Mentor … dimanakah mereka? – Bagian IV

Standard

Setiap orang yang baru memulai jalan hidup profesional sebagai apa pun pasti akan berusaha mencari orang lain yang bisa dijadikan tempat bertanya dan tempat untuk menimba ilmu. Itu wajar. Saya berpendapat bahwa mentor memegang peranan penting dalam membentuk sikap profesional dan “kecerdasan” saya dalam menghadapi berbagai situasi dalam profesi penerjemahan, dan mereka lah orang-orang terdepan yang memberi pembelajaran tentang seluk-beluk dunia penerjemahan yang tersembunyi dan pelik.

Mentor saya yang paling awal adalah ayah dan ibu saya. Tapi mari kita kesampingkan faktor ini karena tidak semua orang memiliki orangtua yang juga penerjemah – anggap saja saya beruntung. Mentor kedua yang bukan berasal dari keluarga adalah seorang pemberi kerja yang mengajari saya tentang berbagai CAT tools. Saya sering berinteraksi dengannya dan setelah itu saya bertemu dengan seorang Bunda Senior yang juga pemberi pekerjaan. Dari Bunda ini saya memperoleh banyak sekali masukan mengenai tata cara penulisan yang benar, cara menengok kamus (yang benar), dan juga pembahasaan yang benar. Saya masih memiliki mentor-mentor lain – saya berutang budi sepenuhnya kepada mereka karena dari sekelumit ilmu yang telah mereka bagi, saya memperoleh bekal demi bekal yang bisa mengantar saya memasuki dunia penerjemahan profesional dan bertahan di dalamnya sampai detik ini. Saya belajar untuk berteman dengan semua orang yang akhirnya mengajarkan banyak hal – saya mulai dengan memperkaya diri dengan ilmu sosialisasi dan interaksi, dan berusaha menepis rasa malu. Yang saya maksud dengan berinteraksi adalah BUKAN sekadar bertukar komentar di Facebook atau mencari-cari teman senior penerjemah untuk “dikuntit”. Tapi benar-benar bergaul: menyapa, bercerita, dan berdiskusi (online dan offline). Saya beberapa kali berdiskusi dengan beberapa penerjemah di sela-sela rehat acara Kompak HPI, dan obrolan itu terasa menyenangkan karena adanya interaksi: diskusi tentang kesulitan menangani klien, tips dan trik dalam menghadapi agensi, cara mengolah pekerjaan dan cara menangani keluhan – semua ini diperoleh melalui obrolan dan bukan melalui kuliah atau presentasi. Setiap perkataan dan setiap cerita yang tampaknya remeh sesungguhnya akan membimbing jalan dan membuka diri terhadap berbagai kemungkinan di dunia penerjemahan yang mungkin bisa dihindari atau bisa dilakukan. Dan sesungguhnya inilah guna mentor: untuk mengungkapkan hal-hal yang tidak diketahui oleh khalayak umum. Setiap penerjemah adalah entitas yang berbeda dan mereka memiliki pengalamannya sendiri. Jangan berpikir bahwa arti mentor adalah pemeriksa pekerjaan Anda, atau pun orang pertama yang akan memberi pekerjaan. Di satu sisi itu benar, tapi pada kenyataannya ketika Anda terjun ke dunia penerjemahan nanti, akan ada demikian banyak orang yang menguliti karya Anda, mulai dari editor, proofreader, reviewer, klien, pembaca, dan lain sebagainya. Ini semua semata soal teknis – mereka yang berkecimpung di bidang sastra akan bisa memberikan masukan, namun tiada yang bisa memberikan masukan mengenai cara menangani keluhan klien, cara menghadapi editor rewel, atau cara menghadapi agensi, selain mentor.

Satu hal yang akan membatalkan niat semua orang untuk berbagi (informasi) adalah ketika Anda memohon-mohon untuk diberi pekerjaan. Mengemis kepada seorang penerjemah (apalagi yang tidak membuka lowongan pekerjaan subkontrak) adalah tindakan yang akan mematikan masa depan karena sesungguhnya Anda hanya perlu mencari – dan mereka semua tahu itu. Ingatlah bahwa senior dulu adalah junior seperti Anda dan mereka sudah pernah melalui jalan mereka sendiri – sepanjang pengetahuan saya tidak ada satu pun senior saya yang pernah mengemis pekerjaan di Bahtera/HPI. Mungkin secara umum tindakan mengemis ini dianggap sebagai inisiatif tapi sesungguhnya ini adalah tindakan invasif yang menyebalkan. Dan (calon) pemberi pekerjaan secara umum akan menilai seorang pengemis pekerjaan sebagai orang yang malas berusaha, tidak punya inisiatif, dan kadang-kadang beberapa di antaranya bersikap ekstrem hingga bersumpah untuk tidak akan pernah memberi rekomendasi atau pekerjaan kepada si pengemis. Ini yang saya sebut sebagai mematikan masa depan – berhati-hatilah.

Kalau begitu, gimana dong caranya untuk memperoleh mentor? Jawabannya hanya dua: MULAILAH MENCARI PEKERJAAN DI LUAR SANA dan MULAILAH BERINTERAKSI. Dua hal ini harus dilakukan bersamaan dan Anda tidak bisa melakukan yang satu untuk membuka pintu ke yang lain. Pelajari cara berinteraksi yang sopan dengan tutur kata yang jelas, juga cara menulis yang baik dan bebas dari bahasa alay. Hindari pertanyaan invasif seperti “Punya daftar klien gak? Bagi dong ….“, dan ganti dengan “Saya merasa bingung karena sulit mencari pekerjaan terjemahan. Apa Bapak/Ibu/Mas/Mbak punya input?” (ada baiknya juga untuk mencari nama orang yang Anda ajak bicara di Google – pelajari profil orang yang bersangkutan dan mulailah menanamkan rasa hormat sewajarnya terhadap pencapaian orang tersebut). Pelajari tata cara melamar pekerjaan yang baik dalam dua bahasa, panjangkan upaya Anda sejauh mungkin, dan biasakan untuk belajar dari kesalahan. Pelajari cara memasarkan diri yang baik dan tampilkan diri sebagai sosok positif yang berinisiatif.

Saya ini tipe orang yang sangat ANTI mengemis pekerjaan karena saya tahu saya MAMPU mencari sendiri, dan dulu pertanyaan saya cuma satu: harus mencari ke mana? Saya menetapkan Bahtera sebagai titik awal saya karena bagaimanapun juga komunitas ini sudah ada sejak lama dan bisa diandalkan. Saya juga mulai dengan menelusuri “translation agency” atau “translation jobs” di Google – kemudian saya menemukan ProZ dan Translator’s Cafe. Waktu itu saya tidak tahu apa yang akan membuahkan hasil, tapi saya terus mencoba dan tidak putus asa. Setelah hampir lima tahun berada di Bahtera sebagai silent reader dan bekerja untuk beberapa orang penerjemah lepas (yang membuka lowongan), akhirnya saya menemukan lowongan pertama yang membuka pintu mentoring untuk saya.

Saya tidak akan bisa melangkah sampai sejauh ini jika tidak dibimbing dan berdiskusi dengan puluhan orang, termasuk teman-teman sesama penerjemah. Tapi ingatlah juga bahwa ketika memilih untuk menjadi penerjemah lepas, Anda dengan sendirinya WAJIB berinvestasi dalam INISIATIF. Tidak akan ada pekerjaan yang sekonyong-konyong menghampiri jika Anda terus mengurung diri dalam kamar tanpa interaksi – dan tidak akan ada interaksi yang menghampiri jika Anda tidak pernah mencoba mencari pekerjaan. Dua upaya itu – mencari pekerjaan dan interaksi – pada akhirnya akan membuahkan seorang atau bahkan beberapa orang mentor untuk Anda.

Tidak ada yang namanya sure success. Kembali saya ingatkan bahwa keputusan menjadi penerjemah lepas tidak semata-mata didasari oleh kemampuan bahasa Inggris, kemampuan bahasa Indonesia, atau uang melimpah yang (konon) dihasilkan oleh profesi ini. Karena sebagaimana pekerjaan lain di dunia, harus ada upaya yang dilakukan dan upaya tersebut mungkin akan menguras tenaga Anda. But if you love the job, you’ll do anything to succeed.

Bandung, 1 Februari 2015

*melanjutkan seri tulisan yang tertunda …*

Tentang Perang Harga (Isu Sensitif Penuh Makian)

Standard

Dalam pos blog saya sebelumnya, saya menuliskan bahwa penawaran tarif terjemahan tiga sampai lima poin di bawah tarif saya adalah sesuatu yang harus saya hadapi sebagai bagian dari persaingan. Needless to say bahwa persaingan harga adalah topik sensitif, dan pembahasannya seringkali dihindari karena ini akan mengarah ke satu atau beberapa individu atau entitas yang hobi memainkan perang harga tanpa memikirkan kualitas. Mari kita jauhi topik ghibah terkait individu karena memang tidak ada manfaatnya – seperti yang saya katakan sebelumnya, setiap orang punya pilihan masing-masing. Mengutak-ngatik pilihan itu adalah tindakan untuk membuang waktu percuma dan tidak berfaedah bagi siapa pun.

Yang akan saya bahas di sini adalah perbedaan antara yang namanya persaingan sehat dan tidak sehat. Persaingan sehat adalah ketika saya menawarkan tarif Rp. 170.000,00 per halaman, dan Anda menawarkan tarif 150.000,00 per halaman dengan layanan tambahan. Ini namanya persaingan sehat. Harga kita tidak jauh berbeda, Anda menawarkan layanan tambahan dan saya akan terpaksa mengajukan nilai kompetitif (yang mungkin melibatkan tindakan memutar otak dan kecerdasan), untuk menerangkan kepada klien mengapa dia harus membayar lebih tinggi untuk layanan saya. Tindakan Anda memberi dampak positif kepada saya karena saya akan berusaha memperbaiki layanan, harga, dan nilai kompetitif yang tadinya mungkin tidak terpikirkan. Layanan dan tarif saya menerima “tantangan” dari sisi Anda sehingga saya “terpaksa” belajar untuk meningkatkan kualitas.

Persaingan tidak sehat adalah ketika saya menawarkan tarif Rp. 170.000,00 satu halaman dan Anda menawarkan Rp.50.000,00 satu halaman, dalam konteks ketika kemampuan Anda sama seperti saya, jam terbang kita hampir sama, kompetensi kita kurang lebih sama. Anda menawarkan harga JAUH LEBIH RENDAH tanpa alasan – hanya karena Anda bersedia dibayar murah dan saya tidak, ini namanya tidak sehat. Kenapa? Karena inilah yang namanya perang harga, ketika tiada hal lain yang bisa dijadikan faktor kompetisi kecuali HARGA.

(Saya tidak akan menyinggung kualitas terjemahan tarif rendah karena ini sudah disinggung di pos sebelumnya, yang berkaitan erat dengan kejar setoran yang pernah saya alami.)

Mohon perhatikan bahwa bila jam terbang Anda di bawah saya, sah-sah saja kalau Anda mengajukan tarif yang jauh lebih rendah. Ini kembali ke persaingan sehat – Anda menawarkan apa yang Anda punya, saya juga. Apabila jam terbang saya jauh di bawah Anda, saya pun akan sungkan menawarkan tarif yang sama dengan Anda, karena Anda punya nilai kompetitif yang tidak saya miliki. Tapi ini memberi peluang bagi saya dan Anda untuk terus meningkatkan nilai diri dan layanan, karena saya pun ingin dong dibayar sebesar Anda. Mekanisme persaingan ini terus bergulir memberi dampak positif, dan akan sampai pada suatu titik ketika Anda diuntungkan dengan penawaran saya, dan saya juga diuntungkan oleh penawaran Anda. Tidak ada yang rugi – karena kita bekerja dalam level yang sama, dan ketika Anda yang memenangkan proyek dan bukan saya, kejadian ini akan lebih membuat legowo. Dan pasar pun akan bergulir dalam persaingan ini, sampai akhirnya keseluruhan tarif bisa terangkat dan pasar akan menganggap bahwa penawaran Anda dan saya sama logisnya, sehingga apa pun yang berada di bawah itu pasti abal-abal.

Eh, sebentar. Apakah mekanisme pasar memang sesederhana itu? Tentu saja tidak. Kalau memang benar sehitam putih ini, penerjemah tarif rendah gak akan mungkin dong bisa sukses dan meraup uang banyak? Tapi pada kenyataannya mereka yang bersaing dengan cara tidak sehat meraih keuntungan dari agensi-agensi abusive yang bertarif rendah, sedangkan penerjemah bertarif tinggi mengeluh karena pekerjaan mereka “dicaplok” oleh pemain tarif rendah. Konon, harga murah dengan kualitas pas-pasan memberi manfaat yang kurang lebih sama dengan kualitas yang baik tapi mahal. Tentu saja secara alamiah klien akan memilih yang pertama, karena mereka punya apa yang namanya pagu anggaran, dan mekanisme dalam agensi terkadang demikian rumit dan melibatkan demikian banyak orang, sehingga pagu anggaran ini demikian tipis setelah dibagi-bagi dan didistribusikan ke sekian banyak sistem. Kalau Anda ingin tahu mengapa penerjemah bertarif rendah dengan kualitas pas-pasan memperoleh banyak pekerjaan sedangkan Anda yang bertarif tinggi tidak, itulah jawabannya. Bukan kualitas. Tapi semata-mata karena pagu anggaran. Kemudian kita akan bertanya: trus kualitas dikemanakan? Well – klien yang berfokus pada pagu anggaran dan uang tidak terlalu peduli soal kualitas. Pikiran mereka bersifat linier – tarif murah + kualitas pas-pasan + beban ditumpukan ke editor = memenuhi anggaran.

Jika kita ikut-ikutan berpikir linier dan menganggap bahwa harga adalah satu-satunya faktor yang bisa memenangkan kompetisi, urusan ini bisa jadi runyam. Selain dampak yang jelas terhadap tarif sendiri yang tak kunjung naik karena selalu lihat kiri kanan atas bawah depan belakang, muncul sikap nyinyir dan saling curiga terhadap satu sama lain, dan si penerjemah bertarif rendah yang kebetulan sedang mendaki tangga karier (BUKAN PESAING TIDAK SEHAT) akan menerima getah kenyinyiran ini. Akhirnya yang terjadi adalah profesi kacau balau yang penuh rahasia – pesaing tidak sehat bersembunyi di antara rimba newbie dan terus memainkan perang harga yang makin menggila rendahnya, sedangkan newbie yang sebenarnya berakhir dengan terjepit di antara dua tarif (rendah dan tinggi) dengan CV yang masih kosong. Sementara penerjemah bertarif tinggi menaruh kecurigaan dalam-dalam kepada semua orang yang “tampaknya” memiliki tarif lebih rendah dari dirinya, dan berujung menyalahkan semua orang bertarif rendah secara membabi buta.

Tapi sekarang mari kita coba berpikir tidak linier dan menilai, siapa saja klien yang mau membeli nilai kompetitif kita (kompetensi, sertifikasi, pengalaman, integritas, reputasi, dll)? Inilah klien-klien yang patut diperjuangkan dan merekalah yang akan memberi manfaat dan nilai yang lebih dari sekadar uang yang dibayarkan. Klien yang tidak berniat membeli nilai kompetitif akan selalu mencari korban di tengah perang harga – yaitu penerjemah yang mau dibayar semurah mungkin untuk mengerjakan proyek secepat mungkin. Untuk apa memaksakan diri menerima pekerjaan dari klien yang samasekali tidak berniat untuk membayar harga sertifikasi Anda yang diperoleh lewat air mata dan pengorbanan? Untuk apa bekerja bagi klien yang hanya peduli pada output terjemahan sejumlah empat ribu kata per hari dan tidak peduli terhadap reputasi Anda yang akan memburuk akibat hasil yang buruk? Akan ada suatu saat ketika mereka menggunakan kalimat “Teman Anda si A mau dibayar 2 sen dolar per kata, jadi saya harap Anda mau bersikap kompetitif dalam hal ini” (padahal tarif Anda yang sebenarnya adalah 6 sen dolar per kata). Selain memberi jawaban “I would rather starve” atau “you’re an asshole” dan sejumlah makian jenis lain (yang mungkin bisa dikemas dalam bentuk yang lebih sopan), Anda juga harus mempertimbangkan bahwa klien ini mungkin mencoba menjebak Anda dalam perang harga – yang tidak akan ada habisnya dan tidak akan ada manfaatnya – hanya demi pagu anggaran yang sebenarnya bukan urusan Anda juga. Walaupun Anda memerosotkan tarif hingga 1 sen dolar per kata, perang ini tidak akan pernah dimenangkan oleh Anda. Akan ada tarif yang lebih rendah lagi dan lagi, karena itu melangkahlah keluar dari perang harga itu dengan anggun dan berhentilah menyalahkan si A karena memasang tarif 2 sen dolar per kata, karena mungkin saja si A itu sebenarnya adalah newbie yang sedang berusaha merangkak naik (sehingga jelas ini adalah persaingan yang gak level), atau sesungguhnya si A sedang berdarah-darah karena mencoba memenangkan proyek yang hanya akan membuat reputasinya memburuk.

Saat semua penerjemah yang bersaing dengan cara tidak sehat terus memerosotkan tarif, penerjemah tarif tinggi dengan kompetensi dan passion serius akan makin cemerlang dan menonjol di antara mereka, asalkan integritas, reputasi, kompetensi, dan keunggulan kompetitif tetap dijaga serta ditingkatkan. Saya melihat banyak newbie yang sudah melangkah keluar dari perang harga dan menetapkan keunggulan kompetitifnya – dia yang dulunya mau-mau aja mengerjakan terjemahan tarif rendah, setelah ikut pelatihan dan Kompak HPI beberapa kali mulai “malas” mengerjakan tarif rendah dan mulai menetapkan tarif minimal yang memadai untuk kompetensinya. Ini sangat bagus dan saya salut karena mereka bekerja keras dan tidak mengedepankan harga sebagai satu-satunya manfaat yang bisa diperoleh klien. Mereka keluar dari perang harga dan mulai bersinar sebagai dirinya sendiri – dan saya harap akan makin banyak yang bersaing secara sehat dan mengedepankan keunggulan kompetitif yang kreatif alih-alih pasang harga “kacangan” untuk menendang kompetitor.

Suatu saat, klien akan menyadari bahwa pagu anggaran mereka telah mencapai batas untuk membayar tarif penerjemah rendah + editor kawakan = edit dan revisi berkali-kali, padahal sebenarnya mereka bisa menyewa penerjemah kawakan tanpa editor = edit dan revisi hanya maksimal dua kali atau bahkan tidak ada revisi.

Sungguh tidak masuk akal untuk mengharapkan layanan yang baik dengan harga (se)murah (mungkin), dan suatu saat klien akan menyadari hal ini. Namun kesadaran ini harus dimulai dari penyedia layanan terjemahan – yaitu penerjemah.

~Bandung, 10 Januari 2015

Ketika Tarif Terjemahan Harus Naik

Standard

Saya orang yang paling nggak demen kalau diskusi di antara penerjemah sudah merambah ke soal tarif. Karena seringkali yang terjadi adalah debat kusir, dan salah satu atau beberapa pendebat menjadi mutung, dan kemudian diskusi berlanjut ke omong-omongan di belakang punggung. Imbasnya juga terlalu beragam – newbie yang memposisikan harga terlalu tinggi hingga tidak pernah dilirik, atau senior yang memposisikan harga terlalu rendah sehingga jadi bahan omongan, atau penerjemah tir dua yang selalu diojok-ojok untuk menaikkan tarif padahal dirinya sendiri belum siap lahir batin. Terlalu banyak omongan bawel di luar sana sampai akhirnya saya beberapa kali urung menulis soal ini. Tapi akhirnya saya tidak tahan juga.

Menurut saya, tarif terjemahan adalah suatu hal yang sangat preferensial dan kenaikannya tidak bisa diputuskan dengan hanya melirik kiri kanan dan menengok atas bawah semata, apalagi dengan mendengarkan omongan penerjemah yang (keliatannya) sukses. Saya memulai karir dengan tarif terjemahan yang sangat rendah, hanya tujuh ribu lima ratus rupiah per halaman jadi. Saya pernah menangani terjemahan dengan bayaran lebih tinggi sebelumnya, tapi akhirnya saya memutuskan untuk “turun tangga” dan mengambil pekerjaan tujuh ribu lima ratus itu. Mengapa? Karena CV saya masih kosong. Saya merasa bahwa tidak bijak untuk tetap mempertahankan tarif tinggi (yang diperoleh secara kebetulan) sementara CV saya menjerit minta diisi. Akhirnya saya melamar ke suatu biro terjemahan lokal di kota saya (Bandung), untuk kemudian “berlatih menerjemahkan” dengan tarif rendah. Tujuan saya waktu itu adalah untuk mengisi CV dan meningkatkan kemampuan sembari mencari penghasilan.

Setelah saya menjadi anggota Bahtera dan melepaskan diri dari biro terjemahan itu (karena akhirnya tarif rendah tersebut tidak mampu mendukung kebutuhan hidup saya), kondisi mulai membaik sampai akhirnya saya memutuskan untuk berspesialisasi menjadi penerjemah agensi luar negeri (keputusan yang sebelumnya telah dipertimbangkan masak-masak). Dari pengalaman saya yang pendek (cuma sekitar satu tahun setengah), saya menyadari berbagai kekurangan diri dalam berkomunikasi dengan klien lokal. Sebaliknya, saya merasa mampu untuk bersikap profesional ketika berhadapan dengan wong bule. Oleh karena itu saya menghabiskan lebih banyak waktu untuk berkonsentrasi ke agen luar negeri ketimbang memenuhi permintaan lokal.

Ada beberapa saat ketika saya menyembunyikan soal tarif lampau saya yang naudzubillah rendahnya. Itu karena ada beberapa omongan yang mengatakan bahwa karena pekerjaan ini adalah pekerjaan yang sulit, sewajarnya kita menentukan tarif yang tinggi. Juga ada omongan yang paling menyakitkan bahwa “once you go low, you can never be high”. Saya berusaha mati-matian untuk membuktikan ketidakbenaran kata-kata itu. Dengan fokus ke volume CV dan juga meraba-raba untuk mencari spesialisasi, saya terus bertahan di tarif rendah, setelah Rp, 7500,00 untuk satu halaman, tarif saya naik “sedikit” ke Rp. 15.000,00 sehalaman, kemudian ke dua sen dolar per kata, dan saya lama bertahan di tarif ini sebelum akhirnya mencapai “batas bawah manusiawi” sebesar lima sen dolar per kata. Akhirnya, saya berhasil mematok harga cukup tinggi setelah tiga tahun bertahan di batas bawah manusiawi, dan harga tinggi itu tetap saya pasang hingga saat ini. Ingat, saya mulai dari tujuh ribu lima ratus rupiah sehalaman (yang berisi kurang lebih 350 kata). Satu dolar pun enggak, hehehehe.

Pada awalnya saya takut menentukan tarif tinggi. Alasannya adalah karena saya takut kehilangan pekerjaan dengan tarif zona nyaman, yang sangat membuai karena pekerjaan selalu mengalir tanpa henti dan saya merasa “cukup” dengan tarif itu. Sesekali saya pernah nekad memasang tarif tinggi tapi itu pun berdasarkan perbuatan iseng yang pada intinya hanyalah gambling. Tapi lama kelamaan, saya merasakan satu hal yang sangat mengganggu – bukan laju inflasi, bukan harga barang yang melonjak tinggi atau bukan keinginan menggebu untuk mengganti gadget – saya capek. Pekerjaan bertarif rendah mengharuskan penerjemah untuk mengambil sejumlah volume tertentu agar kebutuhan hidup terpenuhi. Sejalan dengan waktu, heavy abuse yang diterapkan pada komputer, tuntutan untuk belajar perangkat lunak, mengabaikan waktu bersama keluarga untuk berlama-lama di depan komputer, semuanya mulai terasa menjemukan. Saya tidak punya waktu untuk membaca hasil terjemahan dengan baik karena saya bertumpu kepada target untuk mengejar volume memadai demi membiayai kebutuhan hidup. Saya mulai terserang perasaan tidak pernah puas ketika membaca hasil terjemahan. Saya mulai menjadi penerjemah literal yang main “tabrak lari” (karena tidak ada waktu untuk melakukan riset akibat mengejar volume), walaupun banyak yang berkata hasil terjemahan saya bagus, saya merasa tidak memperoleh aspek batin dan ilmu selama periode “kejar setoran” itu. Kritik dari pengulas dan editor terasa begitu menyakitkan hati, uang seakan berlimpah tapi kondisi fisik (terutama batin) terasa makin menurun dan tidak terbayarkan oleh apa pun. Sampai akhirnya salah satu sahabat saya mengusulkan agar saya menaikkan tarif.

Ketika akhirnya saya memberanikan diri untuk menaikkan tarif, saya tidak pernah mengajukan alasan laju inflasi, harga barang yang menggembung, atau karena saya sudah bersama klien untuk waktu yang cukup lama. Saya hanya memberi satu alasan: saya tahu apa yang saya lakukan. Pada tahun 2012 saya memangkas CV saya menjadi tiga halaman saja (sebelumnya 6 halaman) karena saya merasa apa pun yang saya lakukan sebelum tahun 2010 sudah tidak relevan. Alih-alih mencantumkan nama dokumen, saya mencantumkan beberapa nama besar yang pasti diketahui semua orang dan mereka bisa dengan mudah memeriksa terjemahan saya lewat Internet. Saya mulai membentuk klaim singkat dalam hal kompetensi dan spesialiasi, yang kemudian diperkuat dengan kelulusan TSN.

Saya tidak suka mencela penerjemah bertarif rendah karena saya tahu benar apa rasanya mengais rezeki dari nol, bahkan minus. Saya “terpaksa” menaikkan tarif karena saya tidak sanggup lagi menganiaya diri sendiri dengan tujuh ribu sampai dua belas ribu kata sehari. Saya ingin liburan, ingin menikmati hasil jerih payah, dan saya ingin merasa dihargai. Ada sifat psikologis yang aneh dari klien – ketika mereka mengetahui bahwa tarif kita jauh berada di bawah anggaran, mereka cenderung bersikap abusive dan menuntut kinerja yang melebihi batas normal. Mereka menganggap bahwa sah-sah saja untuk melempar semua pekerjaan ke pangkuan si penerjemah dan berharap bagaikan sulap bahwa semuanya sudah beres besok paginya. Anehnya, sifat ini tidak diperlihatkan oleh klien-klien yang berani dan sanggup membayar sampai batas atau bahkan melebihi anggaran. Mereka cenderung lebih toleran dan memahami bahwa jika mereka memberi 800 kata di sore hari, mereka tidak bisa mengharapkan hasil terjemahan sudah siap sedia keesokan paginya. Mereka juga cenderung bersikap komunikatif terhadap permasalahan yang dihadapi si penerjemah – bahkan memberi tanggapan lebih positif dan hangat ketika terjadi perdebatan serius antara si penerjemah dengan editor atau pengulas. Sikap agensi terhadap penerjemah dengan tarif tinggi terasa lebih fair, dan kata-kata yang mereka gunakan lebih bersifat inquiry dan bukan imperative. Bahkan ketika kritik pedas yang dilayangkan berasal dari end client yang seharusnya dianggap setengah dewa (baca: tidak pernah salah karena mereka adalah pihak pembayar) oleh agensi, mereka lebih cenderung untuk bersikap logis alih-alih menuduh bahwa saya tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Jadi ketika saya menaikkan tarif, tiba-tiba saya menemukan suatu dunia baru yang positif sebagai hasil dari kenaikan tarif. Saya berkomunikasi dengan orang-orang yang jauh lebih ramah dan sabar – dan kebanyakan Project Manager saya yang sekarang menyadari sifat “manusiawi” saya yang bisa lupa, lelah, butuh liburan, bosan, kesal oleh end client, dan benci pengulas abal-abal. Mereka mentoleransi sikap saya yang kadang angin-anginan dan pelupa, walaupun saya tidak pernah melepaskan sikap profesional yang bertanggung jawab tepat pada waktunya dan ketika diminta. Saya membangun hubungan yang jauh lebih menyenangkan melalui kenaikan tarif, dan mereka yang merasa tidak mampu membayar tarif saya yang sekarang, saya persilakan dengan lugas dan sopan untuk mencari penerjemah lain. Saya tidak menganggap diri saya lebih baik dari penerjemah bertarif rendah – karena seperti yang saya sebutkan, tarif adalah hal yang preferensial dan saya tidak bisa mendikte siapa pun untuk menaikkan tarifnya, apalagi dengan kata-kata bahwa dia telah merugikan banyak orang karena bargaining powernya yang terdengar tolol untuk pekerjaan serumit ini. Kita semua punya pilihan masing-masing. You gotta start somewhere and that somewhere is perhaps lower than expected. “Perang harga” dengan tarif tiga sampai lima poin di bawah tarif saya adalah hal yang harus saya terima sebagai bagian dari persaingan.

Tapi saya sangat meyakini bahwa tidak akan ada pengayaan ilmu dan batin ketika waktu harus dihabiskan untuk mengejar volume. Sejak saya menaikkan tarif, saya benar-benar menyimak hasil terjemahan saya dan menemukan betapa banyak pelajaran yang bisa saya petik dari kaidah bahasa Indonesia yang tadinya terasa benar, tapi ternyata salah. Saya bisa lebih menyimak perkataan editor atau pengulas dan ketika saya menemukan sepetik perkataan mereka yang benar-benar “kena”, saya mengamini sinergi di antara kami berdua dan akhirnya tercipta hubungan yang jauh lebih baik ketimbang saling memaki di lembar LQA. Saya “membeli” waktu dan kemampuan dengan menaikkan tarif, dan saya mengembangkan rasa malu atas tarif yang telah saya tetapkan dengan berusaha sebaik mungkin menjaga harga layanan, baik melalui kinerja, perkataan, dan sikap saya ketika menanggapi para pemberi kerja melalui email.

Ingat bahwa saya tidak pernah menaikkan harga layanan tanpa ada fokus yang jelas. Ketika semua orang berseru-seru tentang betapa sulitnya menerjemahkan, saya tidak terpengaruh dan tidak sekonyong-konyong merasa bahwa menaikkan tarif adalah hal yang harus dilakukan tanpa klaim yang jelas. Saya membiasakan diri untuk kembali bercermin dan membandingkan kinerja dengan senior yang jauh lebih berpengalaman dan jelas-jelas lebih luwes. Saya mempertimbangkan masukan dari agensi dalam hal perbaikan kinerja dan tanggapan, ini juga menentukan keputusan saya dalam menaikkan harga. Semisalnya mereka sudah cocok dengan saya ya apa salahnya untuk mendorong tarif lebih ke atas lagi? Dan tentu saja saya menawarkan berbagai aspek tambahan yang bisa membantu mereka untuk memperoleh end client yang lebih baik (better competence from me, better competitive advantage for you, better payment and work for all of us).

Sesungguhnya kenaikan tarif adalah pilihan dan kesiapan, dan tiada satu orang pun yang bisa mendikte kesiapan lahir batin kita untuk mencantumkan tarif yang lebih tinggi. Karena itu saya menghentikan mulut ini untuk bicara soal tarif dan memilih untuk kembali ke laptop dan Trados, serta mempertimbangkan baik-baik mengenai kesiapan saya untuk naik tarif satu poin lagi tahun ini, dengan menanyakan serangkaian pertanyaan berikut kepada diri sendiri:

Apa saya sudah siap memperbaiki kinerja tahun ini? Apa klien sanggup membayar tarif baru saya dan jika tidak, keputusan apa yang akan saya ambil? Berhenti bekerja sama dengan agensi itu, atau menerima saja batas tarif yang mereka tetapkan? Apa saya masih sanggup menanggung volume pekerjaan dari klien tersebut, ataukah sudah mulai terasa mencekik?

Keputusan saya untuk menaikkan tarif tahun ini bergantung pada jawaban atas semua pertanyaan itu. Karena bayaran yang lebih besar akan disertai oleh tanggung jawab yang lebih besar, dan saya harus siap mengemban tanggung jawab itu.

~Bandung, 9 Januari 2015

Jangan Salahkan Google Terjemahan

Standard

Wah, saya jadi terpancing lagi untuk menulis setelah sekian lama vakum. Sebenarnya ada beberapa tulisan yang masih saya simpan di bagian draft, seperti biasa konsep sudah ada namun eksekusinya seringkali nol besar, hahaha. Sekali ini saya bukan terpancing menulis karena teman-teman penerjemah lain, tapi karena ada komentar “gak banget” yang saya baca di salah satu tautan dari Kompasiana yang dibagi oleh teman saya hari ini di Facebook (ya sebenarnya resminya 8 jam yang lalu tapi saya baru baca tadi, hihihi).

Ini tautannya: media.kompasiana.com/mainstream-media/2014/10/16/catatan-tentang-terjemahan-inggris-yang-keliru-685781.html

Dalam artikel di atas, beliau membahas tentang kesalahan penerjemahan yang muncul pada beberapa titik di Kompas, sembari menyertakan pendapat mengenai terjemahan yang benar – dan pendapat beliau memang semua benar.

Yang gak banget itu adalah bagian komentar di bawahnya: “Mungkin menerjemahkannya pake Google Translate“.

Saya sudah terlalu sering membaca tulisan orang yang bicara tentang Google Terjemahan dengan nada seolah mencari kambing hitam bagi setiap kesalahan penerjemah yang muncul di media. Jujur saja, pada awalnya saya termasuk ke dalam pasukan orang-orang seperti ini. Dulu kalau saya menemukan hasil terjemahan yang ngawur, pikiran saya pasti langsung melayang ke aplikasi Google Terjemahan yang sering disalahgunakan oleh banyak orang untuk membuat terjemahan berharga murah tanpa pascasunting.

Setelah saya sering berposisi menjadi editor, saya akhirnya menyadari bahwa melempar tuduhan semacam itu tidak akan membuahkan hasil yang diinginkan (yaitu perbaikan kinerja penerjemah). Saya terus ditabrak oleh terjemahan buruk one after another sampai saya akhirnya berpikir bahwa tuduhan penggunaan Google Terjemahan ini sudah tidak memadai untuk melampiaskan kekesalan, dan bahwa tuduhan itu seringkali tidak berdasar dan dilontarkan oleh orang yang awam dan tidak mengerti masalah penerjemahan.

Sekilas tentang Google Terjemahan – saya akan menerangkan pemahaman sederhana karena sesungguhnya saya awam soal komputasi. Bayangkan suatu hard disk berukuran maha besar yang menyimpan semua kombinasi terjemahan yang bisa ditemukan dalam semua web – di balik Google Terjemahan ada suatu translation memory besar yang menyimpan segala jenis kombinasi terjemahan yang ada dan pernah dilakukan oleh seorang penerjemah, yang kemudian dipublikasikan di web. Semua data ini dirangkum dan diolah melalui algoritme yang bisa “meramalkan” kemunculan suatu teks.

Misalnya: “I want a dog” menjadi “saya ingin anjing”. Perhatikan bahwa “a” di situ tidak akan diterjemahkan jika tidak ada data mengenai “a dog” yang diterjemahkan menjadi “seekor anjing”.

Algoritme ini sudah menjadi semakin canggih sehingga kadang-kadang kita bisa memasukkan kalimat ke dalam Google Terjemahan dan hasil yang keluar sangat masuk akal. Namun mengapa aplikasi ini disebut sebagai tidak andal oleh seorang penerjemah? Anda harus memahami bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang sangat kontekstual. Seperti halnya bahasa lain, satu kata bisa memiliki beberapa makna dan penempatannya terkadang sangat spesifik sehingga tidak bisa digantikan oleh kata-kata yang umum.

Contoh: “I love you” yang diucapkan oleh seorang anak kepada ibunya akan berbeda terjemahannya dengan “I love you” dari saya ke Anda. Ini hanya contoh sederhana – dan untuk memahami konteks ini, terdapat badan teks/keterangan lain yang tercakup dalam suatu materi terjemahan, baik berupa gambar, paragraf lain, judul, dan lain sebagainya.

Inilah mengapa Google Terjemahan dianggap tidak andal dan dalam hal konteks, saya belum bisa membayangkan bagaimana sifat kontekstual ini bisa diatasi oleh mesin, karena sesungguhnya ada unsur budaya dan perasaan yang terlibat ke dalamnya. Google Terjemahan hanya akan mengolah teks sebagaimana adanya – yaitu sebagaimana kita memasukkannya ke dalam kotak sumber. Semua keterangan dan semua yang ada sebelum teks itu tidak akan “dicerna” secara kontekstual oleh mesin karena sesungguhnya kemampuan seperti itu belum ada.

Inilah yang membedakan seorang penerjemah dengan Google Terjemahan. Seorang penerjemah mengolah konteks yang dia peroleh dari rasa bahasanya, pengamatannya, risetnya, pengalamannya, dan pemahamannya terhadap ekspresi bahasa tersebut, bukan hanya soal makna atau arti dalam kamus.

Kembali ke urusan komentar yang gak banget itu, saya sudah yakin bahwa si pembubuh komentar hanya asal ceplak saja tanpa memahami apa itu Google Terjemahan dan apa itu penerjemahan. Terjemahan yang dibahas oleh pak Gustaaf Kusno di atas bersifat sangat kontekstual sehingga saya yakin ini (somewhat) 100 persen kesalahan penerjemah. Selama saya menjadi editor, saya telah menemukan beberapa indikator khas dari hasil terjemahan yang dapat menunjuk ke “kesalahan” penerjemah dan membuktikan bahwa terjemahan tersebut bukan hasil mesin. Mungkin pemikiran saya ini terlalu kompleks tapi sebagai editor saya bertujuan untuk meningkatkan kinerja penerjemah dan bukan untuk mematikan penghidupan mereka. Saya akan menguraikan secara singkat beberapa indikator tersebut, ditambah dengan penyebabnya.

  • Terlalu banyak salah ketik (dalam satu kalimat ada dua hingga tiga salah ketik), kalimat yang literal = Kelelahan. Jangan anggap sepele kelelahan penerjemah – di sini saya tidak berbicara hanya tentang kegiatan mengetik terus menerus tapi juga kelelahan yang sangat karena menerjemahkan “barang” yang sama terus menerus. Kami juga manusia, kami punya yang namanya rasa eneg. Coba Anda lakukan kegiatan membaca soal pilpres sebulan penuh tanpa henti. Anda pun akan eneg, apalagi kami yang bertugas bukan hanya membaca tapi juga menerjemahkannya.
  • Satu kata yang diterjemahkan menjadi kata yang samasekali lain = Saru mata (kurang teliti). Contoh yang menarik dari artikel Kompasiana di atas adalah “No go” menjadi “Now go“. Ini adalah contoh klasik saru mata karena bekerja di bawah tekanan tenggat yang menelurkan perasaan tertekan. Dalam keadaan mengantuk, lelah, eneg, bosan, dan kesal, huruf “w” itu akan dengan mudah menghilang. Dan secara logika si penerjemah akan jejal paksa kata yang salah itu ke dalam kalimat sehingga menghasilkan makna yang samasekali lain, bahkan bisa berlawanan.
  • Idiom yang diterjemahkan menjadi literal, kata-kata yang tidak masuk konteks materi = Kurang jam terbang. Ada beberapa bagian dalam diskusi terjemahan itu yang melibatkan jam terbang, seperti “remains” dan “coordinates“. Dua kata yang tampaknya tidak berbahaya tapi akan jadi berbahaya jika seorang penerjemah kurang memiliki jam terbang dan memilih untuk hajar bleh (ungkapan yang sering saya utarakan ketika membaca hasil terjemahan yang kurang baik). Di sini yang terjadi adalah alarm si penerjemah yang tidak berdengung ketika dia membaca kata yang seolah benign padahal ada makna lain untuk kata itu. Alarm ini hanya bisa menyala jika dilatih dengan meluangkan waktu untuk melakukan riset.
  • Kalimat terputus-putus kaku, terjemahan seolah diterjemahkan per kata, sampai pada titik ketika terjemahan terasa ngawur = Terintimidasi, terburu-buru, terdesak, panik. Faktor intimidasi ini menjadi hal yang penting dalam menentukan kualitas hasil terjemahan. Seorang penerjemah menerima banyak sekali “intimidasi” halus dengan beragam bentuk. Dalam kasus Kompas ini, intimidasi yang paling mungkin adalah tenggat. Materi masuk siang hari, harus naik cetak jam 3 sore atau jam 5 sore. Anda bisa membayangkan tekanan besar yang dihadapi si penerjemah. Otomatis tentu saja hasilnya tidak akan optimal – bisa jadi pemberi kerja bahkan tidak memberi waktu untuk melakukan swasunting. Bentuk intimidasi lain yang unik adalah dari perangkat lunak – saya pernah membahas ini secara singkat ketika mengisi acara Kompak HPI beberapa waktu lalu. Ada beberapa orang (saya tidak tahu apakah jumlahnya banyak, tapi yang jelas saya sudah menemukan tiga sampai empat orang) yang merasa terintimidasi dengan tata letak perangkat lunak pembantu penerjemahan tertentu.

Ada beberapa cara untuk mengatasi semua ini dan beberapa di antaranya tidak bisa ditawar (waktu untuk riset adalah suatu pengorbanan yang harus dilakukan semua pihak termasuk editor), tapi yang paling penting di antara semuanya adalah (mau tidak mau) sikap profesional, yang memberikan kelonggaran berupa kepala dingin dan penguasaan diri yang luar biasa sehingga dalam keadaan apa pun (mau tidak mau) akan tetap menghasilkan kualitas optimal. Saya tidak akan membela penerjemah dan berkata bahwa semua indikator itu membuat pembaca harus maklum saja dan melupakan semuanya. Sudah menjadi kewajiban penerjemah untuk memperkecil semua indikator itu sebisa mungkin, bersikap profesional, dan menangani semua yang disodorkan kepadanya. Apakah ini berarti meminta terlalu banyak dari seorang penerjemah? Ya tentu saja! Siapa yang bilang bahwa jadi penerjemah itu gampang?

Moral dari cerita ini: sebelum asal menuduh seorang penerjemah menggunakan Google Terjemahan, sebaiknya pahami dulu kondisi si penerjemah. Jika ini tidak memungkinkan, coba layangkan dulu kritik ke bagian editorial supaya mereka memperbaiki kinerja, yang secara otomatis (seharusnya) memberi kelowongan bagi penerjemah untuk menghasilkan karya yang lebih optimal. Tidak ada salahnya untuk bertindak lebih intelek ketimbang asal ceplak dan menuduh mesin terjemahan yang tidak tahu apa-apa sebagai produsen hasil terjemahan yang buruk. Saya berharap pihak editorial Kompas lebih teliti dalam meninjau hasil terjemahan dan juga meninjau kinerja penerjemah. Sayang sekali jika Kompas sebenarnya memiliki penerjemah berbakat yang akhirnya tergerus tenggat dan tekanan sehingga dia berubah menjadi penerjemah kejar setoran.

Lika-liku dunia terjemahan memang tidak segamblang yang saya tuliskan di sini, dan seringkali beberapa indikator yang saya tuliskan di atas sudah bercampur baur sehingga hasil terjemahan bisa berada jauh di bawah batas kualitas yang diinginkan oleh pemberi kerja/pembaca. Saya juga memahami bahwa pekerjaan kami ini adalah pekerjaan yang tidak bisa dibayangkan oleh orang awam sehingga mereka maunya menuduh Google Terjemahan saja. Mudah-mudahan tulisan saya ini bisa membuka mata editor untuk lebih memperhatikan kinerja penerjemahnya, dan untuk pembaca agar memahami apa yang terjadi di balik ketikan seorang penerjemah agar semua bisa membantu penerjemah menyajikan karya yang lebih baik lagi setiap saatnya.

Dan untuk para penerjemah … ingatlah untuk selalu beristirahat dan meluangkan waktu untuk riset. Sesungguhnya tuduhan penggunaan Google Terjemahan ketika kita sudah berusaha sebaik mungkin, sakitnya itu di sini, bow!

 ~ Bandung, 17 Oktober 2014

Katakan dan Tuliskan … Bagian III

Standard

Saya jarang sekali menggunakan kata-kata kasar ketika sedang marah. Sebenarnya menilai situasi hati saya sangat mudah: bila saya sudah menggunakan bahasa Indonesia yang sangat baik dan benar untuk mengungkapkan ketidaksetujuan, apalagi menyebut “Anda” kepada lawan bicara di arena Facebook yang santai, sudah bisa dipastikan bahwa saya 98 persen marah. Dua persennya adalah perasaan “maklum” saya bahwa yang bersangkutan hanya manusia biasa. Saya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar ketika marah karena saya ingin orang yang saya komentari/ajak bicara memahami maksud saya sejelas-jelasnya. Jika saya sudah marah “dengan sopan” di muka publik, akan sulit bagi si lawan bicara untuk memaki, dengan kata lain dia mati langkah. Percaya atau tidak, saya bisa menghabiskan 15 menit untuk menyunting dan menuliskan komentar “kemarahan” saya di Facebook. Saya menerapkan semua pembelajaran mengenai cara komunikasi untuk membuat seseorang mati langkah – karena itu jarang sekali ada orang yang bisa mengucapkan kata-kata lain setelahnya selain “maaf”, atau langsung menyingkir dari hadapan saya.

Cara komunikasi yang baik dan benar ini adalah kebiasaan saya dari kecil. Saya dituntut untuk selalu mengucapkan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jelas, tepat sasaran, sopan, sesuai kaidah, dan saya harus bisa menuliskan apa yang telah saya ucapkan dengan baik. Keluarga saya adalah keluarga strict Indonesian. Almarhum ayah dan juga ibu saya berprinsip:

“Bicara dulu yang benar, kalau tidak bisa lebih baik tutup mulut. Kalau tidak bisa bicara benar, jangan harap bisa menulis dengan benar. Kebiasaan yang salah akan membuahkan hasil yang salah”.

Berkat disiplin edan itu, saat ini saya tidak pernah mengalami kesulitan untuk berekspresi lisan maupun tulisan dalam dua bahasa yang saya kuasai, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Saya menggunakan dua bahasa itu siang dan malam, untuk menulis komentar – buku harian – catatan kecil –  berbicara – mengutarakan pendapat – apa pun (oleh karena itu saya menjadi outcast di masa kecil, seperti yang tuliskan pada bagian II. Teman-teman saya waktu itu mungkin melihat saya bagaikan buku tata bahasa berjalan).

Saya sering tersenyum jika mendengar seorang penerjemah mengeluh, “Bahasa Indonesia adalah bahasa yang kaku”. Memang, bahasa kita ini belum sempurna karena umurnya saja baru seumur kemerdekaan + 17 tahun, yaitu sejak Sumpah Pemuda. Mana bisa dibandingkan dengan bahasa Inggris yang bersumber dari dialek kuno Anglo Saxon 1.500 tahun yang lalu? Tapi menurut pendapat saya, kekakuan bahasa Indonesia sebenarnya bersumber dari dua hal yang sederhana: penggunaan dan penggunaan.

Bagi saya, bahasa Indonesia adalah bahasa ibu satu-satunya. Saya hanya memahami sedikit bahasa Sunda, dan bahasa Padang saya sangat minim dan “tercela”. Saya diajarkan untuk menjadi orang Indonesia, bukan orang Padang atau pun orang Sunda. Tanah air saya Indonesia, dan bahasa saya adalah bahasa Indonesia. Bahasa Inggris adalah bahasa kedua saya di rumah [sampai sekarang], dan tata bahasa Inggris dan pengucapan saya sendiri telah dikoreksi oleh kedua orangtua dari sejak berumur 5 tahun. Mereka berpendapat bahwa bahasa Inggris adalah bahasa internasional dan saya “dipaksa” untuk menguasainya dan juga mempelajari kebudayaan Barat – atau setidaknya, dipaksa untuk mengetahui cara mempelajarinya. Oleh karena itu, ketika ada yang bertanya kepada saya mengenai cara terbaik untuk mempelajari bahasa Inggris, saya selalu mengatakan “pakai” – as in use it to talk, use it to read, use it to write, listen to it.

Pelajaran bahasa Indonesia di sekolah tidak membuat penggunaan bahasa Indonesia YANG BAIK DAN BENAR bisa menjadi “acquired skill“. Tidak pernah ada pemahaman bahasa yang otomatis, bahasa Indonesia yang baik tetap harus dipakai sesering mungkin dan bukan ketika menulis skripsi doang. Saya melihat bahwa kesulitan seorang penerjemah sering timbul akibat penguasaan bahasa ibu yang kurang sempurna. Oleh karena itu bahasa Indonesia dicap “kaku”. Saya selalu berusaha mati-matian untuk menulis dan mengucapkan bahasa Indonesia dengan baik dan benar – semata-mata demi mempelajari dan mengakuisisi keluwesan. “Risiko”, bukan “resiko” – “antre” bukan “antri” – saya bagaikan grammar Nazi tapi kebiasaan ini sangat membantu dalam penerjemahan tertulis. Penggunaan “di mana” yang selalu menjadi kasus ketika menerjemahkan “where” [contoh, dalam kalimat: Where the street has no name]  tampak sebagai pembenaran “kekakuan bahasa” ini. Dan ketika menyunting, saya sering melihat bahwa rekonstruksi kalimat untuk menghapus “di mana” adalah pilihan next to dying bagi kebanyakan orang – sulit sekali menanamkan pengertian bahwawhere” bukanlah “dimana” atau “di mana”. Saya telah mencoba mati-matian untuk merekonstruksi kalimat dengan “where“, semata-mata karena saya takut sekali mengakuisisi tata bahasa yang salah.

Almarhum ayah saya pernah berkata bahwa menuliskan bahasa Indonesia yang baik dan benar itu sulit. Mengapa? Karena kita cenderung lengah – kita merasa sudah menggunakan bahasa Indonesia seumur hidup dan merasa bahwa pengetahuan “seumur hidup” ini akan mencukupi ketika kita terjun ke dunia penerjemahan.

Contoh sederhana:

secara umum sedikit yang mengetahui bahwa “merubah” itu bukan kata bahasa Indonesia yang benar. Memang benar bahwa jika kita menuturkan kata “merubah” dalam percakapan sehari-hari, tidak akan ada yang melempar kita dengan sepatu. Namun, yang benar adalah “me+ubah” menjadi “mengubah”. Imbuhan “mer-” itu TIDAK ADA. Tapi maraknya penggunaan lisan membuat banyak orang menganggap bahwa kata ini berterima dan oleh karena itu “layak” dituliskan dalam dokumen terjemahan.

Jika seseorang ingin menjadi penerjemah [terutama penerjemah tulis] bahasa apa pun ke bahasa Indonesia, dia WAJIB memahami cara berkomunikasi yang rapi dan baik dalam kedua bahasa, dan yang lebih utama adalah BAHASA IBUNYA. Ucapan yang sepotong-sepotong, ejaan buruk, tata bahasa buruk, pengucapan tidak jelas, pemilihan kata yang salah, semuanya akan mengarah ke penulisan yang sama buruknya – hanya karena kita terbiasa mengucapkan hal yang salah, kita menjadi lengah dan tak pernah sedikit pun berusaha memperjelas maksud, memperhalus ucapan, atau berusaha mencari kata-kata yang lebih berterima. Bahasa adalah sarana komunikasi – dan pemahaman mengenai bahasa hanya bisa dicapai melalui pemakaian. Tingkat kekakuan/tidaknya suatu bahasa juga sangat bergantung pada pemakaian.

Saya pernah mendengarkan ulasan singkat bapak Remy Silado ketika menghadiri peluncuran buku almarhum Marah Rusli yang terbaru. Waktu itu saya menghela napas puas: bahasa Indonesia pak Remy ini demikian empuk dan nikmat didengar, tanpa ungkapan slang sedikit pun, dengan tata bahasa yang rapi – seolah seperti “bahasa Indonesia tingkat tinggi” – padahal itulah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mengalir lancar tanpa hambatan, mudah diserap, dengan sisipan kata-kata indah khas bahasa Indonesia di sana sini.

Jadi … Bahasa Indonesia itu kaku? Benarkah? Ataukah kita yang tidak tahu cara menggunakannya?

 

 Bandung, 5 Mei 2014

*tulisan bagian III yang tertunda …*

Saya Ingin Dimengerti …. Bagian II

Standard

Saya: “Ih, elu gila deh!” (sambil tertawa)

Teman: “Kok gue dibilang gila?? Enak aja!!” (muka masam)

Itu adalah sepenggal komunikasi yang saya alami sendiri ketika masih SMA. Jujur saya sungguh kaget ketika memperoleh tanggapan seperti itu, karena ketika percakapan itu terjadi situasinya cukup santai dan sama sekali tidak menjurus ke soal rumah sakit jiwa atau gangguan jiwa. Tapi dia tersinggung ketika saya mengucapkan kata-kata itu.

Saya telah mengalami ribuan situasi seperti ini – ketika orang yang saya beri tanggapan malah membalas dengan tanggapan negatif atau tidak menyenangkan, padahal saya sama sekali tidak bermaksud untuk menyinggungnya. Hmm… mungkin hal itu juga yang menyebabkan saya tidak punya teman di masa sekolah dasar. Yeah, I was the outcast. Saya tidak punya teman dan semua orang yang dekat dengan saya beringsut menjauh selama masa 6 tahun yang menyedihkan itu.

Saya hidup di lingkungan yang berbeda dengan anak-anak kebanyakan. Saya anak terkecil [kalau tidak mau dibilang anak tunggal] dari empat bersaudara dengan tiga orang kakak yang umurnya sangat jauh di atas saya. Anak-anak tetangga lebih muda atau lebih tua dari saya, tidak ada yang seumur. Hal itu pulalah yang membuat omongan saya terdengar “terlalu tinggi” untuk anak kebanyakan, dan saya sering berbicara tentang hal-hal yang tidak “masuk akal” bagi anak seusia saya. Pendeknya, rata-rata orang yang saya ajak bicara [kecuali mereka yang sudah dewasa] selalu menyatakan “gagal paham”.

Setelah berpayah-payah melalui masa enam tahun penuh bullying di sekolah dasar, saya memasuki ranah SMP yang lebih luas, dan akhirnya bisa memulihkan diri dari trauma bullying untuk mempelajari satu hal yang penting: komunikasi. Pelajaran komunikasi saya sempurna ketika mencapai masa kuliah, kemudian pemahaman ini saya bawa ke bahasa tulisan. Saya selalu berusaha mencari bentuk tulisan yang dapat dimengerti oleh kebanyakan orangSaya selalu menganut paham “publik harus bisa membaca dan harus bisa memahami”, tanpa terkecuali. Yup, kengerian “gagal paham” terus menghantui sampai akhirnya saya berusaha sedemikian keras untuk menyempurnakan cara berkomunikasi dan hal itu kemudian “terbawa” ke ranah terjemahan. Saya berusaha untuk mengomunikasikan apa yang saya pahami dari teks sumber, dengan pemikiran bahwa sejumlah besar orang akan membaca tulisan itu, dan saya teramat sangat ngeri kalau mereka salah menangkap maksud yang tersirat serta tersurat dalam tulisan yang saya terjemahkan.

Saya telah belajar melalui pengalaman pahit dalam hidup, bahwa meminta seseorang untuk dapat mengerti kita adalah hal yang mustahil. Jika kita tidak membuka diri lebih dulu untuk “berbicara dalam bahasanya” [baca: memahaminya], sangat mustahil untuk bisa menjalin komunikasi yang baik. Karena itulah saya berani bilang bahwa mengetahui bahasa sumber + pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah saja, tidak akan membuat seseorang mampu menjadi penerjemah.

Mengapa? Karena terjemahan adalah adalah menyerap penyampaian dari “sana”, untuk disampaikan “ke sini” dalam bentuk yang mudah dimengerti oleh sasaran. Contohnya, jika kita menerjemahkan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, kita dibawa ke ranah mereka yang berbahasa Inggris tentu saja para bule itu tidak akan paham ekspresi “Setubang” (Setuju Banget) atau “Kelesss” (plesetan dari “kali” arti sebenarnya adalah “mungkin”).

Saya beri contoh sedikit … 

Gue setubang, gak mungkin kek gitu kelesss ...”

Hayo, bagaimana menerjemahkan kalimat di atas ke dalam bahasa Inggris? Mungkin saja akan diterjemahkan jadi begini,

I so agree, it is not possible maybe …

Tapi bagaimana jika kalimat tersebut punya alternatif yang lebih oke seperti,

I definitely agree, it is SO not possible.”

Contoh tersebut tadi sama dengan,

I am running late*. Please call ASAP!

yang tidak mungkin diterjemahkan menjadi,

Saya berlari terlambat. Tolong telepon segera!

Tapi akan lebih mungkin diterjemahkan menjadi,

Saya terlambat. Mohon Anda menelepon saya segera.

*catatan: running late adalah idiom. Penggunaan kata “Tolong” di situ saya yakini tidak berposisi setara dengan “Please“, karena intonasi “tolong” disertai tanda seru lebih mengarah ke perintah alih-alih permintaan. Jika diterjemahkan dengan nada lain, ini terdengar lebih umum, secara umum orang yang membaca ini tidak akan menganggap bahwa si penutur sedang membentak, dan ingatlah bahwa penuturan dalam bahasa Indonesia secara umum selalu bersifat halus dan tidak bersifat “blunt” seperti penuturan orang Amerika pada umumnya.

Komunikasi dalam terjemahan dibawa pulang-pergi oleh seorang penerjemah, dari ranah bahasa sumber ke ranah Indonesia [untuk penerjemah bahasa asing ke bahasa Indonesia], dan dari tanah air ke ranah bahasa target [untuk penerjemah Indonesia-bahasa asing], melalui media bahasa. Keterbukaan seorang penerjemah untuk mau dan mampu memahami teks sumber dan mendalaminya [melalui riset, pencarian arti kata, serta pemahaman tentang idiom, proses, mekanisme, dan budaya] berperan sangat penting di sini. Karena mengganti bahasa Inggris menjadi bahasa Indonesia dan sebaliknya, bukanlah suatu bentuk komunikasi. Menurut saya itu hanyalah upaya pemesinan bahasa, dengan menganggap bahwa padanan semua kata berbanding lurus dengan arti yang tertera dalam kamus.

Membuka diri terhadap komunikasi bukan hal yang mudah – kita harus mengesampingkan sejumlah perasaan tidak enak, sungkan, bahkan perasaan bertentangan mengenai budaya yang mungkin tidak cocok dengan prinsip pribadi. Sama halnya ketika saya berusaha berkenalan dengan sahabat pertama di SMP. Sejarah komunikasi saya yang buruk membuat saya jiper setengah mati. Saya takut kalau dia kembali “gagal paham” seperti 22 teman saya lainnya pada masa SD. Tapi ketika saya berusaha membuka diri dan berbicara menggunakan “bahasanya”, ternyata umpan balik yang saya peroleh jauh lebih bermakna. Akhirnya, pendekatan saya ke materi terjemahan pun selalu demikian: saya selalu menanamkan perasaan “Saya ingin klien mengerti, saya ingin dimengerti, dan saya ingin pembaca mengerti”, karena itu saya melakukan perjalanan “pulang-pergi” untuk memahami kedua belah pihak.

Merampungkan komunikasi juga butuh tujuan. Menulis atau berbicara itu selalu ada tujuannya. Pengharapan selalu harus ditentukan sebelum menuliskan sesuatu – apalagi menerjemahkan. Tentu, kita tidak mau menuliskan/mengucapkan serangkaian kata tanpa makna, bukan? Saat kita ingin menyindir, marah-marah, atau pun memuji, semua harus tersampaikan dengan baik. Ketika isi teks berisi pujian, apakah kita akan menyampaikannya dengan bentuk seolah melecehkan? Tentu tidak. Oleh sebab itu, saya sangat menyesalkan mereka yang bisa menulis serangkaian kata, tapi belum berhasil menyampaikan makna jelas dalam teks terjemahan. Kata sambung dan objek beterbangan di mana-manaLebih disesalkan lagi karena apa yang disangka sebagai objek ternyata sebenarnya kata kerja dan serangkaian kata sambung yang “boros” itu sebenarnya bisa dirangkai menjadi kalimat yang jauh lebih efektif – andai mereka bertujuan untuk menuliskan sesuatu yang berlandaskan makna dari teks sumber.

Langkah terakhir adalah menyesuaikan bentuk komunikasi kita dengan baik ke sasaran. Dalam kasus pertemanan, saya akhirnya “menyembunyikan” sebagian besar pengetahuan yang saya nilai “asing” bagi mereka. Sama halnya dalam terjemahan: kita tidak mungkin menyebut ribuan istilah berbahasa Inggris untuk pengoperasian traktor, di depan para petani yang lebih paham tentang sisi kepraktisan ketimbang teori pengoperasian dalam manual. Seorang komunikator tidak boleh keras kepala dan menganggap dirinya yang paling benar. Tujuan akhir seorang komunikator adalah: komunikasi yang disampaikan dapat diserap oleh sasaran. Hanya itu, dan akan terus begitu. Dan inilah tujuan saya menjadi penerjemah: menyampaikan komunikasi sebaik mungkin.

Oleh karena itu, saya dengan setulus hati menyatakan bahwa mereka yang memiliki masalah dalam komunikasi (selalu gagal paham terhadap maksud orang lain, terlalu sering dikritik karena sulit dimengerti, dikritik karena penggunaan kata atau kalimat yang salah, apalagi menerima endless bullying karena sesuatu yang dituliskannya) harus memikirkan ulang tujuannya untuk menjadi penerjemah.

Waspadalah kalau kita menuai terlalu banyak kritik saat bertutur baik secara lisan maupun tulisan, karena itu sebenarnya lampu kuning pertama yang menandakan buruknya komunikasi. Komunikator yang buruk akan sangat kesulitan untuk mencapai tujuan terjemahan – yang tiada lain adalah komunikasi.

Nah, sampai di sini, mari kita tinjau diri masing-masing dan bertanya, apakah kita sudah pantas menjadi penerjemah?

 

Bandung, 4 Maret 2014

*Terima kasih untuk editorku tersayang – jangan bosan yah membantuku menulis :D

Mengurai Jalan Menjadi Penerjemah … Bagian I

Standard

Saya menghabiskan sejumlah waktu merenungkan jalan seorang penerjemah, karena kok rasanya masalah ini sekarang jadi penting- banyak penerjemah pemula [dan terkadang bukan pemula juga] yang bertanya kepada saya tentang uraian jalan ini.

Gimana sih cara mulai menjadi penerjemah?”

[Rata-rata pertanyaan yang saya peroleh senada]

Saya bukan orang yang gemar berteori – saya tidak pernah mengecap pendidikan linguistik atau pun membaca buku tentang teori penerjemahan. Bisa dikatakan ini acquired skill, karena saya besar dan hidup di tengah para penerjemah dan sudah demikian terbiasa melihat proses menerjemahkan, sehingga ketika saya harus memulai, tidak terlalu banyak hal yang membingungkan lagi.

Saya akan berbagi beberapa hal yang diajarkan oleh sejumlah mentor yang saya temui sepanjang hidup saya. Soal mentor sendiri akan saya bahas secara terpisah karena [ternyata] ini adalah faktor yang tidak terelakkan ketika seseorang ingin menjadi profesional [dalam bidang apa pun]. Semua mentor saya tidak pernah “resmi” menyatakan diri mereka sebagai mentor, tapi tanpa diminta, mereka telah banyak membantu saya untuk menjadi penerjemah yang seperti sekarang.

Kembali saya menafikan bahwa semua “teori” ini bukan bersumber dari buku linguistik/buku ajar penerjemahan apa pun. Teknis penerjemahan sendiri sudah demikian banyak dibahas dan saya menulis ini bukan untuk berbagi teknik, karena semua itu sudah bisa dipelajari sendiri.  Yang akan saya bahas di sini adalah kesimpulan yang bersumber dari pengalaman semata.

  • Hal pertama yang akan saya kemukakan adalah komunikasiPernahkah kita membuat seseorang menjadi jengkel akibat tulisan/perkataan kita, padahal maksud kita samasekali bukan untuk membuatnya jengkel? 
  • Hal kedua, adalah cara berkomunikasi. Cara berkomunikasi verbal dan tertulis yang baik merupakan bagian dari pembentukan seorang penerjemah yang baik … benarkah?
  • Hal ketiga, tentu saja, mengenai mentor. Renungkan sesaat, berapa banyak mentor yang kita miliki dari sejak memulai profesi ini hingga saat ini?
  • Hal keempat adalah tentang alat, ini sangat ramai dibicarakan [terutama penggunaan CAT Tools]. Saya menangkap asumsi “sumbang”, bahwa seorang penerjemah belum dapat dikatakan profesional kalau belum menggunakan CAT Tools – benarkah?

Dua hal pertama yang saya sebutkan dari keempat butir di atas adalah the basic commands for someone to become a translator. Alasannya sederhana: bahasa adalah alat komunikasi, dan penerjemah berhubungan dengan bahasa. Lantas, mengapa saya tidak menyertakan pemahaman mengenai bahasa sasaran dan bahasa sumber? Karena dua hal itu sesungguhnya menjadi “pemicu” seseorang untuk “berinisiatif” menjadi penerjemah.

Memahami bahasa asing + menjadi orang Indonesia (yang mengikuti pelajaran bahasa Indonesia di sekolah) = bisa menjadi penerjemah … benarkah?

Ya, hal inilah yang sebenarnya ingin saya “basmi” – jujur, saya bisa memahami bahasa Belanda dan Malaysia dengan baik, tapi saya tidak mau menjadi penerjemah dua bahasa itu. Mengapa? Karena dua faktor di atas, “komunikasi” dan “cara berkomunikasi”. Dua hal ini penting – sangat penting – dan bisa MENJADI BERBAHAYA jika dijalani dengan cara yang “salah”. Dan alasan ngeles “Ah kan ada Google Terjemahan” tidak akan membantu untuk mengatasi bahaya itu – saya akan mencoba menerangkan secara santai nanti, alasan mengapa Google Terjemahan/Google Translate TIDAK BISA membantu untuk menjadi penerjemah.

Profesi penerjemah BUKAN profesi yang bisa dikerjakan sambil lalu.

Profesi ini juga BUKAN profesi yang bisa dijalani dengan semata menimbun kamus, CAT Tools, komputer super canggih, atau koneksi Internet super lancar.

Profesi ini BUKAN profesi yang menjadi sah karena Anda pernah tinggal di negara berbahasa asing.

Profesi ini adalah mengenai

“Understanding what the content means and communicating them through your understanding, your perception, with ways that your intended readers/listeners understand.”

Tulisan ini akan saya bagi menjadi beberapa bagian – karena saya tidak suka menulis panjang-panjang.

And anyway, I need to get back to my deadlines.

 

Bandung, 1 April 2014