(VI) Kenangan Mega Project: It Ain’t Over Until It’s Over

Standard

Kami istirahat dari mega project selama satu bulan penuh. Sementara itu saya melakukan sedikit jalan-jalan ke berbagai situs portal penerjemah dan menemukan bahwa reputasi agensi Z sesungguhnya telah sangat buruk karena wanprestasi berulang kali terhadap penerjemah, terutama yang bayarannya besar.

Pada sekitar bulan Agustus 2011, pekerjaan penerjemahan game dihentikan karena adanya konflik internal dalam masalah keterjualan produk terjemahan itu. Hari ketika saya menerjemahkan game itu untuk terakhir kalinya adalah hari yang sangat menyedihkan. Delapan bulan di sana merupakan delapan bulan yang paling membahagiakan dalam hidup saya – e-mail tugas penerjemahan game adalah e-mail yang paling saya tunggu dan saya selalu mengerjakan semuanya dengan gembira. Sebaliknya, mega project yang kembali jatuh ke tangan saya setelah “berkeliling” ke agensi-agensi lain terasa makin menyebalkan, makin membuat minat surut, dan makin membuat kesal, karena kami tak kunjung dibayar.

Fase terakhir dari mega project itu adalah koreksi translation memory vs file aktual yang akan digunakan untuk memperbarui tampilan di situs web portal hotel, dan oleh karena itu saya harus mencari sejumlah kesalahan yang sangat kecil dan tidak berarti untuk kemudian diperbaiki dan dikirim kembali ke agensi Z. Ini adalah pekerjaan yang sungguh menyebalkan, bahkan untuk penerjemah paling jeli sekali pun. Tim masih terus mendapatkan pekerjaan menerjemahkan tapi fase koreksi akhir ini membuat saya gila. Bayaran yang terus tertunggak membuat saya gila. Sampai akhirnya saya membuat keputusan yang lebih gila lagi, yaitu untuk berhenti mengerjakan mega project ini secara permanen.

Pemutusan hubungan kerja ini menempatkan saya di posisi sulit: di depan tim saya, dan di depan PM agensi Z. Setelah berdebat terus dengan PM agensi Z, saya harus menerangkan kepada anggota tim mengenai alasan saya berhenti. Waktu itu saya dirundung ketakutan bahwa invois pekerjaan ini akan mencapai biblical amount yang tidak mungkin bisa dibayar oleh agensi mana pun – dan jika demikian adanya, maka agensi Z akan lari. Kepercayaan saya kepada mereka sudah menipis karena maraknya informasi di internet mengenai kinerja mereka dalam pembayaran, dan saya merasa bahwa saya harus menyelamatkan whatever’s left of me, and other translators, by quitting the job.

And so I did.

Sebelum saya berhenti, saya telah mencari-cari tim penerjemah lain yang kira-kira sanggup menangani tipe pekerjaan seperti ini dan saya menemukan satu teman yang memiliki agensi penerjemahan lokal nun jauh di sisi Jawa sana. Saya menilai kinerja teman ini baik dan daya persuasi dia tinggi, karena itu dia mungkin lebih bisa memperlancar bayaran ketimbang saya. Akhirnya saya rekomendasikan nama teman ini dan saya minta agensi Z menghubungi dia saja, sementara saya menunggu pelunasan pembayaran.

Apa urusannya selesai sampai di sini? Tentu tidak.

Sejak saya berhenti bekerja untuk agensi Z, akuntan agensi itu telah berganti hingga dua kali dan saya makin sulit menagih. Akhirnya diam-diam saya menghubungi seorang pengacara dan berkonsultasi mengenai probabilitas penuntutan agensi Z. Jujur? Buruk. Posisi mereka yang di Singapura dan pemberian kerja tanpa kontrak yang jelas sudah membuat masa depan pembayaran ini menjadi sangat suram. Saya simpan informasi ini karena saya pikir saya masih punya kartu As walaupun hanya dua gelintir. Saya telah berkonsultasi ke pengacara dan prospeknya buruk – tapi agensi Z tidak perlu tahu ini.

E-mail terakhir yang saya kirimkan kepada agensi Z bersifat singkat, padat, disertai lampiran invois tertagih yang sudah dilampirkan puluhan kali sejak saya berhenti bekerja untuk mereka. Saya berkata dengan nada sangat sederhana: tidak bayar, saya tuntut ke pengadilan. Prospek masa depan kalian akan suram jika saya menuntut – karena saya menuntut demi keadilan. Mau saya bertindak sampai sejauh itu? Jika tidak, mohon bayarkan semuanya. Saya menunggu jawaban kalian.

Dua hari kemudian e-mail saya ditanggapi oleh akuntan (baru) dan dia berkata bahwa karena jumlah yang besar, agensi Z akan melakukan pencicilan sebanyak tiga kali, dengan jarak masing-masing cicilan dua bulan. Terbayang oleh saya bahwa andai kami tidak berhenti tepat pada waktunya, invois ini benar-benar tidak akan terbayar. Akhirnya saya membuat skema pembayaran dan setiap ada pembayaran, saya mengikuti skema itu sampai akhirnya pembayaran sisa mega project sebesar kira-kira 200 juta rupiah lunas pada tahun 2012 untuk semua penerjemah.

Setelah mega project ini berakhir, saya dan sisa teman-teman tim masih sering berhubungan. Akhirnya saya menyadari bahwa saya lelah, dan saya hanya bisa bekerja dengan beberapa orang saja – karena penanganan tim sebesar 15 orang terasa sangat berat bagi saya, apalagi ketika saya harus melakukan checking dan moral support sendirian. Akhirnya saya “berpisah jalan” dengan sebagian besar dari mereka.

Dari pengalaman ini, saya belajar banyak tentang apa arti teamwork dan cara-cara untuk mempertahankan konsistensi hasil terjemahan dari awal hingga akhir. Sampai sekarang saya masih agak trauma soal wanprestasi pembayaran sehingga saya tidak berani membagi pekerjaan dengan orang lain ketika pembayaran dan prospek agensinya sendiri belum jelas. Yang saya lakukan adalah bekerja bersama agensi itu selama kira-kira satu tahun dan jika selama itu kinerja mereka terlihat baik, barulah saya merekomendasikan orang lain untuk masuk ke agensi itu.

Jadi, enggak, saya tidak tergiur lagi dengan jumlah kata, jumlah bayaran, yang saya tilik pertama kali adalah siapa pemberi pekerjaan, seperti apa bentuk pekerjaannya, dan bagaimana prospek pembayarannya. Jadi inilah alasan kenapa saya bisa berkata bahwa saya mengerjakan lima puluh ribu kata dan tidak membaginya dengan siapa pun. Saya sudah biasa berjudi dengan nasib tapi saya tahu tidak semua orang sanggup melakukannya. Dan jangan lupa juga bahwa ada beberapa jenis pekerjaan yang memang tidak bisa dibagi-bagi, melulu karena konsistensi yang harus dicapai adalah 100 persen dan membagi pekerjaan berarti menumpukan beban 100 persen kepada si penerjemah utama yang merangkap jadi editor/sweeper – itu adalah permintaan yang sangat berat untuk beberapa orang (dan kadangkala bagi saya).

Saya menyamarkan nama-nama agensi di sini bukan karena saya takut pekerjaan saya direbut, tapi sebagai perjanjian etika saya dengan agensi-agensi penerjemahan tersebut, terutama dengan agensi Z, karena saat itu saya berjanji sepenuhnya bahwa kejadian wanprestasi pembayaran ini tidak akan saya bongkar di mata publik demi reputasi mereka, asalkan mereka membayar lunas semua tunggakan invois kami. Saya tidak akan merekomendasikan siapa pun untuk masuk agensi Z (kecuali jika kinerja mereka telah membaik), tapi saya juga tidak akan melarang siapa pun untuk bergabung dengan agensi Z. Dan karenanya pula, saya cuma bisa menyarankan bagi mereka yang berencana untuk mengambil mega project, baik dengan tenggat nyangkuriang atau pun dengan tenggat masuk akal: tilik kinerja klien, dan bersiaplah untuk mengeluarkan persenjataan lengkap ditambah bazooka dan kalau perlu bom waktu, ketika mereka gagal membayar. Ketahui alamat klien, nomor telepon, siapa bos di atasnya, siapa akuntannya. Dari sisi internal, dinamika dan keharmonisan tim harus dijaga dari awal sampai akhir, sehingga kita benar-benar harus percaya kepada mereka, kebal gosip, kebal intimidasi, dan sekaligus melakukan moral support supaya proses kerja menjadi nyaman untuk semua orang.

Sebagai tips terakhir, walaupun terdapat kontrak hitam di atas putih, sesungguhnya pembayaran penerjemah itu melulu didasarkan oleh itikad baik klien karena ternyata kontrak semacam ini tidak bisa digugat semudah itu.

Inilah cerita saya yang teramat panjang mengenai mega project terjemahan satu juta kata.

I have pulled out the impossible.

At the cost of a number of things that I ain’t gettin’ back.

~Bandung, 26 Agustus 2016
Ditulis oleh salah satu penyintas mega project terjemahan Asiarooms dot com

(V) Kenangan Mega Project: Strategi, Demoralisasi

Standard

Sebagai gambaran untuk para penerjemah yang mungkin berminat mengerjakan mega project, kerja tim yang baik adalah ketika pekerjaan bisa dilakukan hampir bersamaan. Seratus lima puluh ribu kata bisa terasa ringan jika dibagi untuk sepuluh orang, dengan beban tujuh puluh lima ribu kata untuk satu orang editor. Waktu itu akhirnya saya menciptakan sistem bertingkat untuk mega project ini, yaitu: sepuluh orang penerjemah, dua orang editor (saya merekrut satu lagi editor), dan satu editor sweeper. Menurut saya ini sistem yang efektif. Saya sebagai pengelola proyek/sweeper bertugas untuk mengontrol proses penerjemahan dan penyuntingan, kemudian menerima hasil akhir yang tinggal saya baca ulang dan konfirmasi (dan pertanggungjawabkan). Sistem ini terasa sangat indah dan ideal, sampai akhirnya saya menemukan “kekurangan” sistem yang akhirnya berbalik menyerang tim ini:

  1. Tidak semua orang bisa meningkatkan kapasitas menjadi lima ribu kata per hari. Kapasitas penerjemah yang umum adalah 1000-2000 kata per hari dengan hasil optimal dan bisa dipertanggungjawabkan. Brute force akan dibarengi dengan penurunan kualitas. Dan pekerjaan ini membutuhkan keluaran sebesar 5000-7000 kata per orang, setiap hari, selama dua hingga tiga hari.
  2. Karena adanya beban pikiran bahwa pekerjaan mungkin tidak dibayar tepat waktu, anggota tim mengambil pekerjaan lain sehingga terpaksa meningkatkan kapasitas hingga dua kali lipat. Mereka jadi cepat lelah mental dan fisik, sumbu pendek. Tenggat terbengkalai, kualitas terbengkalai.
  3. Pengelola proyek harus sangat jeli menilai gaya bahasa. Tidak semua tipe terjemahan bisa dibagi, dokumen dengan uraian panjang-panjang akan membuat perbedaan gaya bahasa terlihat sangat mencolok. Penerjemah harus diberi terjemahan yang membuatnya merasa nyaman agar gaya bahasanya tidak berubah, dan editor harus konsisten memegang hasil penerjemah yang sama agar dia bisa lebih cepat menyunting.
  4. Kerja tim tidak bisa dibarengi dengan rasa curiga dan kesal, terutama ketika kita merasa bahwa pengelola proyek menyembunyikan fakta/tidak transparan dalam soal pembayaran dan jumlahnya, posisi klien akhir, posisi agensi, dan jumlah pekerjaan yang sebenarnya. Faith upon each other itu sangat penting, dan oleh karena itu tidak boleh ada yang disembunyikan.

Camkan empat faktor yang sangat penting ini ketika bekerja bersama para pekerja lepas waktu lain yang tidak diikat oleh gaji. Dan saya melihat akibat dari satu demi satu poin di atas. Hal paling pertama yang mulai kami alami adalah satu dua orang yang mulai sakit, dan satu orang penerjemah sampai terkena tekanan darah tinggi. Dia tidak punya pengganti – dan bisa diduga, terjadi domino effect. Penerjemah lain “kecipratan” beban dia, editor seolah nyaman karena hanya menyunting terjemahan satu dua orang yang gaya bahasanya sama, tapi karena sumbu sudah pendek, tenggat sering terbengkalai dan kualitas pun akhirnya ke laut sudah.

Dalam waktu 4 bulan kami bergiliran sakit. Saya bisa dengan bangga mengatakan bahwa saya yang terakhir jatuh sakit, tapi saya pun curiga itu karena mentalitas saya yang memang nekat. Saya tidak sakit parah, tapi setiap kali ada feedback dari pengulas terjemahan, saya merasa panas dingin. Kualitas terjemahan selalu dan selalu di bawah standar, saya merasa curiga bahwa pengulas ini memang keji atau cara kerja saya yang tidak berterima untuk sistem.

Dulu saya juga buta spesifikasi, dan hampir-hampir buta CAT Tools. Selama dua proyek itu berlangsung, saya tidak pernah berpikir untuk membeli super computer atau mengganti CAT Tools dengan yang asli. Semua itu seolah jauh dari benak saya, sampai akhirnya Bunda Senior menyarankan bahwa saya harus mulai mengganti Trados 2007 bajakan saya dengan perangkat lunak asli. I got the money, why the hell not? Akhirnya saya membeli perangkat lunak Trados Studio 2009 dengan bonus Trados 2007. Saya juga mulai menderita mata baur dan punggung yang panas setiap kali saya menerjemahkan, dan saya dirundung ketakutan bahwa satu dari tiga hal akan terjadi: perangkat lunak crash permanen, atau netbook saya mutung permanen (netbook sudah tidak pernah mati lagi sejak saya menjalankan dua proyek), atau koneksi internet mati permanen. Akhirnya ketika saya dibayar untuk pekerjaan game, saya mengganti netbook dengan laptop yang lebih baru. Dan akhirnya saya berlangganan internet fixed line, karena penerjemahan game membutuhkan kegiatan online dengan streaming yang stabil selama berjam-jam.

Dari dulu saya sudah terbiasa mengejar sesuatu yang seolah tidak berfaedah tapi yang jelas motivasi untuk membahagiakan tim penerjemah sangat kuat waktu itu. Saya tidak peduli dengan ketenaran tapi saya akui bahwa keteguhan saya terhadap komitmen ini mulai membahayakan diri sendiri. Teman-teman dekat saya mulai mengkritik gaya kerja saya yang seolah tanpa akhir, keluarga saya mulai terasa jauh. Saya berhenti memasak dan kami makan makanan pesan antar. Saya mulai bertanya-tanya, untuk apa saya melakukan ini semua?

Saya terus bekerja siang malam sampai akhirnya ketika rumah kosong, saya sibuk mengerjakan sesuatu dan melihat kilasan warna jingga di layar laptop. Ketika saya menoleh ke belakang, saya melihat api membumbung tinggi dari dalam wajan yang saya tinggalkan dengan kompor menyala selama bermenit-menit. Api berhasil dipadamkan, tapi saya mulai merasakan demoralisasi. Saya mengejar ini semua … untuk apa? Bertahan di tengah semua pekerjaan yang tak kunjung habis ini … untuk apa?

Saya merasa mual.

Akhirnya di suatu malam hari, saya pergi menyepi di sudut di teras rumah, dan menangis sesenggukan, sendirian.

Sekitar bulan Mei 2011, saya menghubungi agensi Z dan mengatakan bahwa SEMUA penerjemah sakit. Kami tidak bisa melanjutkan, dan saya sangat enggan untuk melanjutkan dengan kondisi fisik kami yang sudah didera habis-habisan setiap bulannya. Agensi Z memperbolehkan kami istirahat dengan berat hati, dan selama itu saya berusaha untuk terus menguangkan invois yang terus menumpuk hingga belasan ribu dolar. Satu demi satu anggota tim mulai mempertanyakan ke mana bayaran itu pergi, dan akhirnya saya memutuskan untuk menghentikan kerja sama dengan beberapa di antaranya karena mereka memang tidak bisa menahan beban mental yang besar karena bayaran tidak kunjung tiba. Penerjemah menggantungkan hidupnya pada bayaran terjemahan – dan terkadang tenaga yang dikeluarkan sangat dimotivasi oleh kebutuhan untuk menyambung hidup. Karena itu saya memahami tindakan mereka yang akhirnya berhenti untuk mengerjakan proyek ini. Istilah dari teman saya adalah, “keringat sudah kering, tapi bayaran tidak tampak batang hidungnya”. Iya, memang berat sekali bekerja dan seolah tidak menerima bayaran. Akhirnya tim kami menyusut menjadi delapan orang saja. Waktu itu saya memutuskan untuk merekrut orang lain yang kira-kira bisa menjadikan proyek ini sebagai sarana pembelajaran, dan tidak keberatan akan bayaran yang bisa tertunda sampai tiga bulan. Akhirnya saya (dibantu dengan seorang teman lama yang saya kenal sejak UWRF Bali, 2010) menemukan lima orang lain.

Namun kami tetap harus beristirahat.

 

 

(IV) Kenangan Mega Project: Pengelola Proyek Bersumbu Pendek

Standard

Jujur , saya paling rikuh ditelepon oleh orang yang tidak pernah saya temui – saya ini besar di era 80-90an, di masa ketika orang yang menelepon adalah orang yang diberi nomor telepon melalui tatap muka, bukan karena dia melihat/membaca nomor telepon dari orang lain. Setelah Bunda senior menelepon, PM agensi Z juga ikut-ikutan menelepon dan dengan logat khas Singapura dia meminta saya untuk membaca e-mail. Ada apa sih sebenarnya? Dengan setengah ngantuk saya menyeret badan dan sisa-sisa jiwa yang sudah kerompong gara-gara kerja sampai dini hari, menghubungkan modem (dulu saya masih pakai modem mobile) ke netbook yang baru saja menarik napas tidur, dan kemudian membuka e-mail.

Surprise surprise, sekarang saya adalah pengelola proyek satu juta kata dari agensi Z untuk penerjemahan dari bahasa Inggris ke Indonesia!

Saya menjawab e-mail sekadarnya dengan basa-basi maksimal yang bisa saya conjured up di pagi hari itu, dan kemudian saya kembali ke tempat tidur, menarik selimut, dan menutup mata. Sesaat kemudian saya bermimpi bahwa tenggat terjemahan agensi Z terlewat sudah dan saya dimaki-maki melalui telepon. Saya bangun terduduk dengan mata terbuka lebar. Apa ada satu jiwa lain di dunia belahan sana yang tahu bahwa sekarang saya pengelola proyeknya, dan juga editor utamanya? Apa yang akan terjadi kalau saya terus tidur? KENAPA PROYEK INI DILIMPAHKAN KE SAYA?

Akhirnya saya menghubungi Bunda senior melalui Yahoo Messenger. Pertanyaan saya yang pertama adalah “kenapa saya”. Beliau menerangkan bahwa menurut penilaiannya, saya yang paling tepat menangani proyek ini karena saya juga sudah memberikan sejumlah insight dan strategi untuk membantu beliau menangani proyek ini. Beliau ingin berkonsentrasi ke penerjemahan game yang prospeknya lebih menjanjikan, dan ini semua terserah saya, apakah saya akan melepaskan mega project itu atau tidak – walaupun beliau menyarankan kepada saya untuk melepaskannya saja karena agensi Z sering terlambat bayar, dan penerjemahan game ini lebih mengasyikkan serta menjanjikan untuk karier saya sebagai penerjemah profesional.

Tapi saya masih muda, Bu.

Keuangan saya masih minus dan saya punya aspirasi. Saya idealis, dan mungkin saya bodoh. Yang terpikir oleh saya pertama kali adalah bagaimana nasib sebelas orang lain yang telah mengerjakan proyek ini dan belum menerima manfaatnya, karena saya pun belum merasakan manfaat. Akhirnya saya memutuskan untuk menjalankan mega project itu dan juga memegang penerjemahan game, pake modal bismillah mudah-mudahan tidak koleps semuanya, dan bismillah mudah-mudahan saya paham prioritas dan tidak salah menilai tim penerjemah ini.

Siang harinya Bunda membuat pengumuman resmi kepada tim penerjemah ini dan akhirnya beliau memisahkan diri, dan saya ditinggal bersama sebelas orang yang tidak saya kenal baik wajah maupun kepribadiannya, dan saya tidak bisa mengukur tingkat keyakinan mereka terhadap diri saya – hell, I was not sure of myself either. Salah seorang penerjemah mengirim e-mail massal yang berisi kesangsiannya, ditambah dengan kalimat “coba kita hitung, berapa persenan yang diperoleh pengelola proyek dari proyek terjemahan sebesar ini“. Kalimat itu cukup menikam karena sebenarnya bayaran untuk pengelola proyek ini tidak ada, kecuali kalau saya ikut bekerja menjadi editor dan/atau penerjemah. Pengelola proyek gak dapet persenan, emangnya dari 4 sen trus mau dipotong lagi, gitu? Trus penerjemah harus dibayar apa? Receh kah? Saya gak mau dibayar receh dan oleh karena itu saya tidak mau memberi receh kepada penerjemah. Akhirnya saya memosisikan diri menjadi editor supaya pekerjaan ini terasa berbayar untuk saya. Jadi iya, kata-kata itu menyakiti hati saya. Akhirnya saya menarik napas lega ketika penerjemah itu meninggalkan tim untuk menerjemahkan proyek besar lain.

Setiap dua-tiga minggu sekali, agensi Z mengirim hingga seratus lima puluh ribu kata untuk diterjemahkan, sampai akhirnya saya menarik salah satu dari dua belas orang penerjemah itu untuk menjadi editor. Sementara itu invois kami terus menumpuk tanpa ada penyelesaian. Saya terus mengirimkan tagihan dan berharap bahwa tenggat 45 hari yang normal bagi agensi Z itu benar, dan saya selalu kecewa di hari ke-46 karena tidak pernah ada bayaran yang masuk. Lebih tepatnya, tenggat 45 hari itu basa-basi dan kami beruntung jika bisa dibayar pada hari ke-60. Tapi saya mengagumi dedikasi semua anggota tim penerjemahan ini, yang tetap berharap dan menumpukan harapan kepada saya yang bukan siapa-siapa ini.

Jadi, waktu itu berdirilah saya – pengelola proyek yang tiap hari harus selalu juggling antara satu pekerjaan dan pekerjaan lainnya. Saya mendadak dangdut #eh terkenal, dan saya menerima beberapa e-mail yang berisi lamaran pekerjaan. Sejujurnya saya tidak terlalu berani menawarkan pekerjaan ini karena waktu pembayarannya yang sungguh lama, tapi saya tetap menanggapi semua e-mail itu dengan sebaik mungkin.

Pada suatu hari, muncul satu e-mail nyeleneh yang isinya tidak biasa. Saya tidak bisa membeberkan isinya di sini, tapi pada intinya, isinya menjelek-jelekkan salah satu anggota tim penerjemah mega project ini. Saya sudah menjadi akrab dengan Bunda senior tapi isi e-mail ini tidak pernah saya beberkan kepada beliau, karena saya anggap tindakan itu sangat tidak profesional dan mengundang kekesalan. Jangan pernah menyebar fitnah kepada orang yang capek dan kurang tidur – sumbu saya sungguh sudah memendek saat itu. Saya menanggapi e-mail itu seperlunya, mungkin melempar satu atau dua kata tajam bahwa saya sesungguhnya tidak peduli urusan pribadi apa yang milik penerjemah siapa. Saya memang meminta klarifikasi kepada penerjemah yang disebut namanya itu, tapi itu saya lakukan di luar jam kerja dan statusnya adalah bincang-bincang santai. Saya tidak mau urusan pribadi dikait-kaitkan dengan pekerjaan – dan sampai sekarang saya masih bersikap begitu.

Suatu hari, Bunda bertandang ke Bandung dan beliau mengundang saya dan suami untuk makan malam bersama. Secara halus saya menanyakan tentang si pengirim e-mail. Siapa sih dia ini? Saya juga tidak begitu kenal. Bunda menjawab dengan tak acuh, “Dia kirim lamaran ke saya. Saya bilang Maria yang sekarang pegang proyeknya.”

Gimana ceritanya surat lamaran bisa mengandung fitnah, now that is a mistery, ha ha ha.

Saya masih bisa tertawa-tawa pada waktu itu karena di saat itu, sekitar bulan Maret-April, saya masih merasa yakin bahwa proyek ini bisa saya antar dengan selamat ke pintu penyelesaian. Semua baik-baik saja, bayaran “sedikit” terlambat tapi masih dibayar, semua pekerjaan lain lancar, dan everything was under control.

And so life went on.

(III) Kenangan Mega Project: Kejutan Pagi Hari 

Standard

Saya ini orang yang kepo. Saya membaca setiap nama e-mail yang diberi tembusan invois pada keesokan paginya, dan mengenali beberapa di antaranya sebagai beberapa nama penerjemah yang rajin malang melintang di Bahtera. Saya merasa sangat terhormat bisa bergabung di tim ini karena saya orang yang hampir tidak pernah bergaul dan malas menulis atau pun mengomentari apa pun di Bahtera. Saya pun sampai hampir lupa melihat angka yang dituliskan dalam invois tembusan ….

USD $4,000 sekian.

Melanjutkan kepo, saya coba-coba tanya kepada sang Bunda, berapa sih sebenarnya jumlah kata yang kita bicarakan ini? Totalnya berapa? Proyeknya berasal dari mana? Bunda mengeluarkan angka yang sangat fantastis, SATU JUTA KATA SUMBER, dengan bayaran 6 sen dolar per kata. Tenggatnya sangat ketat, karena itu butuh banyak orang. Dan saya dianggap sebagai salah satu yang superior karena kerja saya sungguh cepat sekali. Saya tidak biasa dipuji apalagi untuk brute force, tapi akhirnya saya paham bahwa in this case, brute force is all that I needed. Dan kemudian saya akhirnya mengetahui nama agensi penerjemahan yang memberi proyek ini – sebut saja namanya agensi Z.

Oh iya, saya lupa bilang bahwa materi terjemahan ini susah-susah gampang: pariwisata dan perhotelan. Materi ini menyenangkan untuk digarap karena saya cenderung berkhayal dan membayangkan lokasi serta posisi hotel/fasilitas yang dituliskan, dan saya merasa pengetahuan saya mungkin bisa bertambah. Jadi selama itu saya selalu mengerjakan materi dengan gembira, walaupun Trados 2007 bajakan selalu memberi jatah crash hariannya dan punggung saya mulai terasa panas karena saya terus-terusan mengetik. Tapi saya terus memikirkan uang yang bisa saya peroleh dari pekerjaan ini, kemungkinan bahwa saya bisa mengerjakan sepersepuluhnya saja dari satu juta kata membuat saya senang.

Setelah satu kali pengerjaan, datang gerombolan pekerjaan berikutnya sekitar satu bulan kemudian, dan kemudian Bunda mengumumkan bahwa agensi Z meminta harga diturunkan ke 4 sen dolar. Bunda menanyakan kesediaan kami semua untuk terus mengikuti proyek ini (waktu itu suami saya sudah tidak ikut dalam tim karena dia ingin mengejar karier sebagai juru bahasa). Saya sendiri tidak masalah dengan penurunan harga itu karena saya tahu bahwa kecepatan menerjemahkan akan menjamin besarnya jatah bayaran saya. Lagian, dari Rp. 7.500,00 per halaman (agensi X) kemudian 2 sen dolar per kata (agensi Y), mosok saya bodoh menolak 4 sen dolar dari agensi Z? Saat itu saya belajar untuk menjadi realistis. Empat sen dolar dengan keberlanjutan itu besar dibandingkan 6 sen dolar yang hanya sesaat. Akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan ini, beserta dengan dua belas orang lainnya itu.

Keadaan mulai serius ketika Bunda mulai merekomendasikan saya untuk pekerjaan lain. Kerja lain ini adalah menerjemahkan game yang sangat terkenal di Facebook waktu itu – Mafia Wars. Sampai saat ini, pekerjaan yang satu itu merupakan my pride and joy, dan sampai sekarang saya masih bangga akan beberapa terjemahan yang saya buat untuk game itu. Bayaran pekerjaan ini terbilang sangat tinggi untuk saya waktu itu, 8 sen dolar per kata, dan si pemberi pekerjaan selalu membayar tepat waktu.

Sedangkan agensi Z mulai terlambat membayar, dengan alasan ini itu.

Saya selalu begadang hingga dini hari untuk menyelesaikan pekerjaan game ini, ditambah dengan fakta bahwa si bos klien selalu online pada waktu Amerika Serikat, sehingga saya tidak bisa tidur tenang sampai saya tahu bahwa dia sudah memeriksa pekerjaan saya … pada pukul 3 dini hari waktu Indonesia Bagian Ngantuk Maksimal. Jadi saya tidak terbiasa lagi bangun pagi. Sehingga ketika Bunda senior menelepon saya jam 9 pagi pada bulan Februari 2011, syoknya itu terasa bagaikan kena sambar burung kondor lapar.

Telepon Bunda itu bunyinya sederhana, “Maria, check your e-mail please.

 

 

 

(II) Kenangan Mega Project: The Power of Kepepet dan Brute Force Typing

Standard

Berhentilah sejenak untuk menarik napas dan mengagumi jumlah Rp. 800.000.000,00 yang diperoleh “hanya” dari tulisan kata-kata di layar komputer.

*Plakkkk!!!!*

Itu tamparan sandal saya yang mendarat di pipi Anda untuk mengingatkan bahwa uang bukan segalanya. Somebody had to die a thousand deaths to get them. Sejak mega project itu, saya sadar bahwa kesalahan pertama yang bisa dilakukan penerjemah adalah untuk fokus pada tulisan angka yang ada dalam PO (Purchase Order), dan mengabaikan segalanya termasuk topik dan tenggat penyelesaian. Sekarang saya sudah tidak mata duitan karena sifat mata duitan saya harus dibayar mahal berulang kali. Waktu itu keadaan keluarga saya sungguh minus sedangkan kami punya banyak cita-cita dan aspirasi yang hanya kekurangan satu hal: uang.

Saya akan memulai tulisan ini dengan bercerita tentang kapasitas saya. Sebelum mencari kerja secara mandiri, saya bekerja di suatu agensi penerjemahan lokal – sebut saja namanya agensi X – yang selalu memberi tugas untuk menerjemahkan buku teks (yang diserahkan kepada saya dalam bentuk fotokopi). Karena saya berusaha untuk memperoleh bayaran yang besar, saya berusaha meningkatkan kapasitas penerjemahan saya sejak tahun 2002 (karena bayaran agensi X yang kecil, hanya Rp. 7.500,00 per halaman jadi dengan spasi 1,5 dan huruf TNR ukuran 12). Kapasitas penerjemahan saya naik dari mulai tiga halaman teks sumber (buku teks dua kolom, ukuran huruf 8) menjadi 10 halaman sumber dan sejak itu saya mentok di situ. Sepuluh halaman sumber kira-kira menjadi 20 halaman terjemahan, lumayan sekali bisa menghasilkan Rp. 150.000,00 sehari, yang berarti adalah 1 juta seminggu. Saya tidak pernah punya masalah dengan manajemen waktu karena terjemahan adalah satu-satunya yang bisa saya lakukan waktu itu. Dua puluh halaman terjemahan itu tidak pernah saya kerjakan seharian, hanya di waktu pagi dan kadang-kadang malam hari. Jadi bisa dipahami bahwa ketika saya mulai mencari pekerjaan secara mandiri (tidak lagi bekerja untuk agensi X), saya sudah terbiasa mengandalkan kecepatan dengan brute force (alias main hajar secepat-cepatnya) untuk menyelesaikan pekerjaan terjemahan.

Lowongan untuk mega project dibuka oleh Bunda Senior pada sekitar bulan November 2010 (kalau tidak salah). Sebenarnya waktu itu suami saya yang melamar duluan tapi lamarannya tidak kunjung dijawab. Saya membayangkan bahwa waktu itu pasti ada puluhan penerjemah yang melamar, karena itu saya urung. Saya tidak mau bersaing dengan suami sendiri, sampai akhirnya suami saya mendesak agar saya mengirimkan lamaran juga, karena lamaran dia sendiri tidak kunjung dijawab.

Akhirnya saya mengirimkan lamaran dan syarat bahwa file contoh harus diterjemahkan menggunakan Trados 2007 saya penuhi dengan baik. Jangan salah – saya enggak terlalu bisa kerja pake Trados 2007. Waktu itu CAT tool andalan saya masih Word Fast, dan saya selalu didesak oleh (almarhum) Papa untuk mempelajari Trados, tapi saya malas karena tampilannya yang samasekali tidak aduhai dan cara kerjanya yang ribet punya. Jadi saya hanya menggantang-gantang asap saja ketika saya berkata bahwa saya bisa menggunakan Trados 2007 – saya bisa, cuma tidak begitu lihai. Saya juga masih pakai perangkat lunak Trados bajakan, what do you expect dari perangkat lunak bajakan yang crash setiap kali salah tekan command? Modal untuk ngetik juga cuma netbook Acer yang harganya 3 jutaan. Tapi satu nilai yang dimiliki oleh kebanyakan orang yang butuh duit desperately adalah the power of kepepet. Saya crash course Trados 2007 hanya dalam waktu setengah jam, saya baca-baca commandnya dan kemudian mulai menerjemahkan tes terjemahan. Ingat, saya punya kecepatan – mengetik cepat tidak masalah untuk saya dan tambahan command Ctrl + Enter tidak menjadikan saya super lemot. Akhirnya saya mengirimkan contoh terjemahan beserta surat lamaran, and I did not think about it any further.

Mengapa?

Karena saya sudah biasa tidak berharap. Saya pernah kerja di agensi lokal lain – sebut saja agensi Y – dan akhirnya mereka sempat wanprestasi bayar selama hampir enam bulan – andaikan saya tidak menagih sambil bawa-bawa nama senior dan ancaman publikasi, mungkin saya tidak akan pernah dibayar. Waktu itu tagihan total saya ke agensi Y ini sudah mencapai 5 juta rupiah, jumlah yang sangat luar biasa untuk orang yang “gak punya penghasilan” seperti saya dan suami. Saya sudah biasa berpendapat bahwa orang pasti kabur, lamaran pasti tidak diterima, dan saya tidak usah berharap. Lagipula saya tidak mengikuti utas soal pembahasan mega project terjemahan itu di Bahtera. Saya tidak tahu harus berharap apa.

Di suatu hari Rabu yang cerah, ketika saya dan suami sedang berjalan-jalan di mall PVJ, saya menerima SMS dari Bunda Senior tempat saya mengirim lamaran, dan beliau meminta saya stand by untuk menerima pekerjaan. Ternyata proyek itu sudah berjalan dan tenggatnya padat. Saya dan suami diterima dengan syarat bahwa kami harus online di Yahoo Messenger untuk menerima bahan diskusi dan arahan selanjutnya. Saya dan suami pulang dan kemudian mengerjakan bahan terjemahan yang dikirim via e-mail.

Ingat-ingat lagi … kecepatan dengan brute force dan the power of kepepet.

Ketika saya mengirim kembali hasil pekerjaan, tiba-tiba Bunda ini memberi dua file lagi, dengan permintaan maaf karena harus selesai malam itu juga. No problemo, Bunda. Saya dan suami masing-masing mengerjakan empat-lima file malam itu. Tak dinyana sang Bunda mengatakan bahwa saya adalah her savior. Rupanya saya adalah segelintir dari orang yang berhasil kirim hasil dengan salah minimal malam itu, dan beliau sangat berterima kasih hingga akhirnya saya dan suami diterima untuk ikut serta dalam mega project ini.

Catatan: Saya sungguh bangga dengan kecepatan mengetik saya, lho. Sampai sekarang saya masih bisa mengerjakan 5 ribu – 7 ribu kata dalam sehari, asalkan materinya saya sukai. Saya sering memasang lagu klasik dan mengkhayal bahwa saya sedang bermain piano gaya Mozart atau apa lah sembari mengetik. Karena itu, kapasitas harian yang saya sediakan selalu besar, dan sampai saat ini jatah saya per agensi penerjemahan adalah tiga ribu kata sehari. Ini berarti bahwa kalau ada tiga agensi yang mengirimkan kerjaan full capacity, saya bisa full booked hanya sehari saja. Dan saya masih bisa menyelipkan pekerjaan kecil-kecil untuk jajan batu dan kawat. Jadi hidup secara umum menyenangkan bagi saya.

Tapi waktu mega project ini dimulai, saya masih tidak tahu berapa banyak kata sebenarnya yang kami bicarakan, karena menurut saya seratus ribu kata sekali pun sudah banyak sekali.

Sampai akhirnya, saya diberi tembusan invois keesokan paginya.

 

(I) Kenangan Mega Project: Menolak Lupa

Standard

Saya selalu maju mundur untuk menulis soal ini. Alasan pertama adalah karena ini sudah lama berlalu dan saya berpikir bahwa sudah banyak yang tahu tentang apa itu mega project terjemahan dan saya memperkirakan bahwa sudah banyak yang menangani volume yang sama. Ternyata setelah saya pikir-pikir, sebenarnya banyak hal yang bisa dijadikan pembelajaran dari pekerjaan ini (dan supaya saya terus ingat), dan saya menyadari bahwa saya pun sudah hampir lupa.

Jadi saya akan menuliskannya, sebagai gerakan menolak lupa ala-ala saya.

Mega project terjemahan yang pernah saya ikuti dimulai pada akhir tahun 2010. Saya pernah menulis di salah satu blog saya, bahwa waktu itu the rest was history. Mungkin ada yang berpikir bahwa dari mega project ini saya (dan dua belas penerjemah lain pada waktu itu, dengan kepala proyek pertama yang adalah Bunda Senior yang akhirnya juga menjadi mentor saya) menjadi kaya raya. Rezeki nomplok, mungkin begitu pikiran orang-orang. Di satu sisi memang hasil pekerjaan ini adalah rezeki tidak habis-habis (sekarang pun masih ada sisanya setelah 5 tahun berlalu), tapi di sisi lain, apa yang saya korbankan juga sepadan bahkan mungkin berlebihan – saya memberikan hampir segalanya untuk bisa menyelesaikan proyek terjemahan itu, dan akhirnya saya pun menyerah setelah umur proyek melewati satu tahun.

Saya tutup mulut lama sekali soal ini, dan membiarkan ide dan kenangan indahnya terus bergulir sehingga hampir-hampir menjadi mitos. Hanya segelintir teman saya yang tahu tentang keadaan yang sebenarnya. Jika saya tinjau sekarang, ada beberapa hal yang saya sesali, dan ada yang tidak. Tapi yang jelas, jika diberi kesempatan untuk mengulang semuanya, mungkin saya akan melepaskan pekerjaan itu jauh-jauh hari, sama ketika saya melepaskan kerjaan bergengsi saya untuk menjadi pengulas terjemahan di Search Engine super terkenal.

Saya mulai dengan menjadi penerjemah yang berniat untuk bergabung mengerjakan mega project ini, dan menutup pekerjaan ini dengan posisi sebagai pengelola proyek. Saya akan coba ceritakan kronologinya dengan hati-hati, maafkan jika ada yang ingat sesuatu dan ternyata sudah terlewat, saya hanya mampu mengingat sekian banyak dan e-mailnya pun sudah banyak yang saya hapus. Sebagai catatan, setelah diterima untuk bergabung dalam proyek pertama ini, saya mendapatkan proyek kedua yang tidak kalah besar dan jauh lebih sulit dalam hal materi bahasa. Bisa dibilang bahwa perkembangan saya sebagai penerjemah ini “dikarbit” karena saya dihajar habis-habisan oleh situasi. Saya dipaksa untuk menganalisis, bergerak, dan bertindak beberapa langkah ke depan karena situasi proyek ini jauh dari normal – dan dipikir-pikir, proyek saya tidak ada yang benar-benar “normal”, ha ha *ketawa miris*.

Merangkum semua yang terjadi dalam satu tahun tidaklah gampang. But somebody gotta do it, dan saya pikir orang yang paling tepat adalah yours truly. Proyek yang diawali dengan niat baik ini berubah menjadi situasi serius ketika saya ditawari untuk bergabung dengan proyek lain, dan saya berada di posisi yang wajib mempertahankan semua klien karena keadaan CV saya sungguh kering. Dan kemudian situasi menjadi super serius ketika saya menerima e-mail yang berisi pengalihan tugas untuk menjadi pengelola proyek terjemahan ini, dan sejak itu saya mulai main akrobat, main api, main kewarasan, dan melakukan segala yang bisa saya lakukan untuk memperjuangkan hanya dua hal: tenggat dan bayaran. Yang terakhir itu adalah kegentingan enam bulan yang saya perjuangkan sampai akhir, dan akhirnya pekerjaan kami lunas dibayar pada awal tahun 2012. Semuanya, total kurang lebih 800 juta rupiah, 400 juta pertama dibagi dengan dua belas orang, dan 400 juta berikutnya dibagi dengan lima belas orang.

Tulisan ini akan saya bagi dalam beberapa bagian karena tulisan intinya sendiri berjumlah sekitar lima ribu kata. Saya pikir, ketimbang saya janji-janji menulis cerita bersambung yang akhirnya gak nyambung-nyambung, lebih baik saya sekaligus menulis dalam satu hari hingga malam dan memilah-milahnya nanti. Dalam cerita ini banyak cerita sampingan, dan kebanyakan cerita sampingan itu adalah hal-hal yang membuat saya menjadi yang sekarang ini.

So sit back, relax, and read …. this is my history.

Up Next: The Power of Kepepet

 

 

 

Habis Manis Sepah Dibuang

Standard

Kemarin, saya bertemu dengan kakak saya dan kemudian dia bercerita tentang peristiwa yang dialaminya. Singkat kata, dia membantu salah seorang kerabat kami untuk mempromosikan produk buatannya secara online, dan ketika promosi ini sudah mulai berhasil, si kerabat menolak membayar upaya kakak saya dalam bentuk uang (yang sebenarnya sangat di bawah standar untuk content writer dan ad promoter) – bahkan protes ketika kakak saya minta persenan dari hasil penjualan produknya, dengan alasan bahwa kakak saya sudah dibayar “terlalu besar”. Akhirnya kakak saya memutuskan untuk memberi waktu tenggang sebelum melepas proyek itu secara keseluruhan – dan itu akan dilakukannya dalam waktu dekat ini.

Saya ingat bahwa topik percakapan kami bukan berputar di bayaran (jumlah uang) yang seharusnya diperoleh kakak saya, tapi tindakan arogan dari si kerabat yang berpikir bahwa dia sudah sepantasnya menuai sukses ini dan kakak saya hanya berperan kecil dalam membantu untuk mewujudkan semuanya. Sedangkan saya tahu bahwa mekanisme berjualan online tidaklah sesederhana itu – produk bagus belum tentu laku, sama seperti halnya penerjemah bagus belum tentu akan kebanjiran proyek. In the end, it was all about how to sell. Karena itu saya geram mendengar cerita ini. Saya tahu benar bahwa pemasaran adalah bagian tersulit dari proses penjualan produk, terbukti dari puluhan restoran enak yang gulung tikar di Bandung karena tidak bisa memasarkan jasanya, dan yang laku malahan mereka yang membuat produk makanan tidak terlalu enak tapi promosi kencang di Instagram. Yang teriak paling kencang dan paling sering di medsos, itulah yang dilirik.

Saya menerapkan banyak sekali ilmu pemasaran (hasil baca buku, hasil pengamatan, hasil riset, dan juga hasil kursus gratis dari bahan terjemahan) ketika menjual jasa sebagai penerjemah. Dan sebenarnya ilmu pemasaran adalah ilmu yang menyenangkan dan segar. Saya belajar pemasaran selama 6 tahun lebih sebelum akhirnya berani memasarkan jasa penerjemahan. Jadi ya, saya tahu seluk beluknya, kurang lebih demikian. Karena itu saya paham perasaan content writer yang kerjaannya ditawar atau bahkan dianggap gratis karena dianggap bukan sebagai elemen penting.

Setelah kakak saya bercerita dan akhirnya kami berpisah, saya merenung dan menilik, apakah saya pernah melakukan itu kepada orang lain? Habis manis sepah dibuang, dan menganggap bahwa semua yang saya terima saat ini adalah wajar? Saya dengan hati-hati menilik semua yang sudah terjadi dari mulai saya memutuskan untuk bekerja sebagai penerjemah agensi hingga detik ini, dan gilanya memang yang membantu saya untuk bisa ada di sini sudah berjumlah ratusan orang. Dari mulai yang sabar mengajari saya sampai yang meminjamkan uang untuk bertahan hidup. Dan kemudian sebagai layaknya manusia, saya mulai beranjak dari diri dan melihat ke sekitar. Apakah ada orang di sekitar saya yang menganggap bahwa mereka layak mendapatkan kesuksesan? Bahwa semua yang mereka peroleh itu melulu hasil kerja keras sendiri saja, dan bahwa tidak ada orang lain di belakang layar yang memanggul mereka agar bisa terlihat oleh publik?
Dan saya pun terhenti di situ …
Karena ternyata yang menganggap bahwa mereka layak mendapatkan kesuksesan dan tidak pernah merasa dibantu oleh orang lain pun banyak jumlahnya. Padahal saya tahu benar siapa mereka sebelumnya.

Oh, jadi ternyata habis manis sepah dibuang itu wajar.

Kacang lupa kulitnya juga wajar.

Seperti orang yang mengaku-ngaku sebagai ahli padahal dia belajar ilmu itu dari orang lain.
Atau orang yang mencontek metode orang lain, dan kemudian dengan senang hati menempelkan namanya sebagai penemu metode itu dan memberi gelar mentor kepada dirinya sendiri.
Atau orang yang merasa hidupnya sukses, padahal selama ini dia sudah makan dari belas kasihan orang lain karena sesungguhnya dia dinilai tidak mampu untuk menjadi pekerja yang baik.

Ah, sudahlah.
Jangan jadi seperti itu ya.
Sadar diri lah sedikit, kamu tidak akan jadi siapa-siapa kalau orang pertama dalam kehidupan profesional kamu tidak memberi pekerjaan 6 tahun yang lalu.
*ngomong sambil ngaca*