Category Archives: Opinions

Sudahkah Anda Merasakan Semuanya?

Standard
Sudahkah Anda Merasakan Semuanya?

Sepertinya saya mencetak rekor baru lagi dengan mengabaikan blog ini sejak terakhir diisi (bulan Juni tahun 2018), dan kemudian keinginan menulis seolah hampir hangus tak bersisa. Baru-baru ini saya “menyempurnakan” lenyapnya diri saya dari Facebook dengan menghapus halaman yang berisi karya perhiasan kawat saya. Tidak ada rasa sesal hingga saat ini – sepertinya keengganan saya untuk muncul dan berkoar-koar di media sosial sudah menjadi rasa malas permanen. Dan tampaknya kemalasan saya menulis di blog akan berlanjut andaikan saya tidak berusaha untuk memulai lagi.

(Kemampuan menulis itu penting untuk penerjemah. Bagaimana bisa saya merangkai kata-kata terjemahan yang baik kalau saya tidak bisa menuliskan narasi yang baik?)

Blog ini tidak pernah menjadi sarana promosi saya sebagai penerjemah profesional. Judul dari blog ini benar-benar mencerminkan apa yang ingin saya lakukan: To say what is on my mind. Saya pernah berjanji untuk menuliskan tips dan trik penerjemahan lebih banyak lagi, tapi akhirnya saya kebingungan – apa yang saya ketahui sudah terlalu kompleks untuk diutarakan hanya dengan satu kali tulisan, dan terkadang pengetahuan itu juga terasa tidak penting untuk dibagi dengan orang lain (kecuali tentu saja jika mereka pernah mengalaminya juga).

(Saya sering merasa ragu mengenai manfaat dari tulisan saya. Tapi dengan sedikit encouragement kepada diri sendiri bahwa setidaknya saya berusaha jujur, maka saya akan mencoba lagi untuk menuliskan pendapat saya, sekali ini tanpa embel-embel ketenaran.)

Menjadi penerjemah lepas waktu itu tidak mudah. Seorang typist (pengetik) bisa menghabiskan 47 kalori hanya dengan duduk diam dan mengetik selama 1 jam. Kalikan itu dengan 10 jam – 470 kalori, sama dengan energi berlari sejauh hampir 4 kilometer. Menjadi penerjemah membutuhkan stamina yang nyata! Dan pekerjaan ini memiliki sisi menyenangkan dan juga busuk. Bagian menyenangkan bagi saya adalah menerima materi yang menarik dan imajinatif – baik itu kontrak kerja, materi pemasaran, atau sekadar rangkaian UI, sedangkan busuknya adalah ketika saya harus berhadapan dengan penerjemah lain yang sikapnya macam kampret,¬†tidak mau menerima masukan editor, dan terus membuat kesalahan tolol dengan sikap yang keras kepala. Dua hal ini hanya contoh. Kalau saya disuruh menuliskan kebaikan vs keburukan, saya bisa menghabiskan waktu satu hari lamanya. Lama kelamaan saya menyadari bahwa apa yang disebut sebagai “keterampilan menerjemahkan” sebenarnya adalah hal yang jauh lebih kompleks dari sekadar mengerti bahasa lain dan paham konteks serta budaya. Dan terkadang saya merasa bahwa profesi ini menuntut terlalu banyak dari saya. Sungguh – ada saat-saat ketika saya muak menghadapi dokumen, menghadapi klien, dan gemetaran ketika membaca e-mail masuk karena saya sudah burned out. Setelah menjadi penerjemah lepas waktu untuk waktu yang cukup lama, akhirnya saya menjadi cukup arif untuk tidak mengagung-agungkan profesi saya ini, tapi oleh karenanya pun saya tidak bisa lagi berpromosi tentangnya. This is just a profession – dan seperti layaknya profesi lain, profesi ini tidak sempurna – namun ia menuntut pelakunya untuk menjadi sempurna.

(But …. Do I love this job? Well yeah, sure, perhaps. Terkadang saya mencintainya, terkadang tidak samasekali. Tapi satu hal yang saya tahu pasti, bahwa saya memiliki keahlian yang tinggi untuk melakukan semua ini. Saya memiliki pengetahuan, wawasan, dan soft skills yang mencukupi (dan terus bertambah) untuk terus melakukannya. I am good at what I do, saya sadar benar soal ini – karena itulah saya tidak pernah berpikir untuk alih profesi, walaupun terkadang saya lelah.)

Sejak tahun lalu saya mulai menampik permintaan untuk presentasi dan berbagi pengalaman, karena saya masih belajar untuk berbagi dengan cara yang tidak membuat orang lain ketakutan dan patah semangat. Pada umumnya seorang (calon) penerjemah lepas yang baru memulai ingin mendengar tentang apa yang bisa mereka lakukan dalam profesi ini – dan sejujurnya saya tidak ingin lagi memberi informasi yang klise. Apa profesi ini bisa menjadi penopang hidup? Jelas. Bisa membuat kita mampu untuk membeli barang-barang mewah atau mahal? Tentu saja – tuh buktinya, ada yang bisa beli rumah dan tanah, saya pun termasuk. Bisa dijalani untuk menyekolahkan anak ke perguruan tinggi negeri bergengsi? Bisa dijalani untuk menghidupi keluarga? Bisa lah, bisa. Tapi semua pertanyaan ini berhenti sampai di situ, padahal sebenarnya saya ingin sekali melanjutkan ….

….. what sacrifices are you willing to make to get there?

…… because the point of success is not when you got a lot of projects. The success is to get through even when you have no projects for months.

…… the success is to stay sane, healthy, and professional despite of everything.

…… the success is to hang on to your principals, your rates, your work ethics, despite of all the odds against you.

Mengerjakan sepuluh ribu kata itu mudah, tapi bertahan untuk tetap mengerjakan proyek-proyek “receh” sementara bertahan hidup dan memperkaya diri dan pikiran, itu jauh lebih sulit. Menerjemahkan untuk memperoleh uang banyak itu jauh lebih mudah ketimbang bertahan dari godaan untuk berfoya-foya tidak jelas dengan menggunakan uang hasil kerja terjemahan. Mencari klien itu lebih mudah ketimbang mempertahankan mulut (dan jemari) ini untuk tidak menyinyiri penawaran harga (dan kelakuan) penerjemah lain/klien (terutama di media sosial! Duh!). Profesi ini melibatkan stamina, daya tahan luar biasa terhadap stress, kemampuan untuk melompat-lompat dalam ruang adaptasi yang terkadang sangat sempit, dan kemampuan luar biasa untuk menahan emosi supaya fisik dan reputasi tidak berbarengan rusak bersama hasil pekerjaan. Penerjemah lepas waktu harus selalu sehat, awas, cerdas, cepat tanggap, dan juga cermat – karena jika tidak dia akan segera tersingkir, bukan melulu karena hasil pekerjaan yang buruk, tapi juga karena ethical conduct yang buruk – dan yang terakhir ini sangat mematikan, karena sesungguhnya hasil terjemahan bisa selalu diperbaiki (we all got our bad days), tapi ethical conduct yang buruk sulit sekali diperbaiki/dihilangkan.

Sukses dalam profesi ini tidak ditentukan oleh seberapa banyak pekerjaan yang bisa kita dapatkan, tapi ditentukan oleh seberapa tegak kita bisa tetap berdiri setelah melalui semuanya.

Sungguh, profesi ini tidak mudah. Jika ada yang berkata bahwa profesi ini hanya mencakup literasi, kemampuan berbahasa, dan kemampuan menyimak konten serta budaya …. saya hanya bisa berkata, “Kalau begitu, Anda belum pernah merasakan semuanya ….”

Bandung, 3 Februari 2019

~ Tulisan pertama pada tahun 2019 yang melewati swa-sunting sampai LIMA KALI …

I am getting pretty rusty ūüė¶ … ~

Professional Sharing Session On Using Trados for 18th‚Äď 19th Centuries Literary Work (Part 1)

Standard

(Berikut adalah isi dari makalah yang saya ajukan untuk Transcon 2016 di Atmajaya lalu. Isinya saya bagi menjadi dua bagian agar tidak bikin eneg ketika dibaca, ha ha. Semoga bermanfaat).


Translating 18th-19th century‚Äôs literature work has been one of the most difficult works throughout my experience as a translator. The nature of this type of translation is difficult because translators are ‚Äúforced‚ÄĚ to do a ‚Äúrewrite‚ÄĚ job, and there is the need to communicate the contents smoothly and to merge the boundaries between cultures, to make the content acceptable and readable for a much broader audience compared to regular documents, and at the same time maintaining the idea and gist of the original writer.

I have been using Trados throughout my life as a translator, and eventually I was intrigued to utilize this CAT tool to approach 18th-19th centuries literary translation work. I was requested by one of my clients to translate The Age of Innocence Рa literature from the 19th century Рfrom English to Indonesian. I then decided that I should utilize Trados to approach this type of translation. I succeeded and then used the same approach to translate the short stories The Turn of The Screw, and eventually The Fall of The House of Usher, all which gave favourable results (minimum editing time, more focused, comprehensible and traceable results, even when dealing with the poetry section that was a signature of Edgar Allan Poe’s work).

Now I am using the same approach to translate 18th century’s The Scarlet Letter (still in progress). I believe that Trados has helped me a lot in making the translation process easier. I will share some of my process in translating, including the number of commands in Trados version 2014 that will enable literary translators (and hopefully, one day also literary editors) to fully concentrate on the tasks at hand and complete them effectively.

ABOUT CAT TOOLS

CAT tool (Computer Aided Translation tool) has become an important tool in a translator’s life. Basically what this software does is managing translation work, and the role of CAT tool became increasingly important when clients from different countries need translations from several different resources. This software helps them to manage translation results and also to keep data (in a relatively small size) to reuse them later when needed.

For freelance translators, CAT tools serves as database management software as well as an aid in translation processes. This software keeps the database up to date as the freelance translator continues to receive projects/work, and they will be able to update, change, revise, and also edit their translation work in this software, while keeping the format intact and relatively unchanged (i.e only requires a small amount of adjustments).

Trados is one of the most used CAT tools. This software was first introduced in 1994 under the name of ‚ÄúTranslator‚Äôs Workbench‚ÄĚ by Trados GmBH, Germany (Wikipedia, https://en.wikipedia.org/wiki/SDL_Trados), then acquired by SDL in 2005 and they have released a number of versions to date. This software offers a lot of management strategies as well as a number of aids to help translators to improve their work‚Äôs quality. Its functions includes managing projects, files, translation memories, terminologies, correcting typos based on preloaded dictionaries, and also Quality Assurance that helps to correct the translation result format to be the same as the source.

Every CAT tool has several similarities, but the most prominent one ‚Äď and the one that has become the source of difficulties for many translation works – is the segmented view. Segmentation in Trados is generally like this:

trados1

(Image: my current work for The Scarlet Letter. Not yet edited)

For translators this segmented view can hamper their ability to define the document‚Äôs context. They were ‚Äúforced‚ÄĚ to concentrate on each sentence (or each segment) and the generally strict Quality Assurance (not fine-tuned) provided no room for context-based translation, while Indonesian language often needs context-based translation rather than word to word (literal) translation. During my course as a professional freelance translator, I often encountered literary work translators who avoided using Trados because of its segmented view and the difficult features of the software, when actually Trados 2014 can offer an effective translation process if its other functions are explored.

ABOUT 18TH-19TH CENTURIES LITERARY WORK

During my experience as a freelance translator, translating 18th-19th centuries literary work is one of the most difficult translation works to do. The text contains various words that were not known/not used anymore in daily life, thus giving me a hard time in searching for the word meaning. I often have to revisit the online dictionary several times to just comprehend one word, and the process became truly ineffective when dealing with a large number of texts in MS Word application.

To my knowledge, translating literary work has always been about transforming the idea and the gist of the writer to another language, rather than word per word translation. This effort became difficult for 18th-19th centuries literary work because the content is often lengthy, one sentence can consist of several clauses and so there were times when I was ‚Äúlost in translation‚ÄĚ among the jungle of word meanings. And so the content was incomprehensible if not baffling, and eventually I got lost in the context every time.

Because of the difficult nature of the text, then I decided to take this 18th-19th centuries literary translation works to another level, which is to manage and to process the work using Trados 2014.

(Untuk bagian 2, klik di sini)

Professional Sharing Session On Using Trados for 18th‚Äď 19th Centuries Literary Work (Part 2)

Standard

(Bagian 1, klik di sini)


MANAGING 18TH-19TH CENTURIES LITERARY TRANSLATION WORK USING TRADOS 2014

(Please keep in mind that all work using CAT tools can only be done through a soft copy of the document. This means that the tool cannot process image files that were converted to PDF.)

The general view of my literary translation work on Edgar Allan Poe’s The Fall of The House of Usher was like this:

trados2

(Image: Translating The Fall of The House of Usher using Trados 2014)

As you can see, the sentences were divided into segments. What I did was to read the whole text before starting, and then utilized the segmentation so that I could concentrate on one step at a time. What I also did was to read the three to five segments before and after the highlight (see previous image) to generate a context in mind. By using this method, I was not ‚Äúlost in translation‚ÄĚ anymore, I can analyse the words carefully and translate according to the context without having to worry about forgetting one or two word meanings. The data is being kept in the translation memory which I always can revisit later by highlighting the source word in question and press F3 (concordance function). Thus I eliminated the tedious process of having to write down word meanings on another paper/file, or to reopen the source to re-read what I just translated. By using this concordance function I can also read the word meaning by its context rather than only its dictionary meaning. As seen on the image below, I have translated one word in several approaches.

trados3

(Image: By highlighting the source, then pressing F3 (concordance) on the keyboard will display a number of context which uses the word ‚Äúagitation‚ÄĚ. The data is populated from a translation memory that was used on this project)

The F7 (spellcheck) function also proved to be handy during the translation process. I have ‚Äúfine-tuned‚ÄĚ the Quality Assurance (QA) function in Trados 2014 to accommodate my needs for literary work translations. ¬†I only check for typos, double spaces, untranslated segments and punctuation for this work, I do not need the other specific QA functions so I just turned them off. Thus the literary editor‚Äôs work will be reduced because they will only need to check the readability and the fluent-ness of the result, instead of peeling their eyes searching for typos and double spaces.

trados4

(Image: Spellchecking and Quality Assurance function in Trados 2014. As seen, the QA also check a number of untranslated segments. The QA data can be generated at any time during the translation process)

As an addition, Trados provided free applications that can be used to manage work. For this literary work, I used the SDLXLIFF Split and Merge (downloaded from SDL Open Source). This Trados application splits work into manageable amount of words. Literary translation work often consists of hundreds of pages and by using this application I could split the document into manageable amounts that I scheduled to work on every day. This significantly improved my overall work performance and I did not get carried away or discouraged by the number of pages, thus concentrating on my best effort to fulfil the deadlines.

trados5

(Image: The result of ‚ÄúSDLXLIFF Split and Merge‚ÄĚ application. The text is being split into a predetermined amounts and this makes it easier to determine the deadline and managing the work. This is only one of a number of free applications provided in SDL Open Source web)

CURRENT CHALLENGES

Even though this software can benefit translators, there are several challenges in using Trados 2014. The software demands a PC/laptop with high capacity (especially high RAM), and this software does not work on iMac. The software price itself is a bit discouraging, still clinging on the high price around 600 EUR (about 9 million IDR at the time this paper was written) per license, and can only be used on a single computer (not shareable). The price, the hardware requirements, and the lack of knowledge in Trados‚Äôs basic and management functions have made this software somewhat unpopular among literary work translators and editors. There is also a preconception among freelance translators that this CAT tool is only utilized by overseas clients (translation agencies), so there was no actual need to use this software to manage work. The segmented view on Trados also often takes translators aback; they felt that they were forced to stick to one segment/one word/one sentence at a time, thus producing a ‚Äústiff‚ÄĚ translation results. And document format from literary work publishers often does not support Trados usage, and translators needs to take several pre-translation steps in order to have a workable literary work in Trados (e.g retyping the hard copy, scanning the hard copy, etc).

CONCLUSION

I found that the usage of Trados 2014 to complete my work in translating the 18th-19th centuries literary work to be beneficial. By utilizing these Trados features, I was able to finish my work in a more effective and efficient manner. I have re-check the published translation work against my original translation and found that the editor managed to improve my results in a more focused manner (because the editor did not need to worry about everything else). I found this approach to be satisfactory for me as a freelance translator.

There is a need for a more focused approach in using Trados 2014. Trainings and workshops should be directed to a more specialized approach, which is to manage contents such as 18th-19th century literary work and other specific contents rather than only showing the basic functions of Trados. There is also the need to change the previous preconception and perspective about Trados ‚Äď this tool is meant to make a translator‚Äôs task easier and not meant to burden or discourage them. Literary work publishers in Indonesia also need to consider the usage of Trados for literary work and to support Trados usage by providing soft copies of the translation work, so that translators can process the document through Trados and other CAT tools of their choices.


(Makalah ini saya presentasikan di Transcon Atmajaya 2016)

Hasil Sempurna di Tengah Badai

Standard

Sebelum melanjutkan, saya akan menegaskan bahwa judul di atas itu sebenarnya sangat tidak mungkin terjadi kecuali jika Anda memang tidak punya perasaan.

Jadi, begini dongengnya. Saya punya klien yang terbilang baru Рmereka baru resmi mengontrak saya tiga bulan yang lalu. Ternyata, setelah melakukan dua pekerjaan untuk mereka, saya menemukan bahwa cara mereka menyampaikan kesalahan-kesalahan saya sungguh tidak mengenakkan. Bukan dengan makian, tapi mereka bersikap sangat dingin dan judgmental, seolah saya ini mesin yang tidak boleh melakukan kesalahan. Saya bukan penerjemah abal-abal, tapi ketika mereka menyampaikan hasil koreksi, saya selalu merasa sebagai penerjemah abal-abal. Skor keakuratan saya (menurut data di vendor portal) turun menjadi 91,5 persen, sedangkan mereka mengharapkan skor di atas 93 persen.

Awalnya saya merasa frustrasi dan bersalah. Kemudian saya melihat bahwa si klien ini rupanya menggunakan metrik skor LQA (Leading Quality Assurance) yang sebenarnya sudah ditinggalkan banyak agensi karena sisi humanity penerjemah samasekali tidak disentuh oleh skor ini. Metrik ini melulu hanya kalkulasi yang sangat bergantung pada persepsi editor mengenai kesalahan penerjemah. Sebagai contoh, ada yang menganggap typo error sebagai kesalahan fatal (critical), sedangkan ada beberapa editor lain yang menganggap fatality terletak ketika penerjemah tidak memahami isi kalimat bahasa Inggris yang diterjemahkan (saya termasuk yang kedua). Entri editor pada metrik menentukan seberapa besar skor penerjemah, dan tergantung dari persepsi editor terhadap kesalahan, skor penerjemah bisa menjadi tinggi atau sangat rendah. Di sinilah saya merasa tidak enak. Persepsi PM terhadap kesalahan saya itu cenderung judgmental dan non-encouraging, padahal saya memiliki dua alasan mengapa terjemahan saya menjadi seperti itu, yaitu tenggat yang sungguh mepet dan opsi software mereka yang tidak mendukung. Menurut saya, untuk pekerjaan di atas seribu kata, opsi software tanpa spellcheck dan rigorous machine quality assurance adalah opsi buruk karena (menurut riset kecil-kecilan saya) penerjemah profesional akan membuat satu typo per 300 kata yang diketiknya. Bayangkan terjemahan enam ribu kata, betapa banyak typo dan missed translation yang bisa terjadi? Penerjemah yang dikejar tenggat tidak akan mampu memeriksa ini dalam waktu singkat. Dengan kata lain, editor harus siap mental dan bersikap lebih legowo.

Eniwei, saya memikirkan apakah saya akan berusaha memperbaiki kesalahan itu lain kali, atau berhenti saja bekerja untuk klien ini. Yang membuat saya keberatan sebetulnya adalah metrik skor itu. Saya sudah bekerja untuk banyak klien lain selama lebih dari 10 tahun, dan yang saya sangat hindari adalah klien yang memperlakukan penerjemah bagaikan mesin, yang¬†mengukur kemampuan hanya dari skor dan bukan dari hal-hal lain seperti sikap asertif, inisiatif, keramahan, cepat tanggap, dan lain-lain. Saya mempertimbangkan, sampai kapan saya bisa mengejar kesempurnaan? Apa ada jaminan bahwa tidak akan terjadi badai lagi dalam hidup saya? Saya akan bandingkan dengan satu agensi lain yang selalu bertanya dengan nada ramah dan baik hati ketika terjemahan saya kurang dari pengharapan mereka. Karena merasa “diberi angin”, saya bisa dengan bebas mengungkapkan perasaan profesional dan preferensi saya, sehingga akhirnya mereka bisa mengakomodasi dengan memberi (1) tenggat lebih baik, (2) materi yang lebih sesuai dengan kemampuan, dan (3) masukan mengenai cara kerja yang lebih baik untuk penerjemah dari sudut pandang korporasi. Tiga hal ini membuat saya bersemangat dan merasa harus terus memberikan yang terbaik. Akhirnya hubungan ini memotivasi saya untuk meningkatkan kinerja, sampai akhirnya dua hari yang lalu salah satu PM agensi lama ini melaporkan bahwa materi terjemahan saya tidak dikomentari samasekali oleh internal reviewer mereka, alias lolos bersih untuk diserahkan dan dinilai oleh klien akhir.

Akhirnya saya sadar sepenuhnya bahwa hasil sempurna tidak bisa dituai di tengah badai, betapa pun profesionalnya seorang penerjemah. Hubungan yang menyenangkan antara berbagai pihak dalam penerjemahan¬†adalah satu hal yang saya cari dan saya hargai. Saya tidak bisa membangun hubungan lewat metrik skor dan jelas bahwa saya tidak bisa bekerja dengan PM yang memberi input dingin hasil copy paste dari editor. Saya butuh PM yang memahami bahwa terkadang penerjemah lebih membutuhkan toleransi dan masukan. Saya jadi lebih sadar lagi akan hal ini ketika memeriksa pekerjaan seorang teman yang (ternyata) dihasilkan dari lingkungan sangat “panas”, dengan konsentrasi yang terpecah belah. Owalah, hasilnya mirip Google Translate padahal saya tahu benar bahwa kualitas ybs jauh lebih tinggi dari itu. Awalnya saya kesal karena saya tidak tahu siapa penerjemahnya (sampai sempat menulis status di Facebook), tapi setelah tahu, saya langsung menghubungi ybs dan bertanya (dan saya langsung hapus statusnya). Akhirnya saya memahami situasi ybs. Saya harus fair, saya pun pernah mengalami situasi buruk seperti itu beberapa kali dan output saya sungguh memalukan. Ketika¬†saya diposisikan sebagai penilai hasil dan punya peluang untuk menghubungi penerjemah dan bertanya, saya merasa wajib menggunakan peluang itu alih-alih mencelanya habis-habisan, apalagi lewat status Facebook – yang cuma bisa menunjukkan superioritas saya sebagai seasoned translator¬†yang¬†tidak peka situasi.

Dan akhirnya saya memutuskan untuk melepaskan agensi yang dingin itu. Ya sudah, nanti kalau ada pekerjaan lagi saya tinggal decline, toh mereka juga memberi perintah kerja lewat automated system, ha ha.

~Penerjemah juga manusia, dan hanya manusia. Kerjasama antara PM, penerjemah, dan editor, adalah kerjasama yang akan memberikan hasil optimal.~

Bandung, 19 November 2015

Habis Manis Sepah Dibuang

Standard

Kemarin, saya bertemu dengan kakak saya dan kemudian dia bercerita tentang peristiwa yang dialaminya. Singkat kata, dia membantu salah seorang kerabat kami untuk mempromosikan produk buatannya secara online, dan ketika promosi ini sudah mulai berhasil, si kerabat menolak¬†membayar upaya kakak saya dalam bentuk uang (yang sebenarnya sangat di bawah standar untuk content writer dan ad promoter) – bahkan protes ketika kakak saya minta persenan dari hasil penjualan produknya, dengan alasan bahwa kakak saya sudah dibayar “terlalu besar”. Akhirnya kakak saya memutuskan untuk memberi waktu tenggang sebelum melepas proyek itu secara keseluruhan – dan itu akan dilakukannya dalam waktu dekat ini.

Saya ingat bahwa topik percakapan kami bukan berputar di bayaran (jumlah uang) yang seharusnya diperoleh kakak saya, tapi tindakan arogan dari si kerabat yang berpikir bahwa dia sudah sepantasnya menuai sukses ini dan kakak saya hanya berperan kecil dalam membantu untuk mewujudkan semuanya. Sedangkan saya tahu bahwa mekanisme berjualan online tidaklah sesederhana itu Рproduk bagus belum tentu laku, sama seperti halnya penerjemah bagus belum tentu akan kebanjiran proyek. In the end, it was all about how to sell. Karena itu saya geram mendengar cerita ini. Saya tahu benar bahwa pemasaran adalah bagian tersulit dari proses penjualan produk, terbukti dari puluhan restoran enak yang gulung tikar di Bandung karena tidak bisa memasarkan jasanya, dan yang laku malahan mereka yang membuat produk makanan tidak terlalu enak tapi promosi kencang di Instagram. Yang teriak paling kencang dan paling sering di medsos, itulah yang dilirik.

Saya menerapkan banyak sekali ilmu pemasaran (hasil baca buku, hasil pengamatan, hasil riset, dan juga hasil kursus gratis dari bahan terjemahan) ketika menjual jasa sebagai penerjemah. Dan sebenarnya ilmu pemasaran adalah ilmu yang menyenangkan dan segar. Saya belajar pemasaran selama 6 tahun lebih sebelum akhirnya berani memasarkan jasa penerjemahan. Jadi ya, saya tahu seluk beluknya, kurang lebih demikian. Karena itu saya paham perasaan content writer yang kerjaannya ditawar atau bahkan dianggap gratis karena dianggap bukan sebagai elemen penting.

Setelah kakak saya bercerita dan akhirnya kami berpisah, saya merenung dan menilik, apakah saya pernah melakukan itu kepada orang lain? Habis manis sepah dibuang, dan menganggap bahwa semua yang saya terima saat ini adalah wajar? Saya dengan hati-hati menilik semua yang sudah terjadi dari mulai saya memutuskan untuk bekerja sebagai penerjemah agensi hingga detik ini, dan gilanya memang yang membantu saya untuk bisa ada di sini sudah berjumlah ratusan orang. Dari mulai yang sabar mengajari saya sampai yang meminjamkan uang untuk bertahan hidup. Dan kemudian sebagai layaknya manusia, saya mulai beranjak dari diri dan melihat ke sekitar. Apakah ada orang di sekitar saya yang menganggap bahwa mereka layak mendapatkan kesuksesan? Bahwa semua yang mereka peroleh itu melulu hasil kerja keras sendiri saja, dan bahwa tidak ada orang lain di belakang layar yang memanggul mereka agar bisa terlihat oleh publik?
Dan saya pun terhenti di situ …
Karena ternyata yang menganggap bahwa mereka layak mendapatkan kesuksesan dan tidak pernah merasa dibantu oleh orang lain pun banyak jumlahnya. Padahal saya tahu benar siapa mereka sebelumnya.

Oh, jadi ternyata habis manis sepah dibuang itu wajar.

Kacang lupa kulitnya juga wajar.

Seperti orang yang mengaku-ngaku sebagai ahli padahal dia belajar ilmu itu dari orang lain.
Atau orang yang mencontek metode orang lain, dan kemudian dengan senang hati menempelkan namanya sebagai penemu metode itu dan memberi gelar mentor kepada dirinya sendiri.
Atau orang yang merasa hidupnya sukses, padahal selama ini dia sudah makan dari belas kasihan orang lain karena sesungguhnya dia dinilai tidak mampu untuk menjadi pekerja yang baik.

Ah, sudahlah.
Jangan jadi seperti itu ya.
Sadar diri lah sedikit, kamu tidak akan jadi siapa-siapa kalau orang pertama dalam kehidupan profesional kamu tidak memberi pekerjaan 6 tahun yang lalu.
*ngomong sambil ngaca*

Soal Lamar-Melamar ke Agensi Penerjemahan

Standard

 

Isu ini (lamar-melamar ke agensi penerjemahan) sudah lama sekali menjadi bahan bisik-bisik di antara teman dan saya sudah menerima sekitar lima inbox ke Facebook dengan¬†pertanyaan senada. Gimana sih caranya melamar ke agensi penerjemahan luar negeri?¬†Dulu jawaban saya sederhana: Ya Lamar Saja. Tapi sebenarnya saya sendiri tidak menyadari mengapa ada orang yang langsung diterima di agensi penerjemahan dan mengapa ada yang harus menunggu sampai 2-3 bulan untuk memperoleh jawaban atau bahkan tidak pernah memperolehnya … Sebelum saya lupa, coba saya tuliskan di sini tentang apa yang saya lakukan ketika melamar ke¬†agensi penerjemahan:

  1. Saya tidak pernah menulis surat lamaran (cover letter) lebih dari tujuh baris ketika mengirim dalam bentuk email. Alasan: si penerima¬†mungkin membaca email tersebut lewat perangkat seluler. Bayangkan kalau dia harus membaca dan menggulir beberapa kali … Kalau surat lamaran terlalu panjang, bisa jadi dia akan menunda untuk membaca, dan menunda lagi, dan akhirnya lupa. Ingat, yang melamar bukan cuma kita.
    Solusi: hindari kalimat yang bertele-tele. Tetaplah sopan namun usahakan cut to the chase. Hindari kalimat-kalimat standar surat lamaran seperti “besar harapan saya bahwa Bapak/Ibu¬†akan mempertimbangkan lamaran ini” atau yang sejenisnya. They don’t need that. Dalam tujuh baris, usahakan agar perhatian mereka beralih sepenuhnya ke CV karena ini sebenarnya yang menjadi senjata utama.
  2. Saya tidak pernah melampirkan CV lebih dari tiga halaman (dan ini juga sebenarnya terlalu banyak, menurut saya satu halaman sebenarnya cukup). Saya juga menghindari pelampiran berjenis-jenis dokumen yang menurut saya tidak relevan seperti ijazah, KTP, NPWP, transkrip nilai … ini semua dokumen yang tidak relevan untuk melamar ke agensi penerjemahan luar negeri. (Curigalah jika suatu agensi tiba-tiba meminta ijazah sekolah. Agensi luar negeri yang seperti ini punya mekanisme penyaringan lamaran yang buruk)
    Alasan: CV yang terlalu panjang dan lampiran yang terlalu banyak itu membingungkan. Dan sebenarnya tidak ada yang memperhatikan jumlah proyek yang sudah pernah kita kerjakan. Yang akan mereka perhatikan adalah nama klien. Makin tinggi nama klien kita, biasanya mereka akan makin tertarik, apalagi biasanya mereka hanya akan membaca CV selayang pandang.
    Solusi: manfaatkan asosiasi mereka terhadap keterkenalan klien lampau. Contohnya seperti ini: Jika kita pernah mengerjakan 100 halaman untuk situs web lokal kukuruyuk dot com dan pernah mengerjakan 10 baris kalimat untuk Yahoo, letakkan Yahoo di baris atas CV dan kemudian situs web kukuruyuk dot com di bawahnya.
    Tambahan: jika belum memiliki pengalaman bekerja untuk klien high profile, manfaatkan pengalaman kerja yang sudah ada dan tulis sedemikian rupa sehingga “terbaca” seperti high profile. Contoh: “100 pages of translation for a famous marketing website in Indonesia” untuk menyertakan si kukuruyuk dot com, yang sebenarnya adalah web lokal yang mungkin tidak dipahami oleh orang bule dan memiliki peringkat yang kurang jelas. Manfaatkan sedikit marketing gimmick – ingat, kita ini sedang menjual diri.
  3. Saya tidak pernah menyebutkan kompetensi secara spesifik, proyek besar yang pernah saya tangani, atau bahkan kompetensi CAT Tools saya dengan spesifik, bila tidak ditanya secara langsung. Pendeknya, saya menghindari penulisan hal berbau teknis dalam surat lamaran.
    Alasan: saya menemukan bahwa jika saya terlalu banyak menyebutkan kompetensi dalam email, jumlah baris email akan bertambah dan saya akan terdengar makin sombong. Percaya diri itu adalah hal yang baik, tapi ingat bahwa ada batas tipis antara percaya diri dan sombong, sama seperti keberadaan batas tipis antara rendah hati dan humblebragging.
    Solusi: tuliskan kalimat yang “menggoda”. Contoh (misalkan, mereka bertanya apakah kita¬†bisa menggunakan Trados 2011): “I work mainly using Trados 2011 and have been an enthusiast user for 10 years to date.” Kata-kata “enthusiast user” meyiratkan kompetensi level profesional tanpa berbicara soal teknis. Masalah apakah pernah jadi pelatih Trados, atau sudah lulus Trados competency test¬†tingkat dewa, biarlah mereka baca di CV saja. Ini¬†tidak perlu diterangkan dalam surat lamaran kecuali jika mereka menanyakan hal itu secara terang-terangan.
    Tambahan: jika belum pernah samasekali menggunakan CAT Tools (dan tidak tahu apa itu CAT tools), hindari melamar ke agensi penerjemahan yang mensyaratkan kompetensi ini. Namun bila pernah sekadar “icip-icip” dan belum menyeriusi penggunaan CAT tools, saya memilih untuk bersikap sedikit nekad (tanpa berbohong). Katakan bahwa “I have some experiences in using Catalyst¬†and eager to explore the tool more” (ini sebenarnya sama artinya dengan: “saya belum terlalu bisa sih, tapi kayaknya bisa belajar kalau Anda mau menyewa saya“. Ingat, marketing gimmick ūüėÄ )
  4. Sebelum saya menulis lamaran, saya melakukan penelitian singkat untuk melihat tipe perusahaan – tepatnya, saya memperhatikan lokasi perusahaan.
    Alasan: Lain padang, lain belalang. Orang Eropa pada umumnya cenderung sopan namun tegas dalam hal prosedur, orang Tiongkok cenderung manis dalam berkata-kata namun mudah panik, orang Singapura terbaca getas dan dingin dalam emailnya, sedangkan orang Amerika cenderung santai dan tidak mudah naik darah. Saya selalu berhati-hati ketika menghadapi kebangsaan India dan Timur Tengah karena mereka cenderung bersikap persuasif dan memaksa.
    Solusi: Ingatlah selalu untuk menata bahasa sesuai dengan pembaca¬†sasaran. Banyak agensi penerjemahan yang tidak bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris yang baik (walaupun komunikasi dilakukan dalam bahasa Inggris), jadi saya menghindari penggunaan kata-kata yang terlalu tinggi seperti “I acknowledge” dalam komunikasi dengan orang Tiongkok dan gantilah dengan “I understand“. Lain halnya dengan kebangsaan Inggris, saya selalu bersiap untuk bicara sedikit kompleks dengan kata-kata yang sedikit rumit. Selisih komunikasi adalah hal yang mengerikan, dan saya tidak mau dicap tidak sopan atau sombong gara-gara pemilihan kata-kata bahasa Inggris yang terlalu menyeramkan atau tidak pada tempatnya.
  5. Bagian terakhir¬†yang sering membuat bingung adalah referensi. Sama seperti isi CV, referensi yang berbau nama “besar” akan lebih mudah menarik perhatian (misalkan, nama ketua HPI sebagai pemberi referensi Anda). Namun ada hal lain di balik ini, yaitu bahwa calon klien ingin mengetahui seberapa dekat hubungan kita¬†dengan klien di masa lampau. Jika kita¬†tidak bisa memberikan satu pun nama klien lampau yang dapat dihubungi untuk dimintai referensi, maka lamaran berakhir sudah sampai di sini. Ini memang menyedihkan dan saya mengakui bahwa¬†dulu hambatan utama saya adalah referensi. Akhirnya saya belajar untuk membina hubungan baik dengan klien melalui pekerjaan, dengan berusaha untuk mengerjakan setiap pekerjaan dan menyelipkan satu atau dua patah kata obrolan di tengah email pekerjaan kami, agar klien bisa mengingat saya dan tidak akan keberatan bila saya mengajukan namanya sebagai referensi di kemudian hari.

Dari lima poin ini, no. 5 adalah yang tersulit (menurut saya) untuk dilakukan karena kita harus mengambil langkah jauh sekali ke depan agar tidak celaka di kemudian hari. Yang kedua tersulit adalah mencari klien high profile. Tapi saya juga mulai tanpa klien “besar” dan hanya bermodalkan marketing gimmick. Tiga¬†poin lain bisa dilakukan oleh siapa pun asalkan ada pergeseran sudut pandang dari kebiasaan melamar ke perusahaan dengan menggunakan surat lamaran cetak menjadi surat lamaran melalui email.

Ini bukan tips tokcer – bagaimanapun juga setiap orang berbeda dan punya pendekatan masing-masing.¬†Tapi strategi ini berhasil untuk saya. Mudah-mudahan ada yang bisa memetik manfaatnya ūüôā

Bandung, 10 September 2015

Mentor … dimanakah mereka? – Bagian IV

Standard

Setiap orang yang baru memulai jalan hidup profesional sebagai apa pun pasti akan berusaha mencari orang lain yang bisa dijadikan tempat bertanya dan tempat untuk menimba ilmu. Itu wajar. Saya berpendapat bahwa mentor memegang peranan penting dalam membentuk sikap profesional dan “kecerdasan” saya dalam menghadapi berbagai situasi dalam profesi penerjemahan, dan mereka lah orang-orang terdepan yang memberi pembelajaran tentang seluk-beluk dunia penerjemahan yang tersembunyi dan pelik.

Mentor saya yang paling awal adalah ayah dan ibu saya. Tapi mari kita kesampingkan faktor ini karena tidak semua orang memiliki orangtua yang juga penerjemah – anggap saja saya beruntung. Mentor kedua yang bukan berasal dari keluarga adalah seorang pemberi kerja yang mengajari saya tentang berbagai CAT tools. Saya sering berinteraksi dengannya dan setelah itu saya bertemu dengan seorang Bunda Senior yang juga pemberi pekerjaan. Dari Bunda ini saya memperoleh banyak sekali masukan mengenai tata cara penulisan yang benar, cara menengok kamus (yang benar), dan juga pembahasaan yang benar. Saya masih memiliki mentor-mentor lain – saya berutang budi sepenuhnya kepada mereka karena dari sekelumit ilmu yang telah mereka bagi, saya memperoleh bekal demi bekal yang bisa mengantar saya memasuki dunia penerjemahan profesional dan bertahan di dalamnya sampai detik ini. Saya belajar untuk berteman dengan semua orang yang akhirnya mengajarkan banyak hal – saya mulai dengan memperkaya diri dengan ilmu sosialisasi dan interaksi, dan berusaha menepis rasa malu. Yang saya maksud dengan berinteraksi adalah BUKAN sekadar bertukar komentar di Facebook atau mencari-cari teman senior penerjemah untuk “dikuntit”. Tapi benar-benar bergaul: menyapa, bercerita, dan berdiskusi (online dan offline). Saya beberapa kali berdiskusi dengan beberapa penerjemah di sela-sela rehat acara Kompak HPI, dan obrolan itu terasa menyenangkan karena adanya interaksi: diskusi tentang kesulitan menangani klien, tips dan trik dalam menghadapi agensi, cara mengolah pekerjaan dan cara menangani keluhan – semua ini diperoleh melalui¬†obrolan dan bukan melalui kuliah atau presentasi. Setiap perkataan dan setiap cerita yang tampaknya remeh sesungguhnya akan membimbing jalan dan membuka diri terhadap berbagai kemungkinan di dunia penerjemahan yang mungkin bisa dihindari atau bisa dilakukan. Dan sesungguhnya inilah guna mentor: untuk mengungkapkan hal-hal yang tidak diketahui oleh khalayak umum. Setiap penerjemah adalah entitas yang berbeda dan mereka memiliki pengalamannya sendiri. Jangan berpikir bahwa arti mentor adalah pemeriksa pekerjaan Anda, atau pun orang pertama yang akan memberi pekerjaan. Di satu sisi itu benar, tapi pada kenyataannya ketika Anda terjun ke dunia penerjemahan nanti, akan ada demikian banyak orang yang menguliti karya Anda, mulai dari editor, proofreader, reviewer, klien, pembaca, dan lain sebagainya. Ini semua semata soal teknis – mereka yang berkecimpung di bidang sastra akan bisa memberikan masukan, namun tiada yang bisa memberikan masukan mengenai cara menangani keluhan klien, cara menghadapi editor rewel, atau cara menghadapi agensi, selain mentor.

Satu hal yang akan membatalkan niat semua orang untuk berbagi (informasi) adalah ketika Anda memohon-mohon untuk diberi pekerjaan. Mengemis kepada seorang penerjemah (apalagi yang tidak membuka lowongan pekerjaan subkontrak) adalah tindakan yang akan mematikan masa depan karena sesungguhnya Anda hanya perlu mencari Рdan mereka semua tahu itu. Ingatlah bahwa senior dulu adalah junior seperti Anda dan mereka sudah pernah melalui jalan mereka sendiri Рsepanjang pengetahuan saya tidak ada satu pun senior saya yang pernah mengemis pekerjaan di Bahtera/HPI. Mungkin secara umum tindakan mengemis ini dianggap sebagai inisiatif tapi sesungguhnya ini adalah tindakan invasif yang menyebalkan. Dan (calon) pemberi pekerjaan secara umum akan menilai seorang pengemis pekerjaan sebagai orang yang malas berusaha, tidak punya inisiatif, dan kadang-kadang beberapa di antaranya bersikap ekstrem hingga bersumpah untuk tidak akan pernah memberi rekomendasi atau pekerjaan kepada si pengemis. Ini yang saya sebut sebagai mematikan masa depan Рberhati-hatilah.

Kalau begitu, gimana dong caranya untuk memperoleh mentor? Jawabannya hanya dua: MULAILAH MENCARI PEKERJAAN DI LUAR SANA dan MULAILAH BERINTERAKSI. Dua hal ini harus dilakukan bersamaan dan Anda tidak bisa melakukan yang satu untuk membuka pintu ke yang lain. Pelajari cara berinteraksi yang sopan dengan tutur kata yang jelas, juga cara menulis yang baik dan bebas dari bahasa alay. Hindari pertanyaan invasif seperti “Punya daftar klien gak? Bagi dong ….“, dan ganti dengan “Saya merasa bingung karena sulit mencari pekerjaan terjemahan. Apa Bapak/Ibu/Mas/Mbak punya input?” (ada baiknya juga untuk mencari nama orang yang Anda ajak bicara di Google – pelajari profil orang yang bersangkutan dan mulailah menanamkan rasa hormat sewajarnya terhadap pencapaian orang tersebut). Pelajari tata cara melamar pekerjaan yang baik dalam dua bahasa, panjangkan upaya Anda sejauh mungkin, dan biasakan untuk belajar dari kesalahan. Pelajari cara memasarkan diri yang baik dan tampilkan diri sebagai sosok positif yang berinisiatif.

Saya ini tipe orang yang sangat ANTI mengemis pekerjaan karena saya tahu saya MAMPU mencari sendiri, dan dulu¬†pertanyaan saya cuma satu: harus mencari ke mana? Saya menetapkan Bahtera sebagai titik awal saya karena bagaimanapun juga komunitas ini sudah ada sejak lama dan bisa diandalkan. Saya juga mulai dengan menelusuri¬†“translation agency” atau “translation jobs” di Google – kemudian saya menemukan ProZ dan Translator’s Cafe. Waktu itu saya tidak tahu apa yang akan membuahkan hasil, tapi saya terus mencoba dan tidak putus asa. Setelah hampir lima tahun berada di Bahtera sebagai silent reader dan bekerja untuk beberapa orang penerjemah lepas (yang membuka lowongan), akhirnya saya menemukan lowongan pertama yang membuka pintu mentoring untuk saya.

Saya tidak akan bisa melangkah sampai sejauh ini jika tidak dibimbing dan berdiskusi dengan puluhan orang, termasuk teman-teman sesama penerjemah. Tapi ingatlah juga bahwa ketika memilih untuk menjadi penerjemah lepas, Anda dengan sendirinya WAJIB berinvestasi dalam INISIATIF. Tidak akan ada pekerjaan yang sekonyong-konyong menghampiri jika Anda terus mengurung diri dalam kamar tanpa interaksi Рdan tidak akan ada interaksi yang menghampiri jika Anda tidak pernah mencoba mencari pekerjaan. Dua upaya itu Рmencari pekerjaan dan interaksi Рpada akhirnya akan membuahkan seorang atau bahkan beberapa orang mentor untuk Anda.

Tidak ada yang namanya sure success. Kembali saya ingatkan bahwa keputusan menjadi penerjemah lepas tidak semata-mata didasari oleh kemampuan bahasa Inggris, kemampuan bahasa Indonesia, atau uang melimpah yang (konon) dihasilkan oleh profesi ini. Karena sebagaimana pekerjaan lain di dunia, harus ada upaya yang dilakukan dan upaya tersebut mungkin akan menguras tenaga Anda. But if you love the job, you’ll do anything to succeed.

Bandung, 1 Februari 2015

*melanjutkan seri tulisan yang tertunda …*