan tarif hingga 1 sen dolar per kata, perang ini tidak akan pernah dimenangkan oleh Anda. Akan ada tarif yang lebih rendah lagi dan lagi, karena itu melangkahlah keluar dari perang harga itu dengan anggun dan berhentilah menyalahkan si A karena memasang tarif 2 sen dolar per kata, karena mungkin saja si A itu sebenarnya adalah newbie yang sedang berusaha merangkak naik (sehingga jelas ini adalah persaingan yang gak level), atau sesungguhnya si A sedang berdarah-darah karena mencoba memenangkan proyek yang hanya akan membuat reputasinya memburuk.

Saat semua penerjemah yang bersaing dengan cara tidak sehat terus memerosotkan tarif, penerjemah tarif tinggi dengan kompetensi dan passion serius akan makin cemerlang dan menonjol di antara mereka, asalkan integritas, reputasi, kompetensi, dan keunggulan kompetitif tetap dijaga serta ditingkatkan. Saya melihat banyak newbie yang sudah melangkah keluar dari perang harga dan menetapkan keunggulan kompetitifnya – dia yang dulunya mau-mau aja mengerjakan terjemahan tarif rendah, setelah ikut pelatihan dan Kompak HPI beberapa kali mulai “malas” mengerjakan tarif rendah dan mulai menetapkan tarif minimal yang memadai untuk kompetensinya. Ini sangat bagus dan saya salut karena mereka bekerja keras dan tidak mengedepankan harga sebagai satu-satunya manfaat yang bisa diperoleh klien. Mereka keluar dari perang harga dan mulai bersinar sebagai dirinya sendiri – dan saya harap akan makin banyak yang bersaing secara sehat dan mengedepankan keunggulan kompetitif yang kreatif alih-alih pasang harga “kacangan” untuk menendang kompetitor.

Suatu saat, klien akan menyadari bahwa pagu anggaran mereka telah mencapai batas untuk membayar tarif penerjemah rendah + editor kawakan = edit dan revisi berkali-kali, padahal sebenarnya mereka bisa menyewa penerjemah kawakan tanpa editor = edit dan revisi hanya maksimal dua kali atau bahkan tidak ada revisi.

Sungguh tidak masuk akal untuk mengharapkan layanan yang baik dengan harga (se)murah (mungkin), dan suatu saat klien akan menyadari hal ini. Namun kesadaran ini harus dimulai dari penyedia layanan terjemahan – yaitu penerjemah.

~Bandung, 10 Januari 2015