Ibu Tuti Ruyati

Standard

Dalam beberapa bulan terakhir, saya sering berpikir tentang Ibu Tuti. Apalagi sejak ada call for reunion (yang sepertinya tidak akan saya hadiri) pada awal bulan Januari lalu dari teman-teman SMP saya dulu.

Ibu Tuti ini guru bahasa Inggris sekaligus wali kelas saya waktu SMP kelas tiga, di SMP Negeri 2 Bandung. Ibu Tuti ini bergelar guru killer. Begitu ada kabar bahwa wali kelas kami adalah Ibu Tuti Ruyati, berani sumpah saya bisa mendengar separuh kelas mengerang. Saya gak ngerti kenapa dalam hidup saya, yang namanya guru dan dosen killer itu banyak sekali mampir. Apa itu isyarat dari Yang Maha Kuasa bahwa saya ini orangnya gak disiplin? Saya sering menangisi nasib ketika masih sekolah. Saya masih ingat dosen killer yang mengajar Statistika dan Biostatistika dulu ketika masih kuliah. Ditambah dengan guru Biologi killer di SMA yang sialnya juga wali kelas saya di kelas 3. Rasanya dari dulu, setiap kali berhadapan dengan guru-guru killer ini, rambut terasa rontok semua dan kalau lupa bikin Pe-eR atau tugas, rasanya kepengen menghilang dari muka bumi.

(Rasa-rasanya dulu ada yang pernah bilang bahwa almarhum Papa saya juga dosen killer. Benarkah? Apakah ini karma ….? Hiks …. )

Cara mengajar Ibu Tuti Ruyati adalah cara yang mengutamakan disiplin keras – padahal mata pelajarannya selalu saya bawa santai (Bahasa Inggris). Suasana yang keras dan tegang setiap kali Beliau masuk kelas membuat saya kepengen lari terbirit-birit. Tulisan harus selalu rapi, Pe-eR harus selalu dibuat, dan kami harus selalu bawa “papan nama” ketika Ibu Tuti mengajar (yang efektif buat si Ibu karena Beliau bisa menyebut nama kami dalam kemarahannya jika kami ketahuan ngobrol atau ngelamun). Papan nama itu dibuat dari karton putih berukuran sekian kali sekian, dilipat menjadi tiga, dan nama ditulis menggunakan huruf cetak besar hitam di bagian depannya. Papan nama harus diletakkan di kiri depan meja. Buku yang dibawa selalu tiga buah, buku tugas, catatan, dan Pe-eR, dan semuanya harus bersampul rapi. Tiap kali ulangan, kertas yang disobek harus presisi dan diberi garis pinggir presisi dengan pensil, dan tulisan soal ulangan harus rapi dan terbaca dengan huruf yang bagus. Jika kita salah sedikit saja, nilai bisa berkurang. Bayangkan, bete sekali kan kalau nilai dikurangi satu hanya karena salah menempatkan garis pinggir??

Banyak teman yang memaki di masa SMP ini. Ibu Tuti feodal. Galak. Seram. Menakutkan. Saya ini juga termasuk anak yang sering kena marah. Entah kenapa, setiap ada figur kekuasaan, hal pertama yang terpikir oleh saya adalah untuk memberontak dan unjuk rasa. Dari mulai masuk kelas terlambat, Pe-eR yang disulap seketika ketika berada dalam kelas (bukan dikerjakan di rumah), sampai tidak bawa papan nama dan terpaksa “dibuang” ke belakang kelas oleh teman-teman, karena kalau satu anak berbuat salah, yang lain bisa menerima akibatnya alias dimarahi kolektif karena dianggap tidak mengingatkan. Oh, I have died a thousand deaths in that class. Karena itu saya sulit percaya ketika mendengar gosip dari kelas lain, bahwa nama saya disebut di depan kelas oleh Beliau sebagai satu anak yang memperoleh nilai 10 yang “sempurna” dalam ulangan. Katanya kertas ulangan saya rapi, tanpa coretan, tanpa tipp-ex, dengan garis yang benar, tulisan yang baik, dan jawabannya benar semua (dan saya baru menerima kertas ulangan itu setelah beredar di tiga kelas lain ha ha ha). Waktu itu saya sadar bahwa guru ini sebenarnya bukan killer, tapi tegas. Dan ADIL. Dan setelah peristiwa ulangan itu, saya juga tidak semerta-merta jadi anak emas Ibu Tuti kok.

Penderitaan saya tidak berhenti sampai Ibu Tuti Ruyati. Saya bisa mengakui dengan tulus bahwa masa-masa sekolah saya hingga akhirnya lulus kuliah bukanlah episode yang patut dibanggakan. Saya bukan anak ranking 10 besar, saya bukan lulusan dengan cum laude, dan saya tidak kualifight (qualified … qualified!!) untuk jadi PNS karena IPK saya kurang 2 poin. Dan saya jelas bukan anak dengan orangtua berduit yang bisa memilih untuk naik mobil pribadi ke sekolah. Masa depan saya sungguh suram di mata para guru dan dosen (dan sepertinya juga di mata kedua orangtua), karena saya malas bereaksi terhadap kehidupan sekolah kecuali terhadap guru dan dosen killer, dan itu pun karena terpaksa – karena saya juga tidak suka dimarahi.

Saya bertemu kembali dengan Ibu Tuti ketika alumni SMP Negeri 2 angkatan saya mengadakan reuni yang pertama di Bandung. Waktu itu (tahun 2009) saya menyalami Beliau dan berkata bahwa saya sedang dalam perjalanan untuk menjadi penulis. Tapi waktu itu keadaan saya sungguh buruk dari segi mental dan ekonomi. Sejujurnya mungkin saya tetap terlihat mengecewakan dan saya pun kecewa terhadap diri sendiri. Sepertinya waktu itu, andai ada yang berkata bahwa saya akan tetap menjadi ibu rumah tangga yang kerjaannya nonton sinetron dan ngegosip, kemungkinan besar saya akan percaya.

Saya baru sadar beberapa bulan lalu bahwa Ibu Tuti tidak pernah tahu bahwa saya akhirnya menjadi penerjemah. Bahwa sikap killernya itu telah membentuk satu nilai tidak terpatahkan dalam diri saya: determinasi dan tekad – yang awalnya dilakukan karena takut dimarahi, kemudian karena takut mengecewakan, dan akhirnya dijalani tanpa berpikir panjang lagi, karena telah meyakini bahwa itu adalah hal yang benar. Banyak yang bertanya kepada saya, kenapa saya bisa tahan meniti profesi ini sampai larut malam. Kenapa saya bisa dan mau tidak tidur dua sampai tiga hari untuk menyelesaikan dokumen, dan kenapa hasilnya selalu saya jaga dan pertahankan mati-matian agar tidak jauh-jauh dari kata “sempurna”. Kenapa? Karena Ibu Tuti. Karena Beliau berhasil menanamkan determinasi dan tekad hanya dalam waktu setahun, di tengah perkembangan saya sebagai jiwa yang kalut, pemalas, bodoh, dan tidak punya tujuan. Dan ajaran Beliau itu dorman, seolah tidak membekas, tapi tahu-tahu muncul when I needed it the most.

Kalau kamu bisa dapet nilai sempuna, jangan kecewakan dirimu dengan berbuat kurang dari itu. Selalu kejar nilai 10 itu. Jangan buat Ibu kecewa karena kamu malas …. dan jangan buat dirimu kecewa karena sebenarnya you are more than this

Tahun lalu saya melakukan the unthinkable yaitu berpartisipasi dalam penerjemahan novel klasik. Kalau saya boleh memberi peringkat dalam kesulitan menerjemahkan, novel/cerita klasik itu benar-benar takes the cake. Dan selama proses menerjemahkan itu saya selalu ingat Beliau. Apa yang akan dikatakan Beliau jika membaca naskah terjemahan saya? Mampukah saya mencapai kesempurnaan itu – yang sekarang bukan dinilai oleh Beliau tapi oleh diri sendiri? Sebelumnya saya menjalani profesi sebagai penerjemah dengan pemikiran bahwa saya harus bisa meneruskan profesi warisan ini menjadi sesuatu yang lebih kekinian. Tapi ketika saya akhirnya menyentuh ranah yang tidak tersentuh oleh orang lain (bahkan oleh orangtua saya sendiri) – ketika dokumen yang saya terjemahkan sudah mencapai jutaan lembar – saya sadar bahwa saya sendirian. Dan hidup serta kematian saya dalam profesi ini ditentukan oleh segelintir bekal yang saya bawa ketika memulai: determinasi, tekad, rasa segan karena takut mengecewakan, dan tanggung jawab untuk menyerahkan hasil yang benar.

Saya tidak berencana untuk datang ke reuni kedua nanti. Saya sudah menjadi orang yang membagi kebahagiaan dan kesedihan dalam bentuk yang sangat pribadi – dan saya merasa bahwa prestasi saya ini (jika mau disebut prestasi) adalah hal yang tidak usah diketahui teman-teman lama saya. Mereka yang tahu tentang saya tidak pernah memerlukan reuni untuk mengenali saya – dan mereka adalah teman-teman yang ada di hati dan tidak pernah beranjak sejak pertama kali saya mengenal mereka.

Tapi mungkin Ibu Tuti harus tahu … bahwa sikap Beliau dalam mengajar, ketegasannya, dan kedisiplinannya yang telah membuat saya menderita a thousand deaths, berhasil mengantar saya untuk ada di sini, hari ini, saat ini, untuk menjadi seorang penerjemah ….

… yang tidak akan pernah berhenti dalam mencapai kesempurnaan.

 

I will die a thousand deaths first before giving up.

Rencana, Bukan Resolusi

Standard

Resolusi Tahun Baru adalah tradisi sekuler yang umumnya berlaku di Dunia Barat, tapi juga bisa ditemukan di seluruh dunia. Menurut tradisi ini, seseorang akan berjanji untuk melakukan tindakan perbaikan diri yang akan dimulai pada Hari Tahun Baru (Sumber: Wikipedia).

Rencana adalah hasil proses perencanaan berupa daftar ketetapan tentang langkah tindakan pada masa depan menyangkut kegiatan apa, siapa pelaksananya, di mana, kapan jadwalnya dan berapa sumber daya yang akan digunakan, serta pelbagai keterangan mengenai tolok ukurnya, dalam rangka mencapai hasil (Sumber: Wikipedia).

Hal yang lucu dari resolusi tahun baru adalah bahwa kita bisa menuliskan apa pun yang kita inginkan dan kemudian melanggar semuanya hanya dalam waktu satu bulan. Entah karena lupa, atau karena ada ketidaknyamanan, atau pun ketidakcocokan. Sampai akhirnya sejumlah orang berhenti membuat resolusi dan hanya menjalankan hidup sebagaimana adanya. Yang lebih serius menurut saya adalah rencana. Niat akan terasa lebih mantap bila disertai rencana, bukan sekadar diangankan atau diinginkan. Tulisan ini adalah salah satu bagian dari rencana saya untuk tahun 2016: tiga blog yang kesemuanya harus diisi bergiliran (mudah-mudahan tidak dengan konten sampah). Saya akan menyimpan rencana pribadi dalam hati dan menuliskannya di pengingat pribadi, bukan di media sosial sehingga bisa dikomentari (atau dipuji) semua orang, namun saya memiliki beberapa rencana umum yang bisa saya bagi/tuliskan di sini:

  1. Selain tiga blog yang sudah saatnya diisi dengan teratur, saya juga ingin melanjutkan menulis buku. Iya, saya sedang menulis buku. Bukan buku fiksi – saya tidak pintar berkhayal. Rencananya, buku ini akan berupa potongan kisah-kisah dalam hidup saya. Motivasi di balik penulisan buku ini: saya takut lupa. Bagi saya, lupa bisa berubah menjadi sikap tidak bersyukur. Dan tidak bersyukur itu berbahaya. Lebih baik cepat dituliskan supaya saya masih bisa bersyukur karena ingat, sebelum otak saya menua dan terlalu penuh oleh hal-hal menyenangkan lain yang dilimpahkan oleh YME. Mengingat masa-masa sulit membuat saya dapat tetap bersyukur dan menikmati hidup.
  2. Saya ingin meningkatkan lagi kemampuan menerjemahkan. Saat ini saya sedang menerjemahkan satu buku fiksi lagi, setelah berkutat dengan novel dan beberapa cerita pendek klasik pada tahun 2015 lalu. Menurut saya, kemampuan menerjemahkan hanya bisa ditingkatkan melalui penerjemahan buku. Berawal dari buku, kembali ke buku. Rencana ini terasa ngeri-ngeri sedap, hahahaha.
  3. Saya ingin lebih banyak berbagi tentang teknik penerjemahan dan suka duka penerjemahan dalam blog ini. Saya ingin berlatih menuangkan pikiran, dan mungkin akan berupaya untuk mengikuti satu atau dua konferensi bahasa dan terjemahan melalui karya tulis alih-alih hanya menjadi peserta. Saya merasa kurang percaya diri untuk menjadi pemberi materi seminar/konferensi tapi sepertinya saya harus mulai nekad. Saya malu karena orang di meja sebelah selalu semangat mendorong saya untuk menulis, tapi saya belum sempat merealisasikannya.

Itulah tiga rencana sederhana saya untuk tahun 2016 (sederhana dalam tulisan tapi pelaksanaannya membutuhkan kalkulasi matang).

Rencana – bukan resolusi. Ini bukan perbaikan, tapi peningkatan. Saya kira, seburuk-buruknya tahun 2015 yang lalu, sebenarnya tidak ada yang perlu diperbaiki, dan apa pun itu kesalahan yang telah saya buat, semuanya telah terjadi dan (tidak bisa) tidak perlu disesali. Berusaha memperbaiki sesuatu yang sudah terjadi sebenarnya tidak terasa menyenangkan untuk saya, itu terasa bagaikan menyunting tulisan yang sama berulang-ulang tanpa memahami letak kesalahannya. Dan saya sudah paham letak kesalahan saya tahun lalu. Sekarang saatnya untuk move on dengan rencana baru.

Jadi, saya akan mulai berencana, dan tidak sekadar beresolusi. Bukan berniat untuk memperbaiki diri, tapi berencana untuk meningkatkan diri. Dan mudah-mudahan apa yang saya tuliskan di sini tidak akan jadi omong kosong belaka di bulan Desember 2016 nanti.

 

~ Bandung, 2 Januari 2016

Gaya Hidup Urban? (Bagian ke-2)

Standard

Sebelum saya diprotes karena menuliskan “Bagian ke-2” tanpa menuliskan bagian pertama, ini bagian pertamanya, “Menuntut Terlalu Banyak dari Gaya Hidup Urban“.

Dulu saya ingin melanjutkan tulisan ini tapi sesuai dengan kata-kata teman saya, “semua akan mumet pada waktunya“, niat itu akhirnya terlupakan. Waktu itu saya punya kegelisahan “abadi” karena harus berpindah perangkat dan didesak untuk membeli BlackBerry(R).

Saat ini saya memiliki tiga nomor ponsel, tiga perangkat. Kurang urban apa lagi saya ini. Tapi kenapa saya ingin melanjutkan tulisan di atas? Karena akhirnya saya memahami makna tulisan itu lebih dalam lagi dari ketika saya mulai menuliskannya.

Dulu, jauh sebelum saya menuliskan artikel pertama, saya pernah memimpikan untuk punya BlackBerry. Dulu barang itu hampir tidak terbeli. Terpikir oleh saya bahwa akan terasa asyik kalau saya bisa dihubungi di mana saja dan menghubungi orang lain dari mana saja. Tidak bergantung lagi ke koneksi internet setempat untuk menuliskan status Facebook. Bisa melakukan hampir apa saja di mana saja. Itu pemikiran saya yang masih berusia 30-an waktu itu.

Kemudian ketika saya berada di pertengahan usia 30-an, muncul kegelisahan bahwa jika orang bisa menghubungi saya di mana saja, maka saya berkewajiban untuk menjawab mereka dari mana saja. Suara kring-kring dan tret-tret email sempat membuat saya merinding disko. Why won’t they leave me alone? Tapi saya tidak kuasa mematikan perangkat-perangkat itu. Saya takut mereka akan bertindak lebih jauh dari sekadar kirim email tret-tret, dan menyalakan satu nada dering horor berupa lagu panjang “Take On Me” yang menandakan panggilan telepon. Karena itu saya berusaha membalas email secepat mungkin. Supaya si “Take On Me” itu tidak terdengar di hari kerja.

Akhirnya, gaya hidup urban yang saya cela mulai membelit jiwa. Semua perangkat harus aktif, tidak boleh mati. Bangun pagi terasa menjadi rutin, nyalakan laptop dan hape, balas email, unduh, kerjakan. Setelah selesai, periksa, unggah, buat invoice. Saya orang yang benci keberulangan. Bagi saya keberulangan bukan tanda sukses, itu tanda “jalan di tempat, grak!” dan tidak ada yang bisa mengubah hal itu sampai tanah di bawah saya longsor dan mengubur saya beserta gaya hidup urban itu hidup-hidup.

Akhirnya saya menjadi muak dan memberontak. Perangkat beserta koneksi Internetnya harus jadi alat untuk membantu hidup (dengan asumsi bahwa hidup MEMBUTUHKAN BANTUAN KEDUA HAL ITU), bukan menjadi barang seram yang berbunyi setiap kali kita tidak ingin mendengar. Saya merasa hidup telah dirampok oleh perangkat, dan mulai merindukan saat ketika tiada orang yang bisa menghubungi saya.

Dan saya pun berusaha untuk meraih hidup itu kembali di tahun ini. Saya menyebut upaya ini “taking my life back” – walaupun sebenarnya yang sudah merenggut kebebasan itu ya saya sendiri. Saya mulai mendisplinkan diri secara terbalik – mencoba untuk tidak meraih perangkat dan menunggu beberapa detik sebelum membaca email dan obrolan. Mengenali kembali emosi ketika menonton film atau mengobrol dengan seseorang yang nyata, supaya bisa merasakan lagi apa artinya tatap muka yang bukan face time dan chat line.

Dan perlahan tapi pasti, bius gaya hidup urban yang awalnya terlihat keren itu mulai memudar. Saya mulai kembali melihat barang mahal tidak berguna yang dipajang di mall, mengamati wajah-wajah bosan nan letih di tengah macet jalanan, dan mendengarkan rintik hujan yang menggema dalam taksi. Akhirnya saya bisa kembali menikmati angin segar yang berembus menerpa wajah ketika sedang naik ojeg. Banyak yang berkata bahwa Internet adalah dunia yang lain, kehidupan yang lain – tapi untuk saya tidak ada kehidupan yang lain, hanya ini kehidupan saya. Jari yang perih ketika menggulung kawat perhiasan dan otak yang terasa diperas ketika menerjemahkan, itulah saya. Perjalanan ke pasar dan kembali, sobat lama yang menikah, sobat lama yang bercerai, kucing-kucing yang berlarian dalam rumah, pembantu yang ceroboh namun setia, semua itu yang mengisi hidup saya. Internet adalah alat yang membantu saya terhubung dengan para pemberi pekerjaan di luar sana serta teman-teman yang mungkin tidak akan pernah saya tatap wajahnya seumur hidup. Memisahkan Internet dari kehidupan yang nyata pada awalnya sulit, tapi sesungguhnya saya lahir tanpa ada Internet dan sepertinya saya bisa menjalani kehidupan selanjutnya andaikan semua perangkat dirampas saat ini juga.

Akhirnya saya tertawa membaca tulisan Kompasiana itu. Pemikiran saya seolah membuat loop, dari titik A dan akhirnya kembali ke titik A. Mungkin sudah saatnya membongkar semua tulisan-tulisan lama dan meninjau, apakah ada hal-hal yang pernah saya tuliskan dan kemudian terlupakan.

Sesungguhnya lupa itu indah dan mencerahkan :D

 ~Bandung, 28 Desember 2015

Soal Lamar-Melamar ke Agensi Penerjemahan

Standard

Tanggal 6 September lalu saya dan suami bepergian ke Jakarta untuk menghadiri jamuan makan sederhana dalam rangka merayakan pernikahan salah seorang senior Bahtera yang sangat kami cintai. Acara santai ini memberi saya kesempatan untuk kembali bersilaturahmi dengan sahabat-sahabat lama, dan saya sempat mengobrol dengan salah seorang teman yang sedang mencari pekerjaan dengan melamar ke agensi penerjemahan.

Teman dekat saya ini adalah seorang wanita ceria yang senang bercanda – saya bisa mengobrol berjam-jam dengannya tanpa merasa bosan sedikit pun. Dengan gayanya yang ganjen dia menggandeng lengan saya dan berkata, “Ih Maria, ajarin gue dong cara untuk melamar ke agensi! Gue sirik deh sama elu, agensi lu tuh banyaaaak banget!” (Tentu saja dia bicara begitu dengan nada bercanda khasnya, dan saya tertawa agak malu. Nggaaaaak, agensi saya gak sebanyak itu kok! Tambahan koreksi: ada perselisihan katanya dia gak bilang bahwa dia sirik sama gue. Yo wis abaikan bagian itu hahahaha daripada kita saling bully di Facebook)

Isu ini (lamar-melamar ke agensi penerjemahan) sudah lama sekali menjadi bahan bisik-bisik di antara teman dan saya sudah menerima sekitar lima inbox ke Facebook dengan pertanyaan senada. Gimana sih caranya melamar ke agensi penerjemahan luar negeri? Dulu jawaban saya sederhana: Ya Lamar Saja. Tapi sebenarnya saya sendiri tidak menyadari mengapa ada orang yang langsung diterima di agensi penerjemahan dan mengapa ada yang harus menunggu sampai 2-3 bulan untuk memperoleh jawaban atau bahkan tidak pernah memperolehnya … sampai teman saya di atas menceritakan sesuatu kisah yang membuat saya menyadari hal itu.

Gue melamar ke agensi X pada akhir Juni, dan sampai akhir Agustus (kalau tidak salah) lamaran itu tidak pernah dijawab. Trus gue iseng minta tolong si B (catatan: si B ini teman dekat kami berdua) supaya bisa meminjam cover letter dia, dan melamar lagi ke agensi X dengan pakai cover letter si B yang gue ganti namanya jadi nama gue. Eh … Lamarannya dibalas dua minggu kemudian! Padahal CV sama isinya! Apa yang salah ya dengan cover letter gue??

(Catatan: saya pernah berbagi ke B tentang cara saya menulis lamaran ke agensi penerjemahan luar negeri).

Akhirnya saya paham mengapa ini menjadi masalah bagi kebanyakan orang. Jadi sebelum saya lupa, coba saya tuliskan di sini tentang apa yang saya lakukan ketika melamar ke agensi penerjemahan:

  1. Saya tidak pernah menulis surat lamaran (cover letter) lebih dari tujuh baris ketika mengirim dalam bentuk email. Alasan: si penerima mungkin membaca email tersebut lewat perangkat seluler. Bayangkan kalau dia harus membaca dan menggulir beberapa kali … Kalau surat lamaran terlalu panjang, bisa jadi dia akan menunda untuk membaca, dan menunda lagi, dan akhirnya lupa. Ingat, yang melamar bukan cuma kita.
    Solusi: hindari kalimat yang bertele-tele. Tetaplah sopan namun usahakan cut to the chase. Hindari kalimat-kalimat standar surat lamaran seperti “besar harapan saya bahwa Bapak/Ibu akan mempertimbangkan lamaran ini” atau yang sejenisnya. They don’t need that. Dalam tujuh baris, usahakan agar perhatian mereka beralih sepenuhnya ke CV karena ini sebenarnya yang menjadi senjata utama.
  2. Saya tidak pernah melampirkan CV lebih dari tiga halaman (dan ini juga sebenarnya terlalu banyak, menurut saya satu halaman sebenarnya cukup). Saya juga menghindari pelampiran berjenis-jenis dokumen yang menurut saya tidak relevan seperti ijazah, KTP, NPWP, transkrip nilai … ini semua dokumen yang tidak relevan untuk melamar ke agensi penerjemahan luar negeri. (Curigalah jika suatu agensi tiba-tiba meminta ijazah sekolah. Agensi luar negeri yang seperti ini punya punya mekanisme penyaringan lamaran yang buruk)
    Alasan: CV yang terlalu panjang dan lampiran yang terlalu banyak itu membingungkan. Dan sebenarnya tidak ada yang memperhatikan jumlah proyek yang sudah pernah kita kerjakan. Yang akan mereka perhatikan adalah nama klien. Makin tinggi nama klien kita, biasanya mereka akan makin tertarik, apalagi biasanya mereka hanya akan membaca CV selayang pandang.
    Solusi: manfaatkan asosiasi mereka terhadap keterkenalan klien lampau. Contohnya seperti ini: Jika kita pernah mengerjakan 100 halaman untuk situs web lokal kukuruyuk dot com dan pernah mengerjakan 10 baris kalimat untuk Yahoo, letakkan Yahoo di baris atas CV dan kemudian situs web kukuruyuk dot com di bawahnya.
    Tambahan: jika belum memiliki pengalaman bekerja untuk klien high profile, manfaatkan pengalaman kerja yang sudah ada dan tulis sedemikian rupa sehingga “terbaca” seperti high profile. Contoh: “100 pages of translation for a famous marketing website in Indonesia” untuk menyertakan si kukuruyuk dot com, yang sebenarnya adalah web lokal yang mungkin tidak dipahami oleh orang bule dan memiliki peringkat yang kurang jelas. Manfaatkan sedikit marketing gimmick – ingat, kita ini sedang menjual diri.
  3. Saya tidak pernah menyebutkan kompetensi secara spesifik, proyek besar yang pernah saya tangani, atau bahkan kompetensi CAT Tools saya dengan spesifik, bila tidak ditanya secara langsung. Pendeknya, saya menghindari penulisan hal berbau teknis dalam surat lamaran.
    Alasan: saya menemukan bahwa jika saya terlalu banyak menyebutkan kompetensi dalam email, jumlah baris email akan bertambah dan saya akan terdengar makin sombong. Percaya diri itu adalah hal yang baik, tapi ingat bahwa ada batas tipis antara percaya diri dan sombong, sama seperti keberadaan batas tipis antara rendah hati dan humblebragging.
    Solusi: tuliskan kalimat yang “menggoda”. Contoh (misalkan, mereka bertanya apakah kita bisa menggunakan Trados 2011): “I work mainly using Trados 2011 and have been an enthusiast user for 10 years to date.” Kata-kata “enthusiast user” meyiratkan kompetensi level profesional tanpa berbicara soal teknis. Masalah apakah pernah jadi pelatih Trados, atau sudah lulus Trados competency test tingkat dewa, biarlah mereka baca di CV saja. Ini tidak perlu diterangkan dalam surat lamaran kecuali jika mereka menanyakan hal itu secara terang-terangan.
    Tambahan: jika belum pernah samasekali menggunakan CAT Tools (dan tidak tahu apa itu CAT tools), hindari melamar ke agensi penerjemahan yang mensyaratkan kompetensi ini. Namun bila pernah sekadar “icip-icip” dan belum menyeriusi penggunaan CAT tools, saya memilih untuk bersikap sedikit nekad (tanpa berbohong). Katakan bahwa “I have some experiences in using Catalyst and eager to explore the tool more” (ini sebenarnya sama artinya dengan: “saya belum terlalu bisa sih, tapi kayaknya bisa belajar kalau Anda mau menyewa saya“. Ingat, marketing gimmick :D )
  4. Sebelum saya menulis lamaran, saya melakukan penelitian singkat untuk melihat tipe perusahaan – tepatnya, saya memperhatikan lokasi perusahaan.
    Alasan: Lain padang, lain belalang. Orang Eropa pada umumnya cenderung sopan namun tegas dalam hal prosedur, orang Tiongkok cenderung manis dalam berkata-kata namun mudah panik, orang Singapura terbaca getas dan dingin dalam emailnya, sedangkan orang Amerika cenderung santai dan tidak mudah naik darah. Saya selalu berhati-hati ketika menghadapi kebangsaan India dan Timur Tengah karena mereka cenderung bersikap persuasif dan memaksa.
    Solusi: Ingatlah selalu untuk menata bahasa sesuai dengan pembaca sasaran. Banyak agensi penerjemahan yang tidak bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris yang baik (walaupun komunikasi dilakukan dalam bahasa Inggris), jadi saya menghindari penggunaan kata-kata yang terlalu tinggi seperti “I acknowledge” dalam komunikasi dengan orang Tiongkok dan gantilah dengan “I understand“. Lain halnya dengan kebangsaan Inggris, saya selalu bersiap untuk bicara sedikit kompleks dengan kata-kata yang sedikit rumit. Selisih komunikasi adalah hal yang mengerikan, dan saya tidak mau dicap tidak sopan atau sombong gara-gara pemilihan kata-kata bahasa Inggris yang terlalu menyeramkan atau tidak pada tempatnya.
  5. Bagian terakhir yang sering membuat bingung adalah referensi. Sama seperti isi CV, referensi yang berbau nama “besar” akan lebih mudah menarik perhatian (misalkan, nama ketua HPI sebagai pemberi referensi Anda). Namun ada hal lain di balik ini, yaitu bahwa calon klien ingin mengetahui seberapa dekat hubungan kita dengan klien di masa lampau. Jika kita tidak bisa memberikan satu pun nama klien lampau yang dapat dihubungi untuk dimintai referensi, maka lamaran berakhir sudah sampai di sini. Ini memang menyedihkan dan saya mengakui bahwa dulu hambatan utama saya adalah referensi. Akhirnya saya belajar untuk membina hubungan baik dengan klien melalui pekerjaan, dengan berusaha untuk mengerjakan setiap pekerjaan dan menyelipkan satu atau dua patah kata obrolan di tengah email pekerjaan kami, agar klien bisa mengingat saya dan tidak akan keberatan bila saya mengajukan namanya sebagai referensi di kemudian hari.

Dari lima poin ini, no. 5 adalah yang tersulit (menurut saya) untuk dilakukan karena kita harus mengambil langkah jauh sekali ke depan agar tidak celaka di kemudian hari. Yang kedua tersulit adalah mencari klien high profile. Tapi saya juga mulai tanpa klien “besar” dan hanya bermodalkan marketing gimmick. Tiga poin lain bisa dilakukan oleh siapa pun asalkan ada pergeseran sudut pandang dari kebiasaan melamar ke perusahaan dengan menggunakan surat lamaran cetak menjadi surat lamaran melalui email.

Ini bukan tips tokcer – bagaimanapun juga setiap orang berbeda dan punya pendekatan masing-masing. Tapi strategi ini berhasil untuk saya. Mudah-mudahan ada yang bisa memetik manfaatnya :)

~written for RDA_trueblood 

Bandung, 10 September 2015

Rezeki Itu Di Tangan YME

Standard

Saya baru sadar pagi ini bahwa saya jarang sekali menulis tentang kehidupan pribadi. Padahal saya punya beberapa blog (salah satunya berbahasa Inggris). Walaupun sesibuk apa pun, saya selalu kangen menulis dan sepertinya tidak baik jika kebiasaan ini dihapuskan :D Jadi saya akan mencoba untuk menulis lagi, walaupun tidak bisa mengumbar janji bahwa akan lebih sering dari blogging senen-kemis yang selama ini saya lakukan, ha ha ha.

Apa banyak dari kalian yang memperhatikan bahwa Facebook memiliki halaman khusus untuk kilas balik? Kita menerima pemberitahuan bahwa tahun lalu kita menulis A, dua tahun lalu mengeposkan anu, dan sebagainya. Bagian ini menjadi bagian menarik untuk saya karena setiap hari saya diingatkan tentang peristiwa-peristiwa di masa lalu. Dan tadi pagi saya menemukan satu lagi hal yang menarik:

sc_10

Saya menampilkannya dalam bentuk screenshot karena tautannya sendiri sudah mati. Dulu saya suka menulis di Kompasiana, karena seorang sahabat (yang sudah saya anggap saudara sendiri) waktu itu berkata bahwa tulisan-tulisan dan opini-opini saya layak dicerna oleh publik. Wah – gitu ya? hahahahaha *tertawa malu*. Saya pikir, sejalan dengan waktu, tulisan saya sudah makin ‘politis’ alias tidak setajam dulu. Saya selalu berusaha menuangkan isi hati dengan kata-kata sebaik mungkin dan sehalus mungkin … but what can I say, being wise also comes with age. Oke, sebelum ada yang ngegampar saya karena menulis berseling dengan bahasa Inggris (kata para polisi bahasa ini kebiasaan buruk lho hihihi), saya akan mendongeng sedikit tentang cerita di balik screenshot (eh, maksudnya tangkapan layar) itu.

Dulu, salah satu cita-cita saya adalah menjadi seorang penulis (karena itulah sahabat saya menyarankan supaya saya menulis di Kompasiana). Saya ini gak berbakat nulis fiksi. Saya selalu cenderung nyerempet ke fakta ketimbang menjadikan suatu khayalan berbau kenyataan. Ketika saya menyadari bahwa saya tidak mampu menulis fiksi, saya mulai menulis opini … yang ternyata tidak bisa diterima begitu saja oleh beberapa gelintir orang.

Pemicunya adalah tulisan dalam tangkapan layar itu. Saya membaca lowongan untuk bekerja sebagai ghost writer untuk SEO (Search Engine Optimization). Dulu saya gak paham apa itu SEO. Yang saya pahami bahwa kalau kita berkomitmen untuk menjadi ghost writer, berarti nama kita sebagai penulis tidak akan dipublikasikan selamanya dan kita tidak bisa mengklaim kepemilikan atas semua yang telah kita tulis, karena nama kita tidak akan tertera dalam tulisan itu.

Jika ada yang berhasil menemukan tulisan saya ini dan membacanya, pasti dia berpikir bahwa saya memiliki tanggapan netral atau bahkan positif mengenai ghost writing ini. Bayaran yang ditawarkan ke saya dulu sangat rendah, untuk ukuran sekarang bayaran itu hanya sepersepuluh dari hasil terjemahan per halaman yang saya terima (saat ini) sebagai penerjemah profesional. Tapi saya bersedia mencoba kok, karena waktu itu saya masih berkomitmen untuk menjadi penulis (penulis apa pun itu). Namun, setelah saya iseng-iseng menyelidiki tentang siapa orang yang akan menggunakan tulisan-tulisan saya nanti, akhirnya saya menemukan satu nama – seorang pelopor sistem piramida di dunia maya, orang yang konon meraup jutaan sampai ratusan juta dengan memanfaatkan artikel-artikel SEO dan skema Internet Marketing. Maaf saya tidak mau menuliskan nama orang itu – saya tidak mau crawler Google mendeteksi nama perempuan itu dalam blog saya dan menjadikan dia lebih terkenal lagi (walaupun sekarang sudah sulit menelusuri namanya di dunia maya – dugaan saya dia sedang bermandikan uang dari hasil skema menipunya itu … atau sedang mengais tanah karena sudah kembali miskin, atau mungkin sudah dibui karena skema piramida itu sebenarnya melanggar hukum … atau mungkin selama itu dia hanyalah tokoh fiktif – catatan: saya cenderung percaya pada dugaan yang terakhir).

Reaksi pertama saya ketika mengetahui bahwa saya akan menulis untuk dia tentu saja adalah penolakan keras. Walaupun dulu saya masih bego soal internet, samar-samar saya merasa bahwa skema piramida itu sama dengan penipuan (dan mungkin perampokan). Dan apakah saya mau berpartisipasi secara terang-terangan? Tentu saja tidak. Karena itu saya membatalkan niat untuk bergabung menjadi ghost writer dan kemudian menuliskan alasan pembatalan ini di Kompasiana.

Tak dinyana bahwa tiba-tiba saya mendapat kiriman “surat cinta” dari seseorang yang tidak saya kenal, melalui Facebook. Ternyata orang itu adalah suami si perekrut (yang menyebarkan lowongan ghost writer). Dia meminta saya menghapus tulisan protes saya di Kompasiana karena katanya “Anda mematikan rezeki istri saya“. Cara bicara orang ini baik, dia santun dan tidak kasar, tapi kata-katanya sungguh pedas dalam kedok kesantunannya. Karena saya enggan ribut, akhirnya tulisan protes itu saya simpan di bagian draft Kompasiana (dan sayangnya saya tidak bisa mengaksesnya lagi sampai sekarang).

Waktu itu, lima tahun yang lalu, saya merasa diperlakukan tidak adil. Mematikan rezeki istrinya? Sejak kapan saya berhak, punya kuasa, dan punya andil untuk mematikan rezeki seseorang? Hebat sekali si perekrut ini, dia tidak sanggup melawan kata-kata saya dalam artikel itu jadi dia kirim “tukang pukul” yang adalah suaminya sendiri, sedangkan suami saya sendiri tidak tahu menahu soal urusan ini (karena pekerjaan saya adalah urusan saya dan saya bisa membela diri sendiri). Saya membaca tulisan di inbox Facebook itu dengan geram bercampur marah – karena ketika saya menuliskan fakta (yang akhirnya terbukti dengan terbongkarnya skema piramida dan klasifikasinya sebagai usaha yang melanggar hukum, ditambah dengan diaktifkannya Google Panda yang membuat artikel-artikel SEO salin rekat ini digilas habis), saya ditindas oleh orang yang bersikukuh bahwa rezeki dan masa depan karier istrinya sebagai penulis/redaktur ada di tangan SAYA, dan BUKAN DI TANGAN YME.

Mereka berdua menambahkan saya sebagai teman di Facebook dan saya terima, dan akhirnya pertemanan itu saya hapus enam bulan kemudian (karena memang tidak ada interaksi lagi setelah “surat cinta” itu). Saya sudah lupa akan kejadian itu sampai akhirnya hari ini (berkat Facebook) saya ingat akan peristiwa itu dan rasanya saya ingin tertawa keras-keras. Saya masih ingat nama si perekrut dan dia masih ada di Facebook, profil pribadinya sudah penuh dengan barang jualan (sepertinya nasib telah membawa dia ke gerbang yang lain). Dia bukan penulis sekelas Rani Rachmani Moediarta yang bersuara merdu dalam faktanya, apalagi penulis sekelas Remi Silado yang memukau hati ketika beliau membacakan resensinya untuk naskah Memang Jodoh terbitan Mizan. Dan sepertinya dia juga sudah berhenti menulis tuh. Dia hanya orang biasa, sama seperti saya, yang sempat percaya bahwa saya yang bukan siapa-siapa ini bisa mematikan kariernya lewat satu artikel pendek di Kompasiana.

Maaf kalau saya sinis – tapi menurut saya orang yang berani menuduh bahwa kita mematikan rezekinya adalah orang yang bodoh. Rezeki itu tidak pernah diatur oleh diri sendiri dan tidak pernah diberikan oleh orang lain tanpa seizin YME. Dan saya mengasihani mereka yang tidak menyadari hal itu dan berani “memarah-marahi” orang yang tidak mereka kenal demi “melindungi rezeki”nya.

Oh, sungguh kasihan.

So, moral of the story: ketika kita meyakini bahwa apa yang kita lakukan adalah benar, lanjutkanlah. Sebodo amat lah orang mau ngomong apa. Kebenaran selalu akan terungkap di satu saat yang paling pas dan paling menyenangkan, karena sebenarnya tiada balas dendam yang lebih manis dari saat ketika kita menyadari bahwa kita telah melangkah di jalan yang benar, dan telah meninggalkan semua orang yang telah (mencoba) menganiaya kita jauh di belakang :D :D

~Bandung, 31 Agustus 2015

Mentor … dimanakah mereka? – Bagian IV

Standard

Setiap orang yang baru memulai jalan hidup profesional sebagai apa pun pasti akan berusaha mencari orang lain yang bisa dijadikan tempat bertanya dan tempat untuk menimba ilmu. Itu wajar. Saya berpendapat bahwa mentor memegang peranan penting dalam membentuk sikap profesional dan “kecerdasan” saya dalam menghadapi berbagai situasi dalam profesi penerjemahan, dan mereka lah orang-orang terdepan yang memberi pembelajaran tentang seluk-beluk dunia penerjemahan yang tersembunyi dan pelik.

Mentor saya yang paling awal adalah ayah dan ibu saya. Tapi mari kita kesampingkan faktor ini karena tidak semua orang memiliki orangtua yang juga penerjemah – anggap saja saya beruntung. Mentor kedua yang bukan berasal dari keluarga adalah seorang pemberi kerja yang mengajari saya tentang berbagai CAT tools. Saya sering berinteraksi dengannya dan setelah itu saya bertemu dengan seorang Bunda Senior yang juga pemberi pekerjaan. Dari Bunda ini saya memperoleh banyak sekali masukan mengenai tata cara penulisan yang benar, cara menengok kamus (yang benar), dan juga pembahasaan yang benar. Saya masih memiliki mentor-mentor lain – saya berutang budi sepenuhnya kepada mereka karena dari sekelumit ilmu yang telah mereka bagi, saya memperoleh bekal demi bekal yang bisa mengantar saya memasuki dunia penerjemahan profesional dan bertahan di dalamnya sampai detik ini. Saya belajar untuk berteman dengan semua orang yang akhirnya mengajarkan banyak hal – saya mulai dengan memperkaya diri dengan ilmu sosialisasi dan interaksi, dan berusaha menepis rasa malu. Yang saya maksud dengan berinteraksi adalah BUKAN sekadar bertukar komentar di Facebook atau mencari-cari teman senior penerjemah untuk “dikuntit”. Tapi benar-benar bergaul: menyapa, bercerita, dan berdiskusi (online dan offline). Saya beberapa kali berdiskusi dengan beberapa penerjemah di sela-sela rehat acara Kompak HPI, dan obrolan itu terasa menyenangkan karena adanya interaksi: diskusi tentang kesulitan menangani klien, tips dan trik dalam menghadapi agensi, cara mengolah pekerjaan dan cara menangani keluhan – semua ini diperoleh melalui obrolan dan bukan melalui kuliah atau presentasi. Setiap perkataan dan setiap cerita yang tampaknya remeh sesungguhnya akan membimbing jalan dan membuka diri terhadap berbagai kemungkinan di dunia penerjemahan yang mungkin bisa dihindari atau bisa dilakukan. Dan sesungguhnya inilah guna mentor: untuk mengungkapkan hal-hal yang tidak diketahui oleh khalayak umum. Setiap penerjemah adalah entitas yang berbeda dan mereka memiliki pengalamannya sendiri. Jangan berpikir bahwa arti mentor adalah pemeriksa pekerjaan Anda, atau pun orang pertama yang akan memberi pekerjaan. Di satu sisi itu benar, tapi pada kenyataannya ketika Anda terjun ke dunia penerjemahan nanti, akan ada demikian banyak orang yang menguliti karya Anda, mulai dari editor, proofreader, reviewer, klien, pembaca, dan lain sebagainya. Ini semua semata soal teknis – mereka yang berkecimpung di bidang sastra akan bisa memberikan masukan, namun tiada yang bisa memberikan masukan mengenai cara menangani keluhan klien, cara menghadapi editor rewel, atau cara menghadapi agensi, selain mentor.

Satu hal yang akan membatalkan niat semua orang untuk berbagi (informasi) adalah ketika Anda memohon-mohon untuk diberi pekerjaan. Mengemis kepada seorang penerjemah (apalagi yang tidak membuka lowongan pekerjaan subkontrak) adalah tindakan yang akan mematikan masa depan karena sesungguhnya Anda hanya perlu mencari – dan mereka semua tahu itu. Ingatlah bahwa senior dulu adalah junior seperti Anda dan mereka sudah pernah melalui jalan mereka sendiri – sepanjang pengetahuan saya tidak ada satu pun senior saya yang pernah mengemis pekerjaan di Bahtera/HPI. Mungkin secara umum tindakan mengemis ini dianggap sebagai inisiatif tapi sesungguhnya ini adalah tindakan invasif yang menyebalkan. Dan (calon) pemberi pekerjaan secara umum akan menilai seorang pengemis pekerjaan sebagai orang yang malas berusaha, tidak punya inisiatif, dan kadang-kadang beberapa di antaranya bersikap ekstrem hingga bersumpah untuk tidak akan pernah memberi rekomendasi atau pekerjaan kepada si pengemis. Ini yang saya sebut sebagai mematikan masa depan – berhati-hatilah.

Kalau begitu, gimana dong caranya untuk memperoleh mentor? Jawabannya hanya dua: MULAILAH MENCARI PEKERJAAN DI LUAR SANA dan MULAILAH BERINTERAKSI. Dua hal ini harus dilakukan bersamaan dan Anda tidak bisa melakukan yang satu untuk membuka pintu ke yang lain. Pelajari cara berinteraksi yang sopan dengan tutur kata yang jelas, juga cara menulis yang baik dan bebas dari bahasa alay. Hindari pertanyaan invasif seperti “Punya daftar klien gak? Bagi dong ….“, dan ganti dengan “Saya merasa bingung karena sulit mencari pekerjaan terjemahan. Apa Bapak/Ibu/Mas/Mbak punya input?” (ada baiknya juga untuk mencari nama orang yang Anda ajak bicara di Google – pelajari profil orang yang bersangkutan dan mulailah menanamkan rasa hormat sewajarnya terhadap pencapaian orang tersebut). Pelajari tata cara melamar pekerjaan yang baik dalam dua bahasa, panjangkan upaya Anda sejauh mungkin, dan biasakan untuk belajar dari kesalahan. Pelajari cara memasarkan diri yang baik dan tampilkan diri sebagai sosok positif yang berinisiatif.

Saya ini tipe orang yang sangat ANTI mengemis pekerjaan karena saya tahu saya MAMPU mencari sendiri, dan dulu pertanyaan saya cuma satu: harus mencari ke mana? Saya menetapkan Bahtera sebagai titik awal saya karena bagaimanapun juga komunitas ini sudah ada sejak lama dan bisa diandalkan. Saya juga mulai dengan menelusuri “translation agency” atau “translation jobs” di Google – kemudian saya menemukan ProZ dan Translator’s Cafe. Waktu itu saya tidak tahu apa yang akan membuahkan hasil, tapi saya terus mencoba dan tidak putus asa. Setelah hampir lima tahun berada di Bahtera sebagai silent reader dan bekerja untuk beberapa orang penerjemah lepas (yang membuka lowongan), akhirnya saya menemukan lowongan pertama yang membuka pintu mentoring untuk saya.

Saya tidak akan bisa melangkah sampai sejauh ini jika tidak dibimbing dan berdiskusi dengan puluhan orang, termasuk teman-teman sesama penerjemah. Tapi ingatlah juga bahwa ketika memilih untuk menjadi penerjemah lepas, Anda dengan sendirinya WAJIB berinvestasi dalam INISIATIF. Tidak akan ada pekerjaan yang sekonyong-konyong menghampiri jika Anda terus mengurung diri dalam kamar tanpa interaksi – dan tidak akan ada interaksi yang menghampiri jika Anda tidak pernah mencoba mencari pekerjaan. Dua upaya itu – mencari pekerjaan dan interaksi – pada akhirnya akan membuahkan seorang atau bahkan beberapa orang mentor untuk Anda.

Tidak ada yang namanya sure success. Kembali saya ingatkan bahwa keputusan menjadi penerjemah lepas tidak semata-mata didasari oleh kemampuan bahasa Inggris, kemampuan bahasa Indonesia, atau uang melimpah yang (konon) dihasilkan oleh profesi ini. Karena sebagaimana pekerjaan lain di dunia, harus ada upaya yang dilakukan dan upaya tersebut mungkin akan menguras tenaga Anda. But if you love the job, you’ll do anything to succeed.

Bandung, 1 Februari 2015

*melanjutkan seri tulisan yang tertunda …*

Tentang Perang Harga (Isu Sensitif Penuh Makian)

Standard

Dalam pos blog saya sebelumnya, saya menuliskan bahwa penawaran tarif terjemahan tiga sampai lima poin di bawah tarif saya adalah sesuatu yang harus saya hadapi sebagai bagian dari persaingan. Needless to say bahwa persaingan harga adalah topik sensitif, dan pembahasannya seringkali dihindari karena ini akan mengarah ke satu atau beberapa individu atau entitas yang hobi memainkan perang harga tanpa memikirkan kualitas. Mari kita jauhi topik ghibah terkait individu karena memang tidak ada manfaatnya – seperti yang saya katakan sebelumnya, setiap orang punya pilihan masing-masing. Mengutak-ngatik pilihan itu adalah tindakan untuk membuang waktu percuma dan tidak berfaedah bagi siapa pun.

Yang akan saya bahas di sini adalah perbedaan antara yang namanya persaingan sehat dan tidak sehat. Persaingan sehat adalah ketika saya menawarkan tarif Rp. 170.000,00 per halaman, dan Anda menawarkan tarif 150.000,00 per halaman dengan layanan tambahan. Ini namanya persaingan sehat. Harga kita tidak jauh berbeda, Anda menawarkan layanan tambahan dan saya akan terpaksa mengajukan nilai kompetitif (yang mungkin melibatkan tindakan memutar otak dan kecerdasan), untuk menerangkan kepada klien mengapa dia harus membayar lebih tinggi untuk layanan saya. Tindakan Anda memberi dampak positif kepada saya karena saya akan berusaha memperbaiki layanan, harga, dan nilai kompetitif yang tadinya mungkin tidak terpikirkan. Layanan dan tarif saya menerima “tantangan” dari sisi Anda sehingga saya “terpaksa” belajar untuk meningkatkan kualitas.

Persaingan tidak sehat adalah ketika saya menawarkan tarif Rp. 170.000,00 satu halaman dan Anda menawarkan Rp.50.000,00 satu halaman, dalam konteks ketika kemampuan Anda sama seperti saya, jam terbang kita hampir sama, kompetensi kita kurang lebih sama. Anda menawarkan harga JAUH LEBIH RENDAH tanpa alasan – hanya karena Anda bersedia dibayar murah dan saya tidak, ini namanya tidak sehat. Kenapa? Karena inilah yang namanya perang harga, ketika tiada hal lain yang bisa dijadikan faktor kompetisi kecuali HARGA.

(Saya tidak akan menyinggung kualitas terjemahan tarif rendah karena ini sudah disinggung di pos sebelumnya, yang berkaitan erat dengan kejar setoran yang pernah saya alami.)

Mohon perhatikan bahwa bila jam terbang Anda di bawah saya, sah-sah saja kalau Anda mengajukan tarif yang jauh lebih rendah. Ini kembali ke persaingan sehat – Anda menawarkan apa yang Anda punya, saya juga. Apabila jam terbang saya jauh di bawah Anda, saya pun akan sungkan menawarkan tarif yang sama dengan Anda, karena Anda punya nilai kompetitif yang tidak saya miliki. Tapi ini memberi peluang bagi saya dan Anda untuk terus meningkatkan nilai diri dan layanan, karena saya pun ingin dong dibayar sebesar Anda. Mekanisme persaingan ini terus bergulir memberi dampak positif, dan akan sampai pada suatu titik ketika Anda diuntungkan dengan penawaran saya, dan saya juga diuntungkan oleh penawaran Anda. Tidak ada yang rugi – karena kita bekerja dalam level yang sama, dan ketika Anda yang memenangkan proyek dan bukan saya, kejadian ini akan lebih membuat legowo. Dan pasar pun akan bergulir dalam persaingan ini, sampai akhirnya keseluruhan tarif bisa terangkat dan pasar akan menganggap bahwa penawaran Anda dan saya sama logisnya, sehingga apa pun yang berada di bawah itu pasti abal-abal.

Eh, sebentar. Apakah mekanisme pasar memang sesederhana itu? Tentu saja tidak. Kalau memang benar sehitam putih ini, penerjemah tarif rendah gak akan mungkin dong bisa sukses dan meraup uang banyak? Tapi pada kenyataannya mereka yang bersaing dengan cara tidak sehat meraih keuntungan dari agensi-agensi abusive yang bertarif rendah, sedangkan penerjemah bertarif tinggi mengeluh karena pekerjaan mereka “dicaplok” oleh pemain tarif rendah. Konon, harga murah dengan kualitas pas-pasan memberi manfaat yang kurang lebih sama dengan kualitas yang baik tapi mahal. Tentu saja secara alamiah klien akan memilih yang pertama, karena mereka punya apa yang namanya pagu anggaran, dan mekanisme dalam agensi terkadang demikian rumit dan melibatkan demikian banyak orang, sehingga pagu anggaran ini demikian tipis setelah dibagi-bagi dan didistribusikan ke sekian banyak sistem. Kalau Anda ingin tahu mengapa penerjemah bertarif rendah dengan kualitas pas-pasan memperoleh banyak pekerjaan sedangkan Anda yang bertarif tinggi tidak, itulah jawabannya. Bukan kualitas. Tapi semata-mata karena pagu anggaran. Kemudian kita akan bertanya: trus kualitas dikemanakan? Well – klien yang berfokus pada pagu anggaran dan uang tidak terlalu peduli soal kualitas. Pikiran mereka bersifat linier – tarif murah + kualitas pas-pasan + beban ditumpukan ke editor = memenuhi anggaran.

Jika kita ikut-ikutan berpikir linier dan menganggap bahwa harga adalah satu-satunya faktor yang bisa memenangkan kompetisi, urusan ini bisa jadi runyam. Selain dampak yang jelas terhadap tarif sendiri yang tak kunjung naik karena selalu lihat kiri kanan atas bawah depan belakang, muncul sikap nyinyir dan saling curiga terhadap satu sama lain, dan si penerjemah bertarif rendah yang kebetulan sedang mendaki tangga karier (BUKAN PESAING TIDAK SEHAT) akan menerima getah kenyinyiran ini. Akhirnya yang terjadi adalah profesi kacau balau yang penuh rahasia – pesaing tidak sehat bersembunyi di antara rimba newbie dan terus memainkan perang harga yang makin menggila rendahnya, sedangkan newbie yang sebenarnya berakhir dengan terjepit di antara dua tarif (rendah dan tinggi) dengan CV yang masih kosong. Sementara penerjemah bertarif tinggi menaruh kecurigaan dalam-dalam kepada semua orang yang “tampaknya” memiliki tarif lebih rendah dari dirinya, dan berujung menyalahkan semua orang bertarif rendah secara membabi buta.

Tapi sekarang mari kita coba berpikir tidak linier dan menilai, siapa saja klien yang mau membeli nilai kompetitif kita (kompetensi, sertifikasi, pengalaman, integritas, reputasi, dll)? Inilah klien-klien yang patut diperjuangkan dan merekalah yang akan memberi manfaat dan nilai yang lebih dari sekadar uang yang dibayarkan. Klien yang tidak berniat membeli nilai kompetitif akan selalu mencari korban di tengah perang harga – yaitu penerjemah yang mau dibayar semurah mungkin untuk mengerjakan proyek secepat mungkin. Untuk apa memaksakan diri menerima pekerjaan dari klien yang samasekali tidak berniat untuk membayar harga sertifikasi Anda yang diperoleh lewat air mata dan pengorbanan? Untuk apa bekerja bagi klien yang hanya peduli pada output terjemahan sejumlah empat ribu kata per hari dan tidak peduli terhadap reputasi Anda yang akan memburuk akibat hasil yang buruk? Akan ada suatu saat ketika mereka menggunakan kalimat “Teman Anda si A mau dibayar 2 sen dolar per kata, jadi saya harap Anda mau bersikap kompetitif dalam hal ini” (padahal tarif Anda yang sebenarnya adalah 6 sen dolar per kata). Selain memberi jawaban “I would rather starve” atau “you’re an asshole” dan sejumlah makian jenis lain (yang mungkin bisa dikemas dalam bentuk yang lebih sopan), Anda juga harus mempertimbangkan bahwa klien ini mungkin mencoba menjebak Anda dalam perang harga – yang tidak akan ada habisnya dan tidak akan ada manfaatnya – hanya demi pagu anggaran yang sebenarnya bukan urusan Anda juga. Walaupun Anda memerosotkan tarif hingga 1 sen dolar per kata, perang ini tidak akan pernah dimenangkan oleh Anda. Akan ada tarif yang lebih rendah lagi dan lagi, karena itu melangkahlah keluar dari perang harga itu dengan anggun dan berhentilah menyalahkan si A karena memasang tarif 2 sen dolar per kata, karena mungkin saja si A itu sebenarnya adalah newbie yang sedang berusaha merangkak naik (sehingga jelas ini adalah persaingan yang gak level), atau sesungguhnya si A sedang berdarah-darah karena mencoba memenangkan proyek yang hanya akan membuat reputasinya memburuk.

Saat semua penerjemah yang bersaing dengan cara tidak sehat terus memerosotkan tarif, penerjemah tarif tinggi dengan kompetensi dan passion serius akan makin cemerlang dan menonjol di antara mereka, asalkan integritas, reputasi, kompetensi, dan keunggulan kompetitif tetap dijaga serta ditingkatkan. Saya melihat banyak newbie yang sudah melangkah keluar dari perang harga dan menetapkan keunggulan kompetitifnya – dia yang dulunya mau-mau aja mengerjakan terjemahan tarif rendah, setelah ikut pelatihan dan Kompak HPI beberapa kali mulai “malas” mengerjakan tarif rendah dan mulai menetapkan tarif minimal yang memadai untuk kompetensinya. Ini sangat bagus dan saya salut karena mereka bekerja keras dan tidak mengedepankan harga sebagai satu-satunya manfaat yang bisa diperoleh klien. Mereka keluar dari perang harga dan mulai bersinar sebagai dirinya sendiri – dan saya harap akan makin banyak yang bersaing secara sehat dan mengedepankan keunggulan kompetitif yang kreatif alih-alih pasang harga “kacangan” untuk menendang kompetitor.

Suatu saat, klien akan menyadari bahwa pagu anggaran mereka telah mencapai batas untuk membayar tarif penerjemah rendah + editor kawakan = edit dan revisi berkali-kali, padahal sebenarnya mereka bisa menyewa penerjemah kawakan tanpa editor = edit dan revisi hanya maksimal dua kali atau bahkan tidak ada revisi.

Sungguh tidak masuk akal untuk mengharapkan layanan yang baik dengan harga (se)murah (mungkin), dan suatu saat klien akan menyadari hal ini. Namun kesadaran ini harus dimulai dari penyedia layanan terjemahan – yaitu penerjemah.

~Bandung, 10 Januari 2015